MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
138


__ADS_3

Rizki mersama kedua orang tuanya bersiap siap ke rumah Liani dengan membawa berbagai bingkisan.


"Assalamu'alaikum?" ucap Acha.


"Wa'alaikumussalam warohmatulloh, eh nak Acha kebetulan." kata Hilwa.


"Um mau ke rumah Liani ya? Ikut dong." kata Acha diangguki Hilwa.


"Yes." kata Acha langsung memasuki mobil.


Mereka pun segera memasuki mobil, dan mobil pun di lajukan.


Sesampai nya di rumah Liani,erela di sambut hangat, beberapa jam kemudian.


"Baiklah kami pamit." kata keluarga Iki.


Mereka pun di antar kan sampai depan rumah.


"Assalamu'alaikum." ucap mereka pergi.


"Wa'alaikumussalam hati hati." jawab keluarga Liani.


Mobil pun di lajukan dengan cepat


"Cie yang 1 bulan lagi nikah." ledek Muza.


"Apaan sih bang." kata Liani tertunduk malu.


"Eh udah ah jangan goda adik nya terus dong, kamu kapan nikah." ledek Silfa.


"Tau..." kata Liani.


"Akan ada waktunya." kata Muza.


"Yaudah ah ayo masuk." kata Silfa merangkul Muza dan Liani.


......................


Teng teng... notip pesan.


"Bang Muza?" batin Acha.


"Siapa Cha, si pengagum rahasia ya..." ledek Rizki.


"Ih a..apaan bukan kok." kata Acha.


Acha pun segera membuka pesan WA dari Muza.


(Assalamu'alaikum Cha?).


(Wa'alaikumussalam, ada apa ya ustadz?) balasan dari Acha.


(Besok kamu sibuk gak?).


"Aduh kok dag dig dug gini ya." batin Acha mengigit jari.


(In syaa Alloh nggak ustadz.) balasan Acha.


(Bisa kita bertemu?)


"Aduh sumpah panas dingin, bales apa coba." batin Acha.


"Gimana ya?" gumam Acha.


(In syaa Alloh bisa ustadz.) balas Acha.


(Oke syukron, saya tunggu jam 9 pagi di taman komplek, tenang saja saya bawa Liani kok.)


(Na'am ustadz.) Balas Acha.


Mobil pun terhenti di halaman rumah Rizki.


"Acha pulang ya." kata Acha.


"Nggak mau main dulu apa?" kata Hilwa.


"Nggak tante, yaudah Acha permisi, assalamu'alaikum." kata Acha mencium tangan Hilwa.


"Wa'alaikumussalam hati hati." kata Hilwa.


"Iya tante, dah." kata Acha langsung berlari.


Sesampai nya di halaman rumah Acha bergegas masuk.


"Assalamu'alaikum?" ucap Acha masuk rumah.


Acha segera menghampiri dan mencium tangan Fathma bulak balik.


"Wa'alaikumussalam, abis dimana Cha?" kata Fathma.


"Abis anter Iki khitbah Liani." kata Acha.


"Alhamdulillah, terus kamu kapan ada yang khitbah nya?" kata Fathma.


"Ah Uma mah, nanti juga ada waktunya, yaudah Acha kekamar ya." kata Acha berlari.


"Iya." kata Fathma yang memandangi langkah demi langkah putri nya.


Acha pun segera menjatuhkan badan nya ke kasur.


"Serasa pengen cepet cepet besok deh." gumam Acha.


Matahari pun perlahan menenggelamkan dirinya, malam pun tiba.


Acha bergegas ke bawah untuk makan malam bersama Uma dan Abi nya.


"Maa syaa Alloh besok? Oke ane tunggu." kata Qayis sedang menelpon.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam warohmatulloh." ucap Qayyis.


"Ustadz Rojak ya, ada apa Bi?" kata Fathma menuangkan air untuk Qayyis.


"Itu Ma... eh Acha sini makan nak." kata Qayyis menyadari keberadaan Acha.


"Tadi abi telponan sama ustadz Rozak?" kata Acha langsung duduk.


"Iya nak kata nya besok mau silaturahmi ke sini, kamu jangan kemana mana ya." kata Qayyis.


"Yah tapi Acha besok ada janji." kata Acha.


"Janji sama siapa?" kata Qayyis.


"Sama ustadz Muza, sama Liani juga." kata Acha.


"Owh yaudah tapi sebentar aja." kata Qayyis.


"Iya Bi, makasih." kata Acha.


Makan malam pun selesai.


"Yaudah lah Acha mau ke kamar." kata Acha.


"Udah Sholat isya nak?" kata Fathma.


"Udah dong Uma." kata Acha.


"Selamat malam, semoga mimpi indah." kata Qayyis dan Fathma.


"Selamat malam kembali, semoga mimpi indah juga." kata Acha.


Langkah demi langkah Acha lun memasuki kamar.


Acha segera membaringkan tubuhnya ke kasur, di setiap detik nya bibir Acha selalu berdzikir, dan akhir nya tak tersadar acha sudah memasuki alam mimpi.


Sinar mentari memberikan cahayanya perlahan menelusuri alam semesta.


*Acha sedang membantu sang Uma memasak di dapur, karena akan ada tamu istimewa bagi abi.


"Jam setengah sembilan*." batin Acha.


"Kenapa Cha?" kata Fathma menyadari putrinya yang dari tadi memandang jam.


"Acha ada janji jam 9 Uma." kata Acha.


"Owh yaudah kamu siap siap." kata Fathma.


"Beneran Uma?" kata Acha.


"Iya sayang." kata Fathma.


"Makasih uma." kata Acha.


Acha pun segera berlari ke kamar untuk bersiap siap.


Langkah demi langkah nya menuruni tangga.


"Maa syaa Alloh putri abi cantik sekali hari ini." kata Qayyis.


"Makasih abi, yaudah Acha pamit Assalamu'alaikum." kata Acha mencium tangan Qayyis.


"Wa'alaikumussalam, hati hati nak." kata Qayyis.


"Iya abi." kata Acha yang langsung berlari.


Brugh...


Acha yang menabrak seseorang.


"Aduh, kalo jalan hati hati dong." keluh Acha.


"Eh afwan Cha, kakak nggak sengaja, kamu nggak papa kan." khawatir Mufid.


Pandangan mereka saling bertemu.


"Eh na'am kak, nggak papa." kata Acha menyatukan tangan.


"Assalamu'alaikum?" ucap Rojak.


"Wa'alaikumussalam." sambut Qayis menghampiri.


Mereka pun berpelukan.


"Wah calon mantu sudah cantik, mau kemana?" kata Rojak.


Acha hanya menganggap kata Rojak itu sebuah candaan, karena dari dulu kalimat itu yang sering dilontarkan Rojak kalo bertemu Acha.


"Acha mau keluar dulu, ada janji, ya sudah Acha pamit ya assalamu'alaikum semuanya." kata Acha menyatukan tangan.


Acha pun segera pergi berlari.


"Wa'alaikumussalam, hati hati." kata mereka.


"Janji apa? sepertinya penting sekali." gumam Mufid.


"Ada janji sama Ustadz nya." kata Qayyis yang mendengar gumaman Mufid.


"Mari masuk." kata Fathma menyatukan kedua tangan.


Mereka pun segera masuk dan duduk di sofa.


......................


Hufth... Acha menatur napas.


"Assalamu'alaikum?" ucap Acha ngos ngosan.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam warohmatulloh." jawab Muza dan Liani.


"Kenapa Cha kaya abis lari lari aja." kata Liani terkekeh.


"Emang abis lari Liani." kata Acha.


"Yaudah duduk duduk." kata Liani.


"Saya setelah mebicarakan ini saya harap kamu tidak marah." kata Muza.


"Membicarakan apa ya ustadz?" kata Acha bingung.


"Saya mau jujur sama kamu, kamu pernah menerima surat dari si pengagum rahasia kan." kata Muza diangguki Acha.


"Itu saya Cha, saya sudah mantap memilih kamu, dan saya akan segera menemui orang tua kamu Cha." kata Muza.


"Jika memang ustadz benar benar serius, temui orang tua Acha saat ini juga." kata Acha.


"Baik lah saya siap." kata Muza.


Mereka pun segera kerumah Acha.


......................


"Gimana apa mau menerima lamaran dari kami?" kata Rojak.


"In syaa Alloh kami menerima nya." kata Qayyis.


Deg!


Langkah Acha dan Muza pun terhentikan setelah mendengar itu mereka berdua hanya berdiri mematung di depan pintu.


"Lalu keputusan Acha?" kata Rojak.


"Acha pasti setuju dengan apapun keputusan Abi nya, apa lagi permintaan ini adalah permintaan pertama Abinya." kata Qayyis.


"Alhamdulillah kalo gitu." kata Rojak.


Sedikit demi sedikit Acha memundur kan langkah nya dan langsung berlari Menuju taman belakang.


"Cha..." kata Muza bergegas mengejar Acha.


Acha yang terduduk menangis tersedu sedu.


"Cha...? jangan menangis." kata Muza.


"Tapi ustadz Abi nggak bertanya dulu kepada Acha apakah Acha mau menerima Kak Mufid atau nggak." kata Acha menangis.


"Tapi kan Mufid laki laki yang baik dan beliau bisa membimbing kamu, Cha, saya Ikhlash jika beliau yang menjadi pendamping hidup kamu." kata Muza.


"Tapi Acha mencintai ustadz." tak sengaja kalimat itu terlontarkan.


Deg!


Muza hanya terdiam mematung mendengar itu, Fathma langsung bergegas berbalik.


"Cha, Acha harus menerima ya, apalagi ini bersangkutan dengan kehormatan Abi Acha." kata Muza.


"Tapi ustadz... yaudah sekarang kita bilang ke Abi Acha ya." kata Acha bergegas terbangun.


"Cha.. cinta itu tidak perlu semua orang mengetahui nya, cukup kita berdua yang merasakan dan Alloh yang mengetahui, biarkan mereka memahami cinta kita dengan sendirinya." kata Muza.


Langkah Acha pun terhenti kemudian tertunduk memeluk lutut dan menangis.


"Saya nggak kuat liat kamu menangis seperti ini Cha." batin Muza yang menahan suara tangisnya.


Muza segera menghapus kristal bening yang keluar dari mata, dan kemudian mengatur napas berusaha menyembunyikan tangisnya dari Acha.


"Kamu harus menikah dengan Ikhwan pilihan Abi kamu, demi kebahagiaan mereka." kata Muza


"Percaya lah Cha, ikutin saran dari saya ya Cha, masalah perasaan cinta di hati ini cukup Alloh yang mengetahui." kata Muza.


......................


"Ustadz Rojak mana?" kata Fathma.


"Sudah pulang Ma, tadi beliau menanyakan Uma." kata Qayyis.


"Abi tidak bisa kan lamaran ini di batal kan?" kata Fathma.


"Uma kenapa?" kata Qayyis.


"Uma rasa Acha mencintai sesorang, tapi itu bukan Mufid." kata Fathma.


"Nggak bisa Uma, kalo lamaran ini di batalkan, bagaimana nanti pandangan Rojak pada Abi, kan Rojak sudah sangat banyak membantu kita." kata Qayyis.


"Abi benar, Acha siap menerima lamaran dari kak Mufid." kata Acha yang muncul berjalan bersampingan dengan Muza.


"Eh Muza?" kata Qayyis.


"Iya Om, Assalamu'alaikum." ucap Muza segera mencium tangan Qayyis dan menyatukan tangan pada Fathma.


"Wa'alaikumussalam." kata Qayyis.


"Yasudah Muza permisi ya om tante." kata Muza.


"Kok sebentar amat duduk dulu." kata Qayyis.


"Iya om makasih, tapi Muza mau langsung pulang masih banyak pekerjaan." kata Muza.


"Yaudah hati hati nak, salam buat Abi sama Umi kamu." kata Qayyis.


"Iya om in syaa Alloh, assalamu'alaikum." pamit Muza.


"Wa'alaikumussalam warohmatulloh." jawab mereka.


Langkah demi langkah Muza meninggalkan Rumah Acha dan tak terasa Kristal mening terjatuh di pipi Acha dan Muza dan langsung menghapus nya.

__ADS_1


Acha segera berlari ke kamar, di dalam kamar Acha menangis tersedu sedu.


__ADS_2