MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 113


__ADS_3

"Ririn nggak papa kok." kata Ririn.


"Masa iya nggak papa orang dari kemarin diperhatiin kaya ada yang dipikirin." kata Acha.


"Iya bener." kata Mereka.


"Iyaa Rin ceritain aja." kata Liani.


"Iyaa biasanya kan Ririn terbuka sama kita." kata Rasi.


Ririn pun tertunduk.


"Yang Umi katain bener, ada yang khitbah Ririn, dan kemarin Ririn udah menerima khitbahan nya." kata Ririn.


"Alhamdulillah dong." ucap Mereka memeluk Ririn.


"Dan sekarang Ririn harus melepas ustadz Faziel." kata Ririn.


"Harus dong, kan ustadz Faziel juga udah mengkitbah wanita itu." kata Liani.


"Iya semangat Ririn untuk melupakannya, ternyata nanti udah wisuda Ririn duluan yang nikah." kata Cilla terkekeh.


"Tapi jangan terlalu maksain untuk melupakan Rin, biarkan Rasa cinta Ririn untuk ustadz Faziel hilang atas ijin Alloh, Cinta itu datang dari Alloh jadi biarkan Alloh yang menghilangkan rasa itu Rin." kata Acha.


'Walaupun kita tidak jadi mad wajib muttashil yang satu kalimah untuk bertahan lebih lama , masih ada mad jaiz munfashil yang beda kalimah untuk bertahan lebih lama.'


❤26.dey❤


Adzan maghrib pun berkumandang semua santriat bersiap salat berjama'ah.


Setelah jama'ah seperti biasa para santri bertalaqi pada guru tercinta, dan dilanjut salat isya berjama'ah.


......................


Matahari pun menampakkan diri nya malu malu.


"Bismillah, Abi do'a kan Alki supaya menjadi yang terbaik." kata Muza memcium tangan Fatih.


"Ridho Abi selalu ada di setiap langkah kamu, semoga di setiap langkah kamu mendalat keberhasilan dan kesuksesan." kata Fatih mengelus kepala Muza.


"Hamasah Ki." kata Rayis.


"Ziel selalu temani Alki ya." kata Fatih.


"Iya Abi insyaa Alloh." kata Faziel.


"Kalian harus saling mendukung." kata Rayis.


Muza pun segera berangkat di temani Faziel.


......................


Santriat di kelas sedang menunggu kedatangan sang guru.


"Assalamu'alaikum?" ucap Rafan.


"Wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh." jawab santriat.


"Kok ustadz yang masuk, bukan nya pelajaran ustadz Muza ya?" kata Gilang.


"Kaget yaa?" kata Rafan terkekeh.


"Nggak sih." kata Cilla polos.


"Jadi ustadz Muza ikut lomba ustadz teladan, dikirim Abi Fatih sebagai perwakilan pondok kita, makanya doa kan semoga ustadz Muza yang terbaik, aamiin." kata Rafan.


"Aamiin yaa Alloh." ucap santriat.


"Berapa hari ustadz?" kata Acha.


"Sekitar satu bulanan lah, jadi akhir januari beliau kembalinya, jangan bosen bosen yaa ketemu ustadz terus, ini geh bukan kemauan ustadz, ini perintah dari Abi dan ustadz Rayis." jelas Rafan.


"Iya nggak papa kok ustadz." kata santriat.


"Kita terusin yang kemarin aka oke." kata Rafan.


"Bawa bukunya kan?" kata Rafan.


"Nggak ustadz kan nggak ada pelajaran ustadz." kata Putri.


"Yasudah tulis aja di buku pertengahan supaya bisa di copot tar kalian tempel di buku aslinya." kata Rafan.


"Na'am Ustadz." kata santriat.


"Ada yang mau nulis in d papan board." kata Rafan.


"Rohman aja ustadz." kata rohman mengangkat tangan.


"Tafadholl maju." kata Rafan.


Rohman pun maju dan menulis di papan board.

__ADS_1


"Syukron Rohman, tafadhol kembali ke tempat, dan mencatat." kata Rafan.


"Na'am ustadz." kata Rohman.


Rohman pun kembali ketempat dan langsung menulis.


"Sudah ditulis?" kata Rafan.


"Sudah ustadz." jawab santriat.


"Oke kalo sudah kita jelaskan." kata Rafan.


Santriat fokus mendengarkan penjelasan guru tanpa ada suara pun di ruangan hening hanya terdengar suara Rafan saja.


Pandangan mereka terfokus pada sang guru, tidak ada yang tengok sana sini, mereka terduduk tegap dan kepalanya tidak bergerak bagaikan ada seekor burung yang hinggap di kepala agar tidak terbang.


"Judulnya DUA HAMZAH DALAM SATU KALIMAH,"


"Apabila terdapat dua hamzah dalam satu kalimah, yang mana hamzah pertama berupa hamzah istifham, maka hukumnya,"


"Satu, apabila Hamzah keduanya berharokat Fathah juga seperti a angdzar tahum,"


Rafan menunjuk ke papan board dengan sepidol


أَأَنْذَرْتَهُمْ


"Maka boleh dibaca dua wajah, pertama hamzah istifham nya dibaca dengan Tahqiq atau jelas, sedangkan hamzah yang kedua dibaca dengan Tashiil jadi dibacanya ahandzartahum,"


"Dan hamzah yang kedua di ibdal dengan huruf Alif dan dibaca panjang enam harokat jadi dibacanya


Aaaaaaandzartahum,"


"Kalau setelah huruf hamzah yang keduanya berupa huruf hidup seperti,"


"Contohnya a aladzi," kata rafan menulis di papan board.


أَاَلِدُ


"Maka hukumnya sama seperti di atas hanya panjang mad nya 2 dua harokat,"


"Kedua, kalau hamzah istifham nya bertemu dengan hamzah yang berharokat kasroh,"


"seperti ini," kata Rafan menunjuk papan board.


أَءِذَا - أَءِنَّا


"Maka hamzah yang pertama dibaca dengan Tahqiq sedangkan hamzah yang keduanya dibaca dengan Tashiil jadi dibaca, ahidza - ahinnaa."


Rafan menunjuk papan board.


أَأُنْزِلَ - أَؤُنَبِّئُكُمْ


"Maka hamzah yang pertama dibaca dengan Tahqiq sedangkan hamzah yang keduanya dibaca dengan Tashiil jadi dibacanya ahunzila - ahunabbiukum."


"Kemudian, DUA HAMZAH DI DALAM DUA KALIMAH YANG BEDA HAROKATNYA,"


"Terjadi atas 5 keadaan yaitu,"


"Satu, Hamzah pertama berharokat Fathah dan hamzah kedua berharokat kasroh,"


"Ini contohnya," kata Rafan menunjuk papan board.


تَفِيْٓءَ إِلٰى


"Ketentuannya adalah, hamzah pertama dibaca dengan Tahqiq atau jelas, sedangkan hamzah yang kedua dibaca dengan Tashiil jadi dibacanya tafii ahilaa,"


"Kedua, hamzah pertama berharokat Fathah dan hamzah kedua berharokat dhommah seperti ini,"


جَآءَ أُمَّةً


"Ketentuannya adalah, hamzah pertama dibaca dengan Tahqiq sedangkan hamzah yang kedua dibaca dengan Tashiil jadi dibacanya jaa ahummatan,"


"Ketiga, hamzah pertama berharokat kasroh dan hamzah yang kedua berharokat Fathah,"


السَّمَآءِ أَوْ


"Ketentuannya adalah, hamzah pertama dibaca dengan Tahqiq sedangkan hamzah yang kedua di ibdal atau diganti dengan huruf Ya jadi dibaca assamaaiyaw,"


"Keempat, hamzah pertama berharokat dhommah dan hamzah yang kedua berharokat Fathah,"


السُّفَهَآءُ أَلَا


"Ketentuannya adalah, hamzah pertama dibaca dengan Tahqiq sedangkan hamzah yang kedua di ibdal dengan huruf wawu jadi dibaca assufahaauwalaa,"


"Dan kelima, hamzah pertama berharokat dhommah dan hamzah yang kedua berharokat kasroh,"


يَشَآءُ إِلٰى


"Ketentuannya adalah hamzah yang pertama dibaca dengan Tahqiq sedangkan hamzah yang kedua dibaca dengan dua wajah atau versi, yaitu Tashiil dan di ibdal dengan huruf wawu jadi dibaca, yasyaauhilaa, yasyaauwilaa."


"Wallohu'alam bishowwab, kalian banyak banyak berlatih, dan ingat ingat yang bagai mana yang harus di tashil, di ibdal, dan lain nya." kata Rafan.

__ADS_1


"Yaudah masih ada waktu tiga puluh menit, mau praktek gak?" kata Rafan.


"Boleh ustadz." kata Santriat semangat.


"Dari yang surat pendek aja, annas sama al falaq." kata Rafan.


"Kita pake Riwayat Warsy,"


"Ketentuan Tajwidnya adalah, di surat An Naas yang berbeda dengan riwayat Hafash hanya di ayat pertama yaitu naql atau mindahkan harokat hamzah ke huruf Lam yang mati sedangkan hamzah nya jadi nganggur atau tidak berfungsi jadi dibaca qula 'udzu,"


Rafan menulis di papan board.


قُلَ عُوْذُ


"Bukan, qul a'udzu,"


قُلْ اَعُوْذُ


"Kemudian, di surat Al Falaq ada tiga yang berbeda dengan riwayat Hafash semuanya berupa naql, di ayat pertama dibaca seperti yang annas tadi,"


قُلَ عُوْذُ


"Di ayat ketiga berhubung tanwin bertemu hamzah maka pindahkan harokat kasrohnya hamzah ke huruf nun dari tanwin jadi dibaca ghoosiqini dza waqob,"


Rafan menulis ke papan board.


غَسِقِنِ ذَا وَقَبْ


"Yang awalnya ghoosiqin idza waqob dibaca jadi ghoosiqini dza waqob,"


غَاسِقٍ اِذَا وَقَب


"Di ayat terakhir sama juga naql harokat hamzah ke huruf nun dari tanwin jadi dibaca hasidini dzaa hasad,"


Rafan menulis di papan board.


حَسِدِنِ ذَا حَسَدْ


"Oke sekarang praktek baca bareng bareng, memakai kaidah bacaan warsy." kata Rafan.


A'udzubillahiminnasy syaithoon nirrojiim,


Bissmillah hirrohman nirrohiim,


Qula 'udzu birobbinnaas, Malikinnaas, ilaahinnaas, mingsyarril waswaasil khonnaas, al-ladzii yuwaswisu fii shuduurinnaas, minaljinnati wannaas.


Bismillah hirrohmaan nirrohiim


Qula 'udzu birobbil falaq, mingsyarri maa kholaq, wa ming syarri ghoo siqini dzaa waqob, wa ming syarrin naffaatsaatifil 'uqod, wa ming syarri haa sidini dzaa hasad.


Shodaqollohul 'azhiim


"Mumtaz," kata Rafan.


"Dalam persambungan atau berhenti basmalah sama isti'adzah juga ada ketentuan nya, nanti kapam kapan kita bahas," kata Rafan.


"Yasudah kalian istriahat aja, assalamu'alaikum." kata Rafan.


Rafan pun segera meninggalkan kelas, setelah punggung Rafan sudah tak terlihat santriat segera menuju kantin.


❤Belajarlah adab sebelum ilmu, sebab ilmu tanpa adab hanya akan membuatmu sombong, ingatlah iblis, ilmunya tinggi tapi dilaknat sebab kesombongannya.❤


"Eh ustadz faziel nggak keliatan kemana yaa." kata lasma.


"Ya kayanya ikut sama ustadz Muza." kata Widya.


Ririn sedikit menguping pembicaraan mereka, yang sedang makan di meja yang bersebelahan dengan nya.


"Iyaa nggak liat bang ustadz dari pagi." batin Ririn


Ririn hanya mengaduk aduk minumanya dengan sedotan, dan meminumnya.


"Kenapa Rin kaya melamun," kata Acha.


"Eh enggak kenapa napa kok, lagian siapa yang melamun." kata Ririn.


"Haha kayanya Acha deh yang melamun, ditinggal ustadz Muza." ledek Cilla.


"Apaan sih Cil." kata Acha.


"Padahal mah kalo suka jujur aja yaa jangan naif." kata Liani.


"Iyaa bilang nggak suka padahal hatii nya pengen banget." kata Putri.


"Yaa Alloh tega banget kalian julidin Acha, di depan acha lang sung lagi." kata Acha.


"Dari pada di belakang kan." kata Cilla.


"Heuhh terserah deh." kata Acha pasrah.


Rasi dan Ririn hanya terkekeh melihat para sahabat nya.

__ADS_1


__ADS_2