MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 153


__ADS_3

Terasa sangat cepat bagi matahari untuk pergi dan digantikan oleh sang rembulan, malam yang begitu gelap terlihat indah dengan hiasannya, Acha dan Muza yang sedang duduk diteras atas, dibawah cahaya rembulan, mereka menikmati pemandangan malam yang begitu indah.


Acha menyenderkan kepalanya ke bahu gagah Muza, "Sayang?" kata Muza.


Acha yang masih menyender di bahu dan memeluk lengan Muza, "Iya."


Muza mengelus kepala Acha, "Saya sudah membeli rumah." kata Muza.


Acha hanya menatap wajah Muza, begitu pula Muza menatap Acha, "Saya ingin kita mandiri." kata Muza.


Acha langsung tersenyum lebar, "Jika emang itu keputusan Bang Ustadz, Acha bisa apa." kata Acha terkekeh.


Muza tersenyum, "Kamu juga harus berpendapat, saya tidak bisa memaksakan keputusan yang bisa membuat kamu tidak nyaman."


Acha mencubit lembut pipi Muza, "Saya tidak akan pernah meragukan keputusan Bang Ustadz." kata Acha tersenyum.


Muza mencubit hidung Acha, "Saya akan selalu membuat keputusan setelah mendengar pendapat dari kamu, dan saya tidak akan membuat keputusan yang membuat kamu tidak senang."


Malam pun di penuhi oleh canda tawa mereka, setelah larut malam mereka masuk kedalam kamar.


Akhirnya matahari pun kembali menduduki posisinya, dimeja makan telah tersaji makanan, Acha dan keluarga sedang duduk melaksanakan sarapan pagi.


Setelah selesai sarapan Muza membuka suara untuk meminta ijin, Muza memandang ke arah Acha, kemudian Acha tersenyum dan mengangguk samar.


Berani tak berani, Muza memberanikan diri berbicara, "Abi, Uma, Muza ingin meminta ijin," kata Muza.


Fathma dan Qayyis menatap Muza keheranan, "Minta ijin untuk apa?" kata Qayyis.


"Muza sudah membeli rumah, dan Muza meminta ijin dan ridho dari Abi sama Uma,"


Fathma dan Qayyis saling menatap, mereka tersenyum dan mengangguk.


"Pas kapan beli rumahnya Za? Kok Uma nggak di kasih tahu." kata Fathma.


Muza tersenyum, "Sudah lama Uma sebelum Muza menikah,"


"Maa syaa Alloh salut deh Uma." kata Fathma.


"Dan kalo dijinkan kami ingin mengisi rumah itu sekarang." kata Muza.


"Boleh dong, kan sekarang Acha itu udah jadi tanggung jawab kamu, kemana kamu singgah acha harus ikut." kata Qayyis.


Acha hanya menyipitkan matanya, "Ada apa dengan Abi? Segampang ini kan melepas putri tunggalnya." batin Acha.


Fathma yang menyadari banyak pertanyaan dari raut wajah Acha, "Iya lah kan pengantin baru harus honey moon dong, jadi kalian nggak usah honey moon ke luar daerah, cukup rumah baru kalian saja menjadi tempat honey moon, jadi rumah serasa milik berdua." kata Fathma terkekeh.


"Dunia Uma." kata Qayyis.


"Iya sama aja, rumah mereka ya dunia mereka." kata Fathma terkekeh.


Muza dan Acha langsung tertunduk malu, "Apakah ini rasanya menjadi pengantin baru, menjadi bahan godaan orang tua." batin Muza pasrah.


Beberapa jam kemudian pakaian Acha dan Muza sudah di kemas mereka langsung memasukan tas ke bagasi mobil, terlihat dua anak menghampiri.


"Ibu guru sama ustadz mau kemana?" kata Azam.


"Ibu mau pindah rumah." kata Acha.


"Yah terus kita belajar sama siapa?" kata Naura.


Acha mengekus pipi mungil naura, "Tenang Ibu masih tinggal di daerah komplek A, malah lebih dekat dengan taman komplek," kata Acha.


"Rumah yang ke lima itu?" kata Nuara.


"Yang rumah nomor 55 itu?" kata Azam.


Muza dan Acha keheranan, "Iya emang kenapa?" kata Acha.


Naura hanya meletakan jari telunjuknya di bawah bibir, "Um pantas saja sering lihat Ustadz menyiram tanaman di halaman rumah itu." kata Naura


"Rumahnya bagus apalagi tamannya, dari pas ke komplek ini, Azam pengen banget masuk rumah itu," kata Azam.


Muza dan Acha saling menatap tersenyum, "Yaudah ayo kalian ikut." kata Muza.


Muza membantu Azam masuk mobil, dan Acha membantu Naura masuk.


Mobil pun dilajukan dan akhirnya mobil yang dikendarai Muza sampai di depan rumah nomor 55 rumah sederhana tapi mewah, setelah mobil Qayyis juga sampai, mereka segera membawa barang-barang kedalam rumah.


Setelah pintu dibuka nampak rumah yang masih berantakan dan sedikit berdebu. s1ofa, kasur dan peralatan lainnya masih ditutupi oleh kain putih agar debu tidak menempel pada peralatan rumah.


Dret..dret.. ponsel Qayyis berdering, Qayyis segera keluar dan mengangkat telepon, setelah beberapa menit Qayyis kembali masuk dengan raut wajah khawatir, Fathma menatapnya keheranan, "Siapa Bi?"


Qayyis membuang nafasnya secara kasar, "Istrinya pak hamdan meninggal."

__ADS_1


"Innalillahi wainna ilaihi rooji'un." ucap semua.


"Abi mau kesana sekarang." kata Qayyis.


"Umma ikut." kata Fathma.


Qayyis hanya menatap ke arah Acha, Acha tesenyum mengangguk, "Tidak apa-apa Bi, Uma ikut aja." kata Acha.


Fathma menghampiri Acha dan mengusap lembut pipi acha, "Nanti abis dari sana Uma langsung ke sini bantuin kamu." kata Fathma diangguki Acha.


Qayyis dan Fathma pun segera pergi, Acha dan Muza mengantarkan sampai depan rumah, terlihat di taman anak-anak yang sedang belajar bersama Liani.


Azam dan Naura tercengo melihat ke arah taman, "Emang nggak libur yah?" gumam Azam.


"Nggak." kata Muza dan Acha serentak.


Azam dan Naura hanya menyengir kuda, dan langsung mencium punggung tangan Muza dan Acha, "Yaudah kami belajar dulu yah, nanti kalo udah bantuin Ibu beres-beres." kata Azam.


"Iya belajar yang semangat." kata Acha.


"Assalamu'alaikum." ucap Azam dan Naura yang langsung berlari.


Acha dan Muza terkekeh, "Wa'alaikumussalam warohmatulloh."


Acha menatap Muza, kemudian Muza mengangguk samar tersenyum dan merangkul Acha kedalam.


"Kita mulai membersihkannya dari mana?" kata Muza memindahkan barang-barang.


"Umm dari mana yah." kata Acha yang langkah demi langkahnya menuju kamar.


Krek... pintu kamar dibuka, Acha menyimpan barang-barang di depan pintu kamar


"Kita bersihkan dari kamar kita dulu, soalnya rumah seluas ini mana cukup sehari buat bersihinnya," kata Acha.


Acha segera bembuka kain putih yang menutupi kasur tidur "Uhuk uhuk, banyak debu sekali." keluh Acha


"Kenapa nggak ruang tamu dulu." kata Muza.


Acha melirik Muza dengan sedikit tajam, "Terus nanti kalo nggak sampe selesai hari ini mau tidur di sana?" kata Acha yang langkah demi langkahnya mendekati Muza.


Muza perlahan mundur, "Ya ng-nggak."


"Yaudah makanya bantuin." kata Acha yang menyerahkan kemonceng pada Muza.


Beberapa menit kemudian kamar pun selesai dibereskan, "Akhirnya beres juga." kata Muza menjatuhkan tubuhnya ke kasur.


Acha yang berdiri dengan tatapan tajam, "Ekhem."


Muza hanya menatap Acha heran, Acha hanya memukul-mukul kemonceng pada telapak tangannya, "Itu udah dirapihkan, kenapa diacak-acak lagi!"


Melihat itu Muza langsung berdiri, "Um iya iya." kata Muza yang langsung merapikan kasur.


Acha mengambil sebuah foto dari dalam kardus, "Kira-kira bagusnya sebelah mana yah." gumam Acha sembari melihat sekeliling kamar.


Acha melangkah ke arahdekat jendela, "Di sini aja kali ya, gimana bang Ustadz?"


"Um nggak, kurang pas kayanya," kata Muza yang melihat-lihat sudut kamar.


Muza melangkah ke arah meja rias, "Nah lebih baik di sini."


"Um nggak lah lebih indah disini." kata Acha.


"Disini lah sayang." kata Muza.


"Di si..." kata Acha yang langsung terfokus pada satu titik, Muza dan Acha pun saling menatap dan saling mengangguk samar.


Mereka langsung naik ke atas kasur dan memasangkan foto pernikahan mereka tengah di dinding.


Setelah itu mereka langsung merapihkan dapur, beberapa menit kemudian dapur pun menjadi rapih dan bersih, setelah itu dilanjut membersihkan ruang makan, dan beberapa menit kemudian ruang makan pun selesai dirapihkan.


Cruk...kruk... perut Acha dan Muza berdemo kelaparan, mereka saling menatap dan tertawa renyah, Muza melirik ke arah jam dinding, "Yaa Alloh ternyata udah jam setengah 12, pantas saja perut berdemo." kata Muza di angguki Acha.


Mereka pun langsung pergi kedapur dan memasak dengan bahan makanan yang ada, dan mereka memutuskan untuk membuat nasi goreng.


Acha segera membuat nasi goreng dengan bantuan Muza, dapur dipenuhi canda tawa mereka, "Sudah siap." kata Acha menghirup aroma makanan.


Acha menarik lengan Muza untuk duduk dikursi meja makan, "Hanya dapat satu piring saja, Uma pas tadi bawa nasinya segini doang."


Muza tersenyum, "Apa salahnya kita bisa makan satu piring berdua."


"Baiklah walau mungkin nanti aku nggak bakal kenyang." kata Acha.


"Masa iya badan kecil makan segini nggak kenyang." gumam Muza.

__ADS_1


Acha menatap Muza heran, "Ngomong apa?" kata Acha.


"Nggak ngomong apa-apa sayang, udah kamu cepet makan duluan." kata Muza.


"Beneran?" kata Acha.


"Iya aku nggak bakal makan sebelum kamu dulu yang makan." kata Muza mengambil sendok ditangan Acha, "Sama saya suapin ya."


Satu suapan hendak masuk kedalam mulut Acha, ting nong... bel rumah berbunyi, Acha dan Muza saling menatap, "Bentar ya sayang." kata Acha dan melangkah ke arah pintu.


"Iya." kata Muza yang menyimpan kembali suapan untuk Acha ke piring.


Acha membuka pintu terlihat seorang pria sebaya sedang berdiri, "Mohon maaf ada apa ya?" kata Acha.


"Saya Aji Bu, saya biasa memeprbaiki mesin-mesin yang rusak, apakah ada yang bisa saya bantu?" kata Aji.


"Tidak terimakasih, alhamfulillah barang-barang kami tidak ada yang kerusakan mesin." kata Acha.


"Baiklah Bu, saya permisi." kata Aji diangguki Acha.


Acha segera menutup pintu dan kembali menghampiri Muza, terlihat Muza yang sudah siap memegang satu suapan, "Siapa sayang?" kata Muza.


"Katanya tukang perbaikan mesin-mesin." kata Acha.


"Apakah dia tidak tahu kita baru pindah kesini." ketus Muza.


"Udah cepet suapin laper nih." kata Acha.


"Sama saya juga." kata Muza dan Acha hanya terkekeh.


Satu suapan hendak meluncur kembali ke mulut Acha, ting nong... bel rumah berbunyi, Acha dan Muza saling menatap kegeranan, "Bentar ya." kata Acha menenang kan Muza.


"Yaa Alloh, itu orang nggak tau apa saya lagi kelaperan." keluh Muza.


Acha membuka pintu dan terlihat seorang wanita paruh bayah, "Ada apa ya Bu?" kata Acha tersenyum.


"Saya susi nak, kamu baru disini ya." kata Susi diangguki Acha.


"Perlu asisten rumah tangga kalo perlu, Ibu siap kok." kata Susi.


"Mohon maaf ibu kami tidak memerlukan asisten rumah tangga." kata Acha.


"Yaudah tidak apa-apa." kata Susi langsung pergi.


Acha langsung menutup pintu dan menuju ke meja makan, "Siapa?" kata Muza.


"Ada ibu-ibu mau jadi asisten rumah tangga." kata Acha.


"Owh." kata Muza yang hendak memakan nasi goreng.


Acha menahan tangan muza yang hendak makan, "Eits enak aja, kan katanya nggak bakal makan sebelum Acha makan." kata Acha.


Muza menatap Acha, "Iya iya." kata Muza hendak menyuapi Acha, ting nong bel rumah berbunyi, Muza langsung meletakan sendok kembali le piring, Acha yang hendak bangun dari duduknya dihentikan Muza, "Biar saya aja, jangan dulu makan, saya yang bakal suapin kamu." kata Muza diangguki Acha.


Muza langsung menuju pintu dan membuka pintu terlihat Azam yang sedang tersenyum, "Assalamu'alaikum? " ucap Azam mencium punggung tangan Muza.


"Wa'alaikumussalam warohmatulloh, Azam kamu kok nggak belajar?" kata Muza.


"Azam disuruh sama Ibu Liani kesini buat ngasih tau nanti abis dzuhur kami mau membantu Ustadz merapihkan rumah." kata Azam.


"Baiklah Ustadz tunggu, sekarang kamu balik ke kelas ya belajar." kata Muza.


Azam mencium punggung tangan Muza, "Iya siap Ustadz, assalamu'alaikum." kata Azam yang langsung berlari pergi.


"Wa'alaikumussalam warohmatulloh, hati-hati jangan lari." kata Muza.


Muza segera menutup pintu dan kembali keruang makan, "Siapa?" kata Acha.


"Azam, katanya nanti abis dzuhur anak-anak mau bantuin kita." kata Muza.


"Owh alhamdulillah." kata Acha.


Muza langsung duduk dan membuang nafas nya secara kasar, "Sudah tidak nafsu."


Acha terkekeh, "Eh nggak boleh gitu, sekarang makan," kata Acha.


Muza hanya menatap Acha, "Acha udah makan satu suap tadi." kata Acha terkekeh.


Mendengar itu Muza langsung menyantap nasi goreng yang disuapi oleh tangan Acha, mereka saling menatap dan tersenyum, Muza langsung menyuapi Acha, "Akhirnya bisa makan dengan tentram." kata Muza, Acha hanya terkekeh melihat pria yang statusnya sudah menjadi suami.


"Yasudah istirahat dulu, masih 15 menit menuju dzuhur, kan lumayan." kata Acha.


Mereka pun langsung duduk ke sofa, Acha menyenderkan kepalanya ke bahu Muza dan Muza menyenderkan kepalanya ke kepala Acha, tak terasa karena kelelahan mereka memasuki alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2