
Dalam mimpi Acha.
"Hey..."
Acha mencari sumber suara itu, terlihat sosok wanita cantik dilangit yang terlukis wujudnya diawan awan, ukuran nya tinggi, tak seperti manusia biasa.
Acha memfokuskan matanya untuk memper jelas penglihatannya yang buram melihat wanita itu.
Acha tertegun melihat kecantikan wanita itu.
"Maa syaa Alloh cantik sekali." batin Acha.
"Apa liat liat?"
Acha terkaget mendengar itu.
"Bisa bicara kukira hanya lukisan di langit." gumam Acha.
"Kalo mau minta apa pun minta nya sama Alloh." ucap nya lagi sembari mengarah ke arah sebelah kanan nya.
"Perasaan Acha kalo minta apa apa selalu ke Alloh." batin Acha.
Acha mengikuti arahan tangan wanita itu.
Terlihat sebuah langit yang indah berwarna keorenan bagaikan negeri dongeng banyak gumpalan gumpalan awan indah, suasananya seperti langit senja, sedikit terang dan redup, susah untuk di jelaskan oleh kata kata.
Dilangit itu terdapat awan besar membentuk lafad Alloh yang begitu indah, di bawah lafad Alloh itu terletak kursi yang begitu indah seperti terbuat dari emas dan kaca dibilang kaca bukan seperti kaca mungkin itu berlian.
"Maa syaa Alloh, yaa Alloh..." kata Acha yang keadaan nya memakai mukena putih tersungkur menangis.
"Yaa Alloh sucikan jiwa dan ragaku terutama hati dan pikiranku..." kata Acha yang berdiri dengan lutut memohon sembari dan berserah diri.
Acha melihat sekitar, di pinggir sisi kanan dan kiri Acha terdapat antara dua dan tiga orang wanita dengan mukena putih, wanita itu sedang sholat dengan sangat khusu, sehingga tangisan Acha pun tak bisa menembus ke khusuan nya.
...----------------...
Kringggg....
Alarm ber bunyi, Acha tersadar dari mimpinya dan segera mencari sumber suara alarm dan segera mematikan, langsung Acha membaca do'a bangun tidur.
"Jam empat." kata Acha melihat handphone nya.
"Yaa Alloh alhamdulillah, mimpi nya sangat indah entah maksudnya apa itu, Acha harap mimpi itu datang langsung dari mu, aamiin." kata Acha tersenyum.
"Sangat indah sulit untu di jelas kan, cukup Acha yang tau keindahan suasana dalam mimpi itu." kata Acha.
(Mimpi ini berdasarkan kenyataan dari mimpi seseorang, wallohu'alam)
Acha pun segera berwudhu dan langsung melaksanakan Sholat.
"Maaf Cha, tadi mau bangunin kasian Achanya pules banget keliatan nya." kata Liani.
"Iyaa nggak papa Li." kata Acha memakai mukena.
"Iya kayanya mimpi yah, mimpi apa soalnya kaya nangis, sampe kebawa bawa ke alam sadar tau." kata Rasi.
"Eh emang iya tah?" kata Acha.
"Iya Acha tersedu sedu pas tadi." kata Cilla.
"Mimpi nangis ya Cha?" kata putri.
"Iyaa hehe." kata Acha.
"Ririn juga pernah mimpi nangis, ketawa, terus kepeleset jatuh, kebawanya sampe alam sadar." kata Ririn terkekeh.
"Iya kayanya semua orang berpengalaman kaya gitu deh." kata Acha.
"Kalian udah sholat?" kata Acha.
"Alhamdulillah, tinggal nunggu subuh." kata Rasi.
"Udah Acha cepet sholat." kata Liani.
Acha pun segera melaksanakan sholat tahajud.
Setelah sholat Acha bersalaman pada teman teman nya, sudah menjadi kebiasaan mereka selesai sholat saling bersalaman.
Beberapa menit kemudian adzan subuh berkumandang, seperti biasa tim keamanan menggebrak gebrak satu persatu pintu seluruh kamar.
'Teh bangun teh Sholat jama'ah subuh." teriak Lasma tim keamanan.
"Tuh udah ada toa." kata Cilla terkekeh.
"Hush jangan asal ngomong, tar di kira Lasma kita nyari gara gara." kata Putri.
"Lagian suara kaya toa." gerutu Cilla.
"Udah yuk ah kita ke masjid, sebelum tim ke amanan menggebrak pintu kamar kita." kata Acha.
Acha dan teman teman langsung keluar kamar.
Krek...
Pintu kamar dibuka Cilla.
Plak plak
Gebrakan untuk pintu malah mengenai wajah Cilla.
Rahma yang tidak fokus tak sadar bahwa pintu di buka.
"Aduhh Rahma nih apa apaan sih sakit tau." Rengek Cilla.
"Eh duh maaf, kirain nggak bakal keluar kamar." kata Rahma.
"Yaudah nggak papa, lain kali fokus dong." kata Cilla.
"Eh muka Cilla masih utuh kan?" kata Cilla.
"Nggak Cil, itu hidung nya cuma ada satu doang." kata Acha terkekeh.
"Ilang satu?" kata Cilla meraba raba hidung.
"Ih Acha, orang idung mah emang cuma ada satu." Rengek Cilla.
__ADS_1
Brak brak...
Gerbang asrama di gebrak.
"Teh bentar lagi bakal di mulai sholat jama'ah nya." teriak Muza.
"Ustadz Muza." kaget semua nya.
Santriat segera berhamburan ke depan gerbang.
"Cepetan teh, makanya kalo udah selesai ngaji langsung tidur, jadi nya gini kan sholat jama'ah subuh nya." kata Muza.
"Iya Ustadz, kunci gerbang nya gak ada." kata Widya.
"Siapa yang pegang?" kata Muza.
"Nggak tau ustadz, biasanya tim keamanan." kata Asiyah.
"Yaudah cari tim keamanannya." kata Muza yang langsung pergi.
"Siapa lagi yang pegang kunci gerbang." gerutu Widya.
......................
Rahma meraba raba saku nya.
"Apa ini, kunci?" batin Rahma.
"Astaghfirulloh..." kata Rahma.
"Kenapa Ma?" kaget mereka
"Udah udah ayo kalian cepet ke bawah sholat jama'ah." kata Rahma yang berlari ke bawah.
Mereka segera kebawah mengikuti Rahma.
"Eh afwan afwan," kata Rahma yang menerobos kumpulan santriwati.
"Makanya teh jangan gebrak gebrak pintu kamar dulu, percuma kan kalo gerbang nya masih di kunci." sindir Widya.
Rahma hanya melirik dengan lirikan tajam.
Semua santriwati pun berhamburan keluar.
Tes...
Kristal bening keluar terjatuh dari mata Rahma.
"Bisa kah dia berpikir dulu baru berbicara, tak nyadarkah perkataan nya itu terasa ke hatin." gumam Rahma yang menangis.
"Eh Rah, kenapa?" kata Acha yang hendak keluar.
"Hmm, eh kalian ng nggak kenapa napa." kata Rahma.
"Sabar yah jadi tim keamanan emang gitu." kata Acha.
"Haha gitu gimana?" kata Rahma.
"Yaa banyak yang julidin." kata Acha terkekeh.
Acha yang berada paling depan berdiri di tengah gerbang sibuk berbincang.
"Eh iya idah cepet ke masjid." kata Rahma.
"Nggak sholat Rah?" kata Rasi.
"Nggak, lagi udzur (haid) soalnya." kata Rahma.
"Owh perasaan tadi siang kamu lagi ngapalin ya." kata Ririn.
"Iyaa namanya ge... Yah gitu lah datang nya dadakan." kata Rahma terkekeh.
"Yaudah sana sana cepet ke masjid." kata Rahma terkekeh mengusir.
"Iya iya." kata Acha.
Langkah demi langkah Acha dan kawan kawan pun semakin menjauhi gerbang.
"Alloh itu adil, pas sebelumnya ada orang yang berbicara sampai menyakiti hati, dan sekarang ada orang yang menghibur hati." batin Rahma.
......................
Matahari pun menampakkan dirinya, perlahan cahayanya merambat menyinari bumi.
"Sayang?" kata Rafan menghampiri Shilla di dapur.
"Iya kenapa?" kata Shilla yang sibuk membuat pisang goreng.
"Mau di buatin teh atau kopi hitam?" tawar Shilla.
"Nggak usah, aku aja yang buat sendiri." kata Rafan mengambil gelas.
"Hmm aku? Sejak kapan?" ledek Shilla.
"Terus mau nya apa?" kata Rafan pasrah.
"Abi." kata Shilla.
"Yaudah, biar Abi aja bikin sendiri." kata Rafan.
"Kedengaran nya aneh." kata Shilla tertawa renyah.
......................
Dirumah sakit, Raysa berjuang melahirkan sang bayi tercinta.
Rayis Aisyah dan Rabya (ibunya Raysa) yang menemani Raysa di dalam Ruangan.
"Tarik nafas, buang, rilekya bu." intruksi dokter.
Raysa hanya mengikuti intruksi dari dokter.
"Dorong...."
"Aaa..."
__ADS_1
"Ayo terus bu..."
"Aaaa..."
Suara tangis bayi pun terdengar memecahkan ketegangan baik di dalam ruangan dan di luar ruangan.
"Alhamdulillah." ucap semua.
Fatih, Rasyid, dan Safa segera masuk ruangan.
Dokter segera membersihkan bayi.
"Ini pak putra nya." kata Dokter.
Rayis menggendong sang putra dan kemudian mengadzani nya.
Rasyid langsung bergegas menyelesaikan administrasi persalilan.
Mereka semua langsung menuju ke rumah kiayi Fatih.
......................
Para santri yang sedang berjalan, langkahnya terhentikan karena kedatangan sang guru, setelah mobil sang guru melaju melewati mereka baru mereka meneruskan jalan.
"Assalamu'alaikum?" ucap semua.
Shilla langsung membuka pintu.
Setelah masuk rumah, ruangan untuk Raysa sudah di siapkan, Raysa langsung duduk di kasur.
"Maa syaa Alloh lucunya." kata Shilla.
"Makanya kamu cepet punya." kata Raysa.
"Ih kak Raysa mah baru juga nikah." kata Shilla.
"Apa masalah nya." kata Rayis.
"Abi ya, kan mereka mau menikmati masa pacaran sesudah menikah." kata Raysa.
Shilla tersenyum malu.
"Eh Rafan kemana dek?" kata Fatih.
"Tadi sih bilang nya mau ke ruangan ustadz Bi." kata Shilla.
"Assalamu'alaikum?" ucap Rafan masuk rumah.
"Wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh." ucap semua.
Rafan segera mencium punggung tangan Fatih, Rayis dan Rasyid.
"Wah ada dede bayi." kata Rafan.
Kedua keluarga sedang berbincang, beberapa jam kemudian.
"Yasudah kami pamit yaa udah mau sore." kata Rasyid.
"Nginep aja." kata Fatih.
Rabya dan Rasyid hanya tersenyum.
"Pengen nya sih gitu tapi masih banyak urusan." kata Rasyid.
"Raysa abi sama umi pulang, kamu jaga pola makan supaya asi nya sehat buat dede bayi nya." kata Rabya.
"Iya umi hati hati." kata Raysa.
"Maaf in nenek yaa nggak bisa nginep." kata Rabya pada sang bayi.
"Iya nenek gak papa yang penting nenek jaga kesehatan." kata Raysa.
"Bibi Safa juga nggak bisa nemenin karena harus sekolah." kata Safa mencium bayi.
"Iya nggak papa Bi, belajar yang rajin ya." kata Raysa.
"Siap debay." kata Safa.
Keluarga Raysa pun langsung pergi dengan mobil melaju sedikit kecepatan.
......................
Matahari menenggelamkan diri dan di ganti oleh sang rembulan, matahari nampak kembali dengan cerah.
Tujuh hari berlalu, suasana yang seperti biasa hari jum'at hari kebebasan bagi santriat.
Acha dan teman teman nya sedang musyawarah.
"Kita mau ngado apa sama anak Ustadzah Raysa?" kata Acha.
"Selimut." kata Cilla.
"Handuk aja."kata Putri.
"Baju stelan aja." kata Ririn
"Ngikut." kata Liani dan Rasi.
"Lah terus mau yang mana?" kata Acha bingung.
"Udah gini aja beliin celana bayi tea sama handuk, kalo selimut bayi tuh jarang pake." kata Acha.
"Yaudah itu aja." teman teman nya.
"Siapa yang mau ke pasar?" kata Rasi.
"Semua aja sekalian kita cuci otak eh..." kata Acha terkekeh.
"Iya mumpung hari jum'at kan." kata Liani.
"Eh iya hari jum'at ternyata, dikira hari sabtu." kata Cilla.
"Ya Alloh pikin, maklum lah kelahiran tahun 1900 an." ledek Putri.
"Sembarangan kalo ngomong, ini tuh kelahiran tahun 1111 an ." kata Cilla terkekeh.
__ADS_1
"Eh udah udah, yuk siap siap." kata Acha.
Mereka pun segera siap siap mengganti pakaian, dan langsung menuju ke jalan raya mencari angkutan umum.