
Fern lalu turun dari mobil yang ia tumpangi, sekarang ia sudah berada di lingkungan mansion keluarga Arron.
Sejenak fern memejamkan matanya, ia sungguh sangat lelah apalagi ketika mengingat perbuatan si br*ngsek itu, fern malah makin lelah dan.. tentunya marah.
Baru saja fern bersantai..
PRANG
TYAR
Suara itu muncul dari dalam mansion, fern dan delard yang mendengar suara itu langsung berlari secepat kilat menuju ke dalam.
BRAK
Fern membuka pintu mansion dengan keras, ia bahkan tak peduli jika pintu mansion itu rusak karena sikap kasarnya.
“Ma, Frey apa kalian baik-baik saja?!” teriak fern seraya melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa.
Mata fern dan delard menelusuri setiap bagian mansion, lalu suara itu muncul kembali.
PRANG
SRET
Fern langsung berlari (lagi) ketika mendengar suara pecahan yang terdengar begitu keras.
“Ada a-” pertanyaan fern terpotong begitu pula dengan delard yang melongo di belakang tuannya.
“Astaga! Frey, ada apa dengan dirimu ini?” tanya fern lalu meraih pisau yang tengah di pegang sang adik.
“Wah, bang dia m*ti! Andai saja dia tak menggangguku dia pasti baik-baik saja” orang yang ditanya malah mengucapkan hal lain.
Fern melirik ke mamanya agar dia menjelaskan semuanya yang terjadi, akan tetapi ketika melihat mama grea yang masih shock fern langsung mengisyaratkan delard untuk membawa mamanya pergi.
Delard yang selalu peka terhadap kode seperti ini langsung mengangguk “Nyonya, mari saya antar anda ke ruang tengah”.
Mama grea langsung melihat ke arah delard seraya mengangguk, ia hampir tak bisa bersuara saat ini.
__ADS_1
Mama grea tak menyalahkan perbuatan Freya namun.. ia hanya terkejut jika sang Puteri menguasai tentang siksa-menyiksa seperti itu.
Setelah memastikan mamanya keluar, fern kembali memandang korban adiknya dengan tatapan kasihan.
Jika kalian mengira bahwa yang dib*nuh oleh Freya itu manusia maka kalian salah besar, Freya memb*nuh anjing kesayangan fern.
Sebab itulah fern memandang kasihan pada hewan peliharaannya.
“Kenapa kau menyakiti bahkan sampai memb*nuh anjing ku?” tanya fern lalu meraih sapu tangan yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi.
Fern lalu membersihkan pipi dan tangan Freya yang terkena darah.
“Dia mengganggu Frey! Dia menarik-narik baju ku sampai jadi compang-camping seperti ini” jawaban Freya membuat fern meneliti adiknya.
Fern menghela nafasnya ketika mata elangnya melihat sobekan kecil di baju adiknya.
Itu bukan sobekan yang begitu besar hingga adiknya harus sampai melakukan hal itu pada anjingnya.
Akan tetapi fern juga tak tega untuk memarahi sang adik, “Ya sudah.. kamu ganti baju dulu, biar Abang yang membereskan sisa perbuatan mu”.
Freya mengangguk dengan ceria lalu pergi dari sana.
Ia lalu mengambil mayat anjingnya dengan lembut seolah-olah anjing itu masih hidup!.
Ia menimang-nimang anjingnya lalu menyuruh salah satu pengawal mansion untuk menggali tanah di pojok taman.
Meskipun tak mengerti tentu saja pengawal itu akan mengikuti perintah fern.
***
“Abang alay banget sih? Kok anjingnya pakai di kubur segala?” tanya Freya memutar bola matanya malas.
Fern yang tengah berdoa demi kenyamanan sang peliharaan pun melirik ke adiknya.
“Frey, kau membantainya padahal Anjing itu tak tahu apa kesalahannya, bagaimanapun dia makhluk hidup! Dia pantas untuk dikubur” balas fern panjang.
Mama grea dan papa Hunter pun ikut-ikutan memandang malas ke arah fern.
__ADS_1
“Ma, mana puteraku Yang asli? Kenapa sikap dia seperti tiruan saja?” tanya papa Hunter menunjuk ke arah fern yang masih berada di samping makam anjing kesayangannya.
Freya yang berada di tengah-tengah antara mama dan papanya pun ikut mengangguk seolah-olah Freya setuju dengan teori papanya.
“Kelitahannya sih begitu pa” jawab mama grea merangkul Freya yang terlihat sangat malas dengan drama abangnya.
“Hoam, udah kan bang? Frey mau tidur ngantuk lagian ini udah malam” ujar Freya mengelus perutnya yang masih rata.
Benar, sekarang sudah malam.. anjing itu dikubur sore tadi dan fern sama sekali tak beranjak dari sana.
Itu sebabnya Freya, mama dan papanya menghampiri fern.
“Yasudah, kamu masuk saja frey” balas fern tetap memandang makam anjingnya.
Fern itu seorang psiko namun.. anjing ini adalah anjing yang selalu menemaninya saat ia kesepian jadi ia pasti akan memberikan hal yang terbaik atas semua jasanya.
Sementara itu Freya yang sudah jengah akan tingkah ajaib abangnya langsung menggamit tangan fern lalu menyeretnya kedalam.
“Ayo bang masuk, udah malam waktunya tidur!” ujar Freya tetap kokoh menarik fern walau fern sendiri malah terlihat super duper malas tidur.
“Tapi dia baru-” fern mau membantah dengan menunjuk makam anjingnya namun..
“Iya, iya! Tapi sekarang udah malam abang besok Abang boleh kesana lagi sekalian nanti Adain syukuran tujuh hari tujuh malam, buat dia!” sahut Freya jengah.
Mama grea dan papa Hunter yang melihat kelakukan kedua anaknya pun menggelengkan kepalanya secara kompak.
Syukuran katanya? syukuran kan buat orang yang tengah bahagia? Astaga!.
_______________________________
Wahh, author memang tidak membalas komentar kalian but.. author tetap melihat komentar-komentar kalian.
jadi jangan sungkan untuk memberi saran ataupun kritik ya-!.
Ah ya, jangan lupa letakkan jempol di tempatnya dan berikan saran maupun kritik yang tentunya bersifat membangun ya!.
thank u-!.
__ADS_1
- Nadira