MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 142


__ADS_3

Speaker masjid berbunyi mengumuman untuk melaksanakan sholat ghoib di masjid.


Di rumah Acha keluarga terdekat sedang mengaji.


Di kamar Acha masih menangis bersama Fathma.


"Uma ke bawah sebentar ya nak." kata Fathma diangguki Acha mata nya memerah.


"Tan Acha mana?" kata Liani.


"Di kamar Li, tolong temani Acha dulu, tante mau kebawah sebentar." kata Fathma diangguki Liani.


"Assalamu'alaikum?" ucap Liani masuk.


"Wa'alaikumussalam." jawab Acha dengan nada rendah.


"Cha?" kata Liani memeluk Acha.


Air mata terus mengalir dimata Acha.


"Cha udah dong, jangan nangis aja." kata Liani.


Acha hanya terdiam melamun dengan air mata yang terus mengalir.


"Cha hey, Cha!" tangis Liani menyadarkan.


Acha hanya melirik Liani dengan tatapan kosong.


"Istighfar ya Cha, astaghfirullohal 'azhiim." kata Liani mendekap Acha.


Semua kenangan bersama Mufid terlintas di ingatan Acha.


"Yaa Mufid Sholehuddin Ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka Meiza Raudatul Fathima binti Qayyis Al Mustam alal mahri majmuat min adwatash sholat hallan." Ucap Qayyis.


"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq." ucap Mufid.


"Sah." ucap para saksi.


......................


"Saya tidak bisa memaksakan hak saya, sedangkan di dalam hati kamu tidak ada cinta untuk saya, saya tahu didalam hati kamu masih ada Muza kan?"


......................


"Hu uh masih di depan ponsel, sarapan dulu." kata Acha membuang nafas kasar, dan merampas ponsel Mufid.


"Ih Cha balikin." kata Mufid.


"Nggak!" kata Acha.


"Balikin." kaya Mufid hendak merampas kembali.


"Nggak mau wle." kata Acha langsung melipat tangan kebelakang menyembunyikan ponsel.


......................


"Maafin kakak juga, kalo kakak belum menjadi imam yang baik untuk keluarga kecil kita, saya mencintai kamu Cha, walau kita berpisah itu hanyalah raga yang berpisah tapi jiwa kita tetap satu, jiwa saya akan selalu ada dihati kamu dan jiwa kamu akan selalu ada di hati saya." tangis Mufid.


Mengingat semua itu tangis Acha semakin menjadi jadi.


"Istighfar Cha, istighfar nggak baik nangisin orang meninggal, Acha tau kan Alloh membenci tangisan seorang mankhluk yang menangisi kematian seseorang." kata Liani.


Acha mengangguk menahan tangis.


"Yang sabar yah, banyakin do'a aja buat kak Mufid." kata Liani menghapus air mata yang membasuhi pipi Acha.


Acha pun menyenderkan kepalanya di bahu Liani, dengan setiao detik bibirnya selalu beristighfar.


Langit pun berubah menjadi gelap dihiasi bintang bintang, dan rembulan yang menerangi gelapnya malam, terlihat seekor kunang kunang melintas ke hadapan Acha dan langsung menuju ke kelompoknya menerangi kebun yang tak jauh dari rumah Acha.


Penomena itu mengingatkan masa masa kecil Acha bersama Mufid saat mereka berdua menikmati indahnya malam.


Flash back on


Di malam hari Acha dan Mufid sedang duduk di taman di bawah langit yang gekap dihiasi oleh bintang bintang dan bulan purnama, terlihat sekelompok kunang kunang sedang bermain di area persawahan.


"Liat tuh Cha ada kunang kunang." kata Mufid.


"Mana mana?" kata Acha.


"Tar yah." kata Mufid langsung menangkap kunang kunang.


"Ini dia..." kata Mufid.

__ADS_1


Mufid membuka kedua telapak tangannya yang tertutup, terbang lah kunang kunang yang di tangkapnya tadi dan langsung bersatu dengan kelompok nya.


"Yah kaka kenapa dilepas." kata Acha.


"Emang kenapa?" kata Mufid.


"Mau Acha masukin ke toples ini." kata Acha.


"Jangan lah kasian." kata Mufid.


"Ah kakak mah." rengek Acha dan langsung pergi.


"Uh cengeng, dasar bocil, awas aja kalo nanti kamu dewasa masih cengeng kaya gitu." teriak Mufid.


"Biarin." teriak Acha.


Flash back off


Acha tersenyum dan tertawa mengingat hal itu dan kemudian menangis kembali.


"Ini dia wedang jahe." kata Liani membawa 2 cangkir wedang jahe.


Liani yang melihat hal itu segera menghampiri Acha.


"Eh Cha kenapa? istighfar ya." khawatir Liani.


"Astaghfirullohal 'azhiim." rintih Acha.


"Hati kita begitu kecil, hampir tak terlihat, bagaimana kita bisa menempatkan kesedihan besar di dalamnya? Dengar, Dia menjawab, mata kita lebih kecil, namun mereka melihat dunia." kata Liani.


❤Jalaluddin Rumi❤


“Jangan bersedih atas segala sesuatu yang hilang darimu akan datang kembali dalam bentuk yang lain.”


Liani merangkul Acha dan membantunya duduk, mereka meminum wedang jahe, Acha melihat gelang yang sedang dipakai nya.


Falsback on


"Acha...Acha..." teriak Mufid yang mencari cari Acha di taman rumah.


"Cha di sini ternyata." kata Mufid.


"Eh ketauan deh." kata Acha nyengir kuda.


"Hah ulat?" kaget Acha.


Sontak Mufid langsung tertawa renyah.


"Kenapa?" kata Acha.


"Baru juga denger kata ulat langsung takut, gimana kalo ada beneran." kata Mufid terkekeh.


"Ih kak Mufid nih." rengek Acha.


"Ini buat kamu." kata Mufid memberikan sebuah gelang.


"Apa ini?" kata Shilla melihat lihat benda itu.


"Itu namanya gelang kaoka." kata Mufid.


"Owh gitu..." kata Acha yang memakai nya.


"Yah kak Mufid gimana sih, masa iya gelang selonggar ini di kasih ke Acha." kata Acha.


"Ya kan supaya gelangnya pas sampe Acha dewasa, kan nggak tau kapan kita bisa bertemu lagi." kata Mufid.


"Maksudnya nggak bakal ketemu lagi?" kata Acha heran.


"Kakak sekeluarga mau pindah ke provinsi lain Cha." jelas Mufid.


"Yah Acha di tinggal dong pokok nya Acha mau ikut." rengek Acha.


"Eh kan Acha nggak bisa bobo tanpa Uma, gimana Acha kalo ikut kakak mungkin Acha nggak bakal bobo tiap hari." kata Mufid.


"Iya yah, tapi..." kata Acha.


"Udah nanti kakak bakal kabarin Kamu terus." kata Mufid.


Flash back off


"Baru juga kami bersama setelah sekian lama berpisah dan sekarang kami terpisah untuk selamanya." kata Acha.


"Semua yang hidup di dunia ini bakal mengalami semua itu Cha pertemuan dan perpisahan, dunia ini fana dan akhirat itu kekal." kata Liani.

__ADS_1


"Iya Li." kata Acha yang kemudian meminum wedang.


"Sudah sholat witir?" kata Liani.


"Belum." kata Acha.


"Udah jam sepuluh, lebih baik kita sholat witir abis itu ngaji." kata Liani diangguki Acha.


Mereka segera mengambil wudhu dan melaksanakan sholat witir, kemudian dilanjut tadarusan.


"Acha dari juz satu sampe juz lima belas ya, Liani sisanya." kata Liani diangguki Acha.


Ayat ayat suci Al qur'an pun di lantunkan bersamaan sesuai pembagian juz tadi.


Bertepat pukul 01.00 pagi mereka pun selesai membaca Al qur'an.


"Shodaqollohul 'azhiim..." ucap Acha.


"Minnal jinnati wannaas, Shodaqollohul 'azhiim..." ucap Liani.


"Udah Cha?" kata Liani diangguki Acha.


Do'a pun di lantunkan.


"Udah mending bobo dulu." kata Liani.


Acha yang membaringkan tubuhnya di atas sejadah dan meletakan kepalanya di pangkuan Liani, Liani yang duduk di atas sejadah menyenderkan kepalanya ke ranjang, Liani yang mengusap usap kepala Acha tak terasa sudah tertidur.


Acha yang belum tidur, merubah posisi tubuhnya mencari tempat yang nyaman, dan setelah itu Acha pun tertidur.


Kring... pukul 03.00 pagi alarm berbunyi, terasa baru saja mata Acha terpejam dan kemudian terbangun kembali katena tidurnya pun tidak nyenyak.


Terdengar ayat suci Alqur'an di lantai bawah yang di lantunkan Rafan, Rojak, Qayyis, Rizki, dan Muza.


"Cha, kamu sudah bangun?" kata Fathma di depan kamar.


"Iya uma." kata Acha membuka pintu.


"Udah sholat tahajud?" kata Fathma.


"Belum Uma." kata Fathma.


"Yaudah sholat dulu, Liani belum bangun?" kata Fathma."


"Belum Uma kasian, baru tidur." kata Acha.


"Yaudah nanti jam 4 kamu bangunin takut nya mau sholat tahajud." kata Fathma.


"Iya uma." kata Acha.


"Yaudah uma ke kamar dulu yah." kata Fathma diangguki Acha.


Acha pun hendak menutup pintu tapi tak jadi melihat kehadiran Rizki.


"Liani udah bangun?" kata Rizki menghampiri.


"Belum." kata Acha.


"Ijin masuk ya." kata Rizki diangguki Acha.


Rizki bergegas menuangkan air ke telapak tangan.


"Eh Ki ngapain?" kata Acha.


"Syuutt." kata Rizki.


Rizki pun segera mencipratkan air ke wajah Liani, sontak Liani kaget dan langsung terbangun.


"Hujan..." kata Liani.


Acha yang mengingat hal itu dengan Mufid, Acha sontak tertawa Renyah.


Liani yang hendak marah pada Rizki, melihat Acha teryawa, akhirnya amarah nya terendam oleh tawa Acha, Liani dan Rizki pun saling menatap bahagia.


Acha yang menyadari pandangan mereka padanya, Acha langsung berhenti tertawa dan tertunduk.


"Eh kok murung lagi?" kata Liani.


Acha hanya menggeleng dan tersenyum tipis.


"Yaudah kalian cepet sholat tahajud ya." kata Rizki diangguki Acha dan Liani.


Rizki pun bergegas keluar dari kamar, Acha dan Liani pun langsung berwudhu dan melaksanakan sholat.

__ADS_1


__ADS_2