
"Abis ini pelajaran siapa Man?" kata Acha.
"Ustadz Muza." kata Rahman.
"Aduhh acha izin kmar mandi yaa." kata Acha.
"Yaudah." kata rahman.
"Yuk Lin." kata acha keluar dan di ikuti Liani.
Acha pun ke kamar mandi di antar oleh liani.
"Huu legaa." kata Acha sambil bercermin membenarkan kerudung.
"Udah Cha." kata Liani diangguki Acha
......................
Sesampainya di depan pintu kelas,
tok tok tok...
"Assalamu'alaikum." kata Acha dan Liani.
"Ijin masuk Ustadz?" kata Acha.
"wa'alaikumussalam warohmatullah." kata semua yang ada di dalam kelas.
"Tafadholly." kata Muza.
"Nah saya akan siroh tentang srikandi Islam pada zaman Rasululloh sholallohu 'alaihi wassalam." kata muza.
"Sholallohu 'alaihi wassalam." kata santriat, ( jika kita mendengar atau mengatakan nama kekasih, junjungan, tauladan kita yaitu 'Nabi Muhammad, Rasululloh', harus mengatakan sholallohu 'alaihi wassalam)
......................
Siroh pun di sampaikan oleh Muza.
"Ketabahan Ummu Sulaim
Dari pernikahannya dengan Ummu Sulaim, Abu Thalhah dikaruniai dua orang anak. Satu di antaranya amat ia kagumi, namanya Abu ‘Umair. Namun sayang, Abu ‘Umair tak berumur panjang. Ia dipanggil oleh Allah ketika masih kanak-kanak.
Anas bercerita, “Suatu ketika, Abu ‘Umair sakit parah. Tatkala azan isya berkumandang, seperti biasanya Abu Thalhah berangkat ke mesjid. Dalam perjalanan ke mesjid, anaknya (Abu ‘Umair) dipanggil oleh Allah.
Dengan cepat Ummu Sulaim mendandani jenazah anaknya, kemudian membaringkannya di tempat tidur. Ia berpesan kepada Anas agar tidak memberi tahu Abu Thalhah tentang kematian anak kesayangannya itu. Kemudian, ia pun menyiapkan hidangan makan malam untuk suaminya.
__ADS_1
Sepulangnya dari mesjid, seperti biasa Abu Thalhah menyantap makan malamnya kemudian menggauli istrinya. Di akhir malam, Ummu Sulaim berkata kepada suaminya, “Bagaimana menurutmu tentang keluarga si fulan, mereka meminjam sesuatu dari orang lain, tetapi ketika diminta, mereka tidak mau mengembalikannya, merasa keberatan atas penarikan pinjaman itu.”
“Mereka telah berlaku tidak adil,” kata Abu Thalhah.
“Ketahuilah, sesungguhnya putramu adalah pinjaman dari Allah, dan kini Allah telah mengambilnya kembali,” kata Ummu Sulaim lirih.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un…. Segala puji bagi-Mu, ya Allah,” ucap Abu Thalhah dengan pasrah." jelas muza.
......................
"Baik lah sampai di sini pembacaa Siroh nya, sudah di mengerti." kata Muza.
"Na'am ustadz." kata santriat yang sebagian menangis dan sebagian hanya bersedih mendengar kisah Ummu Sulaim.
"Baiklah sekarang tugas kalian menyimpulkan." kata Muza. Dan semua hanya merenung.
"Ayoo dong maju siapa yang mau duluan? Ya udah gini deh kalo ada yang pertama maju kedepan buat menyimpulkan Saya kasih hadiah." kata Muza dengan menunjukan sebuah bros yang begitu indah.
"Acha mau duluan deh Ustadz." kata acha mengangkat tangan.
"Huh dasar kalo ke hadiah aja, langsung..." ejek gilang.
"Suka suka." kata Acha jutek.
"Emm nggak Ustadz biar Acha aja Gilang akhiran aja, kan cowo harus ngalah sama cewe ustadz hehe." kata Gilang sembari menggaruk garuk kepala.
Santriat pun tertawa melihat tingkah nya, dan Muza terkekeh.
"Eh sudah sudah, gak baik ketawa kaya gitu." kata Muza menenang kan.
"Tau huh." kata Gilang kesal ke santriat.
"Tafadholly Acha maju ke depan." kata Muza.
Acha pun maju kedepan, dan menyampai kan kesimpulan yang di buat.
"Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh, mohon izin kepada Ustadz Muza." kata Acha yang sudah ada di depan, dan Muza hanya mengangguk tersenyum.
"Di sini Saya akan menyampaikan kesimpulan dari siroh tentang Ummu Sulaim, jadi sesuai siroh tadi tentang Ummu Sulaim dapat di simpulkan …… semua yang ada di dunia ini hanya pinjaman dari Allah SWT. dan sesuatu yang dipinjamkan, suatu saat pemilik nya akan memintanya kembali, seperti kehidupan ini baik nyawa harta, tahta dan lain nya, ini semua hanya sesuatu yang Allah pinjamkan kepada kita, intinya apapun itu kita harus Ikhlas." jelas Acha penuh jiwa pemotivasinya yang membuat semua nya yang ada dikelas ikut meneteskan air mata termasuk Muza.
"Sekian dari Saya, terimakasih atas perhatian nya wassalam, assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh." kata Acha.
"Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh." ucap semua dan memberi tepuk tangan.
Muza langsung menghampiri Acha.
__ADS_1
"Wah bagus sekali yaa kesimpulan dari Acha, oke jadi bros ini saya berikan kepada Acha." kata Muza memberikan bros pada acha.
"Syukron Ustadz." kata Acha.
"Afwan." kata Muza.
Acha langsung kembali ke tempat duduknya.
"Oke berhubung waktunya mepet, Kita ambil satu lagi perwakilan dari Santriwan, siapa yang mau maju?" kata Muza.
"Gilang Ustadz." teriak santriwan.
"Lah kok Ane sih." kata Gilang.
"Gilang, ayo maju, cepet waktunya udah mepet, dan masih ada bros satu lagi nih." kata Muza.
Semuanya tertawa.
"Ya kali Ustadz, Gilang kan cowo sedangkan bros kaya gitu sih buat cewe." rengek Gilang.
"Udah ayo cepet." kata Muza.
"Iya deh ustadz Gilang yang maju, brosnya kasih Acha aja." kata Gilang maju ke depan.
"Terima yaa Acha hadiah dari Aku." kata Gilang, yang emang udah terkenal gak punya malu apalagi di depan Muza yang baik hati.
"Cieee." kata Santriat.
"Dih apaan." kata Acha jutek.
"Udah udah, tafadholly Gilang mulai." kata Muza.
Gilang pun mempresentasikan kesimpulan nya.
"Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh........jadi seperti orang yang berjabatan tinggi dan kaya akan di uji dengan jabatan dan kekayaan nya yang padahal kekayaan dan jabatan nya hanya pinjaman dari Allah, dan orang yang tak bisa apa apa sering di injak oleh orang yang mempunyai jabatan, di situlah Allah beri keadilan agar orang yang tak mampu berbuat apa apa bisa bangkit dan melawan semua itu dengan kesabaran mereka, karena di mata Allah semua nya sama, lalu apa yang kita sombongkan sehingga kita sering merasa yang paling tinggi (punya segalanya) kemudian menginjak orang yang rendah, yang paling kuat kemudian menindas yang lemah, tapi nyatanya itu hanya sebuah pinjaman yang suatu saat akan di ambil oleh pemilik nya, Allah bisa saja pinjamkan semua jabatan tinggi kepada orang 'maaf' rendah, tapi Allah juga maha adil dan Allah tau segalanya, dengan demikian Allah menguji makhluk nya dengan berbagai cara, Hanya itu lah kesimpulan yang dapat Saya paparkan, terimakasih atas perhatian nya wasaalam." kata Gilang dan di beri tepuk tangan oleh semuanya.
kringgg.. Bel pun berbunyi.
"Rohman nanti buku nya kumpulin bawa ke ruangan Ustadz taruh aja di meja Saya." kata Muza kepada ketua ruangan yang terkenal alim dan baik hatinya.
"Iya siap Ustadz." kata Rohman.
......................
Sore pun tiba saat nya Santriat kembali ke asrama.
__ADS_1