
Terlukis sebuah senyuman di bibir Cilla
"Astaghfirulloh Cill, kenapa jadi baper gini kalo liat Gilang." batin Cilla.
"Semuanya boleh ikut bersholawat yaw." kata Gilang dengan gaya ala ala rocker.
Acha dan Liani tertawa renyah melihat ekspresi wajah gilang.
"Acha sama Liani kenapa?" kata Cilla.
"Hah nggak kenapa napa kok." kata Acha yang masih tertawa.
"Kayanya jin julidnya datang lagi deh." kata Ririn.
"Dih sembarangan aja." kata Acha.
"Bilang aja kalian lagi julidin gilang kan." kata Ririn.
Acha dan Liani terkekeh.
"Heh nggak boleh julid." kata Cilla.
"Acha nggak julid kok, cuma receh doang, ya kan Li?" kata Acha diangguki Liani.
"Hey ukhty yang di sana ikutan sholawat yaw," kata Gilang menunjuk ke arah mereka.
Sekali lagi Acha dan Liani di buat tertawa renyah.
"Aduh astaghfirulloh, sakit perut." kata Acha tertwa memegang perutnya.
"Haha iya." kata Liani tertawa.
"Hufth... astaghfirulloh." kata Acha dan Liani mengatur nafas.
Acha dan Liani tertawa kembali mengingat ekspresi gilang.
"Eh udah udah nggak baik ketawa mulu." kata Rasi.
"Pengen nya gitu, tapi nggak bisa berhenti keinget mulu." kata Acha terkekeh.
"Istighfar istighfar, jangan ketawa aja kalo yang Puput alamin mah kalo ketawa mulu nanti ujung ujung nya ada aja yang buat nangis ." kata Putri.
"Astghfirulloh...nangis gimana?" kata Acha dan Liani.
"Ya gitu nanti kalo udah ketawa suka ada aja kejadian atau apapaun yang buat Putri nangis, nggak tau kalian mah." kata Putri
🎵Yalal wathon, yalal wathon, yalal wathon
Hubul wathon minal iman
Walatakum minal hirman
Inhadu ahlal wathon
Indonesia biladi
Anta unwanul fakhoma
Kulu maya'ti kayaumatho
Mihayalko himama
Pusaka Hati Wahai Tanah Airku
Cintamu dalam Imanku
Jangan Halangkan Nasibmu
Bangkitlah Hai Bangsaku
Indonesia Negeriku
Engkau Panji Martabatku
Siapa Datang Mengancammu
Kan Binasa di bawah durimu,,,,
Siapa Datang Mengancammu
Kan Binasa di bawah durimu,,,,🎵
Mereka semua bersholawat dengan semangat.
'Selanjutnya nomor urut enam belas, Rahma teman teman dari kamar Fathimah.'
Rahma dan teman sekamarnya pun menaiki panggung.
"Semuanya ikut bersholawat ya." kata Rahma
🎵Thola'al badru 'alaynâ
Min tsaniyyatil wadâ'i
Wajabasy-syukru 'alaynâ
Mâ da'â lillâhi dâ'î
Ayyuhâl mab'ûtsu fînâ
__ADS_1
Ji'ta bil amril muthĂ´'i
Ji'ta syar robbal madina
Marhaban ya khoiro da'i
Thola'an nurul mubîn
Nuru khoiril mursâlîn
Nuru annit wassalâm
Nuru haqqin wayaqîn
Saqohullahu ta'alâ
Rohmatal lil'alamîn
Fa'alal barri syu'â
Wa'alal bahri syu'â
Mursalum bilhaqqi jâ
Nut qulhu wahyus sâma
Qouluhu qoulun fasihun
Yatta hattal bulaghĂ´
Fihi lil jismi syifâ un
Fihi liruhi dâwa
Ayuhal hadzi salâman
Mawa al qur'ana wâ🎵
"Aaa dua sholawatan kita sudah sama orang." rengek Cilla.
"Iyaa terus yang mana lagi ini sama sama orang kita saksikan aja." kata Putri.
'Selanjutnya nomor urut tujuh belas, atas nama Rohman.'
Rohman dan teman temannya menaiki panggung.
"Acie ustadzah Rasi, ustadz Rohma nya tuh, semangatin dong." ledek Acha.
"Apaan si cha." kata Rasi tersenyum malu.
"Cie malu malu kucing." ledek Liani.
"Untuk semuanya mohon resapi" kata Rohman.
Sholawat di lantunkan dan artinya dibaca dengan penghayatan oleh Rohman.
🎵Sauqbilu yâ khôliqî ming jadid
(Aku datang 'dengan dosa' sekali lagi duhai penciptaku)
Kamâ anta minnî ilâhî turîd
(Sebagaimana yang Engkau inginkan duhai sesembahanku)
Wa arjû idzâ anta taqbalunî
(Aku berharap Engkau mau menerima 'permintaan maaf' ku)
Jinânal khulûdi wamingkal mazîd
(Balasan surga yang kekal dan tambahan nikmat dari-Mu)
'Ashoituka robbĂ® fa ammhaltanĂ®
(Aku telah bermaksiat kepada-Mu wahai Robb ku namun Engkau berlaku lembut kepadaku)
Wa tasturunî roghma annî 'anîd
(Dan Engkau tutup aibku padahal aku hamba-Mu yang durhaka)
"Astahgfirulloh..." Rohman yang menangis.
Li annaka robbî ghofûrun wadûd
(Sungguh Engkau Maha pengampun lagi Maha mencintai duhai Robb ku)
Rohîmum bikullil warowal 'abîd
(Maha penyanyang kepada seluruh makhluk dan hamba-Nya)
Ataituka yâ khôliqî bâ kiyâ
(Aku datang menemui-Mu wahai Robb ku dengan air mata ini)
Wadam'ul asâ kulla hîniy yazîd
(Dan air mata penyesalan ini setiap saat senantiasa bertambah)
Isak tangisan Rohman terdengar di microfon.
__ADS_1
"Astaghfirulloh..." kata Rohman.
Rohman dan teman teman melanjutkan lantunan sholawat, walau sudah tak kuat.
Faqod qulta fil âyilâ taqnathû
(Sungguh Engkau berfirman seraya menyeru: janganlah kalian berputus asa)
Wa ingta'fu 'annî fadzâ yaumu 'îd
(Jika Engkau memaafkan diriku maka itulah hari kemenangan bagiku) 🎵
Taman utama di penuhi isakan tangis, semuanya merenung.
"Acha nggak kuat." kata Acha jongkok.
"Iyaa sama." kata mereka terisak.
"Astaghfirulloh..." ucap mereka menenangkan diri.
'Maa syaa Alloh yaa sangat menyentuh hati ya, sampe semua nya menangis.'
'Tarik nafas dulu...'
Semuanya mengikuti.
'Keluarkan sambil istighfar.'
"Hufth... astaghfirullohal 'adzim." ucap semuanya.
'Masih pada kuat kan, kita lanjut ya.'
'Selanjutnya nomor urut delapan belas, atas nama Jamal.'
Jamal dan teman teman nya langsung menaiki panggung.
"Eh tadi yang sama rohman sholawat kita juga." rengek Putri.
"Iyaa udah tiga sholawatan kita, tinggal dua lagi Syairan sama Sholawat burdah Fashal sepuluh." Kata Cilla.
"Semuanya boleh ikut melantunkan syairan nya." kata Jamal.
"Jangan sampe syairan nya yang 'duh angin nu ngahiliwir' kalo sampe itu gimana nanti." kata Cilla.
Mereka hanya tersenyum melihat kedua sahabat nya.
🎵Anak Adam anjeun di dunya ngumbara, umur anjeun di dunya téh moal lila
(Anak Adam kamu di dunia ini hanya merantau, umur kamu di dunia ini tidaklah lama)
Anak Adam umur anjeun téh ngurangan, saban poé, saban peuting dicontangan
(Anak Adam umur kamu itu berkurang, setiap hari, setiap malam di kurangi)
Anak Adam paéh anjeun téh nyorangan, cul anak cul salaki jeung babandaan
(Anak Adam kamu mati itu sendiri, Anak, suami dan harta di tinggalkan)
Anak Adam paéh euweuh nu dibawa, ngan asiwung jeung boéh anu dibawa
(Anak Adam mati itu tak ada yang dibawa, Hanya padung dan kain kafan yang dibawa)
Anak Adam pasaran téh lolongséran, saban poé saban peuting gegeroan
(Anak Adam keranda mayat itu histeris, siang malam memanggil-manggil)
Anak Adam anjeun kaluar ti imah,
digarotong dina pasaran tugenah
(Anak Adam kamu keluar dari rumah, pada digotong di dalam keranda mayat )
Aduh bapa aduh ibu abdi keueung, rup ku padung rup ku lemah abdi sieun
(Aduh Bapak Aduh Ibu Aku khawatir, ditutup kayu di tutup tanah Aku takut)
Anak Adam di kubur teh poék pisan, nu nyaangan di kubur téh maca Qur’an
(Anak Adam di kubur itu gelap sekali, Yang menerangi di kubur itu yang membaca Al-Qur'an)🎵
"Huhft merinding Acha pas artinya di bacain." kata Acha.
"Iya bener banget." kata Ririn.
"Untung bukan syairan yang kita." kata Cilla lega.
'Kita semua bakal bertemu dengan Alloh, mungkin hari ini kita masih di sini, tapi besok belum tentu, maka jalanilah hidup ini dengan benar, kematian bisa datang kapan pun, maka agar bisa meninggal sebagai seorang muslim, kita juga harus selalu menjalani hidup setiap saat sebagai seorang muslim, tidak ada kata nanti untuk taubat.'
'Ya Allah, jadikanlah kalimat terakhir yang terucap dari kamu adalah La Ilaha illallah Muhammadur Rasulullah, aamiin.'
"Aamiin..." ucap semua.
'Oke selanjutnya nomor urut sembilan belas, atas nama maesaroh.'
Maesaroh dan teman teman nya Maju kedepan.
'Setiap napas seseorang adalah langkah menuju ajalnya.'
❤Ali bin Abi Tholib❤
__ADS_1