MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 148


__ADS_3

Mereka pun langsung berjalan menuju danau yang letaknya tak jauh dari komplek, setelah sampai di danau anak-anak langsung duduk diatur oleh Muza dan Acha.


Pemandangan yang sangat indah, air danau yang sangat bersih tidak ada sampah satu pun, pepohonan hijau menghiasi sekeliling danau, dan keberadaan bukit tinggi yang menabah kesan indah pemandangan di danau itu.


Muza segera memberi intruksi agar anak anak segera melukis pemandangan dengan kemampuan mereka masing-masing.


Anak-anak segera menjalankan intruksi dari Muza, Acha dan Muza berkeliling melihat-lihat sekaligus memeriksa satu persatu anak-anak, banyak sekali Murid yang lukisannya indah, Niza tak terlihat dari kelompok Anak-anak lainnya, Muza yang menyadari itu segera pergi mencari, Acha yang melihat ke khawatiran Muza segera mengikuti Muza.


"Bu guru mau kemana?" kata Azam.


"Bentar ya Zam, Ibu nitip anak-anak dulu ya." kata Acha diangguki Azam.


Langkah Acha terhenti disamping Muza yang sedang memandangi sebuah pemandangan yang indah, sebuah taman yang terletak di ujung danau, terdapat air terjun di taman itu, terlihat Niza yanh sedang terduduk diatas batu besar, Muza dan Acha segera menghampiri, sebuah lukisan yang sedang dibuat Niza membuat Muza dan Acha tertegun.


"Maa syaa Alloh indah sekali." kata Acha.


Niza segera menyembunyikan gambar yang dilukisnya karena menyadari keberadaan mereka berdua.


"Kenapa harus di sembunyikan, itu sangat indah Niza." kata Muza.


Niza langsung menunduk dan kemudian sedikit melirik ke arah Muza dan Acha, terlihat Muza dan Acha sedang tersenyum memperhatikannya.


"Kamu kenapa menyendiri di sini?" kata Muza.


"Niza sudah biasa menyendiri Ustadz." kata Niza.


"Yasudah, melukisnya sudah selesai?" kata Acha diangguki Niza.


"Baik sekarang kita kembali ke komplek." kata Acha diangguki Muza dan Niza.


Langkah demi langkah mereka menuju kelompok anak-anak yang sedang sibuk melukis.


"Sudah selesai?" kata Muza.


"Sudah Ustadz." kata Mereka semua.


"Baik Kumpulkan ke Ustadz, abis itu kita kembali ke komplek dan pulang." kata Muza.


Satu persatu Murid pun maju mengumpulkan hasil lukisan mereka ke Muza dengan penuh kegembiraan, Mereka semua bergegas kembali ke komplek, setelah samapai ke komplek semua Murid berdo'an dan langsung berpamitan oada sang Guru.


Acha dan Muza berdiri di depan gerbang memabantu anak-anak menyebrang, setelah semuanya pulang Azam dan Naura segera masuk kedalam pos, tedlihat dibalik kaca seorang wanita paruh bayah yang sedang berbicara dan tertawa sendiri.


"Ibu?" gumam Azam, Naura yang mendengar sontak melihat kearah luar.


"Ibu." teriak Naura berlari keluar untuk menghampiri wanita itu.


"Naura tunggu." teriak Azam.


Azam segera mengejar Naura, mendengar teriakan itu Acha dan Muza yang hendak pulang dan langkahnya belum jauh dari pos itu segera mengikuti Azam, langkah mereka pun terhenti dihadaoan wanita itu yang sedang di peluk Naura, wanita itu merasa ketakutan dengan kedatangan mereka bertiga.


"Ibu." rintih Azam memeluknya.

__ADS_1


"Eh siapa kamu," kata Wanita itu menjauhkan diri dari Azam.


"Kamu juga siapa?" kata wanita itu sedikit memdorong Naura.


"Kalian siapa? Apa kalian yang sudah membunuh suami Saya." kata wanita itu tertawa dan kemudian menangis.


"Ibu, ini Azam Bu, dan ini Naura, kami berdua anak ibu, Kami sudah lama mencari ibu." tangis Azam memeluk wanita itu.


"Nggak, nggak, Aku nggak punya anak, anak dan suami ku sudah tiada." kata wanita itu yang pergi dengan berjalan meloncat loncat.


"Ibu, jangan tinggalin Naura sama Kak Azam lagi." tangis Naura mengejar dan memeluk wanita itu, begitu pun dengan Azam


"Ih apaan sih lepasin." kesal wanita itu sedikit mendorong Naura dan Azam.


Naura terjatuh Acha dan Muza segera menghampiri dan membantu Naura, wanita itu segera berlari ketakutan.


"Kalian yang sabar yah, nanti kita coba bujuk ibu kalian baik-baik." kata Acha.


Tin tin tin suara klakson mobil, duar... Wanita itu tertabrak mobil, Mereka segera menghampiri dan langsung membawanya ke rumah sakit, Azam menangis dipelukan Muza dan Naura menangis dipelukan Acha.


"Sudah Kalian jangan menangis, banyakin do'a." kata Acha mengelus kepala Naura.


Dokter pun keluar dari ruangan dan menjelaskan keadaan Ibunya Azam dan Naura.


"Alhamdulillah pasien baik baik aja hanya luka kecil dan boleh langsung pulang, tapi beliau mengalami gangguan mental, dan gangguan mental in syaa Allah bisa sembuh jika ibu itu mau berusaha untuk sembuh, dan harus ada yang mengajaknya berkomunikasi, agar pikiran beliau kembali normal, harap di perhatikan dan di jaga." kata Dokter diangguki Acha dan Muza.


Setelah Dokter pergi Acha dan Muza saling menatap kebingungan.


"Iya, tapi akan lebih baiknya kamu ijin dulu ke Uma sama abi kamu." kata Muza diangguki Acha.


Acha pun segera menghubungi telepon, setelah telepon diangkat Acha menjelaskan segalanya.


"Alhamdulillah, makasih Uma assalamu'alaikum." kata Acha yang langsung menutup telepon.


"Gimana?" kata Muza.


Acha hanya mengangguk tersenyum, Mereka langsung masuk keruang, terlihat wanita itu hanya melamun disisinya terdapat Azam dan Naura yang sedang mengenggam tangan Wanita itu.


"Assalamu'alaikum?" uvap Muza dan Acha.


"Wa'alaikumussalam, Ustadz Ibu nggak papa kan?" kata Naura menghampiri Muza dan Acha.


"Iya nggak papa, sekarang kita pulang." kata Muza.


"Udah boleh pulang?" kata Azam.


"Iya." kata Muza.


"Nama Ibunya siapa?" kata Acha.


"Maria." kata Naura dan Azam.

__ADS_1


Mereka langsung menuntun Maria dan membawanya ke mobil, mobil segera dilajukan dengan cepat, dan yerhenti di depan rumah Acha.


"Makasih ya Ibu guru, Ustadz sudah bantu Kami menemukan Ibu." kata Azam.


"Iya nggak papa sayang, ayo Kita masuk." kata Acha.


Naura dan Azam menatap Acha keheranan, Acha hanya yersenyum dan mendekat ke Naura dan Azam.


"Kalian dan Ibu Maria akan tinggal di sini sampai Ibu Maria sembuh total." kata Acha.


"Beneran Ibu Guru?" kata Azam di angguki Acha.


"Maksih Ibu guru." kata Azam dan Naura memeluk Acha.


"Ustadz juga dong peluk." kata Muza.


Azam, Acha dan Naura terkekeh, kemudian Azam dan Naura segera memluk Muza.


"Makasih Ustadz." kata Azam dan Naura.


"Iya sama-sama, yaudah ustadz pulang ya, nanti kalian main aja ke rumah ustadz." kata Muza.


"Siap Ustadz." kata Naura dan Azam.


"Assalamu'alaikum." ucap Muza langkah demi langkahnya pergi meninggalkan mereka.


"Wa'alaikumussalam." jawab mereka bertiga


Mereka segera menuntun Maria masuk kerumah Acha dan segera di baringkan di kamar tamu yang sangat indah membuat Azam dan Naura terdiam mematung.


"Kenapa?" kata Acha.


"Ini terlalu mewah untuk Kami Ibu guru, tidak adakah tempat yang sederhana." kata Azam.


"Um tapi Naura seneng bagus kamarnya." kata Naura berlari menaiki kasur dan melompat-lompat.


"Naura." kata Azam, Naura langsung tertunduk dan turun kembali.


"Nggak papa kalian tinggal disini aja yah." kata Acha.


"Apakah ini tidak terlalu berlebihan?" kata Azam.


"Nggak kok, anggap aja ini rumah kalian sendiri." kata Acha diangguki Azam.


"Yaudah kalian istirahat, Ibu guru juga mau istirahat." kata Acha.


"Iya Ibu guru, terimakasih." kata Mereka berdua dianghuki Acha.


"Selamat istirahat assalamu'alaikum." kata Acha menutup pintu.


"Wa'alaikumussalam." jawab Azam dan Naura.

__ADS_1


__ADS_2