MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halamn 156


__ADS_3

Happy reading, author banyak-banyak terimakasih buat kalian yang setia membaca cerita aneh buatan Author, dan Author meminta maaf yang sebesar-besarnya karena jarang Up dikarenakan kesibukkan di bulan Romadhon.🙏🙏🙏🙏


semangat selalu buat puasanya, jangan lupa hari-harinya selalu di penuhi amal kebaikan karena dibulan penuh berkah ini pahala 70 kali dilipat gandakan Allohua'lam


🕊🕊🕊🕊🕊


......................


Satu minggu kemudian, seperti biasanya setelah Muza berangkat kerja, Acha pasti membeli sayuran dan lauk pauk, pembicaraan ibu-ibu komplek masih topik yang sama.


"Yur sayur..." teriak tukang sayur.


"Tunggu bang." teriak Acha di dalam yang sedang menggunakan kerudung lebarnya.


"Iya siap Bu." kata tukang sayur.


Acha langsung keluar rumah menghampiri tukang sayur setelah menutup auratnya dengan sempurna.


Terlihat ibu-ibu komplek sedang asik memilih sayuran, langkah demi langkah Acha pun terhenti di sekerumpulan ibu-ibu yang sedang belanja sayur, "Eh tau gak Pak Jono suami Ibu Riska, pulang meeting berbulan-bulan, tau-taunya bawa istri muda." kata ibu komplek


"Emang yah jaman sekarang kita harus hati-hati sama suami sendiri, takut kaya pak Jono ditanya istrinya diem aja fokus mainin handphone, pas istrinya ngedumel baru dijawab bilangnya kerjaan eh ternyata oh ternyata ck ck." kata Ibu komplek.


"Heran sekarang tuh, jangan sampe bapak kaya gitu pak, kasian Bu Aminah." kata salah satu Ibu komplek.


Tukang sayur hanya terkekeh, "Mana bisa saya seperti itu, 1 istri juga belum kebahagiakan sama saya."


"Semua pria kata manisnya gitu, lihat Bu Riska suaminya asik main handphone, ditanya diem aja malah emosi, pas ada maunya aja baru baik." kata ibu komplek.


Tukang sayur hanya tersenyum tipis dan menggeleng samar.


"Tapi 'kan semua suami tidak seperti itu, pasti ada aja yang baik dan pengertian terhadap istrinya." kata Acha.


"Tapi waspada mah harus aja ya Bu yah." kata ibu komplek ke ibu komplek lainnya.


"Iya bener tuh." kata ibu komplek.


Acha hanya menggeleng samar, dan langsung memilih-milih sayuran, "Ini Pak, berapa?"


"40 ribu aja Bu." kata tukang sayur.


Acha segera menyerahkan uang, "Pas ya Bu." kata tukang sayur.


Acha tersenyum mengangguk, "Iya Pak, makasih Pak."


"Terimakasih kembali Bu." kata Tukang sayur.


Acha hanya tersenyum, "Saya dulan ya." kata Acha yang langsung masuk kedalam rumah.


"Iya Bu." kata mereka.


"Jangan bosen-bosen belanja sayuran di saya walau banyak..." kata tukang sayur yang mendapatkan lirikan tajam dari ibu-ibu komplek.


"Eheh santay Bu santay." kata tukang sayur.


"Yaudah ini berapa?" kata Ibu-ibu komplek.


"Ibu cuma 30 ribu aja, yang ibu susi 50, kalo yang ibu lena cuma 45 ribu." kata tukang sayur.

__ADS_1


"Yaudah nih Pak, makasih yah Pak." kata ibu-ibu komplek dan langsung bubar dari tukang sayur.


"Makasih Bu, jangan bosan-bosan belanja ke saya." kata tukang sayur.


......................


Acha langsung memasak, terdengar bel rumah berbunyi, "Siapa pagi-pagi begini." gumam Acha yang segera mematikan kompor dan langsung melangkah ke arah pintu.


krek pintu di buka, terlihat Liani yang sedang berdiri tersenyum, "Liani." kata Acha yang langsung memeluk Liani.


"Aduh sesak lah." keluh Liani.


"Ya maaf-maaf." kata Acha melepas pelukan.


"Ayo silahkan masuk." kata Acha.


Langkah demi langkah mereka masuk kedalam, Liani langsung dipersilahkan duduk, "Eh mau minum apa?" kata Acha.


"Udah santay aja, nanti juga ambul sendiri." kata Liani terkekeh.


"Yaudah terserah deh, anggap aja rumah sendiri." kata Acha.


"Astaghfirulloh, tunggu sebentar." kata Acha langsung berlari kedapur.


Terlihat kompor yang sudah dimatikan, "Alhamdulillah, kirain belum dimatiin." gumam Acha menepuk keningnya.


Acha segera melangkah menuju ruang tamu, "Kenapa Cha?" kata Liani.


"Itu lupa kirain belum matiin kompor ternyata udah." kata Acha nyengir kuda.


"Dih masih muda udah pikun." kata Liani.


Langkah Acha terhenti dan langsung duduk di samping Liani, "Eh Rizki nggak ikut?" kata Acha.


Liani mengernyitkan alis, "Nggak, emang nggak tau?" kata Liani.


Acha menggeleng samar, "Um nggak, emang apa?" kata Acha.


Liani sedikit menyipitkan mata, "Seriusan Bang Muza nggak bilang?" kata Liani.


Acha mengernyitkan alis, "Bilang apa? nggak tau, bang Ustadz nggak bilang apa-apa." kata Acha.


"Kan di perusahaan Abi lagi ada bisnis, makanya my Abi nyuruh my husband sama my brother buat mewakilkan perusahaan meeting ke bandung selama 1 bulan, makanya me di suruh kesini temenin you selama 1 bulan." jelas Liani.


Acha membulatkan mata, dan terlukis raut wajah kesal "Teganya Bang Ustadz nggak ngasih tau Acha." batin Acha.


Liani yang menyadari ekspresi Acha hanya menyipitkan mata, dan Liani menepuk bahu Acha, "Kenapa? nggak suka ya di temenin sama Liani selama 1 bulan." kata Liani.


"Nggak." rengek Acha.


"Owh jadi nggak suka?" kata Liani.


"Eh bukan maksudnya suka." kata Acha.


"Lah tadi katanya nggak." kata Liani


"Ih Liani mah nggak paham." rengek Acha

__ADS_1


Liani hanya terkekeh, "Iya ngerti maksud Acha bilang 'nggak' itu menyatakan bahwa seudzon Liani itu salah."


"Nah itu tau, udah tau lagi kesel sama bang Ustadz ini di buat kesel lagi sama adeknya." kata Acha.


Liani melangkah menuju dispenser untuk mengambil segelas air, "Udah-udah mungkin khilaf, manusiawi kan, lagi pula kan bakal pulang dulu buat persiapan beresin baju." kata Liani.


"Terus Iki?" kata Acha.


"Ada dimobil." kata Liani.


"Eh Liani bawa mobil?" kata Acha diangguki Liani.


"Sendiri?" kata Acha.


Liani mengangguk samar, "Iya Acha." kata Liani menghampiri dan duduk disamping Acha.


Ruangan dipenuhi perbincangan hangat kedua sahabat, Acha mengelus perut bulat Liani, "Berapa bulan ini?" kata Acha.


"8 bulan kurang 1 minggu." kata Liani.


"Umm bentar lagi kamu lahir yah, kasian utun ditinggal Aba selama 1 bulan, eh nyebutnya apa ke Iki, Aba 'kan?" kata Acha.


"Iya Aba." kata Liani.


"Berarti ke kamu Uma ya." kata Acha diangguki Liani.


Liani mengelus perut, "Nggak apa-apa ya, yang penting Abanya selalu dilindungi dan diberi kesehatan."


Tak lama kemudian bel rumah berbunyi, "Bentar ya Li." kata Acha diangguki Liani.


Acha langsung melangkah menuju pintu, terlihat Muza dan Rizki, Acha mencium punggung tangan Muza dan menyatukan kedua tangan pada Rizki.


Rizki menyatukan kedua tangannya, "Liani udah ke sini Cha?"


"Iya udah, ada didalam, mari masuk." kata Acha.


Mereka segera masuk dan duduk, "Eh anaknya Aba." kata Rizki menghampiri Liani dan mengelus perut Liani, Muza dan Acha turut bahagia atas kebahagiaan mereka.


Acha langsung menyuguhkan air untuk Muza dan Rizki, Mereka meneguk segelas air dengan bismillah dan diakhiri dengan hamdallah, "Barang-barang Abi belum Umi kemas?" kata Muza menaruh gelas ke atas meja.


"Barang-barang dikemas buat apa? Abi mau kemana?" kesal Acha pura-pura tidak tahu.


Liani hanya menahan tawa, sudah biasa bagi Rizki dan Liani menyaksikan perdebatan manis pasangan suami istri ini.


Muza kebingungan melihat kearah Liani, "Emang Liani belum kasih tahu?"


"Kasih tahu apa?" kata Acha.


"Jadi belum tahu? dan barang-barang Abi di kemas? yaudah sekarang bantu Abi berkemas." kata Muza meraih tangan Acha.


Rizki melirik ke arah Liani seakan bertanya, Liani hanya menaikkan kedua bahunya sembari tersenyum, Rizki menggeleng dan tersenyum samar, "Ada-ada aja." gumam Rizki menyaksikan perdebatan manis mereka.


"Bang mau dibantu gak?" kata Liani dan Rizki.


"Boleh banget waktu udah mepet soalnya." kata Muza yang tetap melangkah kedepan, Rizki dan Liani langsung mengikuti dari belakang.


Langkah demi langkah Acha dan Muza menuju kamar, "Emang Abi mau kemana? mau cari Madu?" kata Acha.

__ADS_1


Muza mengernyitkan alis, langkahnya terhenti "Astaghfirulloh Umi tuh ada-ada aja, um jadi gitu Umi mau Abi cariin Madu ya?" kata Muza.


__ADS_2