
"Pokoknya jangan sampe nih hati jatuh perasaan lagi, pokoknya Lu harus tutup hati rapat rapat dulu, Gw nggak mau sakit hati lagi." kata Ku kepada diri Ku sendiri.
"Eh tapi alhamdulillah sekarang Gw tau, cinta itu tak harus merasa dia itu hanya milik Kita seorang, tapi cinta itu membiarkan kekasih kita dicintai banyak orang, dengan itu Kita harus percaya dan yakin bahwa jikalau kekasih kita melakukan hal apapun pasti ada maksud dan tujuan nya." gumam Ku yang sedang berbaring meranjak duduk.
'Inilah cinta: untuk terbang ke langit tersembunyi, untuk menjatuhkan ratusan penghalang di setiap momen. Pertama kita membiarkan hidup pergi. Dan kemudian, kita mengambil langkah tanpa kaki.'
❤Jalaluddin Rumi❤
"Pelajaran dan ilmu yang berharga banget buat Gw." kata Ku.
Krek pintu kamar ku terbuka.
"Haa astaghfirullah." kata ku kaget, dan Aku pun mengatur nafas.
"Huft Uma ngagetin aja." kata Ku.
"Nak kirain Uma Kamu tidur." kata uma.
"Belum lah Uma, kan gak boleh bobo diantara maghrib dan isya." kata Ku.
"Iya nak betul sekali, yaudah Uma kekamar dulu." kata Uma.
"Abi sama bang Rafan udah pulang dari masjid Uma?" tanya ku.
"Belum kayanya mampir ke rumah Ustadz Salman dulu deh." kata Uma dan menutup pintu, Aku hanya tersenyum.
"Huft." Aku pun merapikan mukena.
......................
Brugh seperti suara lemparan besi terkena besi.
__ADS_1
"Astaghfirullah, apalagi itu." kata Ku menuju teras kamar Ku.
(karena abi tau Aku suka sekali melihat pemandangan malam, kamarku di buatkan teras khusus untuk Ku melihat bulan dan bintang terdapat pintu menuju teras itu di dalam kamar Ku.)
"Haa" kaget ku saat membuka pintu teras.
"Ik.."kata Ku yang terpotong karna Iki menyuruh ku diam.
"Syuutt." kata Iki yang meletakan jari telunjuk di mulutnya, dan Aku hanya mengangguk.
"Ngapain Lu malem malem ke kamar Gw, lewat sini lagi kaya maling aja, kalo ada yang liat gim..." ucap ku kesal.
"Syut diem! Dibilangin jangan berisik kata Gw juga." kata Iki yang menghentikan ocehan Ku.
"Iya iya, terus mau ngapain?" kata Ku sedikit berbisik.
"Gw ke sini mau ngasih tau sesuatuu." kata Iki bahagia dan sedikit teriak.
"Syutt, Elu ya ngomong ke Gw jangan berisik!" kata Ku pelan.
"Gw keterima di Al Azhar." katanya melompat dan memutariku.
"Apaan sih kaya anak kecil." kataku.
"Eh tapi itu seriusan Lu, kapan Lu daftar?" kata Ku.
"Yoi lah, pas waktu abis ulangan Gw langsung daftar tu dan di tes, Lu jan lupain Gw yaa minggu depan Gw berangkat." kata nya.
"Alhamdulillah kalo gitu, ya gak bakal lah, Lu kan cabat Gw dari kecil, kalo minggu depan bareng bang Rafan aja, Bang Rafan juga minggu depan berangkatnya." kata Ku.
"Selalu ingat kata Jalaluddin Rumi 'Pakailah kesyukuranmu seakan itu adalah jas pelindungmu. Niscaya syukur akan selalu memberi kepuasan di setiap aspek hidupmu.' okee" kata Acha.
__ADS_1
"Siap selalu ku ingat semua kata kata Jalaludin Rumi." kata Iki.
"Chaa?" teriak Uma diluar kamar.
"Udah turun turun, tar ketauan Uma, dikira macem macem lagi." kata Ku.
"Iye iye." kata Iki turun melalui tambang yang tadi iya naiki.
......................
"Cha copotin itunya." kata Iki di bawah Aku pun melepas besi dan tambang yang menyakut di pagar.
"Iya Uma." kata Ku membuka pintu.
"Kamu lagi ngomong sama siapa?" kata Uma.
Uma yang menengok sana sini, sedangkan Iki nyumput di bawah pot besar.
"Hah? Nggak kok Uma hehe." kata Ku.
"Gara gara lu Iki gw pertama kalinya bohong ke Uma." batin Ku.
"Owh yaudah, udah adzan isya tuh, Kamu shalat abis itu istirahat kayanya Kamu kecapean ya." kata Uma mengelus kepala Ku.
"Iya Umaa." kata Ku.
......................
Uma pun pergi dan Aku segera shalat isya, setelah selesai shalat Aku berdzikir sebentar, anggap saja proses pendekatan diri Ku terhadap sang pemilik hati.
......................
__ADS_1
"Cha.. Achaa, sayang kemari." teriak Abi di bawah.
"Iyaa Bi, ada apa." kata Ku yang berlari menghampiri Abi.