
Sang surya pun menenggelamkan dirinya, dan di gantikan oleh sang ratu malam.
Sedikit demi sedikit cahaya sang ratu malam memudar karena terkalahkan oleh cahaya sang raja siang.
Matahari pun muncul dengan cahayanya yang sangat terang, kehangatan sangat terasa oleh tubuh.
Satu minggu berlalu
Rasi yang sudah siap ke kampus, berdiri di depan teman teman nya yang sedang terduduk memakai sepatu.
"Yuk ah hari ini praktek qiro'at kan." kata Rasi.
"Ih entar, tungguin Cilla, Cilla belum pakai sepatu." kata Cilla sedikit berlari dengan menenteng sepatu.
"Iya iya cepetan." kata Acha.
Cilla bergegas memakai sepatu.
"Nah udah siap." kata Cilla.
"Yuk ah."kata mereka saling merangkul.
......................
Sesampai nya di gerbang kampus.
Tinn...
Klakson dari mobil yang berada di belakang mereka.
"Ha... Astaghfirulloh." kata mereka yang rangkulan nya berpecah menjadi dua.
Cilla, Ririn dan Acha ke sebelah kanan, sedangkan Rasi, Putri dan Liani ke sebelah kiri.
"Kalo bawa mobil jangan se-enaknya, kaya jalan nenek moyang sendirinya aja." kesal Acha.
"Makanya kalo jalan jangan se-enaknya aja kaya jalan milik nenek moyang sendirinya aja." ledek laki laki yang ada di dalam mobil.
Acha mendekatkan wajahnya ke kaca mobil yang gelap untuk melihat siapa yang menyupir.
Kaca mobil pun sedikit diturunkan, hingga bertemulah pandangan mereka.
"Ustadz Muza?" gumam Acha mengerutkan alis.
Acha yang terdiam menjadi patung dan membulatkan matanya kaget.
Muza terkekeh melihat ekspresi Acha, dan langsung menurunkan kaca mobilnya full.
"Biasa aja Cha kaya liat hantu aja." kata Muza.
"Aaa Ustadz Muza, Cilla udah rindu, kirain beneran satu bulan di sana, wah ustadz Rafan ck ck ck." kata Cilla tak percaya.
Acha yang merilik ke Cilla dan kemudian merilik ke arah Muza.
Liani, Rasi dan putri segera menghampiri.
"Usatzd Muza udah ada disini, berarti gak jadi praktek dong sama ustadz Rafan, kan sekarang pelajaran ustadz asik..." kata Putri.
"Eh nggak bisa gitu, sekarang pelajaran saya masi di gantikan oleh ustadz Rafan, dan antunna masih praktek." kata Muza.
"Afwan ustadz tadi Acha cuma..." kata Acha merasa bersalah.
"Santai aja kali Cha, makanya kamu kalo kesal dalam hal kaya gini, kamu harus tau dulu siapa yang ada di dalam mobil, gimana kalo Kiayi Fatih." kata Muza menaik turunkan alis nya.
"Haduh, nggak bisa kebayang kalo Kiayi Fatih, iya ustadz syukron udah mengingatkan." kata Acha.
Faziel yang duduk disamping Muza melirik ke arah Ririn, dan Ririn yang menyadari nya langsung tertunduk dan sedikit bergeser mundur ke belakang Acha.
"Umm ada yang curi curi pandang nie." kata Cilla menyadari.
Semua nya melihat ke Cilla.
"Udah yuk ke kampus." bisik Ririn ke Acha.
"Ust..." kata Acha terpotong.
"Ustadz Faziel jangan melirik seseorang akwat yang sudah di khitbah." kata Cilla.
Faziel hanya terdiam, Acha dan teman teman nya membulatkan mata.
"Aduh ni anak kacau, emang nggak bisa gitu simpen rahasia." batin Acha.
"Kami mau ke kampus Ustadz." kata Acha menyatukan tangan.
"Ya udah saya duluan." kata Muza menjalankan mobil
__ADS_1
"Assalamu'alaikum." ucap Muza dan Faziel menyatukan kedua tangan.
"Wa'alaikumussalam warohmatuloh." jawab Mereka.
Mobil pun melaju sedikit cepat hingga akhir nya menghilang dari pandangan mereka.
"Uhh Cilla nggak bisa apa jaga rahasia." kata Acha.
"Yaa maaf, lagian Ririn nya juga nggak marah." kata Cilla polos.
"Tapi se..." kata Caha terpotong.
"Udah lah gak usah ribut, walau pun tersebarkan kenyataan nya emang bener kalo Ririn itu udah di khitbah." kata Ririn.
"Yaudah yuk." kata Ririn.
Mereka pun langsung menuju kelas, bel pelajaran berbunyi, tapi belum ada tanda tanda kedatangan Rafan.
"Aih tumben ustadz Rafan belum datang." kata Liani.
"Iya Man kemana tuh, katanya mau praktek." kata Rasi.
"Rohman kurang tau Ras." kata Rohman.
......................
Rafan yang sedang berjalan jarak satu meter bersampingan dengan Shilla.
"Kemarin Uma sama Abi kesini?" kata Rafan.
"Iya, emang Ustadz nggak tau?" kata Shilla.
"Uma nggak ngasih tau, Saya tau dari Abi Fatih." kata Rafan.
"Um jadi keputusan semalam kamu juga nggak tau?" kata Shilla.
"Keputusan? Maksudnya?" kata Rafan.
Shilla hanya terkekeh.
"Hey nona kenapa anda tertawa." kata Rafan penasaran.
"Aduh...astaghfirulloh" kaya Shilla tertawa renyah.
"Jadi gini..." kata Shilla kemudian kembali tertawa.
"Tuan liat itu..." kata Shilla tertawa kembali.
Langkah mereka pun terhenti, Rafan melirik ke kaca mobil yang ada di pinggir mereka.
"Ada apa diwajah Ustadz." kata Shilla tertawa renyah
"Astaghfirulloh..." kata Rafan mengusap usap pipi.
"Wah wah dapat ciuman dari siapa itu, ada lipstik bekas ciuman." ledek Shilla.
"Enak aja, ciuman apa nya." kata Rafan.
"Lalu itu apa tuan." ledek Shilla.
"Yaa Alloh shilla, ini ciuman dari Almira." kata Rafan.
Deg!
"Almira? Siapa?" gumam Shilla
Tawa Shilla seketika langsung terhenti, dan malah Rafan yang tertawa renyah.
"Wah nona kenapa berhenti tertawa, apa ada yang ingin di tanyakan tentang Almira?" kata Rafan menaik turunkan alisnya.
"Ana duluan Ustadz, assalamu'alaikum." kata Shilla akan langsung pergi.
"Almira sayang." panggil Rafan.
Langkah Shilla pun terhenti karena penasaran siapa Almira itu.
Muncul seorang wanita seumuran Rafan.
"Apa itu Almira? jadi.. Apa aku di khianati, nggak nggak..." batin Shilla yang berdiri mematung dan membulatkan mata.
"Om Rafan..." teriak anak perempuan berusia lima tahun.
Almira langsung memeluk Rafan, Shilla hanya keheranan.
"Siapa dia?" batin Shilla.
__ADS_1
"Almira sayang..." kata Rafan memeluk tubuh kecil Almira.
"Jadi ini Almira." batin Shilla.
Seketika api cemburu di hati Shilla padam, dan senyuman mulai terlukis di bibir nya.
"Kita bertemu lagi, satu ciuman lagi untuk pipi kiri." kata Almira mencium pipi Rafan.
"Lain kali kalo cium om jangan pake lipstik, nanti ada yang cemburu." kata Rafan terkekeh.
Pipi Shilla berubah menjadi merah.
"Almira?" kata Shilla yang masih penasaran.
"Iya... Wah bidadari yang ada di handphone nya om ternyata nyata." kata Almira polos.
Deg!
Shilla menjadi salting, dan pipinya sedikit memerah kembali.
"Syutt..." bisik Rafan pada Almira.
"Kak Acha dimana om?" kata Almira.
"Di kelas nya, yuk kamu mau ikut, sekarang om yang ngajar di kelasnya." kata Rafan.
"Umi yaa, boleh yaa." kata Almira.
"Iya sayang..." kata wanita bercadar mengelus kepala Almira.
"Ratih, Uma juga ke sini?" kata Rafan.
"Iya Fan, ada di rumah kiayi Fatih." kata Ratih.
"Yaudah Ratih ke Uma dulu, jagain Almira," kata Ratih tersenyum di balik cadarnya.
Rafan mengangguk tersenyum.
"Dan kamu Almira jangan merepotkan om Rafan oke." kata Ratih.
"Siap Umi." kata Almira.
Ratih pun pergi menuju rumah kiayi Fatih.
"Ayo, sama kaka cantik ini juga ya." kata Almira.
"Ha nggak kaka mau ke rumah." kata Shilla.
"Ih ayo, Almira nangis nih." rengek Almira.
"Eh jangan jangan," kata Shilla.
Shilla melirik ke arah Rafan, dan Rafan mengangguk tersenyum.
"Iya kaka ikut." kata Shilla.
"Yey ayo." kata Almira.
"Almira ponakan Ustadz?" kata Shilla.
"Bisa dibilang gitu." kata Rafan.
"Maksudnya gimana?" kata Shilla.
"Shilla putri dari Ratih saudara sesusuan saya, jadi adiknya Uma meninggal saat melahirkan Ratih, beliau menitip kan Ratih pada Uma, waktu itu usia saya masih enam bulan, jadi Uma pun memberi asi pada Ratih." kata Rafan.
"Astaghfirulloh, Shilla udah curiga sama ustadz Rafan." batin Shilla.
"Kenapa Shill?" kata Rafan.
"Afwan Ustadz, tadi Shilla..." kata Shilla.
Rafan terkekeh, dan Shilla keheranan.
"Santai aja wajar kalo cemburu, namanya geh wanita." kata Rafan.
Shilla tertunduk malu.
"Sekarang Uma nya Ustadz ada di sini juga?" kata Shilla.
"Iya, dan itu Uma kamu juga." kata Rafan.
Shilla mengangguk tersenyum.
"Terus saya juga sudah tau..." kata Rafan.
__ADS_1
"Sudah tau tentang?" kata Shilla.