
"Yaa Allah, Ustadz ngagetin Acha tau." kata Acha.
"Afwan Cha, Saya lagi nggak fokus, Ririn kemana Cha?" kata Muza ngos ngosan.
"Iya Ustadz, santay dulu Ustadz rilexs." kata Acha yang menarik nafas dalam dalam dan mengeluarkananya perlahan sembari mengucap 'astaghfirullah'
Huft Muza yang mengikuti Acha mengatur nafas nya kerena habis berlari.
"Nah gitu, udah tenangkan Usatdz?" kata Acha diangguki Muza.
"Terus Ririn mana?" kata Muza.
"Ha nggak salah nih, yang nyariin Ririn, Ustadz Muza bukan Ustadz Faziel, wah apa jangan jangan..." kata Acha dengan senyum jahatnya menurun naik kan alisnya.
"Jangan jangan apa?" kata Muza berusaha sabar.
"Ustadz Muza juga suka Ririn yaa." kata Acha cerewet.
"Astaghfirulloh, ini anak gimana kalo ada yang denger bisa jadi Fitnah." gerutu Muza dan tetap sabar.
Muza pun tersenyum terpaksa.
"Kalo misal nya iya kenapa?" kata Muza bercanda.
Deg! Suatu rasa yang muncul dihati Acha, entah rasa apa itu.
"Aaa tuh kan apa kata Acha, kalo ustadz muza juga suka ririn." kata Acha cerewet sembari menggosok gosok kedua tangannya.
"Apa! Ustadz Muza juga suka Ririn." rengek Cilla yang baru datang.
......................
Cilla pun menghampiri mereka.
"Hah.. Anu... Ini..." kata Muza ter potong.
"Iya tau Cil, masa iya Ririn yang sedih gara gara Ustadz Faziel, eh yang mengejar Ririn Ustadz Muza bukan Ustadz Faziel." kata Acha.
"Aduh.. Saya.." kata Muza terpotong.
"Yaa Allah Ustadz bener itu? Ustadz suka sama Ririn, sungguh sesak hati ini, Ustadz jahat, rasanya Cilla ingin..." kata Cilla.
Brug cilla menjatuhkan badannya ke pelukan Acha.
Muza hanya kebingungan harus mengatakan apa.
"Cill, berat tau Cill, kan masih ada Ustadz Rafan." kata Acha.
Cilla pun langsung berdiri tegak kembali.
"Iya yah, Masih ada yang di perjuangkan, tapi Cilla butuh jawaban dari Ustadz Muza." rengek Cilla manja.
"Iyaa Saya.." kata Muza terpotong.
"Jelaskan Kak Ustadz, apa semua ini? cepat jelaskan!" kata Cilla dramatis.
"Aduhh, iyaa sabar, Kalian nya diem dulu, gimana Saya mau menjelaskan jika Kalian memotong ucapan Saya dari tadi." kata Muza sedikit bingung dan kesal.
"Ini.." kata Muza terpotong.
"Cep.." kata Cilla.
"Syutttt, saya mau menjelaskan, up." kata Muza yang jari telunjuk dan ibu jarinya di satukan seperti memutar kunci.
"Apa maksudnya ini..." kata Acha yang aneh melihat muza seperti memegang kunci padahal tangan nya kosong.
"Syutt anggap aja ini sedang mengunci mulut Kalian, Saya mau menjelaskan, bahaya kalo kesebar fitnah itu." kata Muza.
"Tapi mulut Acha nggak kekunci." kata Acha sengaja.
"Acha.. Udah yaa, kan kata Saya juga 'anggap saja', makanya Kamu diem oke." kata Muza yang kesabaran nya sedikit habis.
"Owh oke deh, up." kata Acha memutarkan jari telunjuknya di depan bibirnya sendiri seperti mengunci pintu.
Acha mengisyaratkan agar Muza segera menjelaskan.
"Saya kesini untuk mengejar Ririn atas permintaan Ustadz Faziel.." kata muza terpotong.
__ADS_1
Acha pun memutar jarinya di depan bibirnya sendiri untuk membuka kunci.
"Kenapa bukan Ustadz Faziel sendiri yang mengejar." Acha angkat bicara.
"Syutt.. Sini kunci Kamu." kata Muza.
Acha pun memberikan nya seakan akan ada kunci nyata yang di berikan.
Muza pun mengunci mulut Acha pakai tangannya.
"Nah sekarang kunci Kamu juga Saya yang megang." kata Muza memasukan kunci imajinasi Mereka ke saku bajunya.
Acha hanya mengangguk.
......................
"Udah mending duduk duduk." kata Muza.
Mereka pun duduk di depan pos satpam.
"Nah awalnya Ustadz Faziel yang mengejar, tapi kaki beliau terkena pecahan gelas dan sekarang sedang terluka, awalnya beliau memaksakan untuk tetap mengejar Ririn, tapi beliau terjatuh lemas karena darah yang keluar di kakinya sangat banyak. Jadi akhirnya beliau menyuruh Saya untuk memanggil Ririn, eh malah Kamu Cha asal ngomong aja, gimana kalo tersebar dan jadi fitnah, untung baru Cilla yang denger." Kata Muza.
"Hah kok Acha sih." kata Acha.
"Heh kunci Kamu, Saya yang pegang loh." kata Muza.
Acha pun langsung menutup mulutnya kembali.
"Yaudah sekarang Ririn nya mana." kata Muza.
" Ririn pulang Ustadz udah naek grab tadi." kata Acha dengan mulutnya yang dikunci.
"Apa? kamu ngomong apa?" kata Muza.
Acha pun mengulangi nya lagi dengan mulut yang masih terbungkam.
"Ngomong nya yang jelas Cha." kata Muza dengan sabar.
"Kan mulut Acha sama Ustadz ceritanya di kunci dan sekarang kuncinya Ustadz yang pegang, dan Ustadz belum membuka kuncinya." kata Acha angkat bicara.
Acha langsung menutup mulutnya kembali.
"Ayo ngomong." kata Muza.
"Gimana mau ngomong orang salah kunci." kata Acha yang mulutnya masih tertutup.
"Kamu ngomong apa, ngomong aja kan sudah Saya buka kuncinya." kata Muza sedikit sabar.
"Kunci untuk membuka mulut Acha di simpen di saku, itu mah kunci mulut Cilla." kata Acha berbicara dan langsung menutup mulutnya lagi.
"Udah Cilla duluan buka nih." kata Cilla dengan mulut nya yang tertutup.
"Kamu juga Cill, ngomong apa." kata Muza.
"Bu ka." kata cilla dengan mulut nya yang masih tertutup.
Cilla mengisyaratkan ke arah mulutnya.
"Ouh yang Kamu mau di buka." kata Muza diangguki Cilla.
Muza pun memutar jarinya seakan akan membuka kunci.
"Akhirnyaaa Cilla bebas." teriak Cilla lega.
Muza pun mengambil kunci imajinasi Acha yang di sinpan di sakunya.
"Aaa akhirnya.. Balikin kuncinya Ustadz, tar.." kata Acha terpotong.
Muza pun langsung memutar kan jarinya untuk menutup mulut Acha lagi.
Acha hanya membulatkan matanya dengan mulutnya yang tertutup.
"Apa ini?" kata Acha dengan mulutnya yang terbungkam kembali.
......................
Rasya dan Rayis yang dari tadi terkekeh menyaksikan mereka bertiga.
__ADS_1
"Maa syaa Allah keren banget Kalian bertiga.." kata Raysa terkekeh.
"Iyaa jarang loh maen imajinasi kaya gitu.." kata Rayis terkekeh.
"Eh Usatdzah Ustadz, assalamu'alaikum." kata Muza dan langsung berdiri menghampiri Rayis dan Raysa.
Muza pun mencium punggung tangan Rayis, dan menyatukan kedua tangan nya kepada Raysa, Achaa dan Cilla melakukan sebaliknya.
"Wa'alaikumussalam." kata Rayis dan Raysa.
"Udah lanjutin lagi imajinasi mengunci mulutnya." kata Raysa.
"Hehe iya Ustadzah, kok Ustadzah tau." kata Acha.
"Dari tadi Kami menyaksikan imajinasi Kalian." kata Rayis terkekeh.
"Ouhh hehe." kata Acha mengangguk.
"Yaudah Kami duluan yaa, assalamu'alaikum." kata Rayis dan Raysa.
"Iya wa'alaikumussalam." kata Mereka bertiga.
Rayis dan Raysa pun berjalan keluar menuju gerbang, Acha hanya memandangnya dari belakang.
"Ekhemm..yang lalu biar lah berlalu." Muza yang menyanyi dengan ciri khasnya dan menyadarkan Acha.
Acha hanya membulatkan matanya, dan tersenyum terpaksa.
"Untung enak suaranya." kata Acha.
"Makasih." kata Muza.
"Masa lalu maksudnya?" kata Cilla kebingungan.
"Hah nggak bukan apa apa, itu mah cuma nyanyian Ustadz Muza, ya kan Ustadz." kata Acha tersenyum terpaksa.
"Wahh iyaa Ustadz biarkan masa lalu berlalu, dan tata masa depan dengan Cilla." kata Cilla.
Acha hanya terkekeh dengan sahabat nya yang polos dan terang terangan.
"Yaudah Saya pamit lah." kata Muza pergi.
......................
"Tapi Ustadz, kunci mulut Saya belum dibuka." teriak Acha.
"Udah ngomong aja sesuka hati.." kata Muza membalik.
"Kalo mau kuncinya cari aja sendiri." kata Muza melempar kunci imajinasi dan melanjutkan jalannnya lagi.
"Terus katanya tadi nanya Ririn." teriak Acha.
"Saya udah tau, pasti Ririn nya udah pulang kan.." kata Muza membalik dan melanjutkan jalannya lagi.
"Ya sudah kalo sudah tau." kata Acha.
"Cilla bukain kunci mulut Acha." kata Acha.
"Ah Acha, itu kan udah bisa ngomong." kata Cilla terkekeh dan langsung lari.
......................
"Aaaa, Cillaa, terus Acha gimana ini." kata Acha menunjuk nunjuk mulutnya sendiri.
"Haha udah cari aja sendiri." teriak Cilla yang sudah berlari jauh.
"Nah ini dia, krek." kata Acha dan membuka kunci mulutnya.
Seakan akan Acha menelan kuncinya.
"Udah masuk perut dan nggak bakal lagi ke kunci mulutnya." kata Acha.
Acha pun langsung berlari menyusul Cilla.
......................
Berimajinasi memang menyenangkan apalagi bersama orang yang mengerti indah nya berimajinasi.
__ADS_1
Terkadang bukan anak anak saja yang berimajinasi orang dewasa juga bisa berimajinasi, tapi lebih banyaknya dari kalangan anak anak, dengan itu jangan aneh jika melihat anak anak bermain dan berbica dengan mainannya bisa jadi mereka sedang ber imajinasi.