MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 26


__ADS_3

"Bukan Bang ini mah ruh nya." kata Liani sedikit kesal.


"Kayanya apinya udah membara." batin Ku dan nyengir kuda.


"Dih iyaa bener ruhnya, liat gak napak." ledek Ku lagi sambil menunjuk ke arah kaki nya.


"Ihh Abangg!" rengek kesal Nya.


"Eh udah udah tadi sama Naila sekarang sama Abangnya, cepet duduk dikursi masing masing." kata Abi menenangkan.


......................


"Gitu dong Li pake nya gamis, jangan celana mulu Kamu kan cewe, bukan nya abang larang Kamu, kan kalo pake gamis nanti Kamu sendiri yang merasakan kenyamanannya..." kata Ku yang sedang duduk berhadapan dengannya.


"Iyaa Bang iyaa, kan hijrah itu butuh proses." kata Liani.


"Udah udah, cepet makan." kata Abi.


Kami pun makan dan setelah selesai makan.


"Ki Kamu kapan kepondok?" tanya Abi.


"Besok Bi, emang kenapa?" kata Ku.


"Biar tar Kamu bareng Lili aja." kata Abi.


Terlihat Liani hanya mengerutkan kedua alisnya, seperti belum siap pergi mondok.

__ADS_1


"Owhh, emang Lili udah siap pergi besok?" kata Ku yang merasa Liani belum siap.


"Liani sih, bisa bisa aja Bang hehe." kata Liani nyengir kuda, dengan menatap ku kesal.


"Eh tapi Bi tadi Alki ketemu sama Shilla, katanya kalo besok pak Kiayi sekeluarga mau berkunjung ke keluarga jauh nya, kemungkinan santri putri disana juga belum pada ke pondok." kata Ku melirik Liani.


Liani yang melihat ke arah langit rumah dengan mengangkat kedua tangan dan mengusapkan ke wajah, Aku yang duduk didepannya dan Naila yang duduk disampingnya, Aku melirik ke Naila dan kami meniru gerakan Liani dengan tertawa kecil, dan Liani membulatkan matanya dan langsung tertunduk malu. Sedangkan Abi dan Umi menatap Kami heran.


"Seneng yaa Li wk." ledek Ku dan Liani hanya nyengir kuda sedangkan Abi hanya tersenyum menggeleng.


"Terus Alki ngapain besok mau kepondok?" kata Umi.


"Iyaa kata Shilla kemungkinan santri putra nya besok ada yang ke pondok, makanya Alki selaku ketua pengurus pondok, di amanahin sama pak Kiayi besok kepondok." kata Ku.


"Ouhh gitu." kata Umi yang merapihkan meja makan.


Suara bel rumah berbunyi menandakan ada yang berkunjung.


"Assalamu'alaikum?" kata seseorang pria separuh baya di depan pintu.


Liani dan Nay pun langsung lari kekamar, kebiasaan Nya kalo ada yang bertamu langsung masuk kamar apalagi kalo cowo yang bertamu.


"Yuk Nay kita keatas." ajak Liani, dan Naila hanya mengangguk menyetujui dan mereka pun langsung ke atas yang langkah demi langkahnya menaiki tangga.


"Wa'alaikumussalam warohmatullah." kataku, Umi dan Abi.


"Biar Alki aja Mi." kataku yang menghentikan Umi.

__ADS_1


Umi tersenyum dan mengangguk.


......................


Aku pun membuka pintu, terlihat pria paruh baya yang mungkin seumuran Abi, dan badan tinggi tegap membawa tas kerja ditangannya dengan bola mata yang coklat mata, mata sedikit sipit, hidung mancung, bibir tipis yang membuatku teringat wajah seseorang tapii entah siapaa.


"Wa'alaikumussalam, selamat siang pak ada yang bisa saya bantu?" kata Ku ramah.


"Nak apa benar ini rumah kediaman Pak Iham?" katanya ramah.


"Siapa Nak?" kata Abi yang menghampiri Kami.


"Qayyis? Yaa Allah sudah bertahun tahun Kita gak ketemu." kata Abi dan memeluk nya.


"Iyaa sobat, saya baru tau alamat Kamu, udah lama nyari nyari." kata pak Qayyis.


"Ini Alki?" katanya.


"Iyaa pak." kataku sambil mencium tangan nya.


"Yaa Allah udah besar, dulu pas terakhir ketemu usia kamu masih 12 tahunan." kata pak Qayyis mengelus elus kepala Ku.


"Iyaa Kita kan gak ketemunya udah 8 tahunan, masuk masuk." kata Abi.


......................


Kami pun masuk

__ADS_1


"Yaa Allah Ustadz Qayyis, gimana kabarnya?" kata umi dengan menyatukan kedua tangan nya.


__ADS_2