MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 51


__ADS_3

Empat hari kemudian


Rafan yang siap siap untuk berangkat kembali ke Al Azhar, dan menemui Acha yang masih tertidur.


Krek...


Pintu kamar terbuka.


"Dek hey, bangun Kamu.. Abang mau berangkat nih." kata Rafan.


"Hehmmm." kata Acha yang masih menutupi tubuhnya dengan selimut tebal.


"Kamu bangun Abang nggak ada dirumah jangan ngambek yaa, dan jangan bilang gara gara Abang gak pamit ke Kamu, Abang udah pamit loh yaa." kata Rafan menggeleng karena adik nya tidak bangun bangun.


Acha hanya terkekeh di balik selimutnya.


"Huft udah lah Abang pamit yaa." kata Rafan pasrah.


"Haha, Abang tuh yaa." Acha terkekeh.


"Ternyata Kamu udah bangun dek." kata Rafan mengacak acak kerudung Acha.


"Dari tadi lah, udah mandi pula." kata Acha terkekeh.


Acha dan Rafan pun bergegas ke bawah.


......................


"Assalamu'alaikum Bang." kata Iki semangat.


"Wihh semangat bener Lu." kata Rafan.


"Dek pokok nya Abang mau kamu kuliah di tempat Liani, biar Abang tenang, kan ada Liani yang bisa ngawasi Kamu." kata Rafan.


Acha hanya terdiam, karena tingkah bodohnya yang baperan marah karena ucapan abinya takut terulang lagi.


"Uma sama Abi juga ngedukung keputusan Abang mu." kata fathma diangguki oleh Qayyis, dan acha hanya tertunduk.

__ADS_1


"Iyaa Cha kan supaya nanti Lu jadi ustadzah Acha, Iki juga siap merantau ke luar negri nih awalnya Iki juga gak mau, berhubung ini permintaan Umi jadi Iki gak bisa nolak." kata Iki memanas manasi Fathma.


Acha hanya membulatkan mata.


"Ihh serem, liat Tante.. Acha melototin Iki, padahal kan Iki bilang gitu buat kebaikan Acha." kata yang langsung bersembunyi di belakang fathma.


"Achaa, bener yang Iki bilang, harus nya Kamu contoh Iki, Umi nya mau ini langsung di turutin." kata Fathma terkesan pada Iki.


"Eh tante kemarin juga Acha bilang ke Iki katanya Acha sangat sangat siap buat mondok loh." kata Iki dan Acha keheranan karena tidak merasa bilang seperti itu pada Iki.


"Beneran Cha Kamu mau mondok?" kata Fathma bahagia dan Acha hanya terdiam sekaligus kesal kepada Iki.


"Semangat yaa dek." kata Rafan.


"Yaudah Rafan bernagkat yaa, assalamu'alaikum, do'ain Rafan, Uma Abi." kata Rafan mencium tangan dan memeluk keduanya.


"Selalu nak do'a dan ridho Kami akan ada di setiap langkah Kamu." kata Fathma mengusap kepala Rafan.


"Do'a in Abang ya Dek." kata Rafan.


Acha mencium tangan Rafan dan mengangguk.


"Do'ain Iki juga Tante." kata Rizki.


Rafan dan Rizki pun berangkat ke bandara diantar oleh Qayyis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


KESEPAKATAN BERSAMA


Malam pun tiba Qayyis yang belum pulang hanya ada Acha dan Fathma.


Tangan lembut Fathma mengusap kepala Acha.


"Nak, Uma sama Abi cuma pengen yg terbaik buat Kamu.. Kamu turutin kata Abi Uma sama Bang Rafan yaa supaya nerusin pendidikan Kamu di pondok." kata Fathma.


"Tapi Umaa..Aku gak mau mondok.. Uma tau kan banyak sekali peraturan di pondok, Aku tuh bukan orang yang suka diatur, Uma kan pernah berpengalaman." Kata Acha untuk meyakinkan Umanya dengan nada lembut.

__ADS_1


"Iyaa Uma juga tau, maka dari itu Uma sama Abi pengen Kamu kuliah nya di pondok supaya kamu tau gimana rasanya jadi muslimah yang sesungguh nya.. Ke pondok al malik ini, kan ada Liani juga." kata Fathma untuk meyakinkan Acha.


"Tapi Umaa..." penolakan Acha manja.


"Sudah sudah.. Kamu pikirkan baik baik.. Karna Uma sama Abi gak bakal memutuskan sesuatu buat ngejerumusin anak2 nyaa." kata Fathma dengan nada lembut tapi sedikit kecewa dan pergi.


......................


Acha pun merenung di dalam kamar sambil memikirkan.


"Yaa Allah.. Acha harus gimana.. Acha bingung." kata Acha sambil menatap langit di jendela kamar.


"Tapi katanya Uma benar juga, Tiada orang tua yg ingin menjerumuskan anak nyaa, kalo dalam teori cinta kak Muza, berarti Acha udah ngeraguin Cinta Uma, Abi dan bang Rafan dong, Tapi kan.. Hu uh pusingg." perdebatan Acha dengan dirinya sendiri.


Tiba tiba terdengar suara.


"Fathu.. Acha.. Rau..meiza.. Mei, Mei" panggil Fathma dengan menyebut semua nama panggilan Acha.


"Serasa ada yang memanggil Ku. Ahh Mungkin salah denger, mungkin tetangga manggil anaknyaa." gumam Acha sambil meyakinkan diri nya sendiri.


Krek...


Pintu kamar Acha dibuka.


"Meiza Raudatul Fathima.." kata Fathma seperti sedikit kesal dan menatap Acha dengan aneh.


"Astaghfirullahal'adzim Umaa.. Kirain siapa aja.. Horor banget tauu." kata Acha dengan sedikit kaget.


"Dari tadi Uma panggil panggil Kamu Cha, Kamu gak denger?" tanya Fathma sambil mengejek.


"Hehe denger kok Uma tapi kirain tetangga lagi manggil anaknyaa.. Kan nama Acha pasaran hehe." kata Acha dengan sedikit menggoda Fathma.


"Dasar Kamu tuh yaa.. Uma jewer nih." kata Fathma sambil bercanda.


"Jangan Umaa.. Masa Uma tega menjewer adik kesayangan nyaa bang Rafan." jawab Acha sambil menutupi telinganya dengan telapak tangan nya untuk melindungi telinganya yang tersembunyi dibalik kerudung dengan ekpresi yang melas.


'Manusia dapat disatukan namun akalnya tetap berbeda baik dalam masalah sastra maupun dalam masalah hitungan.'

__ADS_1


❤Imam Syafi'i❤


__ADS_2