MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 69


__ADS_3

"Kamu di panggil Ustadz Rayis, beliau menunggu di ruangan nya." Kata Liani.


Teman teman nya hanya membulatkan mata Mereka.


"Ada masalah apa Acha, sampe Ustadz Rayis manggil Acha keruangan nya di waktu malam." kata Ririn.


"Iyaa Acha ada masalah? Kok gak bilang Kita." kata Cilla diangguki semua nya.


"Mana Acha tau, Acha nggak ngerasa ngelanggar peraturan pondok." kata Acha.


"Yaudah yuk.." kata Liani menggandeng tangan Acha.


"Semangat yak." kata mereka.


"Iyaa.. Assalamu'alaikum." kata Acha dan Liani.


"Wa'alaikumussalam." kata Mereka.


......................


Acha dan Liani pun bergegas ke ruangan Ustadz Rayis.


"Mau kemana teh?" kata keamanan.


"Anu Kak.. Kami dipanggil Ustadz Rayis." kata Liani.


"Beneran?" kata keamanan.


"Iyaa Teh beneran, Ustadz Rayis manggil Mereka, dan Saya ke sini untuk meminta izin ke tim keamanan." kata Muza yang nongol dibalik gerbang.


"Ya sudah kalo Kak Muza yang langsung ngomong Saya percaya." kata Santriwati itu.


"Makasih Teh, Assalamu'alaikum." kata Muza.


Muza, Acha dan Liani pun segera pergi.


......................


"Wa'alaikumussalam." kata Santriwati tim keamanan.

__ADS_1


"Ada apa yaa malem malem." gumam Santriwati itu.


"Ahh yo wis lah, bukan urusan Saya." kata Santriwati itu.


......................


"Assalamu'alaikum Ustadz" kata Muza masuk diikuti Acha dan Liani.


"Wa'alaikumussalam warohmatullah." kata Ustadz Rayis yang sedang membereskan 3 lembar kertas yang tak lain adalah kaligrafi buatan Acha.


Melihat kertas itu, Acha dan Liani hanya membulankan matanya.


......................


Hanya ada keheningan disana.


"Saya tau ini dari Kamu kan Cha?" kata Ustadz Rayis membuka pembicaraan dan Acha pun hanya tertunduk.


"Jujur Saya kaget saat mengetahui ada seorang wanita yang saya tidak ketahui, mengungkapkan isi hatinya untuk saya, dua kali Saya menemukan kertas ini terselip dipintu itu." kata Ustadz Rayis menunjuk pintu.


"Yang ketiga kalinya Saya menemukan ini terselip di tumpukan buku tugas santriat." kata Ustadz Rayis menunjukan kertas itu, Acha hanya diam tertunduk.


"Maafkan Saya, jika ada sakit hati atau kecewa dalam diri Kamu.." kata Ustadz Rayis.


"Saya mendengarkam curhatan Kamu pada Liani di taman belakang Asrama putri, maaf jika itu lancang." kata Ustadz Rayis.


Acha pun tertunduk kembali.


"Saya sangat meminta maaf atas kekecewaan Kamu Cha, ini semua sudah menjadi qodarullah, Saya harap Kamu selalu mengharap kepada Allah dan tidak mengharapkan Saya dengan lebih, tiga minggu lagi mungkin pernikahan Saya dan Rasya akan di langsungkan, Saya harap Kamu ikhlas." kata Ustadz Rayis.


Deg! Kata kata Ustadz Rayis sampai mengenai hati Acha. Dan Acha hanya memejamkan mata, menarik nafas dalam dalam dan membuangnya, kemudian menonggakan pandangannya ke arah Ustadz Rayis.


"In syaa Allah, Saya sudah ikhlas Ustadz, soal surat itu Saya hanya mengungkapkan dan Saya tidak mengharapkan balasan." kata Acha tersenyum.


"Terimakasih Cha, mendengar itu hati Saya tenang dari rasa bersalah, jujur Saya tidak bisa melihat seorang wanita tersakiti hatinya dan menangis, apa lagi karna Saya, dalam setiap langkah seorang laki laki tidak akan baik jika ada setetes air mata wanita yang menangis karena terluka hatinya." kata Ustadz Rayis.


Acha hanya menunduk meneteskan air mata.


"Yakin lah Cha, Allah akan menggantikan sesuatu yang hilang dengan yang lebih baik." kata Ustadz Rayis.

__ADS_1


'Jangan bersedih, segala sesuatu yang hilang darimu akan datang kembali dalam bentuk yang lain.'


❤Jalaluddin Rumi❤


"Iyaa terimakasih ustadz boleh Acha pamit." kata Acha yang dimatanya keluar butiran butiran kristal bening.


"Saya tidak akan mengijinkan Kamu pergi dalam keadaan menangis apalagi tangisan itu keluar karena Saya, Saya akan mengijinkan Kamu pergi jika Kamu tidak menangis." kata Ustadz Rayis.


Acha pun menatap ke arah langit langit menarik nafas dalam dalam dan mengeluarkannya.


"Hufthhhh, sesungguhnya Acha tidak menangis karena Ustadz, Acha tidak sakit hati atau pun kecewa, sungguh Acha sudah ikhlas, tak perlu Ustadz merasa bersalah lagi, karena ini semua salah Acha, yang berharap lebih pada seorang manusia dibanding berharap kepada sang maha pemilik cinta, mungkin ini adalah teguran Allah, supaya Acha kembali berharap kepada Nya." kata Acha berusaha tegar.


"Alhamdulillah kalo begitu, Saya hanya berpesan, selalu taruh harapan pada Allah sang pemilik hati." kata Ustadz Rayis dan di angguki Acha.


"Yaudah Ustadz Saya ijin pamit." kata Acha menyatukan 2 tangan nya.


"Iyaa terimakasih." kata Ustadz Rayis.


"Assalamu'alaikum." kata Acha dan Liani.


"Wa'alaikumussalam warohmatullah." kata Ustadz Rayis dan Muza.


......................


Liani dan Acha pun kembali ke Asrama tapi Asrama sudah dikunci karena sudah larut malam.


"Kak...?" kata Acha dan Liani yang sedikit menggedor gerbang.


"Siapa..?" kata santriwati.


"Acha dan Liani." kata Acha.


Santriwati itupun membuka gerbang.


"Makasih kak." kata Acha dan Liani diangguki oleh santriwati itu.


......................


Acha dan Liani pun langsung ke kamar, Liani menyusul mimpi sahabatnya yang sudah tertidur, sedangkan Acha berwudhu untuk melaksanakan shalat witir karena Acha belum melaksanakannya tadi seusai shalat ba'diyah isya, acha membaca surat Al Mulk dan amalan amalan sebelum tidur.

__ADS_1


'Ketika engkau melambung ke angkasa ataupun terpuruk ke dalam jurang, ingatlah kepada-Ku, karena Akulah jalan itu.'


❤Jalaluddin Rumi❤


__ADS_2