MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 92


__ADS_3

"Mulai kak?" kata Cilla.


"Na'am, tafadholly di mulai." kata Shilla.


"Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh." Kata Cilla.


"Wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh." jawab semua.


"Mohon ijin kepada semuanya, Cilla disini akan bercerita tentang ROMANTISME RASULULLAH BERSAMA ISTRI-ISTRINYA."


"Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalaam bersikap tawadhu (rendah hati) di hadapan istri-istrinya, sampai-sampai Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam membantu istri-istrinya dalam menjalankan pekerjaan rumah tangga. Padahal sehari-harinya nabi memiliki kesibukan dan mobilitas yang sangat tinggi menunaikan kewajiban menyampaikan risalah Allah Azza wa Jalla dan kesibukan mengatur kaum muslimin.


Aisyah mengatakan, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalaam sibuk membantu istrinya dan jika tiba waktu salat maka ia pun pergi menunaikannya.”


Imam Al-Bukhari mencantumkan perkataan Aisyah ini dalam dua bab di dalam sahihnya, yaitu Bab Muamalah Seorang (suami) dengan Istrinya dan Bab Seorang Suami Membantu Istrinya.


Urwah bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apa yang diperbuat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalaam jika ia bersamamu di rumah?” Aisyah menjawab, “Ia melakukan seperti yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya, ia memperbaiki sandalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember.”


Dalam Syama’il karya At-Tirmidzi terdapat tambahan, “Dan memerah susu kambingnya…”


Ibnu Hajar menerangkan faidah hadist ini dengan mengatakan, “Hadist ini menganjurkan untuk bersikap rendah hati dan meninggalkan kesombongan dan hendaklah seorang suami membantu istrinya.”


kalo jaman sekarang s**ebagian suami ada yang merasa rendah diri dan gengsi jika membantu istrinya mencuci, menyelesaikan urusan rumah tangga. Kata mereka, tidak ada istilahnya lagi, nyuci baju sendiri, merapikan rumah yang tidak bersih, dan jahit baju sendiri. Seolah-olah mereka menjadikan istri seorang pembantu dan memang tugasnyalah melayani suami. Apalagi jika mereka adalah para suami berjas berpenampilan necis, pekerjaan seperti ini tentu tidak layak dan tidak pantas mereka kerjakan. Atau mereka merasa ini hanyalah tugas ibu-ibu dan para suami tidak pantas dan tidak layak untuk melakukannya."


"Betul apa betul?" kata Cilla semangat.


"Betul." kata para Akhwat.

__ADS_1


Dan para Ikhwan hanya membulatkan matanya keheranan.


"Nah but Ikhwan terutama ustadz Muza dan Ustadz Rafan contoh ya Rasululloh, kan Kalian akan jadi imam Cilla." kata Cilla.


"Huuu." sorak para penonton.


"Ihh apaan sih, orang Cilla ke Ustadz Muza sama Ustadz Rafan, kok kalian yag sibuk." kata Cilla sedikit kesal.


"Ya kan Ustadz?" kata Cilla senyum so manis.


"Iya iya." kata Rafan terkekeh.


"In syaa Allah akan Kami contoh, kan Rasululloh tauladan umat." kata Muza.


"Umm syukak, oke lanjut." kata Cilla


Dari Anas bin Malik ia berkisah, “Suatu saat Nabi halallahu ‘alaihi wa sallam di tempat salah seorang istrinya maka istrinya yang lain mengirim sepiring makanan. Maka istrinya yang sedang bersamanya ini memukul tangan pembantu sehingga jatuhlah piring dan pecah sehingga makanan berhamburan. Lalu Nabi sholallohu ‘alaihi wasalaam mengumpulkan pecahan piring tersebut dan mengumpulkan makanan yang tadinya di piring, beliau sholallohu ‘alaihi wasalaam berkata, “Ibu kalian cemburu…”


Perhatikanlah, Nabi shalallahu ‘alaihi wasalaam sama sekali tidak marah akibat perbuatan istrinya yang menyebabkan pecahnya piring. Nabi


tidak mengatakan, “Lihatlah! makanan berhamburan!! ayo kumpul makanan yang berhamburan ini! ini adalah perbuatan mubadzir!” Akan tetapi Nabi mendiamkan hal tersebut dan membereskan bahkan dengan rendah hati nabi langsung mengumpulkan pecahan piring dan mengumpulkan makanan yang berhamburan, padahal di sampingnya ada seorang pembantu."


"Allohumma sholli 'alaa sayyidina muhammad." kata para Ikhwan.


"Takbir." kata Cilla mengangkat.


"Allohu akbar." kata mereka serentak dan mengangkat tangan.

__ADS_1


"Oke lanjut..Tidak cukup sampai di situ saja, nabi juga memberi alasan untuk membela sikap istrinya tersebut agar tidak dicela. Nabi mengatakan, “Ibu kalian sedang cemburu.”


Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menghadapi permasalahan rumah tangganya dengan tenang dan bijak, bagaimanapun beratnya permasalahan tersebut. Beliau juga mampu menenangkan istri-istrinya jika timbul kecemburuan diantara mereka. Sebagian suami tidak mampu mengatasi permasalahan istrinya dengan tenang, padahal istrinya tidak sebanyak istri rasulullah dan kesibukannya pun tidak sesibuk rasulullah. Bahkan di antara kita ada yang memiliki istri cuma satu orang pun tak mampu mengatasi permasalahan antara dia dan istrinya.


Ibnu Hajar mengatakan, “Perkataan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, ‘ibu kalian cemburu’ adalah udzur dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam agar apa yang dilakukan istrinya tersebut tidak dicela. Rasulullah memaklumi bahwa sikap tersebut biasa terjadi di antara seorang istri dengan madunya karena cemburu. Rasa cemburu itu memang merupakan tabiat yang terdapat dalam diri (wanita) yang tidak mungkin untuk ditolak.”


Ibnu Hajar juga mengatakan, “Mereka (para pensyarah hadist ini) mengatakan, bahwasanya pada hadist ini ada isyarat untuk tidak menghukum wantia yang cemburu karena sikap kekeliruan yang timbul darinya. Karena tatkala cemburu, akalnya tertutup akibat kemarahan yang dikobarkan oleh rasa cemburu. Abu Ya’la mencatat sebuah hadist dengan sanad yang hasan dari Aisyah secara marfu’


“Wanita yang cemburu tidak bisa membedakan bagian bawah lembah dan bagian atasnya.”


Ibnu Mas’ud meriwayatkan sebuah hadist dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam,


“Allah menetapkan rasa cemburu pada para wanita, maka barangsiapa yang sabar terhadap mereka, maka baginya pahala orang mati syahid.” Hadist ini diriwayatkan oleh Al-Bazar dan ia mengisyaratkan akan sahihnya hadist ini. Para perawinya tsiqoh (terpercaya) hanya saja para ulama memperselisihkan kredibilitas seorang perawi yang bernama Ubaid bin AS-Sobbah.


Dari Anas bin Malik, “Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi Khaibar, tatkala Allah mengilhamkan rasa tengan dalam jiwanya untuk menaklukkan benteng Khaibar, sampai sebuah kabar kepada beliau tentang kecantikan Shafiah bin Huyai bin Akhthab dan suami Shafiah pada saat itu telah tewas dengan usia pernikahan mereka yang masih dini. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pun meminangnya untuk menjadi istrinya. Kemudian beliau mengadakan perjalanan pulang menuju Madinah.” Anas melanjutkan, “Aku melihat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mempersiapkan kelambu di atas unta untuk Shafiah lalu beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam duduk di dekat unta lalu meletakkan lutut, lalu Shafiah menginjakkan kakinya di atas lutut beliau untuk naik di atas unta.” Adakah seorang suami yang mungkin berbuat hanya setengah dari usaha yang dilakukan Rasulullah, seperti membukakan pintu mobil untuk sang istri, membawakan belanjaannya, dan sebagainya. Tentunya hal ini tidak banyak kita dapati.


Perhatikanlah perlakuan Nabi shalallahu ‘alaihi wasalaam yang sedemikian tawadhu dan bersikap romantis terhadap istri-istrinya di hadapan orang banyak tanpa rasa gengsi dan canggung. Inilah sebuah qudwah sri teladan untuk para sahabat yang melihat kejadian itu dan untuk kita semua, wallohu alam bishshowab."


"Terimakasih kepada semua karena telah mendengarkan, Cilla undur diri wasalaam, assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh." kata Cilla.


"Wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh." jawab semua.


"Maa syaa Allah syukron jazakillah khair Cilla, menginfirasi banget sirohnya, buat para Ikhwan harus bisa mencontoh sikap nabi sholallohu 'alaihi wasalam..," kata Shilla.


"sholallohu 'alaihi wasalam." ucap semua.


"..dalam memperlakukan istri seperti ratu, oke selanjutnya siapa lagi?" kata Shilla.

__ADS_1


__ADS_2