MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 112


__ADS_3

Setelah istirahat mereka pun kembali ke kelas untuk melanjutkan Tholabul ilmi.


......................


"Gimana udah pada kenyang?" kata Rafan.


"Alhamdulillah ustadz, syukron ustadz." kata Santriat.


"Ustadz ter ter ter lah pokoknya." kata Cilla.


"Ter apa?" kata Rafan.


"Ter baik, ter ganteng, ter wah dan ter ter lainnya." kata Cilla.


"Bisa aja kamu Cil." kata Rafan terkekeh.


"Oke udah pada siap lanjut materi nya, harus siap lah yaa, masa udah dikasih istirahat lima belas menit nggak cukup." kata Rafan.


"Iya siap gak siap, siap in aja, apalagi kan kalo jadi ma'mum ustadz." kata Cilla terkekeh.


Rafan pun terkekeh.


"Huuu." sorak santriat.


"Apaan sih." kata Cilla sinis.


"Eh udah udah, lanjut ya." kata Rafan.


"Acha tulis lagi." kata Rafan.


Acha menghampiri Rafan.


"Dari sini sampe sini ya." kata Rafan.


"Emang nggak sekalian bang sampe sini." kata Acha.


"Nggak itu mah buat pertemuan yang akan datang lah." kata Rafan.


Acha pun mengambil kitab dan spidol yang ada dimeja Rafan, dan langsung menulis di papan board.


Para santri pun mencatat apa yang Acha tulis agar tidak sibuk menulis saat materi di jelaskan, karena mereka ingin fokus saat penjelasan materi.


Setelah selesai menulis di papan board Acha kembali duduk ke kursinya.


"Oke udah di tulis kan?" kata Rafan.


"Na'am Ustadz." kata Santriat.


"Yang lain sih udah, tapi Acha belum kan dari tadi nulis di papan mulu." kata Acha.


"Yaudah buat Acha nanti di pondok nyalin yang teman nya aja yaa." kata Rafan.


"Sekarang kita jelaskan, fokus yaa pikiran nya di sini, jangan raganya di sini jiwa sama pikiran nya masih makan di kantin, ada gak di sini?." kata Rafan.


"Haha Gilang Ustadz." kata santriat tertawa renyah.


"Ih apaan enak aja." kata Gilang.


"Udah udah kembali ke materi." kata Rafan terkekeh.


"Mim Jama' adalah dhommir jama' untuk mudzakkar Ghoib (hum) atau kata ganti untuk laki laki orang ketiga, Juga Jama' untuk kata ganti laki laki orang kedua (tum) dan dhommir nashob atau jar untuk laki laki orang kedua (kum)."


"Dibaca sukun kecuali ketika bertemu dengan huruf Hamzah, maka harus dibaca panjang enam harokat yang disebut Shilah Mim Jama'."


"Seperti ini..." kata Rafan yang menunjuk ke papan board.


لِإِخْوٰنِهِمْ إِذَا


"Dibaca li ihwaanihimuu idza, muu nya di baca enam haro..." kata Rafan.


"...Kat." kata Rapan dan santriat.

__ADS_1


"Catatan nih, tulis tulis sama ustadz dikte in nih." kata Rafan.


Semuanya fokus bersiap mendengarkan dan mencatat.


"Harus di Shilah mim jama' ketika dhommir Jama' bertemu dhommir lagi, contohnya." kata Rafan.


Rafan menulis di papan board.


ثَقِفْتُمْ هُمْ ⬅ ثَقِفْتُمُوْهُمْ


قٰتَلْتُمْ هُمْ⬅ قٰتَلْتُمُوْ هُمْ


"Nah itu asalnya dari tsaqiftum hum, qootaltum hum karena di kalimat tadi, dhomir (tu) bertemu dengan dhomir (hum) jadi dibacanya tsaqiftumuu hum, qootaltumuu hum, gimana?" kata Rafan.


"Tsaqiftumuu hum." ucap santriat.


Rafan menunjuk contoh yang kedua dengan spidol.


"Qootaltumuu hum." ucap santriat.


"Maa syaa Alloh, mumtaz." kata Rafan mengangkat ibu jari tangan nya.


"Kemudian hukum Lam ashlinya adalah Tarqiq kecuali Lam yang ada di lafzhul jalalah yaitu dibaca dengan Taghlidz ketika didahului harokat Fathah dan dhommah."


"Adapun dalam riwayat Warsy ada Lam yang dibaca dengan Taghlidz di beberapa keadaan."


"Syarat syarat Lam dibaca dengan Taghlidz adalah..." kata Rafan menunjuk ke papan board.


"Satu, Lam nya harus berharokat Fathah bertasydid atau tidak bertasydid,"


"Dua, harus didahulukan salah satu dari huruf ص ، ط ، ظ,"


"Dan tiga, huruf yang tiga di atas berharokat Fathah atau sukun.


"Perincian Lam yang dibaca dengan Taghlidz adalah..."


"Satu, hanya dibaca dengan Taghlidz yaitu ketika Lam berada di tengah kalimah,"


الصَّلٰوةُ


الطَّلٰقَ


"Dibacanya ash-sholootu , ath-tholooqo,"


"Kemudian dua, boleh dibaca dua wajah atau variasi yaitu bisa denganTaghlidz atau dengan Tarqiq pada enam kalimah berikut ketika bacaan di waqof,"


"Kalimahnya adalah..." kata Rafan menulis di papan board.


يُوْصَلَ - فَصَلَ - ظَلَّ - فَصَّلَ - فَصَلَ - وَبَطَلَ


"Dan juga dibaca dua wajah ketika Lam dan huruf yang tiga, yang zho, tho, sama sho tadi dipisah dengan huruf Alif di tiga kalimah yaitu..." kata Rafan yang kemudian menulis di papam board.


اَفْطَالَ, فِصَالًا, يَصَّالَحَا


"Dibaca afthoolo , fishoolon , yash-shooloha dan bisa dibaca afthoola, fishoolan , yash-shoolaha,"


"Juga dibaca dua wajah di lima kalimah berikut yang bukan berada di akhir ayat yaitu..." kata Rafan kemudian menulis di papan board.


مُصَلّٰى - يَصْلٰهَا - يَصْلٰى - تَصْلٰى - سَيَصْلٰى


"Dibaca musholloo, yashloohaa , yashloo, tashloo, sayashloo dan dibaca dengan Tarqiq yaitu dengan Taqlil atau Imalah Sughro, Mushollee, yashleehaa, yashlee, tashlee, sayashlee,"


"Ketiga, hanya dibaca dengan Tarqiq atau Taqlil yaitu Lam yang ada di akhir ayat yang terdapat huruf Alif bengkok sebagai pengganti dari huruf 'Ya' seperti di surat wadh Dhuha,"


"Contohnya..."


Rafan menulis di papan board.


قَلٰى


"Dibaca qolee,"

__ADS_1


"Dan harus dibaca dengan Tarqiq pula di surat lainnya sebagaimana surat wadh Dhuha yang akhir ayat nya ada Alif bengkok seperti surat Al Alaa, Thoha, Al A'laa seperti pada kalimah..."


Rafan menulis di papan board.


فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلّٰى


عَبْدًا إِذَا صَلّٰى


"Dibaca wa la shollee, idzaa shollee."


"Nah catatan lagi nih." kata Rafan.


"Pengertian Lam dibaca dengan Tarqiq di atas yaitu artinya Lam nya dibaca dengan Taqlil atau Imalah Sughro,"


"Taghlidz dan Taqlil tidak bisa bersatu keduanya,"


"Jadi kalau Lam dibaca dengan Taghlidz berarti dibaca dengan Fathah sedangkan Lam dibaca dengan Taqlil berarti Lam nya dibaca dengan Tarqiq."


"wallohu'alam bish-showab, semoga dapat di mengerti, ucapkan hamdalah." kata Rafan.


"Alhamdulillahir robbil 'aalamiin." ucap semuanya.


"Assalamu'alaikum." kata Rafan meninggalkan Ruangan.


"Wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh." jawab semua.


Pelajaran demi pelajaran pun berganti, hingga akhirnya bel pulang pun berbunyi.


Semua santriat berhamburan menuju pondok.


......................


Di kamar annisa


Ririn merenung memandangi taman belakang asrama di balik jendela kamarnya.


Mengenang setiap kata dan momen bersama Faziel.


'Kamu kenapa Rin?'


'kamu cemburu?'


'lantas karena apa Kamu menangis?'


'maaf kan Saya...'


'Jika tangis ini akibat goresan di hati Kamu karena Saya, sungguh Saya sangat sangat meminta maaf.'


'Tidak bisa.. Sungguh itu suatu hal tidak baik bagi langkah Saya, sedangkan ada wanita yang menangis karena Saya...'


'...sungguh cemburu berlebihan itu tidak baik...'


'Iya mungkin saja, dan soal Liani, Kamu hanya salah paham, Liani hanya meminta bantuan Saya, dan Kami bertiga, bukan berduaan, lagi pula Liani sudah Saya anggap seperti adik sendiri, dan Saya sudah tau perasaan Kamu terhadap Saya...'


'Kamu tau? Saya kira perasaan Kamu dua tahun yang lalu sudah hilang, makanya Saya diam walau perasan Saya yang dulu tetap sama, tapi Saya juga tau batasan Saya hanya seorang manusia, Kamu tau kan jodoh itu sudah menjadi qodarullah, Saya tidak ingin menentang taqdir cuma karena Saya berharap lebih kepada Kamu, dan Saya harap Kamu juga tidak berharap lebih kepada Saya, berharaplah ke pada sang pemilik hati, taruh lah harapan Kamu hanya pada Allah Rin.'


'Saya bukan mikir kesitu, tapi Saya hanya positif thinking bahwa Kamu sudah menganggap kalo yang sudah menjadi qodarulloh itu tidak akan tertukar, toh kalo memang jodoh, Allah bakal mempersatukan, Kita sibuk kan untuk memperbaiki diri dulu, jika memang persiapan sudah mantap, In sya Allah akan ada waktunya untuk Saya mengkhitbah Kamu.'


'yaa Kita harus saling mengikhlaskan, karena sesuatu yang hilang akan tergantikan dengan yang lebih baik... saya permisi, assalamu'alaikum.'


Kata kata itu masih teringat jelas di ingatan Ririn.


"Astaghfirulloh..." rintih Ririn.


Ririn menunduk sembari membuang nafas secara kasar.


"Mungkin ini lah akhir perasaan Ririn untuk bang ustadz karena Ririn sudah ada yang mengkhitbah, sedangkan kalo seorang akhwat sudah di khitbah, tidak benar kalo dihatinya masih mengharapkan ikhwan lain." batin Ririn.


"Rin... Kenapa?" kata Mereka menghampiri Ririn.


❤Ali bin Abi Thalib❤

__ADS_1


Kehidupan ini tidak lain hanyalah seperti bayangan awan, mimpinya seorang yang tertidur.


__ADS_2