MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 95


__ADS_3

"Menurut Ibnu Abdil Bar, Ali bin Abi Tholib menikahinya setelah Perang Uhud. Kemudian Fatimah melahirkan Hasan dan Husein, Muhsinan, Ummi Kultsum, dan Zainab.


Ali berkata, "Aku menikahi Fatimah, sementara Kami tidak mempunyai alas tidur selain kulit domba untuk kami tiduri di waktu malam dan kami letakkan di atas unta untuk mengambil air di siang hari. Kami tidak mempunyai pembantu selain unta itu."


Dan malam harinya setelah dihalalkan oleh Allah subhana wata'alaa, terjadilah dialog yang sangat menggetarkan. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah keduanya menikah, Fatimah berkata kepada Ali, “Maafkan Aku, karena sebelum menikah denganmu, Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta kepada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya,”


Ali pun bertanya mengapa ia tak mau menikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya.


Sambil tersenyum Fatimah menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu.”


"Maa Syaa Allah, itu adalah pujian terbaik dari seorang istri yang bisa membahagiakan hati suaminya." kata Acha.


"Maa syaa Allah, maa syaa Allah." ucap semuanya.


"Ali dan Fatimah saling mencintai karna Allah mereka mencintai dalam diam, menjaga cintanya dan Allah satukan dalam ikatan suci pernikahan Maa Syaa Allah." kata Acha.


"Takbir." kata Gilang lantang.


"Allohu akbar." ucap semua.


"Birbir takbir." kata Acha.


"Allohu akbar, Allohu akbar, Allohu akbar." ucap semuanya.


"Semoga Allah subahana wata'alaa mempertemukan kita semua dengan orang yang sunguh-sunguh mencintai kita seperti Fatimah dan Ali, Aamiin Yaa Robbal Alamiin." kata Acha.


"Aamiin Yaa Allah." ucap semuanya.


"Iya Aamiin yaa Allah, paling serius." kata Cilla.


"Oke lanjut ya." kata Acha.

__ADS_1


"Ketika Rasulullah sholallohu 'alaihi wasalaam menikahkan Fatimah, Beliau mengirimkan seekor unta, selembar kain, bantal kulit berisi ijuk, dua alat penggiling gandum, sebuah timba dan dua kendi.


Fatimah menggunakan alat penggiling gandum itu hingga melecetkan tangannya dan memikul qirbah (tempat air dari kulit) berisi air hingga berbekas di dadanya.


Walau merupakan putri manusia termulia, namun Fatimah tak memiliki seorang pelayan. Ia mengerjakan sendiri semua urusan rumah tangganya."


"karena jika istri mengerjakan pekerjaan rumah, maka istri akan mendapat pahala, jadi untuk para akhwat kalo sudah menikah, kita harus mengerjakan pekerjaan rumah mengurus keluarga harus dengan ikhlas, supaya bukan cape yang terasa tapi rasa nikmat, kita tanamkan prinsip hidup itu harus di jalani, nikmati, dan syukuri, maka kehidupan yang bahagia itu akan selalu muncul, serahkan semua kehidupan hanya kepada Alloh, ada masalah besar kita jangan ngadu ke Alloh 'yaa Alloh saya memiliki masalah besar' jangan sampe kaya gitu, seharusnya kita mengatakan 'wahai masalah besar sesungguhnya aku memiliki Allah yang maha besar' selalu di ingat." kata Acha


"Kembali ke topik." kata Acha.


"Kaum muslim merasa gembira atas perkawinan Fatimah dan Ali bin Abi Thalib, setelah setahun menikah lalu dikaruniai anak bernama Al-Hasan dan saat Hasan genap berusia 1 tahun lahirlah Husein pada bulan Sya’ban tahun ke 4 hijriyah. pada tahun ke 5 hijriyah ia melahirkan anak perempuan bernama Zainab dan yang terakhir bernama Ummu Kultsum.


Menjelang wafatnya Rasulullah sholallohu 'alaihi wasalaam dan sakitnya bertambah berat, Fatimah berkata, "Alangkah beratnya, wahai Ayah."


Nabi sholallohu 'alaihi wasalaam menjawab, "Tiada kesusahan atas Ayahanda sesudah hari ini."


Pada saat Nabi sholallohu 'alaihi wasalaam wafat, Fatimah merasa amat sedih dan menangis sambil berkata, "Wahai ayahku, kepada Jibril kami sampaikan berita duka ini. Wahai ayahku, semoga Allah mengabulkan semua permintaan. Wahai ayahku, hanya surga Firdaus tempat yang layak."


Fatimah Az-Zahra wafat sekitar 15 bulan setelah wafatnya Rasulullah sholallohu 'alaihi wasalaam. Ia telah meriwayatkan 18 hadits dari Nabi sholallohu 'alaihi wasalaam . Di dalam "Shahihain" diriwayatkan satu hadits darinya yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim dalam riwayat Aisyah. Hadits dari Fatimah juga diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Majah dan Abu Dawud."


"Wallahu'alam bishowab, Acha undur kurang lebihnya mohon di maafkan wasalaam, assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh." kata Acha yang air matanya mengalir deras.


"Wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh." jawab semua menangis.


"Maa syaa Allah, syukron jazakillah khoir Acha, sangat menginfirasi, ijin menambahkan sedikit." kata Shilla.


"Sayyidah Fathimah azzahra adalah tauladan kita sebagai seorang muslimah, dan beliau juga adalah penghulu kaum wanita di surga, dan beliau dikunyahi Ummu Abiha, karena Pada usia yang masih sangat belia Fathimah Azzahra harus berpisah dengan ibundanya yang tercinta.


Khodijah wanita suci yang selalu mendampingi Nabi sholallohu 'alaihi wasalaam dalam suka dan duka telah dipanggil pencipta untuk selama lamanya.


Nabi sholallohu 'alaihi wasalaam bersedih atas kepergian istri yang teramat dicintainya, begitu pula Fatimah turut dalam kesedihan yang teramat sangat. Sepeninggal Khodijah perhatian Fathimah kepada ayahnya semakin bertambah. Peran ibundanya sekejap ia letakkan diatas pundaknya. Fathimah berupaya menghibur ayahnya atas kepergian sang istri tercintanya.

__ADS_1


Ketika Nabi sholallohu 'alaihi wasalaam di Thaif, sekelompok anak anak kecil dan juga orang dewasa berlomba menimpuki Nabi sholallohu 'alaihi wasalaam dengan batu dan kotoran unta, Fathimah yang masih sangat belia tampil dengan perangai seorang ibu yang cemas dengan putranya. Dibersihkan kotoran dan darah yang berada pada pada wajah ayahnya.


Air mata nabi tak mampu beliau sembunyikan ketika melihat putri tercintanya, seorang anak yang sepatutnya sedang asyik bermain dengan teman seusianya sekarang justru berada dipangkuan ayahnya, menghalangi siapapun yang akan melukai rasulnya.


Fathimah pun menangis melihat keadan ayahnya, dengan suara bergetar penuh keharuan nabi sholallohu 'alaihi wasalaam menyeka tiap butiran air mata yang mengalir dipipi mungil putrinya sambil berkata, 'habibati Fathimah la tabki', 'belahan jiwaku Fathimah janganlah engkau menangis'. Begitulah ucapan Nabi ketika tangan suci putrinya menyeka darah yang mengalir dikeningnya." jelas Shilla dengan lirih.


Semuanya tak bisa menahan tangis, Shilla berusaha menahan tangis dan meneruskan penjelasan.


"Ummu Abiha, ibu dari ayahnya adalah gelar yang Rasulullah peruntukkan kepada putrinya. Satu satunya gelar yang belum pernah ada dalam sejarah kecuali untuk Fathimah Azzahra as.


"Duka dan kesedihan selalu mengiringi kehidupan keluarga nabi sholallohu 'alaihi wasalaam , akan tetapi Fathimah senantiasa menyembunyikan kedukaannya selama sang ayah berada disampingnya.


Kecintaan assayyidah Fathimah begitu tinggi terhadap ayahnya dan begitu pula Rasul sholallohu 'alaihi wasalaam, kepada putrinya hingga beliau bersabda, “Fathimah adalah belahan jiwaku, siapapun yang mencintai Fathimah berarti dia mencintaiku*."


"Shollu 'alaih." ucap semua.


"Maa syaa Allah banget ya semoga Kita bisa menyayangi melindungi membahagiakan yang terutama berbakti kepada kedua orangtua kita sepenuh jiwa aamiin," kata Shilla.


Dan tangisan itu menjadi jadi.


"Aamiin, Allohumma sholli 'alaa sayyidina muhammad." kata semua menangis.


Muslim mana yang tidak menangis mendengar kisah keluarga Rasulnya, pasti semua Muslim akan menangis jika mendengarkan kisah perjuangan Rasulnya.


"Hufht astaghfirullohal 'adziim." kata semuanya mengatur nafas dan mengulang ulang kalimat itu.


"Oke lanjut yaa, jangan nangis lagi, tahan dulu nangis nya, silahkan Ririn." kata Shilla tersedu sedu.


"Na'am kak." kata Ririn.


Ririn pun maju ke depan.

__ADS_1


happy reading maafkan segala kekurangan cerita dari author


__ADS_2