MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 72


__ADS_3

Dua minggu kemudian dimana hari patah hati satu pondok pun terjadi yaitu hari pernikahan Ustadz Rayis.


Banyak Santriwati yang menyanyi hanya satu kalimat "harusnya Aku yang disanašŸŽµ"


"Huaa sedih di tinggal nikah." rengek Cilla.


"Dihh apaan sih Cill." kata Liani dan teman temannya terkekeh melihat tingkah Cilla.


Acha yang tersenyum melihat sepasang pengantin berdampingan bahagia.


"Cinta itu bukan sesuatu yang bisa dibeli cinta itu fitrah, sebuah rasa yang Allah berikan pada semua manusia, agar manusia saling memberi kasih sayang satu sama lain, cinta itu bukan tentang perjuangan Kita lakukan, tapi pengorbanan Kita untuk kebahagiaan orang yang Kita cinta, sekarang Aku sangat mengerti bahwa cinta tidak harus memaksa agar dia menjadi milik kita, cinta itu butuh pengorbanan bukan ke egoisan, tiada kata cemburu dalam cinta, tiada kata curiga dalam cinta, tiada pertanyaan dalam sebuah keputusan, dan kalo ingin cinta kuat dan abadi taruh lah keyakinan dan kepercayaan terhadap cinta itu, Aku sangat yakin kepada cinta dan takdir mu Yaa Robb, Aku percaya tiada keputusan Mu yang merugikan hambanya, hanya manusianya saja yang sering berperasangka buruk pada Mu karena tidak berpikir dengan cinta, manusia hanya berpikir karena nafsu, mereka di beri bahagianya 360 hari dikasih kesedihan 5 bilangnya Ini semua tidak adil kesedihan selalu datang, lantas bagaimana dengan kebahagiaan selama 360 itu? Sungguh dimana rasa syukur manusia, andai semua manusia memahami cinta Allah pada Makhluknya, maka rasa syukur akan ada dan keluhan akan sirna, dulu memang Aku sering mengeluh dan mengharapkan manusia terlalu lebih, tapi sekarang atas ijin Mu hamba mengerti tentang cinta yang sesungguhnya, cinta abdi dan sejati adalah cinta Tuhan kepada makhluknya, dan cinta makhluk kepada Tuhannya, istiqomahkan cinta hamba hanya untuk mu yaa Robb." batin Acha.


"Atas ijin Allah, sungguh hati ini yang paling bahagia melihat kebahagiaan ini, tiada rasa kecewa dan sakit hati." kata Acha.


"Iyaa Cha itu lah niqmat mencintai dan mendekatkan diri pada Allohu Robbi, berharap pada Nya tidak akan ada kecewa." kata Liani, Acha dan Liani pun tersenyum satu sama lain.


'Yesterday is gone and its tale told, today new seeds are growing (Hari kemarin telah berlalu dan ceritanya sudah diceritakan, hari ini benih-benih baru tumbuh.)'


ā¤Jalaluddin Rumiā¤


...----------------...


Satu tahun kemudian dimana angkatan Shilla yang sudah menyelesaikan sidang dan akan wisuda besok.


Di grup chat shohibah lillah.


(Shohibah gimana besok mau dateng kewisuda kak Shilla?) Acha.


(Aku sih mau lah Cha, kan Bang Muza juga wisuda) Liani.

__ADS_1


(Cilla gak bisa kayanya, udah pulkam soalnya) Cilla.


(Huu ngebet aja libur langsung pulkam) Acha.


(Yang lain gimana nih) Liani.


(Puput juga udah di rumah nenek, jauh kalo kesana) Putri.


(Pengen😭 tapi gak bisa suruh jagain adek🤧) Rasi.


(Wih kayanya udah jadi ibu ibu rumah tanggašŸ˜‚) Acha.


(Ririn gak bisa, bunda lagi sakit soalnya, ini lagi di rawat, minta do'a nya mentemen) Ririn.


(*S*yafakillah) pesan dari semua anggota.


Percakapan pun berakhir.


...****************...


Ke esokan harinya Acha dan keluarga Liani menghadiri wisuda.


"Wihh yang udah lulus nih." ledek Liani.


"Emang temen sekamar Kalian gak ikut ke sini?" kata Muza.


"Nggak Kak udah pada pulang kampung." kata Acha.


"Iya padahal meet dulu sebelum libur panjang." rengek Liani.

__ADS_1


"Congrat yaa Kak." kata Acha.


"Na'am syukron." kata Muza.


"Eh iya selamat ya Bang, ciee jadi mahasiswa terbaik, dapet julukan Ustadz nih." kata Liani.


"Dan pasti Abang juga ngajar di kelas Liani dong, jafi kalo Abang ngasih tugas Liani tinggal nanya." goda Liani dan Muza hanya terkekeh mendengar Liani.


"Ihh Abang orang serius juga." cemberut Liani.


"Iya iya segimana Kamu aja." kata Muza terkekeh.


"Ki Abi bangga sama Kamu." kata Iham memeluk dan Muza tersenyum memeluk balik.


"Banget… ternyata ada penerus Abi nya." kata Silfa terkekeh.


"Eh nak terus Kamu mau pulang apa gimana." kata Silfa.


"Iya Mi pulang tapi besok kalo gak lusa, Soalnya ada urusan dulu Mi." kata Muza.


"Yaudah Nak Kami pulang duluan, Umi tunggu kepulangan Kamu." kata Silfa.


"Iyaa, fi amanillah." kata Muza mencium tangan Umi dan Abinya, Liani dan Naila mencium tangan Muza.


Acha hanya menyatukan kedua tangan begitu pula Muza.


'Di manapun kamu, dan apapun yang kamu lakukan, teruslah mencinta.'


ā¤Jalaluddin Rumiā¤

__ADS_1


__ADS_2