
Liani pun langsung pergi.
"Acha kemana yaa, kalo ke asrama kayanya gak bakal deh." batin Liani.
"Achaa dimana sih, taman udah, teras masjid udah." khawatir Liani, yang sudah mencari tempat biasanya Acha merenung tapi Acha tidak ada disana.
"Apa di taman belakang asrama yaa." gumam Liani.
Liani dan langsung menuju belakang asrama.
......................
Terdengar isak tangisan seorang gadis.
"Chaa..?" kata Liani memeluk Acha.
"Lii, dua kali Allah patahkan harapan Acha." tangis Acha di pelukan Liani.
"Syutt jangan bilang seperti itu, Allah nggak salah dalam hal ini, Kita yang salah, karena terlalu berharap pada manusia, sesungguhnya harapan yang tidak akan mengecewakan hanya harapan kepada Allah, jangan nangis Cha..Aku nggak bisa liatnyaa" Liani yang ikut nangis.
"Tapi bang Ustadz jahat.." kata Acha menangis.
"Acha tuluskan mencintai Ustadz Rayis?" kata Liani menangis dan di angguki Acha yang masih menangis.
"Kalo begitu ikhlaskan, biarkan perjuangan Acha berakhir dengan pengorbanan, korbankan hasrat Acha untuk memiliki Ustadz Rayis, masa iyaa Acha hancur disaat orang yang Acha cintai bahagia, harus nya Acha lebih bahagia." kata Liani.
"Acha bahagia kok, tapi hati Acha masih belum menerima." kata Acha menangis.
"Istighfar Cha, semuanya udah qodarullah, Acha taukan kalo Allah ngusir hambanya yang tidak mau menerima taqdir kan pernah minta sama Allah suapaya diberikan jodoh yang terbaik, mungkin Ustadz Rayis bukan yang terbaik buat Acha, dan asal Acha tau Allah akan menggantikan yang hilang dengan yang lebih baik lagi." kata Liani.
Acha mengangguk di pelukan Liani.
"Sekarang Acha jangan nangis." kata Liani menghapis air mata Acha.
"Tarik nafas.." kata Liani tarik nafas Acha pun mengikuti.
"Buang nafas perlahan sambil istighfar." kata Liani.
"Huufttt... Astaghfirulloh." kata Acha membuang nafas sepanjang panjang nya.
__ADS_1
"Sekarang Kita teriak bareng yah." kata Liani dan diangguki Acha.
"Yaa Allah jiwa dan raga Ku ada dalam genggaman Mu, dan sesungguhnya hati ini hanya untuk Mu, mulai sekarang harapan dan tujuan hidup Ku hanya untuk Mu, tiada yang indah selain dari taqdir dan rencana Mu, i love Allah." teriak Acha dan Laini bersamaan, Mereka pun berpelukan.
"Yuk ke asrama." kata Liani merangkul Acha.
'These pains you feel are messengers. Listen to them (Luka yang kamu rasakan adalah sebuah pesan. Dengarkanlah mereka.)'
❤Jalaluddin Rumi❤
......................
Acha dan Liani pun tersenyum.
"Bismillah Cha, mulai sekarang Kita fokuskan untuk beribadah pada Allah jangan memikirkan manusia oke." kata Liani menjulurkan kelingkingnya.
"Okee, in syaa Allah." kata Acha menyatukan kelingkingnya dengan kelingking Liani.
"Yaa Allah bantu dan tuntun Kami di setiap langkah Kami dalam Hijrah ini." kata Acha.
"Aamiin." kata Acha dan Liani Mereka pun tertawa.
❤Jalaluddin Rumi❤
......................
Adzan maghrib pun berkumandang seluruh santri melaksanakan ibadah shalat maghrib berjama'ah.
"Assalamu'alaikum warohmatullah." salam pengakhir shalat di ucapkan sang imam di ikuti para jama'ah.
"Astaghfirullaahal 'adziim lii waliwaa lidayya wali ashaabil huquuqil wajibati 'alayya walimasyaa yikhinaa wali ikhwaaninaa walijamii'il muslimiina walmuslimaati walmu'miniina walmu'minaatil ahyaa i minhum wal amwaati wa atuubu ilaiih.. Laa ilaaha illallohu wahdahu laa syarikalah, lahul mulku walahul hamdu yuhyii wayumiitu wa huwa 'alaa kulli syai ing qodiir.. Allohumma innii as alukal jannah allohumma ajirni minannar, Allohumma angtas salaam wamingkas salaam wailaika ya'uudus salaam fahayyinaa robbanaa bissalaam wa adkhilnaal jannata daarossalaam tabaaroktarobbanaa wata'aalaita yaa dzal jalaali wal ikroom...." dzikir demi dzikir setelah shalat pun dibacakan dipimpin oleh Iman.
......................
Semua santri pun mengaji.
"Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarohatuh.." suara pengumuman di speaker masjid.
"Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh." jawab an Santriat.
__ADS_1
"Untuk malam minggu ini latihan qori' di liburkan dulu, yang masih mengaji silahkan di terukan, yang sudah selesai harap kembali ke kamar masing masing sekian, wassalam assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh." Muza yang memberi pengumuman san terdengar sebagian Santri yang bahagia ada pula yang sedih.
"Alki.." kata Faziel.
"Eh zil, kenapa?" kata Muza.
"Kamu dipanggil sama Ustadz Rayis, beliau nunggu Kamu di ruangan nya." kata Faziel berbisik dan di angguki Muza.
......................
Muza pun segera menemui Ustadz Rayis.
"Hufthh.." hembusan nafas panjang Ustadz Rayis.
Tok tok tok...
"Assalamu'alaikum Ustadz?" kata Muza.
"Wa'alaikumussalam warohmatullah, masuk Ki." kata Ustadz Rayis.
"Ada apa yaa Ustadz?" kata Muza sopan.
"Saya mau minta bantuan Kamu, bisa?" kata Ustadz Rayis.
"In syaa Allah bisa." kata Muza.
"Nanti setelah shalat Isya antar Saya menemui wanita pengirim surat itu, Saya ingin mejelaskan, karena Saya tidak ingin di merasa harapan nya telah di hancurkan." kata Ustadz Rayis.
"Ustadz sudah tau siapa pengirimnya, siapa Ustadz?" kata Muza.
"Acha." kata Rayis dan Muza terkekeh.
"Eh afwan Ustadz, Ana cuma aneh aja, senekat itu Acha, sampai berani mengirim surat pada Ustadz." kata Muza.
"Itu Acha langsung yang ngaku." kata Muza dan Ustadz Rayis menggeleng.
"Lalu?" kata Muza keheranan.
'Segala sesuatu yang tercipta indah, seimbang dan menarik adalah tercipta untuk mata orang yang memandang.'
__ADS_1
❤Jalaluddin Rumi❤