
Ririn yang sudah sampai di gerbang rumahnya dan langsung masuk.
Tok tok tok...
"Assalamu'alaikum bunda?" kata Ririn.
"Wa'alaikumussalam warohmatullah." sahut seseorang di dalam.
Muncul perempuan separuh baya, Ririn pun mencium tangannya bulak balik, dan beliau mengelus kepala Ririn.
(ya beliau Rina bunda nya Ririn.)
......................
Ririn pun masuk dan duduk di sofa.
"Nak? Kamu pulang malam malam begini, ada masalah?" kata Rina.
"Nggak kok Bunda, Ririn lagi rindu sama Bunda." kata Ririn.
"Kamu rindu sama bunda sampe nangis nangis?" kata Rina.
"Hah?" kata Ririn tak mengerti.
"Mata Kamu sembab kaya abis nangis." kata Rina.
"Ouh, abisnya udah lama gak ketemu Bunda." kata Ririn memeluk Rina.
"Kamu kan harus nyari ilmu, terus kalo kamu pulang nanti kuliahnya gimana sayang?" kata Rini.
"Ouh, kalo kuliah satu minggu kedepan libur dulu dan di fokuskan belajar di pondok." kata Ririn.
"Nah itu, ilmu agama sayang tau nak." kata Rina.
"Ririn juga sayang banget ninggalin ilmu, tapi ya gimana lagi hati Ririn udah terlanjur hancur Nda, percuma nggak bakal bisa fokus." batin Ririn.
"Ayah dimana?" kata Ririn.
"Ayah ada meeting." kata Rina.
"Yaudah Kamu istirahat sana, udah jam 10 malam." kata Rina.
"Iya Bunda, Ririn juga udah ngantuk nih." kata Ririn.
Ririn pun langsung menaiki tangga menuju kamarnya.
"Kenapa yaa Ririn tumben, biasanya dia nggak bakal ninggalin pelajaran apalagi kalo tentang ilmu agama." batin Rina yang memerhatikan langkah demi langkah Ririn.
"Ririn bobo yaa selamat malam bunda." kata Ririn di depan kamarnya.
"Iyaa selamat bobo, mimpi indah ya." kata Rina.
......................
Ririn pun langsung masuk kamar dan menangis, karena teringat kembali dengan kata kata Faziel.
'Saya sudah tau perasaan Kamu.'
'Saya kira perasaan kamu dua tahun yang lalu sudah hilang, makanya Saya diam walau perasaan yang dulu tetap sama.'
'Toh kalo memang jodoh, Allah bakal mempersatukan Kita, Kita sibuk kan untuk memperbaiki diri, jika memang persiapan sudah mantap, in syaa Allah akan ada waktunya untuk saya mengkhitbah kamu.'
'Kita harus saling mengiklaskan, karena sesuatu yang hilang akan tergantikan dengan yang lebih baik.'
'Melamun yaa, masih mikirin tentang perjodohan kamu? Saya dengar pernikahan kalian akan segera di tetapkan, kapan?'
Kata kata itu menggema di telinga Ririn.
"Sudah cukup hiks hiks." kata Ririn menutup kedua telinganya dan menangis.
Perkataan Acha terlintas di ingatan Ririn.
'..Acha juga pernah mengalami hal seperti itu, tapi Acha berusaha Ikhlas, dan Acha percaya sesuatu yang hilang akan terganti dengan yang lebih baik.'
'istighfar Rin..'
'..Kita kan tidak tau tentang jodoh, rizki dan kematian, karena semua itu sudah qodarulloh, toh yang udah menjadi qodarulloh nggak bakal salah alamat datang nya.'
__ADS_1
'..Tadir Allah berkata lain, pria itu sudah menikah dan bahagia, sekarang harapan dan cinta Acha hanya untuk Allah.'
"Astaghfirullah, hiks hiks." tangis Ririn penuh sesalan.
"Mungkin hamba sudah terlalu jauh dari mu yaa Allah, sehingga Engkau menegur hamba agar lembali berharap pada Mu." jerit batin Ririn dengan air matanya yang mengalir.
Ririn pun bergegas berwudhu kemudian shalat sunnah wudhu, dilanjut shalat taubat, dan shalat witir .
Tak terasa bibir Ririn yang terus berdzikir terhenti, dan Ririn pun sudah masuk dunia mimpi di atas sejadahnya.
"Biarlah hari-hari itu berlalu kerjakan yang engkau sukai, apabila takdir sudah menentukan maka berlapang dadalah kau."
❤Jalaluddin Rumi❤
......................
Kring alarm berbunyi menunjukan jam 03.00 pagi.
Seperti biasa tak lupa Ririn melaksanakan shalat tahajud.
Matahari pun muncul untuk menyapa makhluk yang sudah beraktifitas di luar, dan kemudian terburu buru untuk pergi dan posisinya pun di gantikan oleh sang rembulan.
Sudah satu minggu Ririn dirumah, dan harapan yang ada untuk manusia kini telah terganti dan sekarang hanya ada harapan kepada sang pemilik cinta yaitu Allah subhanawata'ala.
"Rin?" panggil seorang pria paruh bayah yang sedang membaca koran.
(Ya beliau Randi ayahnya Ririn.)
"Iya Ayah." sahut Ririn dan segera bergegas menghampiri panggilan sang Ayah.
"Tadi Ustadz Rayis menghubungi Ayah, katanya Kamu kapan ke pondok, soalnya Kamu ijin satu minggu, dan sekarang sudah satu minggu." kata Randi.
"In syaa Allah sehabis dzuhur Yah." kata Ririn.
"Mau Ayah anter?" kata Randi.
"Nggak usah Yah, Ririn naik grab aja." kata Ririn.
"Beneran." kata Randi dan di angguki Ririn.
Dzuhur pun tiba Ririn langsung melaksanakan shalat, Ririn langsung mengganti pakaian gamis yang berwarna hitam pink dengan kerudung lebar berwarna hitam dan taklupa kaos kaki dan handstock nya.
......................
"Ini untuk keluarga Ustadz Fatih." kata Rina memberikan bingkisan.
"Dan ini untuk teman teman Kamu." kata Rina.
"Makasih Bunda." kata Ririn memeluk Rina.
"Ririn berangkat ya, assalamu'alaikum." kata Ririn mencium tangan Bundanya bulak balik begitupula pada Ayah nya.
"Wa'alaikumussalam hati hati nak." kata Rina dan Randi.
"Iyaa." kata Ririn.
Ririn pun bergegas masuk grab.
......................
Sesampainya di pondok Ririn melangkahkan kakinya ke asrama menyimpan barang barang ke kamar.
"Assalamu'alaikum?" kata Ririn.
"Ririn..." teriak sahabat sahabatnya.
Mereka pun berpelukan.
"Kami kangen banget sama kamu." kata Acha.
"Ririn juga." kata Ririn.
"Ciee udah move on nih." kata Cilla.
Ririn hanya tersenyum.
"Eh maaf nggak maksud menyinggung." kata Cilla.
__ADS_1
"Eh nggak kesinggung kok." kata Ririn.
"Alhamdulillah atas ijin Allah Ririn bisa ikhlas, dan in syaa Allah cinta Ririn hanya lillah." kata Ririn.
"Iyaa dong pengharapan dan cinta Kita harus untuk Allah semata, soal jodoh ada waktunya sang maha Cinta memberikan nya ke Kita, ya kan?" kata Rasi di angguki sahabat sahabatnya.
"Yaudah Ririn mau ke rumah Umi dulu, nanti dikira Ririn belum ke pondok hehe." kata Ririn.
"Oke oke perlu dianter gak." kata Acha.
"Nggak usah, eh iya itu buka aja buat kalian." kata Ririn.
"Asiik..." kata Mereka.
"Tau aja kalo pengen ngemil." kata Putri.
Ririn langsung ke rumah Ustadz Fatih dengan bingkisan.
......................
"Assalamu'alaikum?" kata Ririn.
"Wa'alaikumussalam, eh Ririn masuk masuk." kata ustadzah Aisy.
Ririn pun mencium tangan Aisy, dan duduk disofa.
"Kirain Umi, Kamu mau di rumah mulu." canda Aisy.
"Hehe nggak lah Umi, udah rindu sama pondok." kata Ririn.
"Eh Umi denger Kamu ada yang khitbah ya?" kata Aisy.
Uhuk uhuk Ririn tersedak.
"Khitbah? nggak ada yang khitbah Ririn Umi." kata Ririn.
"Tapi Bunda kamu cerita loh sama Umi kamu di khitbah sama anaknya temen Ayah kamu." kata Aisy.
"Ririn nggak tau apa apa, dan pas Ririn pulang Bunda nggak bilang apa apa." kata Ririn.
"Mungkin Umi nya yang salah denger kali ya." kata Aisy.
"Yaudah Ririn ke asrama ya umi." kata Ririn.
"Dan ini ada bingkisan kecil dari Ayah sama Bunda." kata Ririn.
"Ya Allah, makasih ya." kata Aisy.
"Iyaa Umi, Ririn pamit assalamu'alaikum." kata Ririn mencium tangan Aisy.
"Wa'alaikumussalama." kata Aisy.
Ririn pun langsung bergegas pergi.
"Duh masa iya sih, Ririn mau di jodoh, tapi Bunda nggak bilang apa apa sama Ririn, terus bang Ustadz gimana? uhh kan bang Ustadz juga sudah menemukan wanita, bukan menemukan sih di jodohin juga, mungkin Mereka adalah pengganti yang terbaik untuk Kami, Allah belum menghilangkan cinta Ririn untuk bang Ustadz dan rasa ini masih ada, dan tak melebihi cinta Ku pada Mu ya Allah, soal perjodohan itu Ririn cuma nunggu keputusan terbai dari Allah, jika memang benar... yaa Ririn harus menerima karena Orang tua pasti mencarikan yang terbaik buat anak nya." gumam Ririn di sepanjang jalan.
......................
Di perjalanan menuju asrama, tak sengaja tangan ririn berbenturan dengan seseorang.
"Afwan.." kata Ririn berbalik ke arah orang itu.
"Na'am.. Eh Rin kamu sudah disini, pas kapan?" kata Faziel.
"Na'am ustadz, pas tadi ba'da dzuhur." kata Ririn langsung tertunduk.
"Saya senang liatnya." kata Faziel.
Ririn hanya tertunduk.
"Ana duluan Ustadz, Assalamu'alaikum." kata Ririn langsung pergi.
"Wa'alaikumussalam warohmatullah." kata Faziel.
"Jika goresan luka di hati Kamu karena Saya, dan hal itu membuat Kamu lebih berharap kepada Allah dan mengutamakan mencintai Allah, Saya senang dan Saya ikhlas sekalipun Kamu harus benci Saya, tapi tidak terlihat ada benci dimatanya, semoga Kamu sudah ikhlas Rin." batin Faziel.
......................
__ADS_1
"Bang Ustadz, Ana tau rasa cinta tidak akan hilang hanya karena waktu atau jarak, tapi cinta hilang karena izin sang maha cinta, bukan berarti Ana tak mencintai Bang Ustadz, Ana masih mencintai dan akan selalu begitu, tapi cinta Ana pada bang Ustadz tak melebihi cinta Ana kepada Allah, kini harapam dan cinta Ana hanya untuk Allah, biarkan Allah yang mengatur alur cinta Kita, biarkan Allah yang bertindak, Ana sebagai makhluk hanya bisa berdo'a meminta yang terbaik, dan soal perjodohan mungkin itu jawaban dari do'a Ana, dan yang hilang akan di ganti dengan yang lebih baik lagi, jika memang yang di katakan umi benar, siapa pun beliau semoga yang terbaik buat Ririn yaa Allah." batin Ririn yang langkah demi langkahnya menuju asrama.