MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 91


__ADS_3

"Liani deh Ustadzah."kata Liani.


"Tafadholly." kata shilla.


Liani langsung berdiri di depan.


"Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh." kata Liani.


"Wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh." jawab semua.


"Saya di sini akan bercerita tentang


Ummu Syuraik; Bila Allah Hendak Memberinya Rezeki, Maka Tak Seorang pun Dapat Menghalanginya.


Namanya adalah Ghaziyah binti Jabir bin Hakim. Beliau seorang wanita dari Quraisy, wanita dari Bani Amir bin Lu’ai dan ia pernah menjadi istri Abu al-Akr ad-Dausi. Beliau merasa simpati hatinya dengan Islam sejak masih di Mekah, hingga menjadi mantaplah iman di hatinya dan beliau memahami kewajiban dirinya terhadap din yang lurus sehingga beliau mempersembahkan hidupnya untuk menyebarkan dakwah tauhid, meninggikan kalimat Allah dan mengibarkan panji laa ilaha illallahu Muhammadur rasulullahi.


Mulailah Ummu Syuraik bergerak untuk berdakwah dan mengajak wanita-wanita Quraisy secara sembunyi­-sembunyi. Beliau berdakwah kepada mereka, memberikan dorongan-dorongan agar mereka masuk Islam tanpa kenal lelah dan jemu. Beliau menyadari resiko yang akan menimpa dirinya, baik pengorbanan maupun penderita­an, serta resiko yang telah menghadangnya, berupa gangguan dan siksaan terhadap jiwa dan harta. Akan tetapi, iman bukanlah sekedar kalimat yang diucapkan oleh lisan, melainkan iman pada hakikatnya memiliki konsekuensi dan amanah yang mengandung beban dan iman berarti jihad yang membutuhkan kesabaran.


Takdir Allah menghendaki setelah masa berlalu beberapa lama, mulailah hari-hari ujian, hari-hari meng­hadapi cobaan yang mana aktivitas Ummu Syuraik radhiyallahu ‘anha telah diketahui penduduk Mekah. Akhirnya, mereka menangkapnya dan berkata, “Kalaulah bukan karena kaum kamu, kami akan tangani sendiri. Akan tetapi, kami akan menyerahkan kamu kepada mereka.”


Ummu Syuraik berkata, “Maka datanglah keluarga Abu al-Akr (yakni kelurga suaminya) kepadaku kemudian berkata, ‘Jangan-jangan engkau telah masuk kepada agamanya (Muhammad)?’ Aku jawab, ‘Demi Allah, aku telah masuk agama Muhammad’. Mereka berkata, `Aku akan menyiksamu dengan siksaan yang berat’. Kemudian, mereka membawaku dari rumah kami, kami berada di Dzul Khalashah (terletak di Shan’a’), mereka ingin membawaku ke sebuah tempat dengan mengendarai seekor onta lemah, yakni kendaraan mereka yang paling jelek dan kasar. Mereka memberiku makan dan madu, akan tetapi tidak memberikan setetes air pun kepadaku.


Hingga manakala tengah hari dan matahari telah terasa pangs, mereka menurunkan aku dan memukuliku, kemudian mereka meninggalkanku di tengah teriknya matahari hingga hampir-hampir hilang akalku, pendengaranku dan penglihatanku. Mereka melakukan hal itu selama tiga hari,tatkala hari ketiga, mereka berkata kepadaku, ‘Tinggalkan­lah agama yang telah kau pegang!’ Ummu Syuraik berkata, `Aku sudah tidak lagi dapat mendengar perkataan kalian, kecuali satu kata demi satu kata dan aku hanya mem­berikan isyarat dengan telunjukku ke langit sebagai isyarat tauhid’.”


Ummu Syuraik melanjutkan, “Demi Allah, tatkala aku dalam keadaan seperti itu, ketika sudah berat aku rasakan, tiba-tiba aku mendapatkan dinginnya ember yang berisi air di atas dadaku (beliau dalam keadaan berbaring), maka aku segera mengambilnya dan meminumnya sekali teguk. Kemudian, ember tersebut terangkat dan aku melihat ternyata ember tersebut menggantung antara langit dan bumf dan aku tidak mampu mengambilnya. Kemudian, ember tersebut menjulur kepadaku untuk yang kedua kalinya, maka aku minum darinya kemudian terangkat lagi, Aku melihat ember tersebut berada antara langit dan bumi.

__ADS_1


Kemudian, ember tersebut menjulur kepadaku untuk yang ketiga kalinya, maka aku minum darinya hingga aku kenyang dan aku guyurkan ke kepala, wajah dan bajuku. Kemudian, mereka keluar dan melihatku seraya berkata,’Dari mana engkau dapatkan air itu wahai musuh Allah’. Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya musuh Allah adalah selain diriku yang menyimpang dari agama-Nya. Adapun pertanyaan kalian dari mana air itu, maka itu adalah dari sisi Allah yang dianugerahkan kepadaku’. Mereka bersegera menengok ember mereka dan mereka dapatkan ember tersebut masih tertutup rapat belum terbuka. Lalu, mereka berkata, ‘Kami bersaksi bahwa Rabbmu adalah Rabb kami dan kami bersaksi bahwa yang telah memberikan rezeki kepadamu di tempat ini setelah kami menyiksamu adalah Dia Yang Mensyari’atkan Islam’.” Akhirnya, masuklah mereka semuanya ke dalam agama Islam dan semuanya berhijrah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka mengetahui keutamaanku atas mereka dan apa yang telah dilakukan Allah terhadapku.


Semoga Allah merahmati Ummu Syuraik, yang telah mengukir sebaik-baik contoh dalam berdakwah ke jalan Allah, dalam hal keteguhan dalam memperjuangkan iman dan akidahnya dan dalam bersabar di saat menghadapi cobaan serta berpegang kepala tali Allah. Marabahaya tidak menjadikan beliau kendor ataupun lemah yang mengakibatkan beliau bergeser walaupun sedikit untuk menyelamatkan jiwanya dari kematian dan kebinasaan. Akan tetapi, hasil dari ketegaran beliau, Allah memuliakan beliau dan menjadikan indah pandangan matanya dengan masuknya kaumnya ke dalam agama Islam. Inilah target dari apa yang dicita-citakan oleh seorang muslim dalam berjihad.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sungguh, seandainya Allah memberikan hidayah kepada satu orang karena dakwahmu, maka itu lebih baik dari unta yang merah (harta kekayaan yang paling berharga).” wallohu'alam bishowab,


Sumber kisah islam." kata Liani.


"Cukup sekian wassalam, assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh." kata Liani.


"Maa syaa Allah sangat menginfirasi dalam jihad, dalam siroh itu Allah tunjukan kebesaran nya, Allah selalu bersama dengan orang orang yang benar, jazakillah khoir Liani." kata Shilla.


"Oke Siapa lagi yang mau maju?" kata Shilla.


"Siapa ayo yang mau maju lagi, Cilla ayo maju semangat semangat." kata Muza.


"Dih apaan sih Cilla." kata Acha yang mendengar gumaman Cilla.


"Ihh Acha denger aja, usil lagi, kalo cemburu bilang dong." kata Cilla berbisik dan langsung maju.


Acha hanya membulatkan matanya keheranan.


......................


"Dih siapa lagi yang cemburu." gumam Acha.

__ADS_1


"lagi pula ada benernya sih Acha terlalu usil sama urusan perasaaan Cilla ke Ustadz Muza, au ah Acha pusing." batin Acha.


"Semoga ini buka rasa apa pun ke Ustadz Muza, semoga ini cuma rasa usil ke Cilla doang, aamiin." batin Acha sembari mengangkat kedua tangannya dan menengadah ke langit, kemudian mengusap wajahnya.


Mereka hanya keheranan melihat Acha.


"Cha kamu nggak kenapa napa kan?" kata Rafan, yang membuat Acha sedikit kaget.


"Hah? Acha nggak kenapa napa kok Bang hehe." kata Acha menengok ke Mereka yang pandangan nya terpusat pada Acha.


"Yakin Cha?" kata Rafan, diangguki Acha.


"Mungkin Acha nya lagi do'a Ustadz, supaya nggak gerogi di depan Ustadz Muza." ledek Cilla, yang membuat Muza keheranan.


Acha hanya membulatkan matanya dan menahan malu.


"Yaa Allah ini sahabat emang malu maluin Acha banget." batin Acha.


"Dih apaan sih." kata Acha.


"Eh udah udah, tafadholly Cilla." kata Shilla.


"Na'am Kak." kata Cilla.


"Setiap orang melihat sesuatu yang tak terlihat menurut kadar cahayanya.

__ADS_1


Semakin sering ia menggosok cermin hatinya, semakin jelaslah ia melihat segala."


❤Jalaluddin Rumi❤


__ADS_2