
...****************...
Satu tahun kemudian, Ini lah hal yang di tunggu tunggu tes akhir untuk kelulusan.
Santriat sedang dimantap kan baik itu hafalan alqur'an, ilmu fiqih, qiro'at, tajwid dan lain nya.
Santriat di tes oleh masing masing ustadz wa ustadzah yang sudah ditugaskan untuk membimbing.
Kamar Annisa di bimbing oleh Ustadz Muza.
Acha dan teman teman nya duduk bersampingan di hadapan Muza.
"Baik di sini saya menjadi pembimbing kalian, semoga pemantapan ini bisa membuat ilmu semakin melekat di ingatan kalian." kata Muza
"Aamiin." ucap semua.
"Bisa kita mulai?" kata Muza
"Na'am ustadz in syaa Alloh." ucap Acha dan teman teman.
"Bismillah ya." kata Muza.
"Bismillahir rohmaan nirohiim." ucap semua.
"Soal yang pertama tentang tajwid, jelas kan hukum Alif lam qomariyah." kata Muza.
"Ustadz..." kata Acha mengangkat tangan kanan.
"Tafadhol." kata Muza.
"Ta'rif alif lam qomariyah, Dimana mana alif lam bertemu salah satu huruf yang empat belas, maka membacanya harus di izharkan atau jelas alif lam nya." kata Acha.
"Alif lam dinamai alif lam qomariyah sebab dalam makhrojnya harus seperti melihat bulan yang terlihat jelas bentuk bulan nya dan jelas cahayanya," jelas Acha.
"Kaidah alif lam qomariyah yaitu, lilaami al haalaani qoblal ahrufi, aulaa humaa izhaaruhaa falyu'rofi." kata Acha menadhomkan.
"Arti kaidah tadi yaitu, Hukum lam sebelum huruf-huruf hijaiyah selain alif itu ada dua; pertama dibaca idzhar atau jelas lam nya maka kenalilah." kata Acha
"Kaidah hurufnya yaitu, Qobla arba'in ma' 'asyrotin khudz 'ilmahu, mini ibghi hajjaka wakhof 'aqiimahu." nadhoman yang dilantunkan Acha.
"Arti dari kaidah tadi yaitu, keempat belas huruf yang dibaca jelas, maka ambillah ilmunya dari kalimat ibghi hajjaka wakhof 'aqiimahu, yaitu huruf Alif ( ا ), ba (ب), oghin (غ), ha (ح), jim (ج), kaf (ك), wau (و), kho (خ), fa (ف), 'ain (ع), qof (ق), ya (ي), mim (م), ha (ھ)." jelas Acha.
"Toyib cukup, soal yang kedua tentang tajwid, jelaskan tentang alif lam syamsiyah." kata Muza.
"Ustadz..." kata Rasi mengangkat tangan.
__ADS_1
"Tafadhol." kata Muza.
"Ta'rif dari alif lam Syamsiyah adalah, Dimana mana alif lam bertemu salah satu huruf yang empat belas, maka membacanya harus disamarkan alif lam nya." kata Rasi.
"Alif lam dinamai alif lam syamsiyah sebab dalam makhrojnya harus seperti melihat matahari yang tidak terlihat jelas bentuk matahari nya." kata Rasi
"Kaidah alif lam syamsiyah yaitu, tsaa niihimaa idghoomuhaa fii arba'i, wa'asyrotin aidhon waromzahaa fa'i." nadhoman yang dilantunkan Rasi.
"Artinya dari kaidah tadi yaitu, Kedua, dibaca idgham yaitu melebur (lam nya tidak dibaca, tetapi langsung dibaca hurufnya) yang juga empat belas huruf dengan rumus." kata Rasi.
"Thib tsumma shil ruhman tafuz dhif dzaa ni'am, da' suu-a zhonni zur syariifan lilkarom." nadhoman yang dilantunkan Rasi
"Thib itu tho (ط), tsumma itu tsa (ث), shil itu sho (ص), ruhman itu ro (ر), tafuz itu ta (ت), dhif itu dho (ض), dza itu dza (ذ), ni'am itu nun (ن), da itu da (د), suu a itu sa (س), zhonni itu zho (ظ), zur itu za (ز), syarifan itu sya (ش), lilkarim itu lam (ل)." jelas Rasi
"Toyyib cukup, soal ketiga Tajwid, jelaskan tetang izhar." kata Muza.
"Ustadz..." kata Liani mengangkat tangan kanannya.
"Tafadhol." kata Muza.
"Izhar itu kebagi dua hukum yang pertama izhar menurut lughot, izhar menurut lughot itu al bayan yang artinya kadang kadang jelas." kata Liani
"Dan yang kedua izhar menurut istilah yaitu, ikhrooju kuli harfin mimmakhroojihi, artinya mengeluarkan macam macam huruf di makhrojnya atau tempat keluarnya" kata Liani.
"Ta'rif izhar yaitu, dimana mana nun mati atau tanwin bertemu salah satu huruf izhar yang enam maka dibaca nya harus jelas." kata Liani.
"Arti dari kaidah tadi adalah, Pertama, Idzhar jika ada nun sukun atau tanwin sebelum enam huruf halqy atau huruf tenggorokan yang tersusun maka ketahuilah." kaya Liani.
"Kaidah huruf izhar yaitu, Hamzun fahaa u tsumma 'ainu haa u, muhmalataani tsumma ghoinu kho u," kata Liani menadhomkan.
"Artinya dari bet atau kaidah ini yaitu, Hamzah (ﺃ) , Ha besar (ﻫـ), ‘Ain (ﻉ), Ha kecil (ﺡ), kemudian Gha (ﻍ), dan Kha (ﺥ)." jelas Liani.
"Toyib cukup, soal ke empat tentang tajwid. Jelaskan tentang Mad jaiz!" kata Muza.
"Ustadz..." kata Putri mengangkat tangan.
"Tafadholy." kata Muza.
"Dimana mana sesudah mad thobi'i bertemu hamzah yang pisah kalimah, cara bacanya boleh satu alif sampai dua setengah alif, jelasnya dua harokat sampai lima harokat, dan tidak boleh lebih kecuali menurut kaidah imam tertentu." jelas Putri.
"Kaidah nya yaitu, Wajaa izu madun waqodhrun ingfushil, kullum bikilmatin wahadzal mungfashil." kata Putri menadhomkan.
"Arti dari kaidah tadi adalah, Mad Jaiz itu boleh dipanjangkan (seperti mad wajib muttashil) boleh pula dibaca pendek (seperti mad thabi’iy) yaitu jika (mad dan hamzah) masing-masing dalam kalimat terpisah dan ini disebut mad jaiz munfashil." kata Putri.
"Toyyib cukup, soal ke lima tentang tajwid, jelaskan hukum ikhfa." kata Muza.
__ADS_1
"Ustadz..." kata Ririn mengangkat tangan kanan.
"Tafadholly." kata Muza.
"Ta'rif Ikhfa yaitu, dimana mana nun mati atau tanwin bertemu salah satu huruf Ikhfa yang lima belas maka dibaca nya samar." jelas Ririn.
"Ikhfa terbagi menjadi tiga golongan, yang pertama ikhfa aqrob ada tiga hurufnya yaitu ta da sama tho, kedua ikhfa aushoth ada sepuluh hurufnya, yaitu sa sya ja tsa dza shi za fa dho dan zho, terus yang ketiga ikhfa 'ab'ad ada dua huruf yaitu qof dan kaf." jelas Ririn.
"Ikhfa yaitu untuk sisa huruf hijaiyah yang wajib menurut Ulama Qirooah, Fii khomsatim mimba'du 'asyrin romzuhaa, fii kilmi hadzal baiti qod dhommantuha." kata Ririn yang menadhomkan.
"Arti dari kaidah tadi yaitu, Aku telah menyusun rumus 15 huruf ikhfa yang terangkum dalam kalimat bait ini," jelas Ririn.
"Bait atau kaidah huruf ikhfa berbunyi, Shif, dzaa, tsanaa, kkam, jaada, syakhshun, qod, samaa, dum, thoyyiban, zid, fii, tuqon, dho', zhoolimaa." kata Ririn menadhomkan.
"Toyib cukup, soal ter akhir tentang tajwid, jelaskan tentang hukum mim mati, tafadholly Cilla." kata Muza.
"Na'am ustadz." kata Cilla.
"Wa ghunnatun qod aujabuu haa abadaa, fil miimi wannuuni idzaa maa syuddidaa." jelas Cilla
"Artinya, Apabila ada Mim atau Nun di beri tasydid, maka hukum bacaannya wajib Ghunnah atau mendengung, Ini menurut kesepakatan ulama ahli tajwid." jelas Cilla.
"Wal miimu ingtaskuladal baatukhtafa, nahwu'tashim billahi talqisy-syarofa." jelas Cilla.
"Artinya, Apabila ada Mim mati bertemu dengan huruf Ba, maka wajib di baca Ikhfa syafawi." jelas Cilla.
"Wad ghim ma'al ghunnati 'ingda mitslihaa..." jelas Cilla.
"Artinya, Apabila ada Mim mati bertemu dengan huruf Mim, maka hukumnya wajib di baca Idghom Mitslain ma'al ghunnah..." jelas Cilla.
"...Wa izhar ladaa baqil huruufi kullihaa." jelas Cilla.
"...Artinya, Apabila ada Mim mati bertemu dengan salah satu huruf hijaiyyah selain Ba dan Mim maka hukumnya wajib di baca Izhar." jelas Cilla.
"Hurufnya selain huruf Mim dan Ba yaitu, Alif, Ta, tsa, jim, ha, kha, dal, dzal, ra, za, sin, syin, shad, dhad, tha, zha, 'ain, ghin, fa, qaf, kaf, lam, nun, wawu, ha, dan ya." kelas Cilla.
"Wahrish 'alal izhaari 'ingdal faa', walwaawi wahdzardaa 'iyal ikhfaa'." jelas Cilla.
"Artinya, Apabila ada Mim mati bertemu dengan huruf Fa atau wawu, maka hukumnya wajib di baca Izhar, jangan sekali-kali di baca Ikhfa." jelas Cilla.
"Toyib cukum, antunna mumtaz." kata Muza.
"Usatadz beri waktu lima belas menit untuk antunna mempersiapkan materi fiqih." kata Muza.
"Syukron ustadz." ucap mereka.
__ADS_1
Mereka pun segera mantapkan semua pengetahuan tentang ilmu fiqih.