
Di kelas santriat sedang berbincang bincang.
"Ustadz Rafan bakal ngajar nggak ya." kata Cilla.
"Ya ngajar lah." kata Acha.
"So tau Acha nih." kata Cilla.
"Ya kan namanya juga nebak." kata Acha.
"Assalamu'alaikum?" ucap Rafan memasuki kelas.
"Wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh." jawab semua.
"Eh ustadz kirain nggak bakal masuk." kata Cilla.
"Mau nya Cilla itu mah." kata Rafan.
"Nggak kok Ustadz." kata Cilla.
"Pimpin do'a Man." kata Rafan.
"Sebelum belajar alangkah baiknya membaca do'a, membaca do'a dalam hati mulai." ucap Rohman memimpin.
Semuanya menunduk sembari mengangkat keduat tangan nya.
"Aamiin." terdengar ucapan santriat.
"Berdo'a selesai." kata Rohman.
Semuanya berduduk tegap kembali.
"Bismillahir rohmaanir rohiim, thoyib kita lanjut materi." kata Rafan.
"Tulis Man." perintah Rafan.
Rohman bergegas maju dan menulis ke papan board.
"Semuanya langsung catat aja, agar saat ustadz menjelaskan kalian sudah mencatat." kata Rafan.
"Na'am ustadz." kata santriat.
Santriat pun sibuk mencatat apa yang Rohman tulis di papan board.
"Sudah?" kata Rafan.
"Na'am ustadz." kata santriat.
"Thoyib kita jelaskan,"
"Hukum Ro, aslinya hukum Ro ketika berharokat Fathah atau dhommah adalah Tafkhim ini disefakati semua imam Qiro'at hanya saja dalam riwayat Warsy ada beberapa pengecualian dalam beberapa keadaan,"
"Adapun Ro yang harus dibaca dengan Tarqiq dalam beberapa keadaan tersebut adalah,"
"Pertama, ketika 'Ro' didahului harokat kasroh Ashli, contohnya,"
Rafan menulis di papan board.
مُبَشِّرَاتٍ - قَصِرَاتٌ
"Dibaca 'mubasysyiraatin' dan 'qoshiraatun' yaitu 'Ro' dibaca jadi 'Ra' karena kan tarqiq.
"Kedua ketika 'Ro' didahului 'Ya' sukun, seperti,"
بَشِيْرًا
"Dibaca 'basyiiran' dengan 'Ra' karena yang tarqiq atau tipis,"
خَيْرٌ لَكُمْ
"Dibaca 'khoirul lakum' yaitu dengan menipiskan mengucapkan dhommah 'Ru',"
"Ketiga, sebelum 'Ro' terdapat huruf mati yang didahului harokat kasroh seperti,"
اِجْرَامِى - اِكْرَاهَ
"Dibaca 'ijraamii' dan 'ikraaha' yaitu dengan 'Ra',"
"Keempat 'Ro' yang berada setelah huruf 'Kho' yang didahului harokat kasroh seperti,"
اِخْرَاجُهُمْ
"Dibaca 'ikhraajuhum' dengan 'Ra',"
"Adapun ketika didahului dengan huruf Isti'la lain tetap harus dibaca dengan Tafkhim atau tebal seperti,"
اِصْرَهُمْ
__ADS_1
"Harus dibaca tetap 'ishrohum' tidak boleh dibaca 'ishrahum',"
"Pengecualian dari ketentuan di atas harus tetap dibaca dengan Tafkhim yaitu ketika,"
"Pertama, 'Ro' yang ada di nama yang bukan dari bahasa Arab seperti,"
"Ibroohiim, Isroo'iil, Irom, 'imroon," kata Rafan sembari menulis di papan board.
اِبْرَاهِيْم - اِسْرَائِيْل - اِرَمَ - عِمْرَانْ
"Jadi bukan dibaca Ibraahiim, Israail, Iraam, 'Imraan,"
"Kedua, ketika huruf 'Ro' nya berulang- ulang seperti,"
"Dhirooron, firooron, midrooron, isrooron," kata Rafan sembari menulis.
ضِرَارًا -. فِرَارًا - مِدْرَارًا - اِسْرَارًا
"Ketiga, ketika 'Ro' yang bertemu dengan 'Alif' menghadapi huruf Isti'la seperti,"
"Shirootho, firooqu, i'roodhuhum," kata Rafan menulis di papan board.
صِرَاطَ - فِرَاقُ - اِعْرَاضُهُمْ
"Adapun 'Ro' yang ada di kalimah yang mana kalimah tersebut mengikuti pola wazan tashrif
Fi'lan,"
Rafan menulis di papan board.
فِعْلًا
"Maka boleh dibaca dua wajah yaitu Tafkhim 'Ro' dan Tarqiq 'Ra' dengan beberapa ketentuan seperti,"
Rafan menulis di papan board.
ذِكْرًا - حِجْرًا - اِمْرًا - صِهْرًا - سِتْرًا - وِزْرًا
"Juga dibaca dua wajah di kalimah,"
حَيْرَانَ
"Dibaca 'hairona' dan 'hairana' jadi terserah mau tafkhim atau tarqiq,"
"Dan tetap harus dibaca dengan Tafkhim 'Ro' ketika didahului huruf Zaidah atau huruf tambahan, yaitu huruf jar seperti kalimah,"
لِرَسُوْلِ - بِرُوْحٍ
"Karena huruf 'lam' dan 'ba' adalah huruf Zaidah." jelas Rafan.
"Kita praktek suroh al kautsar riwayat Warsy,"
"Ketentuan nya, tafadhol yang mau mencatat." kata Rafan.
"Aturan Tajwid nya adalah,"
"Satu Mad Jaiz dibaca panjang enam harokat,"
"Kedua, kalau washol ayat dua ke tiga maka harokat hamzahnya di Naql ke huruf 'Ro' jadi dibaca 'wanharinna',"
"Ketiga, kalimah 'huwal abtar' Harokat hamzahnya di Naql ke huruf 'Lam' jadi dibaca 'huwalabtar',"
"Sudah mencatat nya?" kata Rafan.
"Na'am Ustadz." kata santriat.
"Mari kita praktek membaca, ta'udz basmallah dan awal suroh nya pake yang washlul jam'i,"
Surah al kautsar dengan riwayat wary pun di lantunkan oleh Rafan dan kemudian di ikuti santriat.
A'udzubillahiminasy syaithoon nirrojiimi bismillahir rohmaan nirrohiimi innaaaaaa a'thoinaakal kautsar,
Fasholli lirobbika wanharinna syaa niaka huwalabtar,
Shodaqollohul 'azhiim.
"Wallohu 'alam bish showab, assalamu'alaikum." kata Rafan membereskan buku dan kitab yang dibawanya.
"Wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh." jawab santriat
Langkah demi langkah Rafan pun menjauh dari kelas.
Pelajaran demi pelajaran pun berlalu.
Hingga akhirnya bel berbunyi, menandakan jam pelajaran berakhir.
"Yuk ah langsung ke asrama aja." kata Acha.
__ADS_1
Langkah demi langkah mereka pun menuju asrama.
Mereka segera mandi dan mendirikan Sholat.
......................
Senja yang begitu indah perlahan muncul, mereka menyaksikan keindahan senja.
"Senja begitu indah tapi hanya datang untuk sesaat kemudian menghilang dan muncul lagi di sore berikutnya, seperti rasa yang di berikan, datang hanya sesaat pergi dan datang lagi." kata Acha.
Teman teman Acha menatap ke arah Acha.
"Itu lah kehidupan kadang ada siang dan ada malam, sang Ratu malam terkadang memberanikan diri untuk menemui sang Raja siang, walaupun cahayanya pudar, tapi sang raja siang tidak memberanikan diri untuk menemui sang Ratunya, sang Raja hanya menunggu waktu yang tepat yaitu saat gerhana tiba." kata Acha.
Adzan maghrib berkumandang, Santriat bergegas ke masjid.
"Eh malam jum'at yah." kata Liani.
"Yups betul." kata Cilla.
Iqomah di kumandangkan, shalat berjama'ah pun di dirikan, di teruskan dengan membaca surah yaasiin dan surah kahf bersama, dan di lanjut sholat Isya berjama'ah.
Langkah demi langkah santriat menuju asrama untuk mengambil kitab majmu'ah.
"Laqodjaaa akum rosulum min angfusikum 'aziizun 'alaihi maa 'anittum hariishun 'alaikum bil mu'miniina ro ufurrohiim, innalloha wamalaaikatahuu yusholluuna 'alannabiy yaa ayyuhaladzina amanuu shollu 'alaihi wasallimu taslima." lantunan terdengar di speaker.
"Aduh ayo udah mulai tuh." kata Acha.
"Iya iya." kata teman teman nya.
Mereka bergegas berlari, sesampainya di depan masjid mereka mengatur nafas dan kemudian duduk.
"Allohumma sholli wasaliim wabariik 'alih, wa 'alaa alaih wa ash haabih." ucap semua.
"Fah tazzal 'arsyu thoroban wastibsyaaroo, wazdaadalkursiyyu haibatab wawaqooroo, wam tala atisamaawaati anwaaroo, wadhojjatil malaaikatu tahliilan watam jiidan wastighfaroo,"
"Subhanalloh walhamdulillah walaa ilahaa ilalloh wallohu akbar, subhanalloh walhamdulillah walaa ilahaa ilalloh wallohu akbar, subhanalloh walhamdulillah walaa ilahaa ilalloh wallohu akbar." ucap semuanya.
"Walam tazal ummuhu taro anwa'ammin fakgrihu wafadhlihu, ilaa nihaayati tamaami hamlihii, falammasytadda bihath thilqu, bi idzni robbil kholqi, wadho'atil habiiba shollallohu 'alaihi wasllama saajidan ayaakiron hamidan ka annahul badru fii tamaamihii."
"Mahallul qiyyaam." ucap semua dan berdiri.
Yaa nabi salaam 'alaika, yaa rosul salaam 'alaika
Yaa habiib salaam 'alaika, sholawaatullaah' alaika
Asyroqol badru 'alainaa, fakhtafat minhul budûru
Mitsla husnik mâ ro-ainâ, qotthu yâ wajhas-surûri
Anta syamsun anta badru, anta nuuru fauqo nuuri
Anta iksiru wa ghoolii, anta mishbaahush-shuduuri
Yaa nabi salaam 'alaika, yaa rosul salaam 'alaika
Yaa habiib salaam 'alaika, sholawaatullaah' alaika
*Yaa habiibi yaa muhammad, yaa 'aruusal khofiqoini
Yaa mu ayyad ya mumajjad, yaa imamal kiblataini*
Yaa nabi salaam 'alaika, yaa rosul salaam 'alaika
Yaa habiib salaam 'alaika, sholawaatullaah' alaika
......................
Kullu mang fil kauni haa muu, fiika yaa baa hil jabiini
Walahum fiika ghoroomu, Wasytiyaaqun wahaninuu
Shollallohu 'alaa muhammad marhaban, shollallohu'alaihi wasallam marhabaan
Fii ma'aa nikal anaamu yaa Alloh, qodtabaddat haa iriina yaa Alloh
Antalir ruslu khitamu yaa Alloh, angtakl lilmamaulaa syakuru yaa Alloh.
Robbighfang firliidunubi yaa Alloh, bibarkatil hadii musyafa' yaa Alloh.
Shollalloh valaa muhammad, shollalloh 'alaihi wasallam.
Semuanya kembali duduk, manakiban pun dilanjut kan.
Bertepat jam 23.00 larut malam, manakiban pun selesai, santriat berbaris mengantri.
Box kue pun dibagikan ke satu persatu setelah mendapatkan santriat bergegas kembali ke asrama untuk memasuki Alma mimpi.
__ADS_1