MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 123


__ADS_3

Mentari pun menampakan diri nya, cahayanha yang menelusuri bumi perlahan.


Hari jum'at adalah hari kemerdekaan bagi santriat, karena kegiatan pondok di liburkan di setiap hari jum'at.


"Hoam... Enak nya ngapain ya?" kata Cilla yang menggeliat.


Cilla yang berbaring sembari memainkan handphone segera duduk terbangun.


"Iya geh ngampus libur, pondok nggak ada kegiatan." kata Putri yang sedang melipat pakaian.


"Gimana ke ruang marawisan." kata Acha yang memberes kan kasurnya.


"Ngapain?" kata Liani yang sedang menyapu kamar.


"Ya solawatan lah." kata Ririn yang menyandar di lemari.


"Iyaa bagus juga." kata Rasi yang fokus ke buku.


"Ci baca mulu, baca apaan sih?" kata Acha.


"Baca kata kat Acha." kata Rasi polos.


"Owalah pantesan buku nya kaya kenal ternyata buku Acha." kata Acha.


Rasi hanya menyengir kuda.


"Nggak papa kan?" kata Rasi.


"Ya nggak papa sih, lagian walau di larang kan udah terlanjur." kata Acha.


"Denger in geh, 'Jadilah orang yang kehilangannya di cari, kehadirannya dinanti, kepergiannya dirindu, dan kebaikan nya di teladani' uh mantep Cha kata katanya." kata Rasi.


"Yok ah udah beres semua kan." kata Acha.


"Kemana?" kata Cilla.


"Yaa kan mau ke ruang marawis." kata Acha.


"Baru jam sembilan geh." kata Putri.


"Atuh nggak papa." kata Ririn.


"Sekalian sholat dhuha, kita sholat d masjid atas aja, abis itu langsung ke ruangan." kata Rasi.


Mereka pun bergegas menuju masjid, langkah demi langkah nya di hiasi dengan sholawat.


"Allohumma sholli 'alaa sayyidinaa muhammad, wa 'alaa ali sayyidinaa muhammad," ucap mereka.


"Satu kali kita bersholawat sepuluh kali Alloh bersholawat kepada kita, uh beruntung nya." kata Cilla.


"Iya alhamdulillah, dengan sholawat cinta kita kepada nabi muhammad akan semakin bertambah, dan Alloh juga bersholawat ke kita sepuluh kali, itu baru satu sholawat yang kita lantunkan, apalagi kalo beribu ribu." kata Rasi.


"Iya bener." kata Mereka.


Sesampainya di masjid mereka langsung berwudhu, kemudian naik ke masjid atas untuk melaksanakan sholat.


Di masjid atas ada beberapa santri putri yang sedang menambah hafalan juga karena di dalam masjid membuat ketenangan jiwa raga.


Langkah Acha terhenti saat melihat Rahma yang berusaha menghapal kan ayat per ayat.


"Acha juga pernah ngalamin di posisi itu, tapi sayang nya pas dulu niat Acha menghafal qur'an karena ingin memiliki ustadz Rayis, tapi atas ijin Alloh, sekarang Acha hanya meniatkan karena Alloh." batin Acha.


"Alif laaaaam miiiiiiim, tangzilul kitaabi laa roiba fiihi mirrobbil 'aalamiin,"


"Am yaquuluunaftarooh, bal.. Balaa.. Eh bukan, bal...apa ya." gumam Rahma.


Rahma pun melirik ke alqur'an yang di pegang nya.

__ADS_1


"Yaa Alloh, 'bal huwal haqqu' Rahma, 'bal huwal' inget 'bal huwal'..." kata Rahma sedikit gereget.


"Semangat Rahma ngapal nya." kata Acha.


"Eh ada kalian, iyaa makasih." kata Rahma tersenyum.


"Nikmat yaa kalo ngapal di sini." kata Liani.


"Iya banget nggak ada suara ghoib." kata Rahma terkekeh.


"Apa? Rahma bisa denger suara ghoib tah." kaget Cilla.


Semuanya hanya terkekeh.


"Yaa Alloh, Cilla... Cilla..." kata Acha tertawa renyah.


"Kenapa kan nanya doang." kata Cilla.


"Ya kan maksud Rahma tuh, obrolan teman teman nya di kamar." kata Acha.


"Owh kirain Cilla beneran bisa denger suara ghoib." kata Cilla.


"Up udah udah." kata Rasi.


"Tuh kan sampe lupa sholat tahyatul masjid." kata Rasi.


"Ouh iya lupa." kata mereka.


Mereka segera keluar masjid kemudian masuk lagi dan langsung melaksanakan shalat tahiyatul masjid dibarengi shalat sunnah wudhu.


Setelah sholat tahiyatul masjid dan wudhu selesai, mereka segera mendirikan sholat taubat.


Sudah menjadi kebiasaan mereka sebelum mendirikan sholat sunnah pasti di dahului sholat sunnah taubat, karena mereka ingin saat mereka meminta kepada Alloh, hati mereka sudah dalam keadaan suci dan bersih oleh taubat yang mereka kerjakan.


"Jangan lupa sholat sunnah taubat dulu sholihah, malu sama Alloh, masa mau minta sesuatu ke Alloh, hati kitanya masih kotor." kata Acha.


"Iyaa makasih di ingetin hampir lupa tadi kalo Acha nggak ngomong,." kata Putri.


"Aamiin yaa Alloh." ucap semua.


Mereka pun langsung mendirikan sholat taubat dan di lanjut shalat dhuha.


Mereka bermunajat meminta kepada Alloh sang maha agung.


"Yaa Alloh terimakasih atas nikmat mu, semua ini adalah takdir Mu yaa Alloh, dan takdir Mu yaa Alloh itu yang terbaik untuk hambanya, sebentar lagi kami anak semester enam akan memasuki semester ke tujuh dan delapan, dimana pada saat itu hasil dari kerja keras kami, lancarkan dan beri kemudahan untuk kami, sesungguh nya rencana Mu yaa Alloh paling indah dari rwncana kami, engkau yang mengetahui yang awal dan yang akhir." munajat Acha.


"Alhamdulillah, udah selesai?" kata Rasi.


Mereka mengangguk.


"Yuk." kata Acha.


"Duluan ya Rah, semangat terus." kata Acha.


"Iyaa malasih, semangat juga buat kalian." kata Rahma.


"Selalu." kata mereka.


Langkah demi langkah mereka pun meninggal kan masjid.


......................


Brugh...


Di jalan menuju ruang marawis Acha bertabrakan dengan seseorang.


"Aww, kalo jalan liat liat dong kak." keluh Acha.

__ADS_1


Pria itu hanya melirik ke arah Acha dan tersenyum sinis kemudian melanjutkan jalan.


"Ih nggak jelas banget bukan nya minta maaf." kata Cilla.


"Nggak punya sopan santun ya kak?" teriak Acha.


Tapi pria itu menghiraukan nya dan tetap berjalan.


"Ih aneh." kata Cilla.


"Yaudah yuk percepat jalan nya." kata Rasi.


"Iya keliatan nya mencurigakan sekali." kata Liani.


"Lagian ruangan marawis kenapa harus ada di luar pondok sih." keluh Putri.


"Yaa mungkin supaya kalo lagi latihan suaranya tidak mengganggu yang lain." kata Acha.


Langkah mereka pun semakin cepat, dan sesampai nya depan ruangan marawis.


Pluk...


Segumpal kertas mengenai kepala Acha.


"Aww, siapa sih nggak sopan amat." kesal Acha.


Terlihat sosok Muza dan Faziel muncul.


"Mungkin kedua ustadz itu." kata Ririn terkekeh.


"Eh kalian lagi pada ngapain?" kata Muza.


"Ustadz." rengek Acha.


"Kenapa Cha? Saya melakukan sesuatu yang membuat kamu marah?" kata Muza kebingungan.


"Ustadz ya yang melempar segumpal kertas ini ke Acha?" selidik Acha.


"Haha kayanya kertas tadi yang kamu lempar ternyata terjun mengenai Acha deh Ki." kata Faziel terkekeh.


"Tuh kan, sakit tau kepala Acha." rengek Acha.


"Iya sih say melempar kertas pas tadi bekas coret corot menghitung." kata Muza.


"Yaudah lah kan udah tekdirnya kena kepala Acha, tapi jauh banget ya kertas yang saya lempar sampe ke sini." kata Muza.


"Entah, nggak perlu minta maaf udah Acha maafin." kata Acha.


"Yaudah." kata Muza.


"Yaudah, kami duluan assalamu'alaikum." kata Faziel.


"Wa'alaikumussalam warohmatulloh." jawab mereka.


Langkah demi langkah Muza dan Faziel pun menjauh pergi.


Mereka segera memasuki ruangan.


"Kertas apa itu Li?" kata Acha.


"Owh tadi yang di lempar bang Muza, Liani pengan tau bang Muza abing ngitung apa." kata Liani terkekeh.


Liani pun membuka gumpalan kertas itu.


"Ini sih bukan coretan penrhitungan, tapi kaya surat dan tulisan ini bukan tulisan bang Muza." batin Liani.


"Shohibah tadi kertas yang kena kepala Acha itu surat." kata Liani

__ADS_1


Teman teman nya yang mendengar sontak menghampiri Liani dan melihat isi surat itu.


Memerima takdir itu dilihat dari sudut pandang, jika sudut pandang kita di penuhi cinta, maka seberat apapun takdir yang Alloh tentukan maka semua itu akan terasa nikmat karena kita menganggap nya itu adalah cinta Alloh pada kita, jika kita memandang dengan sudut pandang nafsu, maka seringan apapun masalah yang di takdirkan akan terasa berat dan akan menganggap semua itu adalah beban hidup dan sebuah ketidak adilan.


__ADS_2