MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 86


__ADS_3

...****************...


Pov Ririn


Ego ku yang sudah menurun dan mau menerima semuanya hilang entah kemana setelah melihat Liani dan Faziel berduaan.


Aku hanya bisa menangis menginggat canda tawa mereka tadi.


"Ku kira Liani dan Bang Ustadz hanya sebatas teman, tapi nyatanya mereka begitu dekat." batin Ku.


......................


Di pinggir danau kecil Aku menuangkan keperihan hati Ku dengan menangis memeluk lutut.


"Assalamu'alaikum.." kata seseorang yang suaranya sangat Ku kenal.


"Wa'alaikumussalam warohmatullah." kata Ku yang masih memeluk lutut dengan lirih sedih.


"Kamu kenapa Rin?" pertanyaan lembut yang keluar dari bibirnya.


"Ana tidak pa-pa Ustadz." kata Ku yang masih memeluk lutut.


"Kamu cemburu?" kata Faziel.


"Cemburu? Ana tidak cemburu Ustadz." kata Ku menonggak kan kepala memberanikan diri melihat ke arah wajahnya.


"Lantas karena apa Kamu menangis?" kata Faziel.


"Bukan karena apa apa Ustadz, lagi pula ini bukan menangis, tapi sesuatu perasaan yang terasa dihati yang keluar tanpa kata.. Hiks.. hiks..." kata Ku dan memeluk lutut kembali.


"Maaf kan Saya.." kata Faziel.


"Untuk Apa..?" kata Ku yang melihat kearahnya dengan air mata.


"Jika tangis ini akibat goresan di hati Kamu karena Saya, sungguh Saya sangat sangat meminta maaf." kata Faziel.


"Ini bukan salah Ustadz, Ustadz tidak perlu meminta maaf.. Ana sedang ingin sendiri..tolong tinggalkan Ana sendiri disini." kata Ku memeluk lutut.


"Tidak bisa.. Sungguh itu suatu hal tidak baik bagi langkah Saya, sedangkan ada wanita yang menangis karena Saya.." kata Faziel.


Aku hanya menangis.


"..sungguh cemburu berlebihan itu tidak baik.." kata Faziel.


"Ana tidak cemburu Ustadz.." kata Ku menangis.


"Iya mungkin saja, dan soal Liani, Kamu hanya salah paham, Liani hanya meminta bantuan Saya, dan Kami bertiga, bukan berduaan, lagi pula Liani sudah Saya anggap seperti adik sendiri, dan Saya sudah tau perasaan Kamu terhadap Saya.." kata Faziel.


Deg! Aku hanya menatap ke arahnya.


"Kamu tau? Saya kira perasaan Kamu dua tahun yang lalu sudah hilang, makanya Saya diam walau perasan Saya yang dulu tetap sama, tapi Saya juga tau batasan Saya hanya seorang manusia, Kamu tau kan jodoh itu sudah menjadi qodarullah, Saya tidak ingin menentang taqdir cuma karena Saya berharap lebih kepada Kamu, dan Saya harap Kamu juga tidak berharap lebih kepada Saya, berharaplah ke pada sang pemilik hati, taruh lah harapan Kamu hanya pada Allah Rin." kata Faziel.


"Sungguh sebuah Cinta tidak akan hilang oleh berjalan nya waktu dan terhalang oleh jarak." kata Ku.


"Iyaa saya juga tau." kata Faziel.


"Kenapa Bang Ustadz sampai mikir kesitu." kata Ririn.


"Saya bukan mikir kesitu, tapi Saya hanya positif thinking bahwa Kamu sudah menganggap kalo yang sudah menjadi qodarulloh itu tidak akan tertukar, toh kalo memang jodoh, Allah bakal mempersatukan, Kita sibuk kan untuk memperbaiki diri dulu, jika memang persiapan sudah mantap, In sya Allah akan ada waktunya untuk Saya mengkhitbah Kamu." kata Faziel.


Mendengar itu terlukis senyuman di bibir Ku, Aku pun menghapus air mata Ku dan beranjak bangun.


"Bagai mana jika tidak berjodoh." kata Ku.


"Yaa Kita harus saling mengikhlaskan, karena sesuatu yang hilang akan tergantikan dengan yang lebih baik... saya permisi, assalamu'alaikum." kata Faziel.


"Wa'alaikumussalam" kata Ku.


Faziel pun pergi, Aku hanya berdiri mematung dengan sebuah senyuman.


Sebagian obat justru menjadi penyebab datangnya penyakit, sebagaimana sesuatu yang menyakitkan adakalanya justru menjadi obat penyembuh.


❤Ali bin Abi Thalib❤


...****************...


Pov author


Langkah demi langkah Faziel meninggalkan Ririn.


"Maaf kan Saya Rin, Saya tidak jujur, karena Saya tidak ingin menambah luka di hati Kamu." batin Faziel.


Setelah Faziel pergi, Ririn teringat ingat dengan kata kata Faziel.


"Saya sudah tau perasaan Kamu terhadap Saya."


"Saya kira perasaan kamu 2 tahun yang lalu sudah hilang, makanya Saya diam walau perasan Saya yang dulu tetap sama."


"...*Jo*doh itu qodarullah."


"Saya harap Kamu juga tidak berharap lebih kepada Saya, berharaplah ke pada sang pemilik hati, taruh lah harapan Kamu hanya pada Allah."

__ADS_1


"Toh kalo memang jodoh, Allah bakal mempersatukan, Kita sibuk kan untuk memperbaiki diri, jika memang persiapan sudah mantap, in syaa Allah akan ada waktunya untuk Saya mengkhitbah Kamu."


"Kita harus saling mengikhlaskan, karena sesuatu yang hilang akan tergantikan dengan yang lebih baik."


"Ummm Bang Ustadz, Ririn gemes..." kata Ririn yang menggigit kukunya.


Ririn pun langsung menuju asrama dengan lukisan senyum dibibirnya.


......................


Krek...


Pintu kamar dibuka, ketika masuk kamar.


"Acieee...." goda sahabat sahabatnya, dan memeluknya.


"Uhhh maafin Ririn yaa, Ririn kebawa baper sampe sampe berani ngediem in Kalian." kata Ririn menangis.


"Dihh apaan sih nangis, bahagia dong." kata Acha.


"Eh apa kata si Ustadz tadi." kata Cilla yang keponya sudah menjadi jadi.


"Kalian tau?" kata Ririn malu, dan sahabatnya hanya terkekeh.


"Iyaa dari tadi Kita mantau Kamu disini." kata Putri.


"Yaa Allah..." kata Ririn.


"Jangan marah lagi yaa, seriusan Liani nggak ada rasa buat Bang Ustadz Kamu kok Rin, dan yang tadi juga..." kata Liani.


"Ihh apaan sih Li, iya Bang Ustadz udah ngejelasin kok." kata Ririn.


"Aciee dikasih penjelasan." kata Putri.


"Eh udah jangan digodain terus Ririnnya kasian, mukanya udah ijo tuh." kata Acha dan semuanya terkekeh.


"Ummm Acha mah." kata Ririn.


"Eh udah yuk siap siap ke Masjid, shalat jama'ah." kata Rasi.


Adzan Maghrib pun berkumandang santriat pun bergegas menuju masjid.


......................


"Ririn..." panggil seseorang yang tak asing.


Deg! Langkah Ririn terhenti.


"Bang Ustadz.." gumam Ririn.


"Duhh kok ini kenapa yaa..detak jantung ini begitu cepat melebihi detik waktu." batin Ririn.


"Huft..." Ririn mengatur nafasnya.


"Iyaa Ustadz?" kata Ririn.


"Afwan soal yang tadi siang...mungkin itu lancang." kata Faziel.


"Tidak pa-pa Ustadz setidaknya Ana mendapat jawaban untuk keraguan, Ana duluan." kata Ririn tertunduk menyusul langkah sahabatnya.


Setelah shalat jama'ah maghrib santriat pun mengaji seperti biasanya dan di lanjut shalat isya berjama'ah.


......................


Bertepat jam 20.00 WIB dekeheningan malam, hanya terdengar suara daun tertiup angin, Faziel duduk ditaman dibawah langit yang dihiasi bulan sabit dan bintang bintang.


"Hey Ziel sedang apa sendirian disini?" kata Muza menepuk bahu Faziel.


"Eh Ki, ngagetin Ane aja." kata Faziel.


"Melamun yaa, masih mikirin tentang perjodohan Kamu? Saya dengar pernikah Kalian akan segera di tetapkan, kapan?" kata Muza.


Brughh suara benda terjatuh.


Muza dan Faziel pun langsung melihat ke arah suara itu.


"Ririn..?" kata Faziel.


Ririn pun langsung bergegas pergi.


"Ririn tunggu.." kata Faziel mengejar.


Ririn terus berlari dan menghiraukan panggilan itu.


"Sungguh Kamu, salah paham Rin.." kata Faziel berhenti mengejar.


Di rumput taman yang begitu hijau tersinari lampu taman, terlihat sebuah kotak berwarna hitam.


"Lebih baik jujur walau itu menyakitkan, dibanding berbohong yang akan menghilangkan kepercayaan."


❤26.dey❤

__ADS_1


......................


Faziel pun mengambilnya dan kembali duduk di samping Muza.


"Tawb, sorban, dan surat." kata Muza yang melihat isi kotak itu.


Faziel pun mengambil surat itu dan membacanya.


"Ririn kenapa menangis? ada apa ini Ziel? Ane gak paham." kata Muza.


Faziel memberikan surat itu pada Muza.


"Bang Ustadz in syaa Allah jikalau panjang Umur, Ana akan selalu menunggu Bang Ustadz memakai ini." isi surat dibaca Muza.


"Apa maksudnya ini..?" kata Muza.


Faziel pun menari nafas dalam dalam dan membuangnya secara kasar.


"Dua tahun yang lalu, pas Ane disuruh ke ruangan Ustadz Rayis menggantikan Kamu..." kata Faziel.


Flash back on


"Faziel... Ketua pengurus harus menghadap Ustadz Rayis, Ane gak bisa lagi ada keperluan, Kamu kan wakilnya, wakilin yaa.." kata Muza.


"*A*siaappp tenang aja, selagi ada Faziel, biarkan Faziel yang bertindak." kata Faziel


Mereka pun terkekeh.


"Yaudah cepet sana." kata Muza.


"Iya iya." kata Faziel.


Faziel pun bergegas pergi.


Saat di depan masjid langkah Faziel pun terhenti karena melihat sosok wanita yang dia kagumi.


"Ririn.. Cilla, Kalian mau kemana?" kata Faziel.


"Kita mau ke ruangan qiro'at Kak." kata Ririn.


"Ouhh yaudah Saya duluan." kata Faziel.


Faziel pun berjalan.


"Kak Faziel Ana uhibuka.." kata Ririn.


Deg! Langkah Faziel terhenti, Faziel hanya menengok ke belakang, dan melanjutkan langkahnya tersenyum."


Flash off


"Jujur itu pertama kalinya dalam hidup Ane..." kata Faziel.


"Lalu Kamu tidak memberi jawaban kepada Ririn yang sudah ungkapkan perasaannya secara terang terangan." kata Muza.


Faziel hanya menggeleng.


"Kenapa?" kata Muza.


"Karena saat itu Saya masih bingung dengan perasaan Saya sendiri, Saya bingung, Saya harus menjawab apa, karena dulu Saya hanya sebatas kagum atas kecerdasannya, dan menyukainya sebatas sesama teman sepondok dan sesama umat Islam saja, dan Saya ingin fokus untuk menggapai impian Saya dulu, entah kenapa Saya dilema, Saya nggak enak dengan semuanya karena kepikiran dengan perasaan Ririn, Saya tidak bisa menggantung perasaan wanita cuma hanya karena ego Saya..." kata Faziel.


Flash back on


Langkah demi langkah Faziel hanya teringat pada kalimat yang Ririn lontarkan.


Karena jarang sekali malah tak pernah ada wanita mengungkapkan perasaannya secara langsung kepada Faziel.


Sesampainya Faziel di depan ruangan Ustadz Rayis.


"Assalamu'alaikum..?" tidak ada sahutan di dalam ruangan Ustadz Rayis.


"Ziel sedang apa?" kata Ustadzah Raysa.


"Eh Ustadzah, assalamu'alaikum Ustadzah." kata Faziel menyatukan tangan.


"*W*a'alaikumussalam, nyari Ustadz Rayis ya?" kata Ustadzah Raysa di angguki Faziel.


"Ustadz Rayis di ruangan Qiro'at, sedang melatih anak anak Qiro'at." kata Ustadzah Raysa.


"Owh yaudah makasih Ustadzah, Faziel kesana dulu ya." kata Faziel.


"*A*ssalamu'alaikum." kata Faziel menyatukan tangan.


"Wa'alaikumussalam warohmatullah." jawab Ustadzah Raysa menyatukan tangan.


Faziel pun bergegas menuju ruangan Qiro'at.


"Assalamu'alaikum..?" kata Faziel.


"Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh." jawab semuanya.


Deg! Pandangan Faziel tertuju ke Ririn, kemudian Ririn tertunduk begitu pula Faziel.

__ADS_1


happy reading


maaf jika tidak bagus dan banyak kesalahan


__ADS_2