MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 152


__ADS_3

Acha dan Muza menjatuhkan tubuhnya keatas kasur, kamar pengantin yang sudah di hias dengan hiasan, kelopak bunga mawar merah terhampar di lantai membentuk love dan lilin lilin yang berjejer di setiap sudut memenuhi ruangan yang hening itu.


"Setelah lama menunggu, akhirnya penantian saya terhenti ketika saya melamarmu dan kamu menerima lamaran sata." kata Muza tersenyum.


"Benarkah?" kata Acha mengatur posisi nya sedikit menyamping kan tubuhnya dan menompang kepalanya dengan telapak tangan.


Muza mengatur posisi tubuhnya berhadapan dengan Acha, Muza menatap wajah cantik Acha dengan sedikit mengerutkan alis, "Benar, kamu tidak percaya?" kata Muza sedikit mencondongkan wajahnya ke hadapan Acha.


Deg! Tatapan mereka saling bertemu, Acha langsung terkekeh dan beranjak duduk di ikuti Muza yang oenasaran dengan tawa Acha.


"Pernahkah Acha tidak percaya pada Ustadz?" kata Acha menatap serius wajah teduh milik Muza, Muza hanya tersenyum dan menggeleng samar.


Muza menatap serius wajah Acha, "Acha? bolehkah saya mengatakan sesuatu." kata Muza diangguki Acha tersenyum.


Muza sedikit mencondongkan wajahnya kedepan wajah Acha, "Saya mencintaimu" bisik Muza, Acha membulatkan matanya dan kemudian tersenyum lebar.


"Apakah kamu tidak ingin membalas?" kata Muza yang menyadarkan Acha, Acha hanya menatap Muza keheranan.


"Yasudah lah kalo tidak mau mebalasnya, saya mau membersihkan badan dulu." kata Muza yang langkah demi langkahnya menuju kamar mandi.


Acha yang tersenyum-senyum memandangi langkah demi langkah Muza yang mulai menjauh darinya, Acha mengatur napas dan memejamkan mata, Acha memeberanikan diri berkata, "Bang Ustadz saya juga mencintai bang Ustadz." kata Acha yang perlahan membuka matanya dan kemudian tersenyum.


Deg! Langkah Muza pun terhenti sebuah senyuman terlukis di bibir Muza, kemudian Muza segera berbalik, "Apa? Saya tidak mendengar apa yang kamu katakan." kata Muza.


Acha mengernyitkan alisnya, dan langkah demi langkahnya menghampiri Muza, melihat Acha menuju ke arahnya Muza hanya keheranan, "Bang ustadz saya juga mencintai bang Ustadz." kata Acha tersenyum dihadapan Muza.


Muza hanya mengatur napasnya lembut "Huh... akhirnya, ku kira Acha akan melakukan sesua..." batin Muza. Muza mencerit kesakitan skarena sebuah cubitan melayang ke kulit perutnya, "Aw... yaa Alloh sakit sayang." keluh Muza.


Deg! hati Acha menjadi tak karuan, "Sayang..." batin Acha dan Acha tersenyum malu, Muza yang masih fokus mengelus perutnya yang kesakitan tak menyadari sebuah senyuman itu.


Acha langsung merubah ekspresi wajahnya menjadi sedikit ganas, "Jangan bilang, apa? Saya tidak mendengar yang kamu katakan." kata Acha yang akan mencubit kembali perut Muza.


"Iya iya." kata Muza terkekeh.


"Udah-udah sholat sana." perintah Acha dengan ekspresi garangnya.


"Emang kamu udah sholat?" kata Muza.


Acha hanya menyengir kuda, "Belum." kata Acha.


Muza menarik lembut tangan Acha menuju kamar mandi, Acha masuk yang sudah masuk ke kamar mandi hanya menatap muza yang berada di luar kamar mandi, Acha yang hendak membuka kerudungnya ragu-ragu, "Yaudah cepet wudhu." kata Muza yang berdiri di depan pintu kamar mandi.


Acha hanya menatap Muza, Blak... pintu kamar mandi di tutup Acha, "Astaghfirullohal'azhiim." kaget Muza.

__ADS_1


"Yaa Alloh kamu kalo nutup pintu tuh bilang-bilang udah tau ada orang." kata Muza.


"Suruh siapa berdiri disitu." kata Acha keluar kamar mandi.


"Eh tunggu." kata Muza yang hendak memegang tangan Acha, Acha langsung menghindar, "Mau ngapain? awas aja kalo sampe pegang, Acha udah berwudhu." kata Acha.


"Itu dilerudung kamu ada kecoa perasaan." kata Muza.


Acha membulatkan mata ketakutan, "Kecoa? dimana? nggak mau ambilin pokoknya." rengek Acha yang hendak menangis.


Muza yang khawatir "Dikira nggak bakal nangis." batin Muza. "Eh jangan nangis, udah nggak ada kecoanya." kata Muza.


"Beneran?" kata Acha bahagia, Muza hanya mengangguk samar.


Acha pun meraba-raba kepalanya, plak... satu tepukan tangan Muza ke tangan Acha, "Emang dari tadi juga gak ada." kata Muza terkekeh dan langsung masuk kamar mandi.


"Wudhunya batal?" gumam Acha yang berdiri mematung.


"Nggak mau..." rengek Acha menggedor pintu, dan di dalam kamar mandi Muza hanya terkekeh.


......................


Ke-esokan harinya setelah melaksanakan shalat subuh berjama'ah, Acha dan Muza melakukan olahraga yaitu lari pagi mengelilingi komplek, setelah datang di depan gerbang komplek, Muza menantang Acha lomba lari dan Acha pun menyetujuinnya, langkah mereka terus berlari kecil dan terhenti kembali di depan rumah. dan Acha yang memenangkan lomba itu karena Muza sengaja memperlambat larinya.


Muza tersenyum melihat tingkah istrinya, "Iya iya kamu yang menang, terus?" kata Muza mengelus kepala Acha.


Acha berhenti dari bahagianya karena mengingat sesuatu, "Mana?" kata Acha.


"Mana apa?" kata Muza.


Mendengar itu Acha memanyunkan bibirnya, "Ih bang Ustadz ngeselin ah, masa udah lupa, kan katanya yang menang bakal dikasih hadiah, jadi mana hadiahnya." kata Acha dan Muza hanya terkekeh.


Muza memutar posisi tubuh Acha, "Iya iya, merem dulu." kata Muza dan Acha hanya menatap Muza curiga.


"Ayo merem katanya mau dapet hadiah." kata Muza.


"Iya-iya, awas kalo macem-macem." kata Acha yang langsung memejamkan matanya.


Mendnegar itu Muza tertawa renyah, "Mau macem-macem juga kan kamu udah hak saya, iya 'kan?"


Acha kembali membuka mata dan menatap wajah teduh Muza, "Hm..." kata Acha mengangguk sama samar.


"Udah cepet merem." kata Muza, Acha pun segera memejamkan matanya.

__ADS_1


Muza memasangkan sebuah kalung dileher Acha, kalung yang indah dan keindahannya bertambah setelah dipakai oleh Acha Acha langsung membuka matanya dan tersenyum.


"Makasih Bang Ustadzku." kata Acha dan Muza mengangguk tersenyum.


Cahaya matahari sudah sedikit terbit, Muza merangkul Acha dan mereka berdua segera masuk rumah.


"Aku buat sarapan dulu." kata Acha diangguki Muza.


Muza langsung menaiki tangga menuju kamar dan acha berjalan lurus kearah dapur, Acha segera membuat nasi goreng yang aromanya membuat semua orang menjadi lapar.


"Wah anak Uma pagi pagi udah buat perut uma bunyi." kata Fathma menghampiri.


"Eh Uma udah lapar ya." kata Acha menyajikan nasi goreng ke piring dan meletakan nya di meja makan.


Acha menengok sana sini mencari sesuatu, "Abi dimana?" kata Acha.


"Ada dikamar lagi siap siap." kata Fathma.


Acha hanya mengernyitkan alisnya heran, "Mau kemana pagi-pagi?" kata Acha.


"Ada rapat di kantor." kata Fathma.


"Owh berarti abi harus bawa bekal, Acha mau buatin dulu." kata Acha yang menaruh sepiring nasi goreng yang di pegangnya ke atas meja makan.


"Eh nggak usah Nak," kata Qayyis yang langkah demi langkahnya menuruni tangga.


"Biar Uma aja, bagaimana pun sekarang kamu sudah punya suami, layani suami kamu cari ridhonya." kata Qayyis diangguki Acha.


"Iya nak biar Uma aja yang siapin, sekarang kamu bawa ini ke kamar, kasian Muza takut kelaperan nungguin istrinya yang nggak datang datang." ledek Fathma yang memberikan sepiring nasi goreng yang di taruh Acha tadi.


"Uma mah." kata Acha sedikit malu.


Acha pun segera melangkah menaiki tangga, Qayyis dan Fathma masih terkekeh dan langsung duduk di kursi meja makan, Qayyis menyantap makanan dan Fathma menyiapkan bekal.


Acha pun masuk kamar dengan membawa sepiring nasi goreng dan meletakannya di meja kamar, Acha menuangkan air kedalam gelas, Muza yang sudah membersihkan diri dan keluar dari kamar mandi dan tersenyum melihat Acha yang sedang duduk di sofa memandangi arah luar jendela.


Muza segera menghampiri dan memeluk Acha dari arah belakang "Maa syaa Alloh bidadariku rajinnya." kata Muza.


"Iya dong." kata Acha terkekeh.


Muza pun langsung duduk di samping Acha dan siap menyantap nasi goreng buatan Acha, dan kemudian satu suapan meluncur ke mulut Acha, Acha menggelng "Bang Ustadz dulu." kata Acha.


"Pokoknya kamu dulu, kalo tidak kamu dulu, saya nggak bakal makan." kata Muza menyuapi Acha dan menerima satu suapan dari Muza, dan Acha pun menyuapi Muza kembali.

__ADS_1


__ADS_2