MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 36


__ADS_3

"Hati hati nak, takut jatoh." kata Abi yang melihat Ku berlari menuruni tangga.


"Iyaa Bii.. Ehh.." kata Ku yang hampir jatuh karena tersandung oleh kaki Ku sendiri.


"Untung ada Lu..bagus deh ada faedahnya Lu." batin Ku memuji besi penghalang sisi sisi tangga.


"Ehh.. Baru juga di bilang hati hati." kata Uma menghampiri Ku dan Abi langsung berdiri kaget.


"Iya Kamu nih bikin khawatir aja, yaudah sini makan." kata Abi yang berdiri kemudian duduk kembali untuk makan, dan Aku hanya nyengir kuda.


"Acha masih kenyang Bi." rengek Ku manja.


...****************...


Pov Author


Ting bunyi pesan di hp Acha


(Cha, Gw pindah rumah ke komplek A nomor 105) Liani.


(Wihh ciusan Lu, pantesan tadi sore Gw liat bang Muza ke arah situ) Acha.


(Cepet sini bantuin beres beres jan lama lama) Liani.


(Oke tunggu yaa cuma ke halang 4 rumah doang kok wk) Acha.


(Gw tunggu! Awas kalo gak ke sini, ada Abang elu juga kok) Liani.


(Iya iya gak bisa Gw nolak Lu, ngapain Bang Rafan?) Acha.

__ADS_1


(Oke deh, yaa bantu temen nya lah) Liani.


(Siapa?) Acha.


(Plis deh ah, siapa lagi kalo bukan Abang Gw) Liani.


(Ouhhh, oke oce deh Gw otw, tapi belum ada roket yang jemput nih wkwk.) Acha.


(Haha udah jalan aja, roketnya lagi kehabisan bensin soalnya wkwk.) Liani.


......................


"Uma, Abi Acha mau bantuin Liani beres beres." kata Acha tersenyum.


"Tapi jauh nak komplek A ke B, udah malem lagi." kata Fathma.


"Nggak Uma Liani pindah ke komplek A nomor 105, cuma ke halang 4 rumah doang kok." kata Acha.


"Entah, Acha gak tau hehe." kata Acha cengengesan.


"Eh Bi 105 bukan nya Ustadz Iham dan keluarga yang mau pindah ke rumah nomor itu yaa, gak jadi dong Mereka pindah ke sini?" kata Fathma.


"Siapa itu Uma?" kata Acha.


"Ustadz Iham itu sahabatnya Abi pas mondok, Abi dan ustadz Iham adalah mahasiswa lulusan terbaik di pondok, dan kemudian di beri gelar Ustadz." jelas Fathma.


"Ouhh sayang sekali yaa gak tau Acha, kapan kapan kalo maen ke rumah nya ajak acha kan pengen tau." kata Acha.


"Awal nya Mereka mau pindah ke rumah nonor 105, udah keduluan, dan Abi belum nanya kalo itu pindah nya ke mana lagi." kata Qayyis.

__ADS_1


"Yaa Allah Abi, tinggal telpon aja." kata Acha.


"Masalah nya pas waktu itu Abi lupa minta no nya." kata Qayyis.


"Haduhh Abi tu." kata Fathma.


"Yaudah Acha ke rumah Liani dulu ya, boleh kan? Boleh yaa, yaa boleh deket kok." rengek Acha manja.


"Iyaa, iyaa, bang Rafan juga bantuin disana, Abi mau bilang ke Kamu tadi lupa." kata Qayyis.


"Rafan? Kok bisa?" kata Fathma heran.


"Iyaa Umi soal nya bang Muza temen nya bang Rafan, yaudah Acha pergi dulu yaa Assalamu'alaikum." kata ku yang langsung mencium tangan Fathma dan Qayyis.


"Wa'alaikumussalam." kata Fathma dan Qayyis.


"Hati hati nak." teriak Fathma di dalam rumah.


"Iyaa Uma." teriak Acha di depan pintu memakai sandal.


......................


Di perjalanan Acha sangat was was walau hanya melewati 4 rumah kan lumayan jauh karena halaman rumah yang luas luas.


"Duhh kebiasaan tuh rumah 103, udah malem lampu depan nya masih mati, udah tau ada orang mau lewat nih." gumam Acha kesal.


"Aduh serem banget gak biasa keluar malem keluar jadi gini deh, pokonya lu harus berani cha jangan takut ke tempat gelap, lagiankan nanti meninggal pasti dikubur gelap sendirian lagi, huft bismillah.." Acha yang jalan sambil bebacaan.


'Abaikan apapun yang membuatmu takut dan sedih, yang menyurutkanmu ke belakang menghadapi sakit dan maut.'

__ADS_1


❤Jalaluddin Rumi❤


__ADS_2