
Adzan dzuhur berkumandang, sekitar jam satu siang Kaila dan Naura datang ke rumah Acha, "Assalamu'alaikum? " ucap Naura dan Kaila.
Terlihat Acha yang duduk di sofa sedang membaca buku, Liani yang sudah didapur membawa segelas susu, dan duduk di samping Acha, "Cha perasaan ada yang salam tadi." kata Liani.
Acha melirik ke arah Liani, "Emang iya?" kata Acha.
Diluar, Naura dan Kaila saling menatap keheranan karena tidak ada yang menyaut di dalam, "Apa nggak ada yah?" kata Naura.
Kaila menggeleng samar, "Tidak tau, coba ketuk pintunya." kata Kaila.
Kaila dan Naura mengetuk pintu, Tok..tok..tok, "Assalamau'alaikum ibu guru?" kata Kaila dan Naura.
Acha menepuk kening kemudian langsung beranjak, "Astaghfirulloh itu anak-anak." kata Acha.
Acha segera membuka pintu, "Wa'alaikumussalam, eh kalian mari masuk." ucap Acha.
Kaila dan Naura langsung mencium punggung tangan Acha, "Iya ibu terima kasih." kata Mereka.
Mereka bertiga langsung masuk, melihat Liani yang sedang duduk minum susu, "Assalamu'alaikum Ibu Liani?" ucap mereka.
Liani menaruh gelas di atas meja, "Eh kalian duduk-duduk." kata Liani.
Kaila dan Naura langsung mencium punggung tangan Liani, "Iya terima kasih Bu." kata Mereka berdua.
Mereka duduk dengan Liani dan Acha membawa jamuan berupa makanan ringan dan air putih, "Padahal tidak usah repot-repot." kata Kaila.
Naura mengangguk samar menyetujui, "Iya benar Bu, kami kemari ingin belajar." kata Naura.
Acha tersenyum, "Tidak kok Nak, Ibu tidak merasa kerepotan." kata Acha.
"Iya kalian nih, kaya sama siapa aja." kata Liani.
"Belajar? Umm yaudah silahkan cicipu dulu." kata Acha.
"Iya Bu." kata Kaila dan Naura.
Mereka berdua menyantap cemilan, "Kami kira Ibu gak ada." kata Naura.
Acha tersenyum, "Maaf ya Nak, Ibu tidak mendengarnya tadi, untung di beri tahu sama Ibu Liani." kata Acha.
"Iya tidak apa-apa Bu." kata Merek berdua.
"Iya lah gimana mau dengernya orang fokus baca buku dari tadi." kata Liani terkekeh.
Mereka semua tertawa, "Eh iya kata kalian tadi mau belajar, belajar apa?" kata Liani.
"Belajar tentang haid." kata Naura dan Kaila.
Acha dan Liani tersenyum, "Wah semangat sekali." kata Liani.
"Iya harus dong, ditambah pas pulang ke rumah Kaila cerita ke Ibu kalo Bu guru menjelaskan tentang haid, kata Ibu Kaila harus lebih tau lagi tentang haid, makanya mau belajar ke Ibu guru." kata Kaila semangat
"Kalian bawa buku catatan?" kata Acha.
Mereka berdua mengangguk samar, "Iya Ibu."
"Akan lebih baik buka yang tadi, agar tidak terteter materinya karena beda buku." kata Acha.
"Iya Ibu ini buku pas tadi di kelas mencatat tentang haid." kata Kaila.
"Alhamdulillah." ucap Acha.
"Bagus, ilmu itu lebih baik dicatat agar saat kita lupa kita masih punya catatan itu." kata Liani.
__ADS_1
"Sudah siap?" kata Acha diangguki Kaila dan Naura.
"Silahkan bertanya di tengah-tengah pembahasan, jadi bebas bertanya apa yang tidak kalian mengerti." kata Acha.
"Ibu, apakah Ibu tidak akan membahas haid lagi di kelas nanti?" kata Naura.
Acha tersenyum "Ibu kurang tau Nak, kalau pas tadi Ibu bahas tentang haid, supaya yang belum mengalami haid tidak khawatir, kaget dan takut, nanti kaya Naura tadi." kata Acha.
Mereka semua tertawa, "Ah Ibu Naura jadi malu." kata Naura malu-malu.
"Kenapa harus malu Nak, haid itu bukan suatu Aib." kata Acha.
"Iya Naura juga paham, maksud Naura, Naura malu karena Ibu membahas ketidak tahuan Naura tentang haid." kata Naura.
"Dasar Naura ya namanya juga tidak tahu 'kan." kata Kaila, Naura hanya tertawa kecil.
"Oke kita mulai." kata Acha.
Acha mendiktekan dan mereka menulis, "Darah yang keluar bisa dihukumi haid jika mencapai jumlah 24 jam, yaitu setara sengan 1 hari 1 malam, jadi minimal masa haid adalah 24 jam jika darahnya keluar terus lancar tanpa terputus," jelas Acha
"Darah yang keluar dalam masa 24 jam namun tidak keluar terus, atau darah keluarnya tidak lancar maka bukan haid sebab jumlah darahnya tidak mencapai 24 jam, contohnya Naura haid pas tadi jam 9 pagi, kalo darah yang keluarnya tidak terputus sampai besok jam 9 pagi lagi berarti itu sudah dihukumi haid karena sudah 24 jam."
Kaila mengangkat tangan, "Ibu kalo darah yang terputus itu kaya gimana?" kata Kaila.
Liani tertawa renyah, Naura dan Kaila langsung tertuju pada Liani, Liani yang menyadari merasa malu, "Eh ngapain lihat ke Ibu, sudah fokus ke materi saja." kata Liani tertawa kecil.
Naura dan Kaila mengangguk samar menyetujui.
"Jadi gini, darah yang terputus itu maksudnya darah yang berhenti, misalnya nih Kaila haid, keluar darah jam 7 pagi, pas jam 10 pagi Kaila cek ternyata darahnya sudah berhenti, dan pas jam 11 pagi darah keluar lagi, berarti itu darahnya terputus selama 1 jam dari jam 10 pagi sampai jam 11 pagi." kata Acha.
"Maksimal masa haid itu 15 hari 15 malam setara dengan 360 jam, walaupun putus-putus, namun bila dijumlahkan darahnya mencapai 24 jam atau lebih itu dinamakan haid, kalo selama 15 hari 15 jam darah yang keluar tidak mencapai 24 jam berarti bukan haid, tapi istihadloh, makanya supaya kita tau itu istihadloh atau bukan lebih baik kita catat masa haid, masa suci, jam berapa haid jam berapa suci." jelas Acha.
Kaila dan Naura hanya tercengo tak mengerti, mereka menatap satu sama lain, "Catat masa haid? istihadloh?" gumam mereka.
Acha tertawa kecil, "Eh sudah-sudah jangan terfokus ke Ibu Liani." kata Acha.
Kaila dan Naura mengangguk samar menyetujui, Acha tersenyum, "Nah mungkin kalian belum mengerti tentang catat-mencatat masa haid, tapi dengan berjalannya usia kalian, kalian akan mengerti tentang catat-mencatat masa haid, dan istihadloh itu darah yang keluar tapi tidak memenuhi syarat haid." kata Acha.
"Wanita yang mengeluarkan darah haid wajib langsung berlaku hukum haid tanpa harus menunggu 24 jam,"
"Jika sebelum 24 jam darah tersebut bersih maka ulama sepakat bahwa dia wajib langsung berlaku suci yaitu wajib shalat tapi tidak perlu mandi sebab darahnya belum mencapai 24 jam, jika keluar lagi maka berlaku haid lagi, dan seterusnya, [Al-Ibanah wa al-Ifadlah fi Ahkam al-Haid, 17]." jelas Acha.
"Contohnya Naura haid, keluar darah jam 11 pagi sampai jam 18 sore, dapat di jumlahkan keluar darahnya hanya 7 jam, dalam hal ini berhubung darah yang keluar belum mencapai 24 jam maka saat berhenti itu sudah berlaku suci dan harus shalat maghrib, karena darah terhenti." jelas Acha.
"Dzuhur dan Ashar tidak boleh shalat sebab dalam posisi keluar darah, bagaimana jika ternyata total darahnya tidak sampai 24 jam dalam 15 hari, misalnya dalam contoh tadi darah benar-benar berhenti jam 18.00 dan tidak keluar lagi sampai 15 hari?" kata Acha.
"Berarti bukah haid." kata Naura dan Kaila.
Acha tersenyun, "Betul, maa syaa Allah anak-anak Ibu sudah mulai paham." kata Acha
"Dan penjelasannya, maka Shalat Dzuhur dan Ashar tersebut wajib diqodlo sebab ternyata darah tersebut bukan haid sehingga wajib shalat, karena apa ada yang bisa menjelaskan?" kata Acha.
Kaila mengangkat tangan, "Silahkan Kaila." kata Acha.
"Ijin menjawab Bu, karena dalam 15 hari darah yang keluar tidak sampai 24 jam." jelas Kaila.
"Maa syaa Allah Mumtaz." kata Acha Liani dan Naura.
"Kita lanjut, jadi benar yang dijelaskan oleh Kaila tadi, Wanita yang mengeluarkan darah putus-putus selama 15 hari 15 malam tetapi setelah dijumlahkan masa keluarnya tidak sampai 24 jam, tidak dihukumi haid." jelas Acha.
"Minimal masa suci yang memisah antara dua haid adalah 15 hari 15 malam sekitar 360 jam, maksimalnya tak terbatas, wanita yang keluar darah 5 hari lalu bersih 15 hari, setelah itu keluar lagi 3 hari, maka 5 hari pertama hukumnya haid, lalu suci 15 hari kemudian haid lagi 3 hari, dalam contoh ini si wanita dalam sebulan mengalami haid 2 kali." jelas Acha.
"Darah yang sudah mencapai 24 jam, setiap bersih wajib langsung berlaku suci shalat dan wajib mandi tidak boleh menunggu hingga keluar waktu shalat, jadi misalnya Kaila 3 hari haid dan darah yang keluar sudah mencapai 24 jam terus jam 1 siang darah berhenti dan Kaila mengetahuinya bahwa darah itu sudah berhenti, Kaila wajib langsung mandi dan melaksanakan shalat dzuhur, inilah pendapat yang mu’tamad.
__ADS_1
[Hasyiyat al-Jamal, 1/246.]" jelas Acha.
"Tapi menurut pendapat Imam ar-Rofi’i saat bersih jika belum mencapai masa adatnya dan adatnya putus-putus maka wajib menunggu, tidak boleh shalat. [Al-Ibanah wal Ifadlah, 36]." jelas Acha.
"Adat haid?" kata Kaila dan Naura.
Acha tertawa kecil karena memahami bahwa mereka berdua baru saja menemukan hal baru, "Jadi adat haid itu jumlah haid terakhir, misalnya bulan kemarin Naura haid selama 6 hari dan sekarang Naura haid, berarti adat haid Naura 6 hari." jelas Acha.
Naura dan Kaila mengangguk samar, "Umm gitu."
"Jadi jika meruju kepada pendapat Imam ar-Rofi'i, maka saat bersih boleh tidak langsung mandi dan tidak shalat, dengan syarat, pertama belum mencapai masa adatnya, jadi tadi kan contohnya pas bulan kemarin Naura haid 6 hari dan sekarang sedang haid, misalnya haidnya baru 3 hari sedangkan darahnya duah berhenti, nah kalo pake pendapat Imam ar-Rofi'i, Naura boleh menunggu sampai hari ke 6 untuk bersuci," jelas Acha.
"Kedua, adat haidnya putus-putus, misalnya Naura yang adat haidnya 6 hari dan putus-putus, Naura mengalami keluar 3 hari, dan bersih, maka Naura boleh menunggu atay tidak mandi dan shalat hingga hari ke 6, namun jika ternyata darahnya tidak kembali lagi, Naura harus mengqodlo shalat yang tertinggal," jelas Acha
"Kalau sudah melewati masa adatnya, semisal Kaila adat haidnya 10 hari, Kaila haid keluar darah 11 hari lalu bersih, maka Kaila wajib langsung berlaku suci yaitu mandi dan shalat." jelas Acha.
"Mungkin sampai sini saja, semoga kalian berdua dapat memahami." kata Acha.
"Alhamdulillah, in syaa Allah Bu." kata Naura dan Kaila.
"Ada yang ingin ditanyakan?" kata Acha.
Kaila dan Naura menggeleng samar, "Alhamdulillah tidak Bu." kata mereka berdua.
Liani beranjak dari sofa, "Habiskan cemilannya jangan sungkan." kata Liani.
Liani langsung pergi ke kamar, Acha memperhatikan sampai Liani masuk ke kamar, Acha kembali melihat ke arah Kaila dan Naura, Acha tersenyum hangat pada mereka, "Iya benar, ayo dimakan." kata Acha.
"Iya Ibu makasih." kata mereka berdua.
"Tunggu sebentar Nak, " kata Acha diangguki mereka.
Acha menyusul Liani, terlihat Laini sedang membingkis sesuatu, Acha segera menghampiri "Wah bingkisan?" kata Acha.
Liani tersenyum mengangguk pada Acha, Acha melihat-lihat bingkisan itu, "Untuk mereka?" kata Acha.
Liani mengangguk samar, "Iya hanya untuk penghargaan semangat dan keunginan mereka mempelajari Fiqih tentang haid." kata Liani.
"Nah ide yang bagus." kata Acha.
Setelah selesai membingkis Liani dan Acha segera menghampiri Naura dan Kaila, terlihat Naura dan Kaila sedang berbincang, kemudian tersenyum melihat Acha dan Liani, "Ibu ini sudah sore, kami akan pulang, makasih untuk ilmu dan cemilannya." kata Kaila.
"Eh tunggu sebentar ini untuk kalian berdua." kata Liani memberikan bingkisan.
"Wah alhamdulillah makasih Bu." kata Mereka berdua.
"Dan bros ini untuk kalian juga." kata Acha yang memberikan dua buah bros.
"Maa syaa Allah indah sekali, makasih Ibu guru." kata mereka.
Acha tersenyum dan mengusap lembut kepala mereka.
Kaila dan Naura mencium punggung tangan Acha dan Liani, "Kami pamit pulang assalamu'alaikum." kata mereka berdua.
"Wa'alaikumussalam." ucap Liani dan Acha.
Acha dan Liani mengantar mereka sampai depan, "Jangan bosan-bosan untuk berkunjung kemari." kata Acha.
"Siap Ibu, terimakasih atas waktunya ilmunya dan hadiahnya." kata Naura dan Kaila.
Naura dan Kaila tersenyum dan melambaikan tangan, "Hati-hati Nak." kata Acha.
Kaila dan Naura berlari saling berkejaran, "Iya Ibu." teriak Naura dan Kaila yang sudah terlihat jauh.
__ADS_1