MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 44


__ADS_3

...****************...


Pov author


Bagas pun masuk


"Assalamu'alaikum om Toni." kata Bagas.


"Wa'alaikumussalam warohmatullah, ada yang bisa Om bantu nak Bagas?" kata pak Toni.


Acha hanya mengintip di celah celah buku yang tersusun di rak.


"Pas dzuhur Bagas liat ada Acha di sini." kata Bagas.


"Owh iya benar." kata pak Toni.


Acha tegang mendengar itu dan Acha hanya menggigit jarinya sendiri.


"Duh muless kebiasaan nih kalo lagi tegang." batin Acha.


"Tapi beliau sudah pergi." kata pak Toni yang membuat Acha lega.


"Aduhh yaa Allah, saya bohong demi kebaikan bukan keburukan kok." batin Toni.


"Tumben biasanya Acha kalo di sini sampe sore." kata Bagas.


"Iya biasanya gitu nak Bagas, soal nya tadi beliau nyari buku tapi bukunya sudah ada yang membeli dan kemudian beliau langsung pamit." jelas pak Toni.


"Ouhh yaudah Bagas pamit ya assalamu'alaikum." kata Bagas.


"Wa'alaikumussalam hati hati nak." kata pak Toni.


"Owh ya om nanti kalo ada Acha besok, tolong sampaikan permintaan maaf Bagas yaa, Bagas bener bener nyesel Om, mungkin Om juga tau permasalahan Kami." kata bagas diangguki Toni dan membuat airmata Acha menetes.

__ADS_1


"Plis Cha jangan baper, mana ada orang sejahat Bagas bisa jadi baik." batin Acha, dan Acha menghapus airmatanya.


"Huftt astaghfirullah." kata Muza sembari membuang nafas.


"Jangan nangis Cha gak guna nangisin orang kaya gitu Huft Huft." batin Acha.


Acha mengatur nafas untuk berusaha tegar tidak menangis.


"Emang nak Bagas mau kemana?" tanya pak Toni.


"Ayah ada kerjaan di luar negeri, jadi Bagas sekeluarga mau pindah ke luar negeri, Bagas pengen pamit ke Acha sama om juga, tolong sampai kan sama Acha ya." kata Bagas.


Melihat bagas merasa bersalah, yang membuat Acha ingin menemuinya, tapi Acha menahan diri karena teringat penghinaan pas waktu itu.


'Penyesalan memang akan datang diakhir kalo di awal ya namanya pendaftaran'.


❤26.dey❤


......................


Bagas pun pergi dan Acha segera kekamar mandi untuk membasuh wajah.


"Acha sudah jangan menangis." teriak pak toni di luar.


"Nggak kok Om siapa lagi yang nangis, Om mau tutup jam berapa?." kata acha sedikit tersenyum menahan tangis di dalam kamar mandi.


"biasa jam 18.00, tenang aja masih 20 menit lagi." kata pak Toni.


......................


Saat Acha keluar sudah tak ada siapa siapa kecuali satu orang yaitu Muza yang masih memilih milih di area rak perkitab an.


"Sudah gak ada pengunjung lagi Om?" kata Acha.

__ADS_1


"Iyaa cuma ada satu orang lagi sedang mencari kitab." kata pak Toni.


"Ouhh yaudah Acha pamit ya Om, assalamu'alaikum." kata Acha tanpa mau tahu siapa orang itu.


"Wa'alaikumussalam, hati hati nak, perlu Om anter gak? Kamu kan cewe udah petang takut ada apa apa nanti." tawar pak toni.


"Gak usah om, makasih, kalo ada yang jahat tenang aja Acha bisa urus, Acha kan strong man eh strong girls gitu." canda Acha.


"Acha Acha sedih geh masih bisa bercanda." batin Muza.


......................


"Ya udah Acha bareng Saya aja." kata Muza yang membawa Kitab kuning.


"Kak Muza?" kata Acha sedikit heran, dan Muza hanya tersenyum.


"Kalian saling kenal?" kata Pak Toni.


"Iyaa Om, beliau kakak nya Liani." kata Acha.


"Owh Muza itu kakak nya Liani, kan beda arah komplek A sama B tuh." kata pak Toni.


"Saya sekeluarga sudah pindah ke komplek A, dan rumah nya tak jauh dari rumah Acha." kata kak Muza.


"Syukur Alhamdulillah kalo gitu, bapak sedikit tenang, Acha ada yang jaga." kata pak Toni yang memang sudah menganggap Acha sebagai putri nya, karena beliau dan istrinya belum di anugrahi anak lamanya, tapi sekarang istrinya sedang mengandung.


"Ini berapa Pak?" kata kak Muza memperlihatkan kitab ke pak Toni.


"Qiro'at sab'ah yaa." kata Toni di angguki Muza.


'Seseorang yang tepat akan datang di waktu yang tepat.'


❤26.dey❤

__ADS_1


__ADS_2