MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 151


__ADS_3

Langkah Acha terhenti saat melihat Muza dan keluarganya.


"Ustadz Muza?" batin Acha yang sedang berdiri mematung.


"Ustadz." kata Naura dan Azam berlari menghampiri dan mencium punggung tangan semua.


Acha yang berdiri mematung langsung tersadar dan segera menyatukan kedua tangannya.


"Acha duduk sini." kata Rojak.


"Abi Rojak juga ada?" batin Acha yang dipenuhi pertanyaan.


"Eh kenapa melamun sayang, sini duduk." kata Qayyis.


"Hah? Eh iya iya." kata Acha segera duduk di pinggir Fathma.


Acha hanya kebingungan, Muza yang melihat itu pun segera menjelaskan tentang pembicaraan keluarga mereka tadi tentang maksud dan tujuan Muza dan sekeluarga yang datang untuk mengkhitbah Acha, mendnegar Acha hanya diam mematung tanpa kata.


"Jadi gimana Cha, apakah kamu menerima khitbahan dari Saya?" kata Muza tetapi Acha hanya terdiam mematung dan matanya sedikit memerah dan berkaca-kaca.


"Iya Nak Kami sepakat menyetujuinya jika kamu juga menyetujuinya dan sekarang tinggal menunggu keputusan kamu." kata Qayyis.


Acha hanya terdiam tanpa kata tak terasa setetes kristal bening jatuh ke pipi.


"Acha butuh waktu untuk menjawabnya." kata Acha sembari menghapus tetesan kristal bening itu.


"Tapi Nak..." kata Fathma terpotong melihat Silfa menggeleng samar mengisyaratkan, Fathma pun mengangguk menyetujui.


"Perlu berapa lama?" kata Rojak.


"Satu Minggu." kata Acha yang dari tadi pandangannya mengarah ke lantai.


"Gimana Nak Muza?" kata Rojak.


"Jika itu keinginan Acha, in syaa Alloh saya bisa menunggu." kata Muza.


"Boleh Acha ke kamar," kata Acha diangguki semuanya.


"Permisi." kata Acha yang langsung berlari kecil sembari mengusap air matanya yang tak terasa berjatuhan.

__ADS_1


Muza yang menyadari hanya memandang punggung Acha yang perlahan menghilang dari pandangannya, Muza langsung menunduk dan merasa tidak enak karena telah menggores luka hati Acha yang belum kering.


"Mungkin kejadian kecelakaan Mufid masih membuatnya trauma." batin Muza.


Dikamar Acha langsung mengunci pintu dan menangis, Acha segera duduk di sudut kamar sembari memeluk foto pernikahannya dengan Mufid, tiada kata yang bisa Acha ucapkan saat ini, Acha hanya bisa menangis, terlihat sebuah kertas putih di belakang foto yang ada dalam bingkai itu, Acha segera membuka bagian belakang bingkai dan mengambil kertas putih itu.


Acha menghapus air matanya dan segera membu kertas itu, pandangannya langsung tertuju ke arah paling bawah kalimat 'salam sayang dari Mufid', Acha segera memeluk surat itu dan kemudian langsung membacanya.


"Assalamu'alaikum Acha Sayang, pesan ini sengaja aku tulis karena besok aku bakal berangkat ke Al-Azhar untuk menyelesaikan pendidikan, aku harap kamu jangan bersedih ya atas kepergianku," membaca itu Acha menangis kembali, dan Acha berusaha meneruskan membaca pesan terakhir dari Mufid.


"Aku tau kalo kamu lagi rindu aku, pasti kamu bakala peluk foto aku atau foto kita berdua, itukan kebiasaan kamu dari kecil haha iya ngaku aja aku tau kok," membaca itu Acha sedikit tertawa dan kemudian menangis lagi.


"Makanya aku simpen surat ini di bingkai foto pernikahan kita, kamu tau Sayang pas waktu itu aku mengkhitbah kamu, aku sempat mendengar percakapan kamu sama Muza, entah kenapa aku ingin sekali menitipkan kamu ke Muza dan akhirnya aku menemui Muza dan meminta Muza menggantikan Aku untuk menjaga kamu, Muza itu pria yang baik, tulus dan bijaksana, kamu rela kan sayang? Alhamdulillah pasti lah kamu rela Muza kan pria yang sangat kamu cintai, semoga kita bisa bersatu di jannah-Nya aamiin, semangat sayang jangan pernah bersedih kamu kuat aku percaya itu, aku akan bahagia jika kamu bahagia Sayang."


"Ada cinta di setiap kata dalam pesannya, salam sayang dari Mufid." dan Acha langsung mencium selembar kertas itu.


"Jika itu yang kamu inginkan, in syaa Alloh Acha menerima Ustadz Muza." kata Acha yang melipat dan memasukan surat itu kedalam kotak.


Acha segera membasuh wajahnya agar tidak terlihat habis menangis dan mengeringkan wajahnya dengan handuk, kemudian Acha langsung kebawah dengan berlari kecil.


"Ya sudah kami pamit ya." kata Iham.


Mereka pun saling menyatukan kedua tangannya.


Semua menatap ke arah Acha keheranan.


"Jangan dulu pergi, Acha ingin membicarakan sesuatu." kata Acha yang langkah demi langkahnya menghampiri mereka.


Semuanya duduk kembali ke sofa dan menungguk apa yang akan Acha katakan.


"Kenapa Nak?" kata Iham.


Acha memejamkan matanya dan menarik napasnya dalam dalam dan membuangnya lembut.


"Acha menerima lamaran ini." kata Acha yang masih memejamkan mata, perlahan Acha membuka mata terlihat suasan keluarga yang berbahagia, hanya saja Muza menatap Acha dengan tatapan heran, menyadari keheranan Muza Acha hanya tersenyum mengangguk meyakinkan Muza dan Muza hanya membalasnya dengan senyuman.


Fathma langsung berpelukan dengan Silfa, Iham berjabat tangan dengan Qayyis dan Rojak. Kedua keluarga itu sangat bahagia dan memuji asma Alloh bersyukur atas kehendak-Nya yang sudah menghadirkan kebahagiaan ini.


Kedua keluarga langsung sibuk mecari sekaligus menentukan tanggal baik untuk pernikahan Acha dan Muza, akhirnya tanggal baik pernikahan ditentukan, pernikahan Acha dan Muza akan dilangsungkan pada tanggal 19 oktober.

__ADS_1


"Saya harap kamu menyetujui ini bukan karena paksaan, sungguh pernikahan bukanlah sebuah permainan." batin Muza.


"Bukan karena permintaan kak Mufid saja tapi Acha sudah menyadari cinta tulus Ustadz, dan sesungguhnya cinta yang terdahulu Acha pada Ustadz masih ada dihati, sungguh Acha ikhlas menerima Ustadz dalam kehidupan Acha." batin Acha.


Acha dan Muza hanya saling menatap, 'ekhem' ledek keluarga yang menyadari Muza dan Acha sedang saling menatap, pandangan Acha dan Muza pun langsung tersadarkan dan mereka langsung tertunduk malu.


Hari yang terus berganti hingga akhirnya bertepat tanggal 19 Oktober acar pernikahan Acha dan Muza pun di selenggarakan, rumah Acha yang sudah di hias dengan mewah, para saksi sudah berdatangan untuk menghadiri pernikahan, Muza sangat terlihat gagah dan aura ketampanannya memancar dengan baju pengantin dipakainya, Muza duduk dihadapan pak penghulu dan Qayyis hanya terhalang oleh meja yang berada di tengah-tengah mereka, para tamu undangan disambut hangat oleh keluarga yang berbahagia, Rizki sebagai MC mempersilahkan tamu undangan untuk duduk di tempat yang sudah di sediakan, dan langsung memulai acara atas perintah dari penghulu.


"Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh Alhamdulillah, Alhamdulillahi robbil ‘alamin wabihi nasta’inu ala umuriddunya waddin wa’ala ‘alihi washahbihi ajma’in, amma ba’du,"


"Marilah kita panjatkan puji syukur akan kehadirat ilahi robbi, Alloh subhana wata'alaa, Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang tak pernah pilih kasih maupun pilih sayang kepada hamba-hambanya,"


"Atas kasih sayang tersebut, pada hari ini, hari minggu tanggal 19 oktober kita semua dapat bertatap wajah dan bertemu pandang dalam rangkaian acara prosesi Akad Nikah Meiza Raudatul Fathima dengan Ahmad Muzaffar Alkiyas,"


"Hadirin yang berbahagia, sebentar lagi akan ada dua hati yang terpaut dan terikat dalam satu janji, janji yang akan mengubah segala rangkaian ibadah menjadi luar biasa, janji tersebut akan diucapkan oleh dua insan yang bernama Meiza Raudatul Fathima dan Ahmad Muzaffar Alkiyas, Meiza Raudatul Fathima merupakan putri dari Bapak Haji Qayyis Al-Mustam dan Ibu Hajjah Siti Fathma Raidilla. Dan Ahmad Muzaffar Alkiyas merupakan putra dari Haji Ilham Khoirul Kiyyas dan Ibu Hajjah Silfa Khaerani.


"Semoga saja proses akad nikah hari ini berlangsung secara lancar, sehingga kedua kekasih yang akan bersatu ini mampu menempuh kehidupan baru sebagai pasangan mahram suami istri, Aamiin Ya Rabbal Alamin."


Akhirnya semua acara berlalu dan akhirnya sampai di acara ijab qobul, penghulu sedikit memberi candaan agar mempelai pria tidak terlalu gugup dalam membacakan ijab qobul.


"Siap Nak Muza." kata Penghulu.


"In syaa Alloh." kata Muza.


"Awas jangan gerogi." kata Penghulu terkekeh dan Muza hanya menyengir kuda.


"Silahkan Pak Qayyis di jabat tangang Nak Muzanya." kata Penghulu.


"Ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka binti Meiza Raudatul Fathima alal mahri 3 gram emas murni hallan." ucap Qayyis.


"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq." ucap Muza dengan lancar.


"Sah." ucap para saksi.


"Alhamdulillah." ucap semuanya.


"...Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir..."


Do'a pun di bacakan setelah pembacaan do'a Acha pun di bawa dan duduk di samping Muza, sekarang saatnya pengantin menandatangani buku nikah sebagai salah satu dokumen penting agar juga sah di mata hukum.

__ADS_1


Setelah itu inilah saat yang ditunggu-tunggu, Apalagi kalau bukan momen tukar cincin. Masing-masing pasangan akan memasangkan cincin pernikahan pada jari manis, setelah cincin dipasangkan Acha pun segera mencium punggung tangan Muza dan Muza memegang kepala Acha sembari membacakan sebuah do'a.


Waktu yang terus berputar membuat tak terasa siang pun telah berganti malam, acara resepsi pun terlaksana dengan lancar tanpa gangguan.


__ADS_2