
"Kenapa Zil?" kata Ustadz Rayis.
"Kata Alki, ketua pengurus di suruh menghadap Ustadz, Ana disini menggantikan Alki, karena Alki sedang ada keperluan." kata Faziel.
"Astaghfirullah iya, Saya lupa, ayo ikut Saya." kata Ustadz Rayis.
"Rin nanti kalo sudah selesai tolong bawa keruangan Saya yaa.." kata Ustadz Rayis.
"Na'am Ustadz." kata Ririn.
Ustadz Rayis dan Faziel pun bergegas pergi menuju Ruangan.
......................
"..Nah ini daftar perlengkapan untuk wisuda angkatan Kalian.." kata Ustadz Rayis.
Faziel hanya melamun teringat ingat kalimat yang Ririn ungkapkan padanya.
'Kak Faziel Ana uhibuka..'
"..Ziel..?" kata Ustadz Rayis.
"Hah iya Ustadz..?" kata Faziel tersadar.
"Kamu melamun ya..?" kata ustadz Rayis.
"Ng..nggak kok Ustadz." kata Faziel.
"Keliatan nya kaya banyak pikiran, Kamu lagi ada masalah yaa, dari kepengurusan atau keaggotaan?" kata Usatdz Rayis.
"Nggak kok Ustadz bukan itu." kata Faziel.
"Lalu apa? Perasaan hati?" kata Ustadz Rayis.
Faziel mengangguk karena kalo bohong apalagi sama Guru takut dosa plus jadi masalah nanti tidak di percaya lagi.
Ustadz Rayis pun terkekeh.
"Faziel Faziel, coba cerita ke Saya, apa dan siapa yang membuat seorang Faziel menjadi begini." ledek Ustadz Rayis.
"Ada Akhwat yang mengungkapkan isi hatinya kepada Ana secara langsung.." kata Faziel tertunduk.
"Aduh anak muda sekarang emang ya, lalu kamu jawab apa?" kata Ustadz Rayis terkekeh.
"Saya tidak menjawab apa apa Ustadz.." kata Faziel.
"Loh kenapa?" kata Ustadz Rayis.
"Karena Ana masih bingung tentang perasaan apalagi soal hati, Ana teringat ingat perkataan nya dan Ana merasa tidak enak belum menjawab, dan seakan akan Ana seperti menggantung kepastian pada nya." kata Faziel.
"Yaa sudah Kamu jawab dong, jawab apa yang menurut Kamu benar.." kata Ustadz Rayis.
"Tapi Ustadz, Ana ingin fokus untuk menuntut Ilmu dulu.." kata Faziel.
"Siapa Akhwatnya?" kata Ustadz Rayis.
"Ririn ustadz." kata Faziel.
"Ouh kebetulan Ririn ke sini, beri jawaban padanya, jawaban yang tidak menyakiti ke dua belah pihak." kata Ustadz Rayis.
"Di depan Ustadz?" kata Faziel di angguki Rayis.
"Ustadz pernah mengalami seperti ini?" kata Faziel.
"Iyaa, Saya juga pernah berada di posisi seperti Kamu, di mana harus menjawab perasaan seorang Akhwat, awalnya Saya memang ragu dan takut akan sakit hatinya Akhwat itu, tapi sungguh atas ijin Allah Akhwat itu bisa menerima keputusan dan jawaban Saya." kata Rayis.
Terlihat Ririn menuju ke Ruangan Ustadz Rayis.
"Nah itu Ririn." kata Rayis
......................
"Assalamu'alaikum, izin masuk Ustadz." kata Ririn membawa tumpukan buku.
Deg! Hati Faziel di penuhi ketegangan.
"Wa'alaikumussalam, tafadholly." kata Rayis.
"Taruh di meja Saya saja." kata Rayis yang duduk di sofa bersama Faziel.
Ririn meletakan buku di meja.
"Ririn permisi Ustadz, kak Faziel." kata Ririn menyatukan tangan
......................
"Ayo.." kata Ustadz Rayis terkekeh dan menyikut Faziel.
Faziel hanya tertunduk.
"Ririn tunggu." kata Faziel.
Deg! Hati Ririn sudah bercampur aduk tak karuan.
"I..iya kak?" kata Ririn.
Hanya ada keheningan.
"Ada yang ingin berbicara kepada Kamu." kata Rayis angkat bicara.
"Siapa Ustadz?" kata Ririn.
Rayis mengarah ke Faziel.
"Kak Faziel? Apa kak Faziel cerita ke Ustadz Rayis tentang kejadian tadi.." batin Ririn bertanya tanya.
"Mau bicara apa ya kak?" kata Ririn.
__ADS_1
Faziel yang tertunduk menarik nafas dalam dalam dan membuangnya perlahan.
"Ririn saya ingin menjelaskan sekaligus memberi jawaban atas ungkapan perasaan Kamu pada Saya, Jujur Saya juga menyukai Kamu tapi hanya sebatas teman dan sesama umat muslim, tidak lebih dari itu, Saya tau perasaan Kamu, Saya harap Kamu tidak kecewa, Saya ingin fokus untuk menggapai impian Saya terlebih dahulu, Afwan." kata Faziel.
Deg! Perkataan itu sampai ke hati Ririn, Ririn hanya tertunduk.
"Iyaa tidak pa-pa Saya juga bisa mengerti, Saya permisi Ustadz, Kak Faziel Assalamu'alaikum." kata Ririn langsung meninggalkan ruangan.
"Wa'alaikumussalam warohmatullah." kata Faziel dan Rayis.
Falsh off
...****************...
"Astaghfirullah Ziel, berarti tadi Ririn..." kata Muza dan diangguki Faziel.
"Dan Ririn masih ada rasa sama Kamu?" kata Muza.
"Iyaa.. Tadi siang Ane liat kecemburuan dimatanya saat Ane berbincang dengan Liani, dan mungkin Ririn mengira ane berduaan dengan Liani padahal di sana juga ada Cilla." kata Faziel.
Flash back on
"Assalamu'alaikum Ustadz.." kata Liani dan Cilla.
"Wa'alaikumussalam warohmatullah, ada apa yaa?" kata Faziel.
"Ustadz bisa bantuin Kita nggak?" kata Liani.
"Soal apa dulu." kata Faziel.
"Soal Ririn.." kata Cilla.
Deg! Kalimat itu terlintas di ingatan Faziel.
'kak faziel ana uhibuka..'
"Ririn? Emang Ririn kenapa?" kata Faziel.
"Ririn.. Aduh gimana yaa gak enak sih bilang nya." kata Cilla.
"Tentang perasaannya terhadap saya?" kata Faziel.
Liani hanya membulatkan mata.
"Ustadz tau?" kata Liani.
"Yaa Saya sudah tau." kata Faziel.
"Lalu kenapa Ustadz..." kata Cilla.
"Saya hanya tidak ingin Ririn berharap lebih kepada Saya, Saya hanya ingin harapan Ririn untuk allah, karena berharap kepada Allah tidak akan ada kekecewaan, sedangkan berharap kepada Saya hanya akan ada kekecewaan." kata Faziel.
"Maksudnya Ustadz..." kata liani.
"Saya sudah di jodohkan.." kata Faziel.
"..Saya tidak bisa menolak, maka dari itu lebih baik Ririn merasa kecewa sekarang dari pada saat mengetahui pernikahan Saya.." kata Faziel.
"Tapi Ustadz ini salah, harusnya Ustadz mengatakan kepada Ririn yang sebenarnya." kata Liani.
"Saya tauu.. Tapi Saya tidak bisa melihat Ririn hancur.." kat Faziel.
"Tapi dengan Ustadz menyembunyikan ini, malah Ustadz sangat menyakiti Ririn dan Ririn akan lebih hancur." kata Cilla.
"Saya akan berusaha memberitahu Ririn, setelah hati Saya siap." kata Faziel.
"Kenapa harus menunggu hati siap, ustadz mencintai Ririn?" kata Liani.
"ya Saya mencintainya, entah sejak kapan rasa ini tumbuh, dan saat Saya menyadari hal ini Allah berkata lain, sehingga Allah mengirim wanita itu datang dan orang tua Saya menjodohkannya dengan Saya." kata Faziel.
"Ustadz tau tentang wanita itu?" kata Liani.
"Tidak, namanya saja Saya belum diberi tahu." kata Faziel.
"Nah kan Kita harus tau dulu seperti apa, kenapa Ustadz mau di jodohkan." kata Cilla.
"Saya tidak bisa menolak, ini permintaan pertama dari orang tua Saya." kata Faziel.
"Lalu bagaimana dengan perasaan Ririn?" kata Liani.
"Inn syaa Allah Saya akan bicara dengan Ririn." kata Faziel.
"Semangat Ustadz, ustadz pasti bisa." kata Liani.
"Aamiin syukron." kata Faziel.
"Nah udah gitu, Ustadz beri penjelasan tentang rasa Cilla ke Ustadz Rayis kalo di tolak langsung lempar ke Ustadz Muza." kata Cilla memecahkan ketegangan.
"Kamu mah Cill ada ada aja..kalo soal Muza minta bantuan sama adeknya aja." kata Faziel terkekeh.
"Ih apaan nggak, nggak mau ikut campur Liani mah." kata Liani.
"Yaa nggak bisa gitu dong..." kata Faziel tertawa.
"Ihh bisa lah.." kata Liani tertawa.
Dan tawa terhentikan saat melihat Ririn sedang memerhatikan dari kejauhan.
"Rin.." kata Liani.
Ririn bergegas pergi berlari.
"Yah.. Yah.. Salah paham lagi ini.." kata Cilla.
"Iya nanti dia kiranya Liani berduaan sama Ustadz, padahal ada Cilla juga." kata Liani.
"Udah.. Kalian balik ke asrama saja." kata Faziel.
__ADS_1
"Tapi Ririn gimana Ustadz?" kata Liani.
"Udah biar Saya yang urus." kata Faziel.
"Makasih Ustadz.." kata Liani.
Flash off.
...****************...
"Lalu Kamu sudah menjelaskan perjodohan Kamu pada Ririn?" kata Muza.
Faziel hanya menggeleng.
"Astaghfirullah, tadi Ririn mendengar percakapan Kita, dan mungkin sekarang hatinya hancur, teradang perempuan kalo sudah hancur hatinya, Mereka akan trauma untuk mengenal Cinta.." kata Muza.
"Ane harus gimana, Ane bingung, Ane tidak bisa menolak permintaan orang tua Ane.." kata Faziel.
"Jelasin Ziel, Kamu harus jelasin baik baik." kata Muzaa.
......................
"Udah terlanjur Bang.." kata Liani datang.
"Dek.. Maksudnya?" kata Muza.
"Ririn, izin pulang dan sekarang Ririn sudah pergi." kata Liani.
Faziel pun hanya tertunduk.
"Sekarang Ririn dimana?" kata Faziel.
"Mungkin sedang menunggu grab yang Dia pesan." kata Liani.
"Susul Ziel mungkin sekarang grab belum datang dan masih pasti menunggu." kata Muza diangguki Faziel.
Faziel pun langsung berlari menyusul Ririn.
......................
Acha yang mengikuti Ririn.
"Rinn, Kamu kenapa Kamu mau kemana? masa pulang dadakan udah malam tau." kata Acha mengejar Ririn.
Ririn pun duduk dikursi yang berada pinggir jalan.
"Ririn, Bilang dong, Apa Kamu izin pulang gara gara si Ustadz?" kata Acha memeluk Ririn.
Ririn menangis di pelukan Acha.
......................
Ririn pun menceritakan pada Acha.
"....Bang Ustadz, sudah di jodohkan oleh orang tuanya Cha." kata Ririn.
"Ya Allah, sabar yaa Rin Kamu harus ikhlas." kata Acha.
"Ikhlas? Memang hanya mengucapkan ikhlas itu gampang, tapi Kamu nggak ngerasain gimana ada di posisi Aku." kata Ririn.
"Kamu salah Rin, Acha juga pernah mengalami hal seperti itu, tapi Acha berusaha ikhlas, dan Acha percaya bahwa sesuatu yang hilang akan terganti dengan yang lebih baik." kata Acha.
"Tapi ini menyakitkan Chaa.." kata Ririn.
"Istighfar Rin, sebelum janur kuning melengkung, kalimah qobiltu nikaha terucap di bibir, dan para saksi mengatakan Sah, Masih ada harapan Rin bordo'a aja, Kita kan tidak tau tentang jodoh, rizki dan kematian, karena semua itu sudah qodarullah, toh yang udah menjadi qodarullah nggak bakal salah alamat datang nya." kata Acha.
"Lalu Acha masih berharap untuk pria itu?" kata Ririn.
Acha hanya menggeleng.
"Kenapa?" kata Ririn.
"Karena taqdir Allah berkata lain, pria itu sudah menikah dan bahagia, Acha juga bahagia melihat kebahagiaan nya, alhamdulillah sekarang harapan dan cinta Acha hanya untuk Allah." kata Acha.
"Lalu Acha tidak punya rasa cinta kepada manusia?" kata Ririn.
Acha hanya terkekeh.
"Cinta itu fitrah bagi setiap makhluk Rin, dan jika sang pemilik cinta mendatang kan rasa cinta untuk makhluk di hati Acha, Acha nggak bisa nolak karena Allah sudah berkata kun fayakun, sesungguhnya datang dan perginya rasa cinta itu semua dengan ijin sang maha pemilik cinta yaitu Allah." kata Acha.
"Dan yaa, jangan terlalu berlebihan dalam mencintai dan berharap pada manusia, jika Kita mencintai manusia jangan pernah melebihi cinta Kita untuk Allah." kata Acha.
Menjadi tuan
Orang yang dapat menjadi tuan bagi dirinya, menjadi pemandu untuk nafsunya dan menjadi kapten untuk bahtera kehidupannya.
❤Ali bin Abi Thalib❤
Grab pun datang.
"Ririn pamit ya Cha, salam buat yang lain." kata Ririn memeluk Acha.
"Kamu yakin mau pulang?" kata Acha.
"Iyaa Cha Ririn, butuh waktu untuk menenagkan diri." kata Ririn.
"Fii amanillah, segera kembali yaa." kata Acha.
"Iyaa in syaa Allah, assalamu'alaikum." kata Ririn.
......................
Ririn pun langsung menaiki mobil.
"Wa'alaikumussalam." kata Acha.
Acha pun langsung masuk ke area pondok.
__ADS_1
"Haa, astaghfirullah." kaget Acha hampir nabrak seseorang.