
"Ouhh Acha ponakan nya Bapak." kata Ku dan Shilla.
"Iyaa, yaudah Saya kesana dulu ya." kata Pak Toni.
"Iyaa Pak." kata Ku dan Shilla.
......................
"Kamu mau beli yang mana?" kata Shilla.
"Saya mau beli yang tadi Acha baca aja, kayanya seru." kata Ku yang penasaran.
"Acha terlihat bukan menangis karena terharu tapi karena sesuatu." batin Ku.
'Mata hati punya kemampuan 70 kali lebih besar untuk melihat kebenaran daripada indra penglihatan.'
❤Jalaluddin Rumi❤
"Aku yang ini ajalah." kata Shilla mengambil novel.
......................
"Pak yang ini yaa." kata Ku yang memberikan 2 novel ke pak Toni.
Pak Toni pun mencatat ke ageda.
"Totalnya 150 ribu." kata pak Toni memberi kan novel.
Masing masing novel sudah ada di totebag, dan Aku memberikan uang.
"Saya aja yang bayar." kata Ku.
__ADS_1
"Yaudah pak Kami permisi, assalamu'alaikum." Aku dan Shilla pun pergi.
"Wa'alaikumussalam, hati hati, jangan bosen datang kemari." kata Pak Toni.
"Iyaa Pak, insyaa Allah." kata Ku yang langsung keluar.
......................
"Tapi Ki.. Saya juga ada uang kok.." kata Shilla nggak enak.
"Udah.. Kali kali kan." kata Ku.
"Kali kali dimana, orang hampir berkali kali." kata Shilla.
"Udah sih anggap aja rezeki anak sholihah." kata Ku.
"Udah kan? Apa ada yang mau di beli lagi?" kata Ku dan Shilla hanya menggeleng.
"Nggak usah Aku bawa motor kok, yaudah Aku duluan, assalamu'alaikum." kata Shilla.
"Wa'alaikumussalam, yaudah fii amanillah yaa." kata Ku.
......................
Aku segera menaiki mobil, dan saat dijalan Aku melihat Acha yang sedang membebaskan pikirannya.
"Acha? Ngapain dia sendirian di sini udah mau maghrib padahal." gumam Ku.
Mobil pun ku berhentikan di depan nya.
"Cha ngapain Kamu? Udah mau maghrib." kata Ku didalam mobil dan hanya menurunkan kaca mobil.
__ADS_1
"Nggak kok kak cuma lagi nyari udara segar aja." kata Acha tersenyum tapi seperti sedih.
......................
Aku pun turun dan menghampirinya.
"Kok matanya sembab, cha Kamu bohong ya?" tanya Ku dan duduk di sebelahnya dengan menjaga jarak darinya karena bukan mahrom.
"Bohong? Nggak acha gak bohong, lagian kan ini sembab bekas nangis tadi baca novel." katanya.
"Udah..itu mah sembabnya bekas nangis barusan, kalo sembab bekas baca novel mungkin udah sedikit hilang lah ini masih ada tuh air matanya, Saya bisa liat kok dimata kamu, cerita aja, anggap aja Saya temen curhat kamu setelah liani." kata Ku refleks.
"Baru tau kalo kak Muza orangnya kepo." gumamnya yang sedikit terlintas di telinga Ku.
"Aduhh Za lagian ngapain sih kamu Kepo, ini kenapa lagi hati ngedorong supaya nyamperin." batin Ku.
"Bukan apa apa Saya cuma ngerasa iba sama Kamu, yaudah kalo nggak ada apa apa saya duluan yaa assalamu'alaikum, mau pulang bareng? Cewe loh Kamu nggak baik sendirian mau maghrib lagi." kata Ku nyengir kuda dan hendak pergi.
"Kak Muza.." rengek Acha.
"Susah buat dijelasin nyaa." katanya yang menangis.
"Yaudah tarik nafas dulu terus keluarin sambil istighfar ya." kata Ku yang mempraktekan tarik napas buang nafas, dan Acha pun mengikuti nya.
"Kamu nangis gara gara cowo yang tadi?" tanya Ku tenang, dan acha mengangguk.
"Kok kak Muza tau?" kata acha.
"Iyaa tadi saya liat, gak baik loh Cha nangis kaya gini cuma karena makhluk." kata Ku.
Acha hanya terdian kemudian Acha pun menceritakan padaku.
__ADS_1
"..jadi gitu kak, rasanya kaya luka yang belum kering di taburi oleh garam." kata Acha.