My Mafia Husband

My Mafia Husband
BAB.139. Kejutan ala freya


__ADS_3

Revan dan fern yang kini sudah mulai bergelut dengan papa ragya dan bunda wilsa menjadi resah sendiri.


‘Kenapa perasaanku begini?’ batin Revan yang terus menggunakan pistol dan pisaunya.


Tak jauh berbeda dari Revan fern juga seperti tidak fokus, hm... Ini perasaan khawatir kan?.


DEG


Revan dan fern sama-sama terserentak ketika bunda wilsa dan papa ragya mengacungkan pistol ke kepala mereka.


“Kalian fikir kami takut dengan benda itu? Benda ini sudah seperti jiwa kami sendiri” Revan berucap dengan dingin, ia menatap tajam kedua orang tua Graham tersebut.


“Yah mungkin bagi kalian begitu, tapi tahukah kalian? Freya ada di cengkraman anak kami.”


Revan dan fern berpandangan, mereka lalu berucap serempak, “Apa maksudmu hah?!.”


“Maksudnya, aku menangkap j*lang ini” fern dan Revan sama-sama menoleh, mereka membelalakkan matanya ketika melihat sosok yang mereka kenal.


“So, bunda.. papa.. apakah kejutanku ini kurang hm?” tanya bumil itu, Freya dengan senyuman miringnya.


Ia lalu melempar tubuh Rina yang sudah memiliki bekas tamparan, bahkan mungkin.. cambuk? Tapi Rina masih hidup. Nyonya dan tuan Graham langsung membuang pistolnya, padahal mereka bisa mengancam Freya. Inilah efek dari pemikiran Sempit!.


“Aku memberinya hukuman karena ia sudah lalai dalam menjaga adinda, selain itu dia membuat ku dan Abang tersingkir membuat kami bagai gelandangan, Tapi... setelah semua itu kalian masih mendukungnya?” Freya menatap tajam kearah dua orang yang sedang menyangga Rina.


“Hiks hiks apa yang kau lakukan?!” bunda wilsa hendak menampar Freya, bahkan tangannya sudah melambung.


Fern dan Revan yang awalnya bengong langsung menuju kearah Freya.


Namun...


TEP


Tangan Freya menangkap tangan bunda kandungnya itu, “Aku memutuskan hubungan ini! Sekarang aku hanya anaknya mama grea dan papa Hunter, sekarang kau hanya wanita jahat yang berani membuang anaknya, Freya gladhis Graham sekarang sudah Tiada! Hanya ada Freya gladhis arron.”


Freya sedikit menekan kata-katanya, ia lalu menghempaskan tangan bundanya.


“Dasar anak durhaka!.”


Freya hanya bersmirk, “Anak durhaka? Saya tidak pernah membantah perkataan mama grea, lantas mengapa anda menyebut saya durhaka? Karena saya menghempaskan tangan anda? Sorry saja kita sudah tak ada hubungan, telingamu berfungsi dengan baik kan?.”


Mama grea dibuat bungkam oleh perkataan Freya yang terkesan formal alias bagai orang asing, “Siapa yang mengajarimu jadi anak s*alan begini hah?!.”


Kini papa ragya yang membalas perkataan Freya, “Anda berbicara seolah-olah Anda mengenal saya dari lama. Memangnya Anda mengenal saya? Seingat saya, saya tidak pernah berhubungan dengan orang seperti anda.”


Freya menyindir dengan keras, Revan dan fern yang sekarang sudah ada di jangkauan Freya pun memperhatikan wajah bumil itu.


Bukankah.. hati seorang wanita itu masih selembut kapas?.


Revan mengepalkan tangannya saat ia menyadari bahwa wanitanya itu sedang berusaha untuk menahan kesedihannya. Hanya saja.. wanita itu masih menggunakan ucapan setajam silet.


“C*h! Memangnya apa yang kau bisa lakukan?! Kau hanya anak tidak berguna.”


Papa ragya kembali membalas ucapan Freya sedangkan bunda wilsa hanya diam terpaku dan kembali memeluk Rina.


“Tidak berguna?! Kau bilang isteriku tidak berguna?! Yang tidak berguna itu anakmu, menjaga anak kami saja dia tak becus jangankan anak, menjagaku saja dia tidak bisa!” ujar Revan penuh emosi, pria itu tersulut bara api karena ucapan papa ragya.


“Berbanding terbalik dengan Freya yang bisa menjaga dan merawatku! Dan kau bilang apa?! Apa perkataanmu tidak terbalik hah!” sambung Revan yang hampir maju kembali untuk memberikan bogem mentah ke papa ragya.

__ADS_1


“Rev, udah!” Freya menarik lengan Revan, membuat pria itu berhenti dan mengambil nafas perlahan.


Ia bisa saja melepaskan tangan Freya sebab tenaga Freya masih kalah besar darinya, namun ia ingat Freya sedang mengandung tak baik bagi seorang bumil untuk berteriak begini.


“Kenapa kau melarangnya berhenti Frey? Revan benar! Pria tua Bangka itu harus dihukum” fern berucap tanpa kasihan, mati sudah perasaan fern, bagaimana tidak? Ia melihat adiknya yang hampir ditampar dan.. kata-kata tidak bermutu itu ditujukan ke adiknya.


“No bang, Frey ngga mau kalian terjerat hukum! Aku sudah susah payah mengganti peluru kalian dengan obat bius agar kalian tidak masuk penjara, masa kalian mau menghancurkan usahaku begitu saja?” balas Freya menggelengkan kepalanya lirih.


“Terima ini!” Freya menoleh ketika mendengar suara Rina, ia tahu wanita itu pasti terbangun.


Dengan cepat Freya meraih kayu tebal di sampingnya dan menangkis peluru-peluru yang ditujukan Rina bak bermain golf.


Revan dan fern akhirnya menembak dua pistol yang digunakan oleh Rina.


DOR DOR DOR


Tembakan itu berhasil membuat pistol rina terjatuh, sedangkan papa ragya dan bunda wilsa yang awalnya menyahut ucapan Freya dan fern terdiam membeku.


“Pa Bun! Kenapa kalian diam saja? Bantu aku!” Rina berteriak histeris ke arah orang tuanya.


Namun Freya? Freya memilih berlari dan memukul titik tidur Rina, ia pun melakukan hal yang sama dengan bunda wilsa dan papa ragya yang belum sempat menghindar.


Ia memang sengaja untuk tidak membius Rina tadi, sebab apa? Ia masih menginginkan pertunjukan, tapi sekarang.. nyatanya polisi sudah datang.


“Nyonya Freya?” panggil salah satu polisi tersebut.


Freya pun menoleh dan tersenyum tipis, “Tangkap mereka. Mereka sudah merencanakan pembunuhan berencana terhadapku dan calon anakku, selain itu.. masih banyak yang lain. Tentang bukti akan aku sertakan di pengadilan.”


Serempak keluarga Graham pun berlari menyelamatkan diri, namun tidak sempat! Semuanya sudah tertangkap.


“Baik nyonya, saya akan mengirimkan surat pengadilan kepada anda ke—” polisi itu mendadak menggantung ucapannya, sebab ia tak tahu tempat tinggal Freya.


“Kirim ke mansion Arron, di jalan p” ujar Freya menarik senyumnya lagi.


Polisi itu pun mengangguk dan mengucapkan terimakasih setelahnya polisi-polisi itu pergi. Meninggalkan Freya, Revan dan fern disana.


“Hatimu terluka kan dek? Tidak usah berbohong pada abang” fern mengalihkan pandangannya.


Ia tak sanggup menatap wajah sendu milik Freya.


“Siapa bilang? Memangnya tadi akting pura-pura senduku sangat hebat ya? Aku begitu agar polisi tadi percaya!” ujar Freya setelah polisi tadi sudah pergi secara total.


Revan pun hanya bisa menghela nafas pasrah, wanitanya ini makin menarik saja, setelah lama terdiam...


“Bagaimana kau bisa menangkap Rina?” pertanyaan Revan muncul juga, fern pun kembali menatap Freya penasaran.


“Emm, sebenarnya...”


Flashback on


“S*alan! Kau benar-benar j*lang!” Freya lagi-lagi terkekeh ketika mendengar teriakan Rina.


Namun kekehan Freya hilang saat Rina mengangkat sebuah vas yang terbuat dari perak, vas itu tak akan pecah namun benda itu akan sangat sakit ketika terkena kulit.


SYUNG


Rina melempar benda itu, tidak mau membuang kesempatan Freya meraih bantal di tepi ranjangnya dan menangkis vas itu.

__ADS_1


Dan...


PLAK


Vas itu mendarat di jidat Rina.


“Golll!” teriak Freya girang, sedangkan Rina? Wanita itu mulai bangkit dan menatap tajam Freya kembali.


“Apa?! Mau kejutan lain?” setelah mengatakan ini Freya langsung melesat ke depan Rina memaksa wanita itu untuk membungkuk.


Setelahnya Freya meraih tali Jepang di sakunya dan melilitkannya ke kaki dan tangan Rina.


Lalu bumil itu menaruh Rina di kursi, kini giliran Rina yang ditatap tajam oleh Freya.


Hingga...


PLAK PLAK PLAK


Rina mendapatkan tamparan berkali-kali dari Freya, tenaga bumil itu cukup kuat dan tak perlu di remehkan.


“Itu hukumanmu karena sudah lalai menjaga adinda!” ujar Freya dingin, raut wajahnya menjadi datar.


PLAK PLAK PLAK


“Arghh!!” Rina berteriak kesakitan.


“Shhtt, ini hukumanmu karena sudah membuat Revan dan keluarga purnama sengsara.”


JDAK JDAK JDAK


Freya menatapkan sepatu hak lincipnya ke lutut Rina.


“Itu hukumanmu karena membuat Abang dan aku ditelantarkan” Rina tak bisa menjawab setiap ucapan Freya sebab Freya melakukannya dengan bertubi-tubi dan membuat Rina tepar dengan sendirinya.


Tapi sebelum Rina pingsan, bumil itu meraih sabuk yang ia lilitkan dan memukul Rina sekali menggunakan sabuk itu.


“Dan ini, hukumanmu karena sudah menyengsarakan semua orang!.”


Setelahnya Rina langsung pingsan, “Cih! Kukira dia kuat makanya dia berani berbuat mencelakaiku! Tapi nyatanya dia lemah. Inilah akibatnya jika kalian terlalu meremehkan seseorang.”


Freya lalu membawa Rina dan muncul secara tiba-tiba di antara percakapan suami, Abang dan mantan kedua orang tuanya.


Flashback off


“Begitu..” ujar Freya dengan bangganya.


_________________________________


Aduhh, dasar mom Freya! bangga amat Ama kejutannya, author mah cuma bisa geleng-geleng dibuatnya.


Akhirnya musuh utamanya udah pergi, yeee. tinggal sidang dengan para penegak keadilan nantinya.


okeh-okeh seperti biasanya, jangan lupa letakkan jempol di tempatnya dan berikan saran maupun kritik yang tentunya bersifat membangun ya!.


*thank u~


- Nadira*

__ADS_1


__ADS_2