MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 106


__ADS_3

...Jangan lupa Like komen and Vote, happy reading ada cinta di setiap katanyašŸ’•...


Bertepat jam 9 pagi, semua santri sudah berkumpul di taman utama pondok.


Sedangkan Acha dan teman teman nya masih di kamar.


Mereka memakai Sarung bahan warna hitam dengan corak di belakang gambar kartun muslimah dan tulisan 'Ada Salam Dari Nenk Santri' dan baju muslimah hitam dengan kerudung berwarna pastel.


"Teh cepetan teh, udah jam sembilan." teriak tim keamanan di pintu gerbang.


"Iya ini juga mau turun." teriak Ririn di luar kamar.


"Shohibah ayo cepetan." kata Ririn di depan pintu kamar.


"Udah rapih kan?" kata Acha.


"Iya iya udah pada cantik juga, yaudah ayo." kata Ririn menggiring teman teman nya.


Langkah demi langkah mereka pun menuruni tangga, dan langsung berlari ke taman utama.


......................


Acara sudah dimulai walau baru Acara kedua yaitu penyambutan dari Pimpinan pondok.


"Baru juga penyambutan padahal mah." kata Cilla.


"Yaudah sih nggak papa." kata Putri.


"Kan Cilla nya belum bersolek, liat tuh mereka pada cantik cantik." Rengek Cilla.


"Yaa Alloh Cilla sama aja kita geh nggak bersolek liat nih liat, tetep cantik kan." kata Acha.


Cilla menatap wajah sahabatnya satu per satu.


"Iya iya kalian tetep cantik." kata Cilla.


"Cilla juga cantik." kata Mereka.


"Ya iya lah emang Cilla cantik, lagian siapa yang bilang kalo Cilla nggak cantik." kata Cilla terkekeh.


"Dih tu kan, baru di puji segitu udah sombong." kata Acha.


'Baikalah acara selanjutnya, acara yang kita tunggu, yaitu acara inti, nomor urut sesuai pendaftaran.'


"Hah? daftar?" kata Acha dan para sahabat.


Mereka menatap satu sama lain.


"Kita udah daftar?" kata Acha.


Mereka menggeleng.


'Oke jika ada yang belum daftar silahkan daftar ke Ustadzah Shilla di sana.'


MC menunjuk ke arah Meja yang terdapat buku besar di atasnya.


"Hayu kita daftar." kata Acha.


"Perwakilan aja." kata Cilla.


"Yaudah Acha sama Liani yang kesana." kata Acha.


Acha pun menuju ke arah meja itu.


"Kak Shilla nya dimana?" kata Acha.


"Itu bukan sih?" kata Liani menunjuk ke arah dua orang yang sedang berjalan ke arah mereka.


Rafan dan Shilla berjalan bersampingan dengan jarak 2 meteran.


"Kamu ingin pernikahan yang seperti apa?" kata Rafan.


"Shilla sih pengen kita akadnya dua minggu sebelum resepsi, supaya pas foto free wedding kita sudah mahrom." kata Shilla tersenyum dan langsung menunduk.


"Sesuai keinginan Ustadzah Shilla." goda Rafan.


Shilla hanya tersenyum malu.


"Kalo untuk dekorasi pas resepsi gimana?" kata Rafan.


"Yang sederhana saja tapi mewah." kata Shilla.


'Dengan hidup hanya sepanjang tarikan nafas jangan tanam apa-apa kecuali cinta'


ā¤Jalaluddin Rumiā¤


"Eh Acha?" kata Shilla.


"Assalamu'alaikum kak." kata Acha mencium tangan Shilla dan Rafan.


Liani mencium tangan Shilla dan menyatukan ke Rafan.

__ADS_1


"Abang ngapain di sini? disini kan tugas kak Shilla." kata Acha.


"Emang nggak boleh nemenin Ca..." kata Rafan.


"Ca...?" kata Acha penasaran.


"Ca.. Umm.. cahabat lah." kata Rafan.


"Dih emang mau kak Shilla sahabatan sama Abang." ledek Acha.


"Mau lah jangan kan di aja sahabatan, di ajak kepelaminan geh pasti mau, ya kan Shill?" kata Rafan.


"Apa? usatdz Rafan mau ke pelaminan sama kak Shilla." kata Cilla yang datang.


"Ih apa an sih Cill ngagetin aja." kata Acha.


"Cha udah daftar belum? gengs Widya abis ini maju." kata Cilla.


"Owh kalian belum daftar." kata Shilla membuka buku.


"Atas nama siapa nih?" kata Shilla.


"Shohibah lillah." kata Mereka bertiga.


"Kompak sekali." kata Shilla yang menulis di buku.


"Udah ya kalian nomor urut ke 20." kata Shilla memberikan selembar kertas kecil (nomor daftar).


"Nomor ganjilnya pada ilang kemana ini?" kata Acha melihat buku daftar.


"Di buku daftar santriwan." kata Rafan.


"Owh selang seling gitu ya." kata Liani.


"Iyaa." kata Rafan dan Shilla.


"Abang udah jangan di sini, jangan gangguin kak Shilla." kata Acha.


"Dih abang kan yang jaga buku daftar santriwan, biar in mau abang gangguin." kata Rafan terkekeh.


"Yaudah sana, kan meja nya di sana bukan di sini." kata Acha.


"Iya iya." kata Rafan langsung menuju ke mejanya.


"Yaudah kami kesana ya kak, Assalamu'alaikum." kata Acha mencium tangan Shilla, di ikuti Liani dan Cilla.


......................


'Selanjutnya dari kamar khadijjah silahkan maju.'


Widya dan teman teman nya pun menaiki panggung.


"Disini kamu akan bershilawat yang berjudul waktu sahar." kata Widya.


Anak kamar annisa hanya membulatkan matanya dan saling menatap satu sama lain.


"Owh pantesan aja kemarin Widya... apa jangan jangan sepatu itu jatuh sama Widya juga." batin Acha.


"Gimana nih satu sholawat kita udah ada yang pentasin." kata Cilla.


"Tenang kan masih ada tiga lagi di tambah sama syairan jadi empat." kata Acha.


Mereka mengangguk tenang.


"Semuanya yang hapal boleh ikut bersholawat." kata Widya.


"Nye nye nye nye." kata Cilla meledek kata kata Widya.


"Hus nggak boleh gitu." kata Acha.


Widya dan teman teman nya bersholawat dengan suara merdu.


šŸŽµwaqti sahar bi yatii


Alhal lalisshofa


Wabiyajudil alaih


Bil fadlil ahlil wafaa


Telah lahir cahaya


Penerangan jiwa


Manusia mulia


Penyejuk jiwa


burung - burung bernyanyi


Matahari berseri

__ADS_1


Datang pujaan hati


Sebagai obat diri


waqti sahar bi yatii


Alhal lalisshofa


Wabiyajudil alaih


Bil fadlil ahlil wafaa


Malaikat memuji


Bidadari ber seri


Menyambut sang nabi


Dari allahu rabbi.


Hancurlah berhala


Terkunci neraka


Sambutan yang esa


Untuk umat manusia


Waqti sahar bi yatii


Alhal lalisshofa


Wabiyajudil alaih


Bil fadlil ahlil wafaašŸŽµ


Semuanya ikut bersholawat


"Maa syaa Alloh." kata pendengar.


"Syukron katsiron." kata Widya.


"Uh jadi insecure suara mereka emang bagus, udah mah sholawatan yang kita itu." kata Cilla.


"Eh gak boleh insecure, yang bener itu bersyukur, you now." kata Acha.


"Iya bener lagian nggak lebih dari suara ustadzah kita." kata Ririn menunjuk Rasi.


Mereka mengangguk


"Apaan sih Rin." kata Rasi.


"Eh ada yang terbang." kata Acha.


Teman teman nya melihat ke arah langit.


"Ih maksud Acha tuh Rasi." rengek Acha.


"Owh iya iya, maaf galfok (gagal fokus) kita." kata Liani.


"Jangan terbang ya Ras." kata Putri dan Ririn yang memegang bahu Rasi.


"Ih apaan sih kalian nih." kata Rasi.


Mereka terkekeh


"Ini nomor ke berapa." kata Cilla.


"Yang ke empat belas." kata Rasi.


"Yah masih ada lima belas, enam belas, tujuh belas, delapan belas, sembilan belas," kata Cilla menghitung.


"Gimana kalo ke lima grup itu pake sholawat yang kita siapin." Rengek Cilla.


"Ih Cilla nih positif thinking dong." kata Liani.


"Tau geh." kata Putri.


"Iya iya." kata Cilla.


Cilla hanya menatap ke arah lain panggung.


'Yang selanjutnya nomor urut lima belas belas.'


Gilang dan teman teman nya maju.


"Gilang dekaka (dan kawan kawan) tuh." kata Acha terkekeh.


Cilla yang pandangan nya langsung memandang ke arah panggung.


'Apa yang engkau cari sedang mencarimu.'

__ADS_1


ā¤Jalaluddin Rumiā¤


__ADS_2