MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 154


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, ting nong bel berbunyi, tidak ada sautan dari dalam Liani dan anak-anak berdiri di luar menunggu dibukakan pintu, setelah berkali-kali menekan tombol bel Liani mencoba mengetuk pintu, "Assalamu'alaikum? " ucap mereka semua.


Pintu yang diketuk Liani sedikit terbuka, "Nggak dikunci? kalo tau nggak dikunci mah udah masuk dari tadi." gumam Liani membukakan pintu, "Kalian masuk duluan." kata Liani, anak-anak pun berhamburan masuk.


Anak-anak yang sudah masuk langsung berbalik badan dan menutup matanya, Liani hanya keheranan melihat tingkah mereka, "Ada apa?"


Anak-anak menunjuk kearah belakang, Liani mengikuti arah tangan mereka, terlihat didepan matanya ada Muza dan Acha yang sedang duduk tertidur, disofa Acha tertidur didekapan Muza, Liani hanya terkekeh, dan langsung membangunkan Acha dan Muza, "Assalamu'alaikum? " bisik Liani ke telinga Muza.


"Wa'alaikumussalam warohmatulloh." kaget Muza yang membuat Acha pun ikut terbangun.


Acha dan Muza hanya memerhatikan keadaan sekitar, terlihat anak-anak yang sedang memunggungi mereka dan di pinggirnya terlihat Liani yang sedang menahan tawa, "Astaghfirulloh Dek, kok kesini nggak bilang-bilang." kata Muza.


Liani menyipitkan matanya, "Um perasaan Azam udah bilang kesini." kata Liani.


"Iya, tapi kan katanya udah dzuhur kesininya." kata Muza.


Liani hanya mengisyaratkan melihat kearah jam, Acha dan Muza mengikuti lirikan liani, Acha dan Muza membulatkan mata dan kemudian saling menatap, "Astaghfirulloh jam satu?" ucap Muza dan Acha.


"Ibu guru kami boleh berbalik?" kata Naura.


Acha dan Muza terkekeh, "Ya boleh dong." kata Muza.


Anak-anak langsung berbalik, "Jadi apa yang harus kami bantu." kata Azam.


"Kalian duduk dulu aja, Ibu mau sholat dulu." kata Acha diangguki mereka.


"Li bawain air, mau sholat." kata Acha.


"Tuh kan, iya-iya, idah cepet sholat aja." kata Liani.


Acha nyengir kuda, "Makasih ya, maafin." kata Acha sembari mengejar langkah Muza.


Setelah selesai sholat berjama'ah, Acha dan Muza bergegas berkumpul bersama mereka di ruang tamu.


Mereka langsung membersihkan bagian rumah yang belum di bersihkan, atas bantuan anak-anak dan Liani beberapa menit kemudian rumah sudah bersih dan rapih.


Setelah itu mereka langsung berkumpul kembali diruang tamu, Acha pergi mengambil makanan ringan yang disimpan dilemari es, "Alhamdulillah akhirnya dalam sekejap rumah jadi bersih dan rapih." kata Acha menghampiri dengan membawa makanan ringan, Acha membuka kemasan makanan ringan dan menaburkan ke piring "Ayo dimakan."


Anak-anak terlihat gembira, "Asik dimakan ya Bu." kata Mereka, Acha mengangguk tersenyum, "Iya jangan lupa abisin."


Anak-anak mengangkat jempol, "Beres Bu."


"Iki kemana Li?" kata Muza.


"Disuruh gantiin Abi rapat." kata Liani.

__ADS_1


"Abi siapa?" kata Muza.


Liani membuang nafas pasrah, "Ya abinya Iki lah." kata Liani.


"Owh." kata Muza.


Perbincangan dan canda tawa hangat terjadi dan memenuhi keheningan ruangan, beberapa jam kemudian adzan ashar pun berkumandang, "Alhamdulillah." ucap mereka semua.


Liani dan anak-anak langsung melangkah keluar, "Yaudah lah kami pamit." kata Liani.


Acha dan Muza mengikuti sampai pintu depan, "Makasih ya semuanya." kata Acha.


"Iya Ibu guru." ucap anak-anak.


Anak-anak melambaikan tangan, "Dah, assalamu'alaikum."


Acha dan Muza membalas, "Wa'alaikumussalam." ucap Acha dan Muza.


Setelah punggung anak-anak terlihat sudah menjauh Acha dan Muza langsung masuk kedalam dan melaksanakan sholat berjama'ah.


Setelah selesai sholat mereka berdua langsung menjatuhkan tubuh ke kasur, "Hufth...akhirnya selesai juga." kata Acha yang memandangi langit-langit kamar.


Muza melirik ke arah Acha, "Iya, eh Uma katanya mau kesini, coba video call Yang." kata Muza.


Acha mengerjitkan kening, "Yung Yang Yang Yang." kata Acha yang langsung mengambil ponsel di saku gamisnya.


Acha melirik ke arah Muza, "Kalo nggak kenapa?"


"Terus saya harus panggil kamu apa? Umi?" kata Muza.


Acha langsung beranjak duduk dan sedikit mendekati Muza, "Iya Abi." bisik Acha terkekeh.


Anggap saja ini bukan kisah cinta seorang wanita yang berjuang mencari arti cinta yang sesungguhnya, tapi sebuah coretan kisah kehidupan tentang bagaimana rasa pahit bisa berubah menjadi rasa manis ketika kita berharap dan yakin kepada Alloh.


Satu tahun berlalu, dalam pernikahannya Acha dan Muza belum dikarunia seorang anak, tapi mereka tetap sabar dan selalu meminta pada Sang Maha Kholiq yaitu Alloh subhanawata'alaa.


Suara tangis bayi memenuhi keheningan ruangan, Muza menggendong seorang bayi yang berjenis kelamin perempuan Muza sangat bahagia dan memeluk bayi itu.


Acha yang sedang memandangi wajah teduh Muza yang sedang tertidur pulas dengan meletakan kepala diatas meja kerjanya, "Kenapa Bang Ustadz senyum-senyum, mimpi apa sampai bahagianya kebawa kealam sadar." gumam Acha sembari mengusap-usap brush pada hidung Muza.


Muza langsung terbangun dan mendapati wajah Acha dihadapannya, Muza memperjelas penglihatannya yang masih mengantuk, "Astaghfirulloh Sayang, ngagetian aja." kata Muza.


Acha tersenyum, "Tadi Abi mimpi ya, mimpi apa sampe bahagianya kebawa ke alam sadar?"


Muza terdiam mematung mencari alasan, "Masa iya sih?" kata Muza diangguki Acha, "Um nggak mimpi apa-apa." kata Muza.

__ADS_1


Acha mencolek hidung Muza, "Bohong, hidung nya tuh ngepanjangan." kata Acha melangkah dan duduk ke ranjang dengan cemberut.


"Kalo aku cerita mimpi punya anak, aku takut Acha kesinggung, aku tidak mau kalo Acha bersedih." batin Muza.


Muza langsung menghampiri Acha, Muza berjongkok di depan Acha, "Kamu marah?"


Acha hanya melirik Muza, dan memalingkan wajah kembali, Muza memegang lembut tangan Acha, "Iya aku bakal cerita, tapi kamu jangan sedih dan jangan kesinggung." kata Muza mengelus-elus tangan Acha.


Acha membulatkan mata, "Apa kamu mimpiin wanita lain?"


Muza mengerjitkan keningnya, "Astaghfirulloh bukan."


Acha masih memalingkan wajah, "Terus apa?"


Muza menmbuang nafas dan tertunduk, "Aku mimpi gendong anak kita." kata Muza.


Mendengar itu Acha langsung tertunduk dan bersedih, "Maafin aku."


Muza segera duduk disamping Acha dan memeluknya, "Eh kenapa kok nangis?" kata Muza menghapus air mata Acha.


Acha tertunduk bersedih, "Karena aku belum bisa memberi keturunan dan melengkapi keluarga kecil kita."


"Jangan nangis yah kan itu cuma mimpi." kata Muza mencubit pipi Acha.


"Sekarang tidur yah udah larut malam." kata Muza membaringkan Acha dan menyelimuti Acha dengan selimut tebal, Muza mengecup kening Acha, "Selamat malam."


Acha tersenyum tipis, "Selamat malam kembali."


Muza langsung berbaring disamping Acha, dzikir demi dzikir pun diucapkan dan mereka pun langsung masuk kealam mimpi.


Ke-esokan harinya, Muza yang sudah rapih dan hendak pergi ke kantor Ilham, Acha langsung mencium punggung tangan Muza, dan Muza mengecup kening Acha, "Assalamu'alaikum jaga diri baik-baik" kata Muza diangguki Acha, Muza langsung melangkah keluar.


"Wa'alaikumussalam, hati-hati." kata Acha yang mengikuti Muza sampai depan pintu.


Melihat ke lemari es sayuran sudah tidak ada, terdengar tukang sayur sudah memanggil, "Yur, sayur, bu Acha sayur." kata tukang sayur yang membunyikan mangkuk dengan sendok.


Acha bergegas keluar dan membuka gerbang, terlihat tukang sayur sudah di depan rumah, Acha segera membeli sayur yang diperlukan, terdengar hosip sebagian ibu-ibuvyang sedang memilih milih sayur, "Iya bilang ke istrinya ada urusan keluar kota pulang-pulang bawa yang muda lagi hamil." ucap salah satu pembeli.


Acha hanya mengerjitkan mendengar itu, "Iya harus hati-hati kita sekarang sama kata modus suami, iya 'kan bu?" kata salah satu pembeli menepuk lengan Acha, Acha hanya membalasnya dengan senyuman, "Ini berapa bang." kata Acha.


"30 ribu aja." kata tukang sayur.


Acha langsung memberikan uang sejumlah 50 ribu dan seyelah mendapat kembalian Acha langsung pamit, "Saya duluan ya Bu." kata Acha tersenyum.


"Iya." kata Mereka.

__ADS_1


Acha segera melangkah sedikit cepat memasuki gerbang rumah dan langsung masuk kedalam rumah.


__ADS_2