MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 139


__ADS_3

Fathma segera berlari menemui Acha.


"Acha, buka pintu nya Cha ini Uma." kata Fathma mengetuk pintu kamar.


"Uma?" gumam Acha segera menghapus kristal bening yang keluar dari mata nya.


Acha segera membuka pintu.


"Iya Uma?" kata Acha menunjukan sebuah senyuman.


"Kamu nggak papa kan Nak?" kata Fathma.


"U..." kata Acha terpotong katena melihat kedatangan Qayyis.


"Acha nggak papa kok Uma." kata Acha menunjukan wajah bahagia.


"Tapi nak, kamu dan Muza..." khawatir Fathma.


"Ada apa Acha dan Muza?" kata Qayyis.


"Abi..." kata Fathma terhenti karena Acha memegang tangan nya dan menggeleng.


"Tadi Acha ada janji sama ustadz Muza kan Bi." kata Fathma.


"Iya emang nya kenapa?" kata Qayyis.


"Nggak kenapa kenapa, Uma cuma pengen tau aja ada janji apa." kata Fathma.


"Udah lah Uma jangan mau tau urusan anak muda, mending Uma ikut abi, kita bicarakan pernikahan putri kita." kata Qayyis merangkul Fathma.


Acha hanya mengangguk tersenyum, setelah langkah Fathma dan Qayyis sudah menjauh dari hadapan nya, Acha bergegas masuk ke kamar.


"Bi apa sebaiknya tanya dulu apa keinginan Acha, ini pernikahan untuk putri." kata Fathma dengan air mata.


"Eh Uma kenapa menangis?" kata Qayyis mengusap air mata Fathma.


"Abis nya abi nggak nanya dulu Acha pengen nya gimana, Acha mau apa, nikah sama siapa, apa ada laki laki pilihan nya." tangis Fathma.


"Ih apaan Uma nih pake nangis segala, kan tadi Acha udah setuju kan Ma." kata Qayyis.


"Abi mah nggak ngerti ah." kata Fathma bergegas pergi sembari menghapus air mata.


"Wanita wanita sudah dewasa pun tetap baperan." gumam Qayyis.


......................


Krek... Fathma membuka pintu kamar Acha.


Acha yang sedang merenung di balik jendela segera menghapus air matanya.


"Eh uma?" kata Acha menghampiri.


"Uma kenapa nangis? ih jelek tau kalo nangis gini." kata Acha menghapus air mata uma nya.


"Uma mau tanya sama kamu," kata Fathma.


"Tanya apa uma?" kata Acha.


"Kamu mencintai Muza?" kata Fathma.


"Nggak Uma." kata Acha yang langsung berbalik ke arah luar jendela.


"Bohong." kata Fathma menarik Acha ke hadapan nya.


Acha hanya memalingkan wajah, tak berani menatap mata Fathma.


"Liat Uma." kata Fathma menangis.


Acha memberanikan diri untuk menatap wajah Fathma.


"Jujur sama Uma, kamu harus jawab jujur walau kamu bohong, Uma ini ibu kamu, seorang Ibu pasti tahu tentang anak nya, kamu mencintai Muza kan?" kata Fathma.


Deg!


Acha terbungkam tanpa kata, Acha langsung memeluk Fathma dengan tangis.


"Iya uma benar, mana mungkin seorang Ibu tidak tahu keadaan hati putrinya." tangis Acha dipelukan Fathma.

__ADS_1


"Ayo..." kata Fathma menarik tangan Acha.


"Kemana Uma?" kata Acha.


"Kita bicara sama Abi." kata Fathma.


Acha menghentikan langkahnya, dan melepas genggaman Fathma.


"Kenapa nak?" kata Fathma berbalik.


Acha hanya menggeleng dengan air mata yang terus mengalir.


"Ini sudah menjadi keputusan ustadz Muza, Acha tidak bisa menghentikan nya Uma." kata Acha.


"Apakah Muza tidak ingin memperjuang kan Cintanya?" kata Fathma.


"Bukan begitu Uma, jikalau Uma tahu alasan nya, uma mungkin tidak bisa berkata." kata Acha.


"Lalu apa keputusan Muza." kata Fathma.


Acha pun menjelaskan perbincangan nya dengan Muza saat di taman belakang.


"Itulah keputusan Acha dan ustadz Muza, pengorbanan lah hasil dari perjuangan Ustadz Muza uma, untuk kehormatan Abi di mata sahabat nya." kata Acha.


"Lagi pula cinta itu tidak harus saling memiliki kan, apalagi memaksakan." jelas Acha.


"Biarkan pengerobanan cinta kami berjalan Uma." tangis Acha.


Fathma pun segera memeluk Acha.


"Apapun keputusan kalian, Uma pasti mendukung, Uma percaya pada kalian." kata Fathma.


"Makasih Uma, biarkan Uma saja yang tau tentang ini." kata Acha.


2 Minggu berlalu sesuai kesepakatan, bahwa pernikahan Acha dan Mufid di tetapkan.


Rumah Acha yang sudah di hiasi oleh dekorasi MUA ternama.


Tamu tamu berdatangan menyaksikan sekaligus menjadi saksi ikatan suci pernikahan Acha dan Mufid.


"Yaa Mufid Sholehuddin Ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka Meiza Raudatul Fathima binti Qayyis Al Mustam alal mahri majmuat min adwatash sholat hallan." Ucap Qayyis.


"Sah." ucap para saksi.


Do'a doa pun di lantunkan, Acha di bawa keluar, di setiap langkah Acha hany menatap Muza.


Muza yang tak tahan lanhsung beranjak pergi dari tempat duduk nya.


"Kenapa kau pergi, Aku tidak bisa menahan ini, aku tidak akan kuat jika tida ada dukungan dari mu." bati Acha.


"Aku tidak ingin Acha menangis sedih di hari bahagia nya, jika melihat air mata yang menetes ini." batin Muza yang langkah demi langkah nya menuju kamar mandi.


Acha pun duduk di hadapan Mufid, dan menandatangani surat surat, cincin pun hendak di pasangkan ke jari manis Acha.


"Kenapa Fid?" kata Rojak.


"Cincin nya nggak ada ayah." bisik Mufid.


"Kok bisa kamu tadi kemana aja." kata Qayyis.


"Tadi Mufid cuma ke kamar madi doang." bisik Mufid.


Muza segera mendekat dan segera menyerahkan cincin itu pada Mufid.


"Tadi saya menemukan nya saat saya di kamar mandi." kata Acha tersenyum.


Acha terlihat sangat sedih, Muza melirik dan menggeleng mengisyaratkan agar Acha ter senyum.


Acha menahan tangis dengan sebuah senyuman.


Cincin pun di pasangkan ke jari manis Acha dihadapan Muza, Acha mencium punggung tangan Mufid, dan Mufid meletakan telapak tangan nya diatas kepala Acha sambil membaca do'a do'a.


Muza hanya tersenyum menyaksikan semua itu.


"Tiada suat kebahagiaan jika melihat orang yang kita Cintai Cha, lihat Abi kamj dan ustadz Rojak apalagi Mufid, mereka sangat bahagia, teesenyum lah Cha." kata Muza.


"Baarakallahu laka wabarakoa 'alaika wajma'a bainakumaa fii khoir." ucap Muza

__ADS_1


"Iya Cha, Baarakallahu laka wabarakoa 'alaika wajma'a bainakumaa fii khoir." ucap Liani memeluk Acha.


"Nanti 2 minggu lagi Liani juga nyusul loh." ledek Muza.


"Apaan sih bang." kata Liani.


Acha hanya berekspresi antara menangis dan tersenyum.


"Eh pengantin pria nya mana nih." kata Muza.


"Sedang ganti baju." kata Acha tersenyum tipis.


"Gitu dong senyum, hari bahagia ini." kata Muza tersenyum.


"Liani nggak tau, hati bang Muza terbuat dari apa, hingga kuat menyaksikan semua ini." batin Liani.


"Jika bang Muza bahagia dengan pernikahan ini, Acha ikhlash, Acha akan lebih bahagia kalau bang Muza bahagia, sangat beruntung wanita yang akan menjadi istrinya kelak." batin Acha.


"Nah itu dia pengantin pria nya." kata Muza.


"Ayo foto dulu." kata Muza merangkul Mufid.


"Semoga saya bisa mencontoh anda, begitu kuatnya hati anda berlapang menyaksikan semua ini." batin Mufid.


"Saya tahu pembicaraan anda dan Acha, maafkan saya jika menjadi pemisah cinta kalian berdua, saya sangat mencintai Acha, semoga saya bisa menggantikan anda di hati Acha." batin Mufid.


"Saya akan mengingat pengorbanan Cinta kalian berdua, hanya untuk kehormatan dan Cinta putri kepada seorang ayah." kata Mufid pada Muza dan Acha.


Acha dan Muza hanya memandang Mufid.


"Semoga Alloh bisa mempersatukan kalian baik di dunia maupun di akhirat." kata Mufid.


"Sekarang Acha sudah menjadi milik kamu Fid, saya hanya ingin kamu menjaga Acha dan menyayangi nya, jangan biar kan Acha bersedih." kata Muza.


Matahari pun menenggelamkan dirinya, Acara resepsi berjalan dengan lancar.


......................


Acha yang menatap bulan di balik jendela kamar.


"Sudah malam Cha, nggak baik kalo tidur terlalu malam." kata Mufid membaringkan diri dikasur.


Acha terkaget karena kehadiran Mufid dikamar nya.


"Nggak usah takut, tidur lah, tenang saja saya tidak akan menyentuh kamu, tanpa seijin kamu Cha." kata Mufid.


Langkah Acha pun perlahan menuju ranjang, Acha membaringkan tubuh nya di pinggir Mufid.


"Apakah saya akan berdosa?" kata Acha.


"Dosa apa?" kata Mufid terkekeh.


"Saya sudah menjadi seorang istri, tapi tidak menjalankan kewajiban saya." kata Acha.


"Dan akan berdosa buat saya jika saya mengambil paksa hak saya." kata Mufid.


"Bagi saya kamu bukan seorang maaf p*lacur Cha." kata Mufid.


"Maksudnya?" kata Acha.


"Saya tidak bisa memaksakan hak saya, sedangkan di dalam hati kamu tidak ada cinta untuk saya, saya tahu didalam hati kamu masih ada Muza kan?" kata Mufid.


Acha hanya terdiam tidak menjawab apa apa.


"Yang beliau katakan itu memeang kebenaran nya, tapi Acha nggak bisa mengatakan, Acha takut hati kak Mufid terluka." batin Acha.


"Seorang p*lacur melayani pria lain tanpa ada cinta dihati nya, dan saya tidak ingin itu terjadi pada kamu Cha, saya akan menunggu ada cinta di hati kamu untuk saya." kata Mufid.


"Mereka melakukan itu untuk mendapatkan uang, mungkin untuk kehidupan nya, kita juga tidak bisa memandang rendah mereka, kita tidak tau apa alasan mereka melakukan itu, mungkin ada anak yang harus di biayai." kata Mufid.


Acha hanya tersenyum mengangguk.


"Udah tidur tidur, mau kakak sholawatin? kan pas dulu kamu nggak bakal tidur kalo kakak nggak sholawatan." kata Mufid.


Acha hanya mengangguk tersenyum.


"Allohumma sholli 'alaa muhammad, yaa Robbi sholli 'alaihi wasaliim, Allohumma sholli 'alaa muhammad, yaa Robbi sholli 'alaihi wasaliim, Robbi fangfa' na bibarkatihim wah dinal hisna bihurmatihiim, Allohumma sholli 'alaa muhammad, yaa Robbi sholli 'alaihi wasaliim." sholawat di lantunkan Mufid.

__ADS_1


Tak terasa Acha sudah masuk ke alam mimpinya, Mufid hanya tersenyum memandangi wajah Acha, Mufid pun memejamkan matanya menyusul Acha memasuki alam mimpi.


__ADS_2