MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 143


__ADS_3

Setiap harinya Acha yang selalu ceria kini setelah kepergian Mufid kembali ke sang maha Kholiq, Acha selalu murung dan menjadi tertutup, hari-hari telah berlalu, Acha yang belum bisa keluar dari rasa kesedihan, hari-hari nya di habiskan dalam kamar.


6 bulan berlalu, Acha yang perlahan mulai terbuka dengan orang orang sekitar.


"Bi Acha pengen buka majlis ta'lim untuk anak anak desa kampung sebelah, kasian disana belum ada kegiatan majlis ta'lim anak, gimana boleh gak." kata Acha.


"Boleh sayang, tapi akan lebih baik kalo kamu buat nya di kampung kita nak, dan mereka yang kemari." kata Qayyis.


"Owh iya yah, kenapa gak kepikiran kesitu." kata Acha.


"Kalo daerah sini kira kira enak nya dimana?" kata Acha.


"Biasanya anak anak tuh suka dengan alam terbuka." kata Fathma membawa 3 cangkir teh.


"Jadi diluar rumah gitu, tapo dimana ya?" kata Acha diangguki Fathma.


"Di taman komplek aja dek." kata Rafan yang tiba-tiba muncul.


"Eh abang." kata Acha.


"Assalamu'alaikum." kata Rafan segera menghampiri dan mencium tangan kedua orang tuanya, Acha mencium tangan Rafan.


"Eh, wa'alaikumussalam nak." kata Fathma.


"Mana cucu nya Abi?" kata Qayyis.


"Assalamu'alaikum?" ucap Shilla dan anak gadis yang berusia 5 tahunan memasuki rumah.


"Zira... sayang." kata Fathma


"Nah itu dia cucunya Kakek." kata Qayyis.


Zira adalah anak dari sepupunya Shilla, sepupu Shilla harus bekerja ke luar daerah selama beberapa bulan, jadi Zira di titipkan untuk tinggal bersama Shilla dan Rafan, dan sudah dianggap seperti cucu oleh Fathma dan Qayyis.


Zira langsung berlari menghampiri dan mencium tangan Fathma dan Qayyis di ikuti Shilla, Acha mencium tangan Shilla.


"Kamu nggak bakal cium tangan ke kakak?" kata Acha.


"Nggak mau, kakak nya jarang nengok Zira." kata Zira.


"Owh jadi gitu ya, um." kata Acha menggelitik Zira.


"Ampun kaka geli." kata Zira tertawa renyah.


Zira bergegas berlari dan Acha langsung mengejar.


"Kapan nih Uma di kasih cucu?" kata Fathma.


Rafan dan Shilla tersenyum dan saling menatap.


"Ada apa ini?" kata Fathma.


"Shilla lagi hamil Uma." kata Shilla.


"Alhamdulillah." ucap Fathma dan Qayyis.


"Berapa bulan?" kata Fathma.


"Jalan 2 bulan Uma." kata Shilla.


"Kamu jangan cape-cape Shill, jangan mengerjakan yang berat-berat, banhak istirahat kalo hamil muda mah." kata Fathma.


"Iya Uma." kata Shilla.


"Yaudah mending kalian istirahat dulua aja, uma masak dulu." kata Fathma.


"Eh Shilla bantuin ya Uma." kata Shilla.


"Nggak usah kamu istirahat aja, janga kecapean jaga kandungan kamu." kata Fathma diangguki Shilla.

__ADS_1


"Udah Fan, cepet ke kamar suruh istirahat istri kamu." kata Fathma diangguki Rafan.


"Eh kalian harus nginep yah, awas aja kalo nggak." kata Fathma.


"Iya uma." kata Rafan dam Shilla.


Langkah Rafan dan Shilla pun menaiki tangga menuju kamar Rafan, terdengar dikamar Acha canda tawa Acha dan Zira, terlihat di balik pintu kamar Acha yang sedikit terbuka Acha dan Zira sedang perang bantal membuat langkah Rafan dan Shilla terhenti.


"Aku kangen banget sama tawa Acha yang seperti ini, udah lama banget nggak pernah denger tawa ini." kata Rafan.


"Iya alhamdulillah, semoga Acha selalu tersenyum seperti ini." kata Shilla.


"Umi Abi sini." kata Zira menyadari keberadaan Rafan dan Shilla di luar kamar.


Rafan dan Shilla pun segera menghapus kristal bening yang menetes di matanya.


"Iya nak?" kata Rafan dan Shilla tersenyum.


"Sini main bareng kami." kata Zira.


"Umi nya cape mau istirahat, kasian kan dede bayinya." kata Rafan.


Acha membulatkan matanya kaget dan terlukis sebuah senyuman di bibir nya.


"Kak Shilla lagi mengandung?" kata Acha di angguki Shilla.


"Wah Acha bakal punya ponakan baru nih." kata Acha menghampiri sembari menggenggam tangan Zira.


"Dan Zira bakal punya dede hore." kata Zira melompat-lompat.


"Iya dan Zira harus jadi kakak yang baik." kata Acha mencubit hidung Zira.


"Alhamdulillah jaga kesehatan Kak, baik kakak dan dede bayinya." kata Acha.


"Iya in syaa Alloh Cha." kata Shilla.


"Jangan nakal Zira." kata Rafan.


"Siap." kata Zira.


"Selamat istirahat." kaga Acha dan Zira terkekeh dan kemudian segera masuk ke dalam kamar.


"Umm ikut kakak yuk." kata Acha.


"Kemana?" kata Zira.


"Keliling komplek, kalo gak kita ketaman komplek." kata Acha.


"Wah taman? asik meluncur lah." kata Zira.


"Yaudah yuk." kata Acha menuntun Zira.


Langkah demi langkah mereka menuruni tangga, terlihat Fathma yang sedang menghidangkan makanan ke atas meja makan.


"Umm wangi apa ini?" kata Zira menikmati aroma makanan.


"Eh kalian sini makan." kata Fathma.


Zira pun langsung berlari menarik tangan Acha, mereka langsung duduk.


"Umi sama Abi Zira kemana?" kata Fathma.


"Tadi sih katanya mau istirahat." kata Zira.


"Owh yaudah, biarin suruh istirahat, Zira kenapa gak istirahat?" kata Fathma.


"Zira mau keliling komplek sama Kak Acha." kata Zira.


"Yaudah tapi abisin dulu makan nya." kata Fathma.

__ADS_1


"Cha kamu nggak makan nak?" kata Fathma.


"Acha nggak laper Uma." kata Acha tersenyum tipis.


"Kenapa, nggak suka pasakan Uma?" kata Fathma sedih.


"Eh nggak bukan gitu kok Uma." kata Acha.


"Udah makan dulu nak, kamu belum makan loh dari pagi." kata Qayyis yang langkah demi langkahnya menuruni tangga.


"Iya nak makan ya, Uma udah masak tempe goreng sama sambal, kan itu makanan favorit kamu." kata Fathma diangguki Acha.


Acha pun segera mengisi piring dengan sedikit nasi.


"Dikit banget makna nya kak, ya kalah sama Zira, Zira aja makan nya banyak." kata Zira.


"Nggak papa kan Zira harus makan banyak biar cepet gede, kalo kak Acha mah udah gede." kata Qayyis, dan Zira hanya nyengir kuda.


"Udah?" kata Acha diangguki Zira.


"Yok ah, Uma kami keluar sebentar, kalo bang Rafan nanyain Zira kasih tau Zira ikut Acha keliling komplek." kata Acha.


"Iya nak, eh kamu ngapain keliling komplek?" kata Fathma.


"Cari udara segar sekaligus mau cari tempat yang pas buat belajar anak-anak." kata Acha.


"Yaudah hati-hati ya nak." kata Fathma.


"Iya Ma assalamu'alaikum." kata Acha.


"Wa'alaikumussalam." kata Fathma.


Langkah demi langkah Acha dan Zira berhenti di satu persatu tempat yang menjadi pusat di datangi banyak orang, dan terakhir yaitu taman, Acha dan Zira lanhsung menuju taman.


"Wah maa syaa Alloh bagus banget, banyak bunga, eh ada kupu-kupu." kata Zira berlari.


"Eh Zira jangan lari, nanti jatoh." kata Acha mengejar Zira.


Acha tertawa lepas sembari terfokus mengejar Zira, agar Zira tidak kenapa napa dalam pengawasan nya, tanpa di sadari ada Muza yang sedang memantau nya.


"Menurut saya hal ini sulit Cha, Mufid mempercayakan kamu pada saya, tapi saya senang bisa melihat kamu kembali tertawa." gumam Muza yang memerhatikan Acha dan Zira yang sedang berlarian.


"Ayo kak itu kupu-kupu nya." kata Zira berlari mengejar kupu-kupu.


"Nah iya bener." kata Acha.


"Ayo kak tangkap." kata Zira.


Acha terfokus mengejar kupu-kupu agar bisa menangkap nya, kupu-kupu tertangkap, Acha membuka kedua telapak tangan nya yang menutup, kupu-kupu kembali terbang, Acha dan Zira tersenyum melepas kupu-kupu, Muza mengambil gambar Acha dan Zira yang sedang tersenyum melepas kupu-kupu yang mereka tangkap.


"Zira suka taman nya?" kata Acha.


"Suka banget, asik banyak kupu-kupu sama bunga." kata Zira.


"Kaya nya enak deh ngajar anak anak di taman soal nya Zira juga suka di sini, terbuka, suasana nya indah, ada udara segar." gumam Acha menghirup udara.


"Yaudah yuk pulang." kata Acha.


"Yah." rengek Zira.


"Nanti di cariin Umi sama Abi." kata Acha.


"Yaudah iya." kata Zira.


Langkah demi langkah mereka pun bergegas menuju ke rumah.


Muza yang duduk di taman bertepat di bawah pohon mangga, udara segar di hirup nya.


"Mufid kenapa kamu beri saya amanah seberat ini, saya mencintai Acha, tapi mungkin Acha belum bisa melupakan kamu, saya tidak mau memaksakan perasaan seseorang untuk saya." gumam Muza yang melihat ke arah langit.

__ADS_1


__ADS_2