MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 111


__ADS_3

Matahari yang terhalang awan akhirnya menampakan dirinya, datang untuk menyinari bumi dan memberikan kehangatan pada makhluk.


Ririn yang sedang duduk merenung di depan kelas sembari memerhatikan, para ustadz sedang olahraga di lapangan utama.


"Ririn dari kemarin murung kenapa si?" kata Acha.


"Entah nanti kita tanya, takut ada masalah kan." kata Rasi.


"Iya tapi tumben, apa masalah perjodohan itu?" kata Cilla.


"Bisa jadi, soalnya semenjak selesai teleponan sama bundanya ririn murung gitu." kata Liani.


"Cha Ririn suruh masuk gih." kata Rasi.


Acha mengangguk dan langsung menghampiri Ririn.


Setetes keristal bening terjatuh ke pipinya.


"Rin..?" kata Acha yang memeluk Ririn dari belakang.


Ririn segera menghapus keristal bening yang membasahi pipinya.


"Aih Ririn nangis? kenapa?" kata Acha.


"Nggak... nggak nangis kok, mungkin banyak debu aja ketambah kan angin nya lumayan besar, masuk deh kayanya ini debu." kata Ririn tersenyum sembari mengusap pipinya.


"Owh gituu." kata Acha.


"Iyaa masa seorang Ririn yang kuat nangis." kata Ririn.


"Hmm iya lah, masa iya seorang Ririn yang kuat, menangis kan aneh." kata Acha.


"Ayo kedalam takut ada Ustadz Faziel nanti." kata Acha terkekeh.


"Bukan nya pelajaran Usatdz Rafan ya?" kata Ririn.


"Iya, tadi Acha cuma bercanda kok." kata Acha terkekeh.


"Tuhkan oleahraganya pada selesai ayo masuk." kata Acha.


"Iya iya." kata Ririn.


Acha dan Ririn pun masuk kelas duduk di kursi masing masing.


......................


Kring...


Bel pelajaran berbunyi...


"Assalamu'alaikum?" kata Rafan memasuki kelas.


"Wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh." jawab santriat.


"Oke Mulai ya, siapkan catatan untuk materi." kata Rafan


"Kita akan bahas apa yang dimaksud dengan tajwid dan qiro'at." kata Rafan.


"Sekretaris siapa disini?" kata Rafan.


Acha mengangkat tangan.


"Maju," kata Rafan


Acha pun maju menghampiri.


"Tulis ini." kata Rafan memberi kitab dan spidol.


Acha pun menulis, setelah semua di tulis Rafan pun menjelaskan.


"Oke kita baTajwid adalah ilmu yang mempelajari tata cara membaca Al Qur'an, hukum mempelajari ilmu tajwid adalah fardhu kifayah."


"Fardhu kifayah itu seperti, kalau di suatu kampung/ lingkungan tidak ada seorang pun yang mengerti ilmu tajwid, maka penduduk kampung tersebut berdosa semua, tapi kalo ada salah seorang yang mengerti dan sedang mempelajari ilmu tajwid, satu kampung tidak berdosa."


"Adapun membaca Al Qur'an dengan tajwid atau Tartil hukumnya fardhu 'ain atas setiap orang yang membaca Al Qur'an."

__ADS_1


"Qiro'at yaitu bacaan Al Qur'an yg secara riwayat nyambung kepada Rasulullah, dalam periwayatannya Qiro'at terbagi kepada 3,"


"Ada qiro'at mutawattir, qiro'at yang banyak meriwayatkannya sehingga tidak mungkin mereka mengadakan kesepakatan atau persekongkolan dalam kebohongan dalam periwayatan."


"Ada qiro'at masyhur, qiro'at yg banyak meriwayatkannya tapi tidak nyampai ke derajat mutawattir.


"Dan qiro'at syadz, qiro'at yg tidak memenuhi kepada syarat Mutawattir atau masyhur."


"Kemudian syarat diterimanya suatu qiro'at diantaranya, satu harus shah dan dapat diterima serta muttashil ( nyambung) riwayatnya sampai Rosululloh."


"Kedua tidak boleh keluar dari kaidah bahasa Arab, ketiga tidak boleh menyalahi Rasm Usmani."


"Untuk sekarang secara garis besar qiro'at ini hanya terbagi kepada dua yaitu, qiro'at mutawattir dan qiro'at syadz setelah Al imam Jazari memutawattirkan qiro'at tsalasah yaitu qiro'at Abu Ja'far , qiro'at Ya'qub dan qiro'at Kholaf Asyir yang sebelumnya yang mutawattir hanyalah qiro'at Syab'ah , maka jadilah sekarang qiro'at yang mutawattir itu sepuluh qiro'at yg disebut Qiro'at Asyroh."


"Yang ini sudah di catat?" kata Rafan mengarah ke papan board.


"Sudah ustadz." kata Santriat.


"Oke sekarang catat lagi yaa, saya akan mendikte." kata Rafan.


"Kasih judul nya yang besaar, supaya keliat sama kalian."


"Na'an Ustadz." kata santriat terkekeh.


"Apa judul nya?"


"Nggak tau ustadz, kan ustadz belum mendikte." kata Santriat.


Rafan pun menulis judulnya di papan board.


"Baca nya apa anak anak." kata Rafan seperti menyuruh anak TK.


Santriat hanya terkekeh.


"Usatadz mah emang nya kita anak TK apa." kata Gilang.


"Kita? kamu aja kali lang, Usatdz nggak ikut ikutan loh yaa." kata Rafan.


"Iya ustadz maksud nya kami." kata Gilang.


Rafan hanya terkekeh.


"Na'am ustadz." kata Santriat.


"Apa sih itu?" kata Cilla menepuk bahu Liani yang duduk di depan nya.


"Masa nggak keliatan Cil." kata Liani.


"Keliatan kan?" kata Rafan.


"Iyaa." kata santriat.


"Nggak ustadz." kata Cilla.


semua pandangan tertuju ke Cilla.


"Masa iyaa sih." kata Widya.


"Kalo bener gimana." kata Cilla.


"Eh udah udah, yaudah ustadz bacain nih, judulnya itu 'istilah istilah dalam ilmu qiro'at' udah Cilla?"


"Na'am ustadz syukron katsiron." kata Cilla.


"Afwan, oke siap ya para jama'ah." kata Rafan.


"Sudah siap ustadz." kata santriat.


"Tahqiq adalah membaca dengan jelas,"


"Tarqiq adalah membaca dengan tipis,"


"Tafkhim adalah membaca dengan tebal,"


"Idghom adalah memasukkan,"

__ADS_1


"Idkhol adalah memasukan,"


"Mohon maaf ulang Usatdz." kata Rohman.


"Idkhol, adalah memasukkan,"


"Baina-baina adalah membaca antara antara,"


"Baina Lafzhain yaitu antara dua lafazh, maksudnya sama dengan baina-baina,"


"Izhar, 'kebalikan dari idghom' tidak dimasukkan,"


"Roum, membaca dengan sepertiga harokat,"


"Ikhtilas, membaca dengan cepat seukuran setengah atau duapertiga harokat,"


"Ibdal itu mengganti atau diganti,"


"Hadzfu, membuang,"


"Naql, memindahkan harokat,"


"Imalah itu bunyi antara Fathah dengan kasroh, jadi bunyinya kaya huruf 'e' dalam kata 'meja',"


"Taqlil, bunyi antara Fathah dengan Imalah, jadi taqlil itu sama dengan imalah sughro dubacanya jadi huruf 'e' dalam kata 'elang',"


"Isqot itu menghilangkan atau menggugurkan,"


"Tashil itu bunyi antara hamzah dengan Alif, contohnya a i laa (ءإلى) dibaca ahilaa،"


"Taghlidz membaca dengan tebal, jadi seperti bunyi huruf 'o',"


"Farsyil huruf kalimah yang berbeda dalam cara bacanya,"


"Kabiir atau kubro yaitu besar,"


"Shoghiir atau Sughro yaitu kecil,"


"Mahdhoh, besar,"


"Badal itu setiap hamzah yang dibaca panjang 'dalam riwayat Warsy' nanti kita akan bahas dalam riwayat para imam."


"Tamm itu Sempurna, Naqish kurang sempurna."


"Iskan itu mati, Tasydid itu Doble huruf, Takhfif itu tidak bertasydid,"


"Qoshor itu membaca dengan pendek sekitar satu alif atau dengan arti dua harokat,"


"Tawashut itu membaca dengan panjang pertengahan atau sedang yaitu empat harokat,"


"Thul atau mad itu membaca dengan panjang yaitu enam harokat,"


"Isymam ada ada pengertian yaitu, satu mengencupkan kedua bibir


sebagai isyarat, dua membaca huruf shod ditarik ke huruf zay, dan tiga menarik bunyi dhommah ke


kasroh,"


"Isyba' itu membaca dengan panjang penuh enam harokat, berarti gak boleh kurang gak boleh lebih,


"Shilah mim jama' itu membaca panjang mim jama' ketika washol."


"Sudah?" kata Rafan.


"Na'am ustadz." kata santriat.


"Pegel ya?" kata Rafan.


"Banget Ustadz." rengek santriat.


"Yaudah ustadz kasih waktu lima belas menit buat istirahat." kata Rafan.


"Ke kantin boleh ustadz?" kata Gilang.


"Boleh." kata Rafan.

__ADS_1


"Asikk." kata santriat.


Mereka pun segera berhamburan keluar kelas menuju tujuan masing masing, ada yang ke kantin, dan ada pula yang ke mushola untuk melaksanakan salat dhuha.


__ADS_2