
Langkah demi langkah mereka pun sampai gerbang asrama.
"Acha tunggu." kata Seseorang pria.
"Uh ngapain sih." gumam Acha berbalik.
"Ada apa han?" tanya Acha.
"Ini dari Gilang." kata Farhan yang memberikat sebuah kertas.
"Apa ini?" tanya Acha.
"Surat, baca aja." kata Farhan.
"Iya in syaa Alloh kalo sempet." kata Acha.
"Yaudah Farhan duluan ya." kata Farhan.
"Iya, eh btw ini makasih ya." kata Acha
Farhan hanya mengangguk dan langsung pergi.
......................
Mereka pun langsung masuk ke kamar.
"Ciee dapet surat dari Gilang." ledek Liani.
"Apaan sih Li." kata Acha yang memasukan surat itu ke dalam tasnya.
"Eh kok di masukin, bacalah Cha, kan Cilla penasaran." kata Cilla.
"Nanti aja lah, lagian Cilla mah penasaran mulu." kata Acha.
"Iya iya." kata Cilla
Mereka pun membaringkan tubuh nya di atas kasur.
......................
Allohuakbar Allohuakbar, Allohuakbar Allohuakbar.
Adzan Ashar pun berkumandang.
"Shalat Jama'ah teh!" teriak tim keamanan.
"Tadi dzuhur nggak di kasih tau juga Kita mah jama'ah." gerutu Cilla.
"Iya bener." kata Putri.
"Hus udah udah kalian ngejulid aja." kata Acha.
Setelah berwudhu Mereka pun langsung bergegas memakai mukena.
"Cill kita nunghu di bawah ya." kata Rasi.
"Iyaa." kata Cilla
Mereka menuju lantai bawah, dan meunggu di halaman asrama.
......................
"Aih Cilla mana sih?" kata Putri.
"Cilla hayu cepetan ah, masbuk nanti." teriak Acha.
"Hah? iya tungguin." teriak Cilla yang langsung melipat surat dan memasukan ke tas Acha kembali.
Terlukis senyuman manis di bibi Cilla.
"Cha maafin Cilla udah lancang, abisnya penasaran." batin Cilla tersenyum senyum.
Cilla pun langsung menghampiri para sahabat nya.
......................
"Yuk." kata Cilla tersenyum.
"Ada apa ini, aura wajah nya beda, kaya lagi bahagia banget." kata Acha.
"Cilla kan selalu bahagia." kata Cilla terkekeh.
Mereka pun langsung bergegas ke masjid.
Shalat jama'ah pun di laksanakan, dan dzikir demi dzikir pun di bacakan.
__ADS_1
Santriputri pun langsung berhamburan turun kebawah untuk talaqi.
Setelah selesai talaqi santriat pun kembali ke asrama.
......................
Langkah demi langkah Acha dan para sahabatnya meneju asrama terhentikan.
"Kak Acha tunggu." teriak seorang anak.
"Iya? eh Safa ada apa?" kata Acha.
"Ini buat kakak." kata Safa memberikan kertas yang terlipat.
"Apa ini?" kata Acha.
"Surat." kata Safa tersenyum.
"Surat? untuk kakak?" kata Acha keheranan.
Safa hanya tersenyum mengangguk.
"Dari siapa?" kata Acha.
"Baca aja nanti juga kakak tau." kata Safa.
Acha langsung mencari nama orang pengirim surat itu, akan tetapi hanya ada tulisan tinta hitam.
"Dari pengagum rahasiamu?" gumam Acha kebingungan sendiri.
"Wah wah salut, 1 hari Acha dapet 2 surat." kata Putri.
"Eh Safa tunggu dulu, ini dari siapa?" teriak Acha yang memandang ke arah Safa yang melangkah pergi.
"Pengagum rahasiamu." kata Safa berbalik dan terkekeh.
Safa melanjutkan langkahnya.
"Ya Alloh itu bocil udah pinter jaga rahasianya." kata Acha, yang memandang Safa yang langkah demi langkahnya berlari kecil,
Setelah punggung Safa tak terlihat lagi, Acha hanya menggeleng tak percaya, bahwa dia mempunyai pengagum rahasia.
"Umm ciee." kata sahabat nya.
"Wah harus kita selidiki nih, apa jangan jangan dari gilang lagi." kata Liani terkekeh.
"Coba Cilla pengen baca." kata Cilla hendak mengambil kertas itu.
"Et gak bisa gitu, Acha juga belum baca." kata Acha menghindarkan tangan nya dari Cilla.
"Iya iya makanya udah cepet baca." kata Cilla.
"Nanti aja di kamar." kata Acha.
"Yaudah ayo ke kamar." kata Cilla menarik lengan Acha.
......................
Langkah demi langkah mereka pun sampai di depan kamar.
"Assalamu'alaina wa'alaa ibadillahi sholihin." kata Cilla membuka pintu kamar.
"Cilla kira masuk ke rumah kosong, ruangan kosong yang nggak ada penghuninya." kata Putri.
"Lah kan ini kamar kosong nggak ada penghuninya." kata Cilla.
"Terus kita apa dong, kalo kamar ini nggak ada yang ngehuni." kata Putri.
"Eh udah udah, nggak papa lah memberi salam takutnya selama kita tinggalin kamar ini ada makhluk ghoib." kata Acha terkekeh.
"Hah makhluk ghoib, uhh Acha, jadi merindingkan Cilla." kata Cilla.
"Just kidding, tapi emang benerkan setiap ruangan ada aja apalagi kamar mandi." kata Acha.
"Yaudah ayo masuk." kata Acha mendorong punggung Cilla.
"Jangan Cilla yang duluan, Acha aja." kata Cilla yang menukar posisinya dengan Acha.
"Ahh udah lah jangan takut ke yang kaya gituan." kata Putri masuk duluan.
Dan sahabatnya pun mengikuti.
......................
"Haha bener, tapi pas liat wujud aslinya langsung lari." kata Acha terkekeh.
__ADS_1
"Bukan lari tapi pingsan di tempat." kata Cilla terkekeh.
"Ih kalian ya nyebelin." kata Putri memukul Acha dan Cilla pakai bantal.
"Aw sakit tau." rengek Cilla.
"Huh baru sama bantal." kata Putri.
"Apa isinya Cha?" kata Liani yang melihat Acha sedang membaca surat.
"Bacanya suaranya sedikit lantangin." kata Cilla.
"Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh." Acha yang membaca surat.
"Wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh." jawab Acha dan para sahabatnya.
"Sebelumnya Ana minta maaf karena sudah lancang menulus dan memberikan surat ini pada Anti,"
"Iya udah saya maafin, walaupun saya bingung siapa kamu." kata Acha
"Lanjut." kata Cilla.
"Maaf kan hati ini karena sudah lancang mengagummi anti, Ana juga tidak tahu pas kapan Rasa ini muncul, dan rasa ini muncul atas izin Alloh, tunggu Ana, In syaa Alloh Ana akan segera menemui kedua orang tua Anti setelah kelulusan Anti,"
"Uwu, ada yang mau dikhitbah nih, pertama Ririn sekarang Acha." kata Cilla
Acha dan Ririn hanya melirik sebentar ke arah Cilla.
"Jangan gitu Cill, siapa tau kamu duluan yang nikah, kan kita mah nggak tau kehendak Allah." kata putri
"Tapi Ana sadar, ana tidak berhak menentukan perasaan anti kepada siapa hati Anti harus berlabuh, Ana tidak memaksakan keinginan rasa yang ada di hati ana pada anti, dan jika memang suatu saat nanti ada ikhwan lain yang lebih dulu mengkhitbah Anti, dan Anti menyukainya, tafadholly jika Anti ingin menerima pinangannya, menikahlah dengan nya, dan Ana akan menerimanya dengan senang hati, tiada kebahagiaan selain melihat seseorang yang kita cintai bahagia,"
"Maa syaa Alloh, ikhwan yang baik." kata Rasi.
"Acha beruntung banget." kata Ririn.
Mereka pun hanya mengangguk, Acha hanya tersenyum, dan kembali mengarah tulisan tinta hitam di atas kertas putih.
"Tapi kalo memang Anti ingin menunggu ana, mungkin itu adalah suatu kebahagiaan untuk ana, maaf jika hal ini membuat anti kaget, dan penasaran, suatu saat nanti anti juga akan tau siapa ana, dari pengagum rahasia."
"Maa syaa Alloh." batin Acha yang memeluk surat itu, dan memasukan nya ke dalam tas.
"Langsung cha istiqorohin." kata Liani.
"Iyaa Cha." kata para sahabatnya.
"In syaa Allah, tapi Acha penasaran siapa beliau." kata Acha.
"Apa jangan jangan Gilang, kan Gilang yang selalu godain Acha." kata Rasi.
"Ihh kok Gilang sih." rengek Acha.
"Eh jangan gitu loh kalo beneran gimana?" kata Liani.
"Aaa Liani mah." kata Acha cemberut manja.
"Tapi Cilla yakin bukan dari Gilang, mana Ada seorang Gilang formal kaya gitu." kata Cilla.
"Li anterin ke bang Rafan yuk." kata Acha.
"Ngapain kamu mau bilang tebtang surat ini?" kata Liani.
"Yaa bukan lah, ada kepentingan aja." kata Acha.
"Acha sama Liani keluar dulu ya, di lemari Acha ada cemilan, makan aja ok." kata Acha.
"Iyaa gas keun." kata Mereka.
......................
Langkah demi langkah Acha dan Liani pun terhenti, saat melihat Gilang.
"Lang, Gilang." teriak Acha.
"Eh Acha, Acha udah baca surat dari Gilang." kata Gilang berbalik.
"Jadi bener itu dari kamu?" kata Acha
Gilang hanya mengangguk, dan Acha langsung pergi.
"Wa'alaikumussalam, maen nyelonong aja tuh anak." kata Gilang.
Liani hanya terkekeh.
"Yaudah kalo mau nyelonong nyelonong aja sana pergi." kata Gilang.
__ADS_1
"Dih apaan, yaudah Liani duluan Assalamu'alaikum." kata Liani.
"Wa'alaikumussalam warohmatulloh." kata Gilang.