MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 127


__ADS_3

Mobil angkutan umum pun berhenti di hadapan mereka, mereka segera menaiki jurusan mobel ke arah pasar.


"Man ongkos nya sini kolektif aja." kata Acha.


Masing masing mengumpulkan uang senilai lima ribu rupiah.


"Satu dua tiga empat lima enam, pas tiga puluh ribu." gumam Acha.


"Bawa uang lebih gak?" kata Acha.


"Sayang nya pas pas an doang ehehe." kata Putri.


"Tenang Cilla bawa kartu ATM perasaan mah." kata Cilla meraba raba isi tas nya.


"Yah yah..." kata Cilla.


Teman temannya memperhatikan gerak gerik Cilla yang kebingungan.


"Kenapa Cil?" kata Acha.


"Dompet nya nggak dibawa." Rengek Cilla.


"Yah terus gimana dong kan uang buat beli kadonya di dompet kamu Cill." kata Ririn.


"Kalian ada uang berapa sekarang?" kata Acha.


"Kalo Puput sih dua puluh lima ribu doang pas pas an, dua puluh buat beli bakso, lima ribu buat ongkos pulang." kata Putri.


"Acha juga sama sih." kata Acha.


"Terus gimana nih?" kata Cilla.


"Yaudah kita puasa nggak jajan bakso dulu di pasar," kata Acha.


"Yah kalo soal itu Puput nggak bisa." rengek Putri.


"Puput pasti bisa nahan aroma bakso," kata Acha.


"Mana bisa." rengek Putri.


"Tutup aja hidung nya di sepanjang jalan suapaya nggak nyium aroma makanan." kata Liani terkekeh.


"Ih Liani mah." kata Putri.


"Lain kali in syaa Alloh kita beli, Acha yang teraktir deh." kata Acha terkekeh.


"Yaudah deh, puasa nggak jajan bakso dulu." keluh Putri.


"Anak pinter." kata Acha mengelus kepala Putri.


"Dikira Acha, Putri bocil?" kata Putri.


"Iya seperti itu." celetuk Acha.


"Apa?!" kata Putri.


"Hah nggak." kata Acha menyadari.


Mobil pun terus melaju, tak ada penumpang yang menaiki angkot itu selain mereka.


"Pinggir bang." kata Acha.


Mereka segera turun, panas nya begitu terik.


"Uh panas banget." keluh Putri mengibas ngibaskan tangan.


"Yaudah kalian ke depan toko itu aja." kata Acha.


Teman teman nya segera ke depan toko toko terdekat.


......................


Acha segera menyerah kan ongkos.


"Ini bang tiga puluh ribu ber enam." kata Acha.


"Yah kurang neng." kata supir angkot.


"Kurang gimana ya pak? Kan biasanya segitu." kata Acha.


"Masa nggak tau neng, sekarang bensin lagi naik neng dan penumpang pun jarang ada." kata Supir.


"Aduh gimana ya, ini mah auto pulang nggak ada ongkos." batin Acha kebingungan.


......................


Rasi yang menyadari langsung menghampiri Acha.


"Eh bentar ya." kata Rasi.


Langkah demi langkah Rasi berjalan menuju Acha, sembari meletakkan tas diatas kepala depan untyk melindungi wajah nya dari sengatan sinar matahari yang sangat terik.


......................

__ADS_1


"Jadi harusnya berapa bang?" kata Acha.


"Per orang sepuluh rebu, jadi enam orang enam puluh rebu," kata Supir.


"Itu baru tiga puluh ya bang." kata Acha.


"Iya neng, kurang tiga puluh lagi." kata Supir.


Acha yang mencari di tas nya hanya menemukan uang sejumlah dua puluh ribu.


"Kenapa Cha?" kata Rasi.


"Eh Ras, nggak kenapa napa kok." kata Acha.


"Cuma ada dua puluh ribu." Batin Acha menatap uang.


"Pak cuma ada segini maaf ya pak." kata Acha menyerahkan uang.


"Yaudah lah gak papa neng." kata Supir.


Mobil angkot pun melaju pergi, Acha hanya berdiri mematung.


"Tar pulangnya gimana?" batin Acha.


"Cha? Jangan melamun." kata Rasi.


"Hah? Nggak kok siapa yang melamun." kata Acha tersadar.


"Tadi kenapa, ongkosnya kurang?" kata Rasi.


"Iya katanya harga bensin lagi naik, ketambah kasian lagi kan tadi perjalanan setengah jam nggak ada penumpang selain kita." kata Acha.


"Umm Acha." kata Rasi memeluk Acha.


"Terus pake uang siapa tadi?" sambung Rasi merangkul Acha.


"Pake uang Acha." kata Acha.


"Yaudah tar kita omongin lagi sama semua." kata Rasi.


"Eh nggak usah, nggak papa kok, udah jangan bipang sekarang nanti aja, dasar mah mereka juga lagi pada bingung." kata Acha.


......................


"Habis ngapain sama supir angkot Cha? Lama bener." kata Liani.


"Wah kaya nya Acha tukeran nomor ya?" celetuk Cilla.


"Dih apaan sih Cilla, masa iya tukeran nomor sama bapak bapak." kata Acha.


Mereka pun segera berkeliling pasar mencari cari benda yang akan di beli.


......................


"Eh Put, Put, tutup hidung." kata Cilla menutup hidung Putri.


"Ih apaan sih Cilla." kata Putri melepaskan tangan Cilla dari hidung nya.


"Ada tukang bakso." kata Cilla terkekeh.


"Aa baksoo..." rengek Putri.


"Udah ayo lanjut jalan aja, tahan ya Put." kata Acha terkekeh.


Langkah demi langkah mereka pun melewati tukang bakso.


"Yaa Alloh, plis bakso jangan panggil panggil Puput, Puput nggak bisa nolak panggilan aroma bakso ini." gumam Putri.


"Umm sabar ya Put." kata Acha.


"Iyaa kasian Ratu bakso ku." kata Cilla memeluk Putri sambil berjalan.


......................


Langkah mereka pun terhenti di toko tujuan.


"Mau beli apa dek? silah kan di pilih." kata pedagang.


"Ada celana dan handuk untuk bayi?" kata Acha.


"Ada, silahkan dipilih." kata pedagang memberi motif motif celana dan handuk bayi.


"Yang mana?" bisik Acha.


"Yang ini Acha bagus." bisik Putri.


"Iya sih bagus tapi kayanya mahal, kalian kan tau uang nya pas pasan." bisik Acha.


"Terus gimana?" bisik Liani.


"Tanya harga dulu aja coba." bisik Ririn.


"Yang ini berapa mba?" kata Acha.

__ADS_1


"Untuk handuk lima enam puluh dan untuk celana empat puluh celana isinya ada satu lusin setara dua belas celana." kata pedagang.


Mereka membulatkan mata dan saling menatap.


"Uang nya cuma ada enam puluh." bisik Acha.


"Tawar coba." kata Liani.


"Nggak bisa kurang dikit mba?" kata Acha.


"Boleh handuk lima puluh dan celana tiga puluh." kata pedagang.


"Haduk empat puluh celana dua puluh ya bu." tawar Acha.


"Nggak bisa dek segitu udah harga minim." kata pedagang.


"Bentar ya bu." kata Acha.


"Gimana tetep mau?" bisik Acha.


"Kalo delapan puluh ribu tar kita pulang nya gimana?" bisik Putri.


"Cari toko lain." kata Cilla.


"Di sini juga toko yang harganya terkenal murah uang kita nggak cukup apa lagi ke toko lain." kata Acha.


"Yaudah lah auto jalan kaki." kata Liani.


"Jalan kaki!" kata Putri dan Cilla.


"Gimana jadi dek?" kata pedagang.


"Iya bu jadi." kata Acha.


"Ini uang nya." Acha menyerahkan uang sejumlah sembilan puluh ribu.


"Total nya delapan puluh ribu, ini nota dan kembalian nya." kata pedagang yang menyerahkan bahan belanjaan nota dan kembalian.


"Makasih bu." kata mereka.


"Terimakasih kembali." kata pedagang.


Acha dan teman teman pun melangkah keluar.


......................


Di depan toko Acha melebar kan selembar kertas yang bernilai sepuluh ribu.


"Tinggal sepuluh ribu." kata Acha menatap selembar kertas yang dilebarkan nya tadi.


"Yaudah yuk ah udah jam sebelas, naik angkot geh setengah jam apalagi jalan kaki." kata Ririn.


......................


Mereka pun langsung berjalan, beberapa menit kemudian mereka berhenti sejenak.


"Aduh Puput haus." keluh Putri.


"Ada sepuluh ribu lagi kita beliin minum aja, air tawar yang ukuran satu liter harganya sepuluh ribuan jadi pas." kata Acha.


"Yaudah hayo." kata Putri.


"Eh nggak usah biar Acha aja, kalian kan cape." kata Acha.


"Beneran?" kata Liani.


"Iya deket ini kok." kata Acha menunjuk sebuah agen yang berada di sebrang mereka.


"Yaudah sini Liani pegangin." kata Liani mengambil belanjaan dari Acha.


"Yaudah Acha kesana dulu." kata Acha.


"Hati hati Cha." kata mereka.


"Siapp..." kata Acha.


Acha pun segera menyebrang dan langkah nya menuju agen.


"Assalamu'alaikum?" ucap Acha.


"Wa'alaikumussalam, beli apa dek?" kata penjaga agen.


"Beli air putih yang sepuluh ribu." kata Acha.


"Ini dek." kata Penjaga agen memberikan sebotol air putih yang berukuran satu liter.


"Makasih ya bu." kata Acha memberikan uang.


"Iya neng hati hati nyebrang nya." kata Penjaga agen.


"Iya bu." kata Acha.


Setelah tengok kanan kiri Acha pun segera menyebrang.

__ADS_1


"Acha awas!" teriak teman teman nya.


__ADS_2