
"Baik Saya akan memberitahukan peraturan di jam pelajaran Saya." kata Rafan.
"Hah peraturan?" kata Santriat.
Rafan hanya menghiraukan.
"Nggak jadi suka deh kalo cuek gitu." celetuk Widya.
"Bisa kita mulai?" kata Rafan dan diangguki Santriat.
"Jadi yang pertama sebelum masuk ke pelajaran, Kita harus ber shalawat dan do'a, yang kedua Kalian akan memperaktekan materi yang saya berikan, ketiga kalian datang ke kelas in time dan harus punya wudhu membaca al qur'an pakai kaidah bacaan menurut iman tertentu, ke empat.." kata Rafan.
"Haa.. Ustadz yang tiga ge udah subhanalloh banget dan masih ada lagi?!" keluh santriat dan Rafan hanya terkekeh melihat murid muridnya.
"Ke empat kalian wajib mematuhi di jam pelajaran Saya walau Saya tidak masuk kelas, dan peraturan berlaku dari sekarang." kata Rafan mengetuk papan board dengan spidol 3 kali dan Santriat hanya pasrah.
"Nggak boleh ada yang komplen hakim sudah memutuskan." canda Rafan semuanya tertawa.
"Okee kita baca aqidatul awam sudah pada hafal kan? pasti sudah lah.. anak semester 5 mana munggkin belum hafal." kata Rafan.
Mereka pun melantunkan aqidatul awam
...بِسْمِ اللّهِ الرّحْمنِ الرّحِيْمِ...
__ADS_1
أَبْـدَأُ بِـاسْمِ اللهِ وَالرَّحْـمَنِ (1) وَبِالرَّحِـيْـمِ دَائـِمِ اْلإِحْـسَانِ
فَالْحَـمْـدُ ِللهِ الْـقَدِيْمِ اْلأَوَّلِ (2) اَلآخِـرِ الْبَـاقـِيْ بِلاَ تَحَـوُّلِ
ثُمَّ الـصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ سَـرْمَدَا (3) عَلَى الـنَّـبِيِّ خَيْرِ مَنْ قَدْ وَحَّدَا
وَآلِهِ وَصَـحْبِهِ وَمَـنْ تَـبِـعْ (4) سَـبِيْلَ دِيْنِ الْحَقِّ غَيْرَ مُـبْـتَدِعْ
وَبَعْدُ فَاعْلَمْ بِوُجُوْبِ الْمَعْرِفَـهْ (5) مِنْ وَاجِـبٍ ِللهِ عِشْـرِيْنَ صِفَهْ
................................
سَـمَّيْـتُهَا عَـقِـيْدَةَ الْعَوَامِ (57) مِـنْ وَاجِبٍ فِي الدِّيْنِ بِالتَّمَامِ
Kata qira’at (قرأت) merupakan bentuk jamak dari kata "قرأة" yang berasal dari قرأةا - يقرا - قرا - . Lafaz tersebut adalah bentuk masdar yang artinya adalah bacaan (al-Qattan, 1973: 170).
Lafaz qara’a (قرأ) juga memiliki arti mengumpulkan dan menghimpun, artinya mengumpulkan dan menghimpun huruf-huruf dan kata-kata satu dengan yang
lainnya dalam suatu ucapan yang tersusun rapi.
Sedangkan secara terminologis, banyak redaksi yang dikemukakan oleh para ulama
berkaitan dengan pengertian qira'at ini.
__ADS_1
1. Menurut al-Zarqani (1995:99), qira'at adalah:
“Suatu madzab yang dianut oleh seorang imam dari para imam qurra' yang berbeda dengan yang lainnya dalam pengucapan al-Qur'an dengan kesesuaian riwayat dan thuruq darinya. Baik perbedaan dalam pengucapan huruf-huruf atau pengucapan bentuknya.”
2. Sementara Muhammad Aly al-Shabuni (1985: 230) mengemukakan qira'at
“Sebagai suatu madzab tertentu dalam cara pengucapan al-Qur'an, dianut oleh
salah seorang imam qira'at yang berbeda dengan madzab lainnya, berdasarkan sanad -sanadnya yang sampai kepada Nabi sholallohu 'alaihi wassalam.
3. Senada juga disampaikan oleh imam Syihabuddin al-Qasthalani.
Qira'at adalah suatu ilmu untuk mengetahui kesepakatan serta perbedaan para ahli qira'at tentang cara pengucapan lafaz-lafaz dari al-Qur'an, baik yang menyangkut aspek kebahasaan, I’rab, hazf, isbat, fashl, washl, ibdal, yang diperoleh dengan cara periwayatan.
4. Abd al-Fattah al-Qadi dalam al-Budur al-Zahirah
“Ilmu yang berbicara tentang tata cara pengucapan kata-kata dalam al-Qur'an dan metode penyampaiannya, baik disepakati ataupun yang ikhtilaf dengan cara menyandarkan setiap qira'at atau bacaannya kepada salah seorang perawinya.”
Dari beberapa ragam pengertian diatas, dapat ditarik sebuah pengertian bahwa qira'at al-Qur'an itu datangnya dari Nabi melalui al-sima’ dan al-naql. Adapun yang dimaksud dengan al-sima’ adalah qira'at al-Qur'an yang diperoleh melalui atau dengan cara langsung mendengar bacaan dari Nabi sholallohu 'alaihi wassalam, sementara yang dimaksud dengan al-naql yaitu, diperoleh melalui jalur periwayatan yang menyatakan bahwa qira'at al-Qur'an *i*tu dibacakan dihadapan Nabi lalu beliau membenarkannya (al-Qadi, 1981:7).
Dari uraian di atas, maka dapatlah diambil beberapa kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan qira’at dalam pembahasan ini adalah pertama, cara pengucapan lafal-lafal al-Qur'an sebagaimana yang diucapkan Nabi sholallohu 'alaihi wassalam atau sebagaimana yang diucapkan para sahabat dihadapan Nabi sholallohu 'alaihi wassalam, lalu beliau mentaqrirkannya, Kedua, qira'at al-Qur'an diperoleh berdasarkan periwayatan dari Nabi sholallohu 'alaihi wassalam baik secara fi'liyah maupun taqririyah. Ketiga, qira'at al-Qur'an adakalanya hanya memiliki satu qira'at, dan adakalanya memiliki beberapa versi qira'at.
"Wallahu'alam bishshowab, kita akhiri dengan membacaa hamdalah." kata Rafan.
__ADS_1
"Alhamudillahirobbil 'alamiin.." kata semuanya.