
Pandu menatap dingin pada orang yang baru saja datang.
Bukan dokter maupun suster melainkan benalu, pandu menoleh pada kinen lalu berucap “Mohon maaf nona, saya undur diri dahulu saya akan membereskan BENALU yang satu ini”.
Pandu menyindir orang itu dengan menekan kata ‘benalu’ pada kata kata nya.
Kinen yang tak mengerti tentang masalah ini memutuskan untuk mengiyakan ucapan pandu, ia jelas tak ingin ikut campur walau dirinya bingung.
Pandu membalikkan badannya lalu menatap dingin orang yang tengah menahan kekesalannya.
“Ikuti saya” perintah dingin dengan nada formal terdengar dari pandu, pandu dan orang itu semakin menjauh meninggalkan kinen yang masih kebingungan.
Kenapa orang itu seperti mengenal pandu? Tapi... Bahasa pandu terdengar formal? Pertanyaan itu terus berputar putar di benaknya.
Memang pandu sering menggunakan kata saya saat berbicara dengannya maupun keluarganya namun nada dingin dan kata ‘benalu’ yang terucap dari mulut pandu memperlihatkan dengan jelas jika pandu mengenal orang itu.
Namun terlihat jelas juga jika pandu membenci orang itu.
“Nona, apa anda keluarga dari pasien di ruang itu?” tanya seorang suster menghampiri kinen.
Kinen pun menoleh lalu mengangguk seraya berucap “Benar, saya anak dari pasien di dalam sana”.
“Bagaimana dengan keadaan mommy saya?” tanya kinen berdiri tetap menatap suster yang baru saja menghampirinya.
“Beberapa saat yang lalu keadaan pasien memang down namun sekarang kondisi pasien sudah lebih baik” jawab suster itu.
“Untuk lebih rincinya nona bisa menanyakan hal ini pada dokter” sambung suster itu.
“Baik, apa saya bisa masuk ke dalam sus?” tanya kinen lagi lagi menatap penuh khawatir pada ruangan mommynya.
“Silahkan nona, pasien belum sadar namun dokter berada di dalam memantau pasien” jawab suster yang membuat kinen mengangguk singkat lalu mengucapkan “Terima kasih”.
Kinen pun melajukan langkahnya memasuki ruangan mommynya.
Beberapa Minggu yang lalu ia yang terbaring di ranjang itu namun sekarang giliran sang mommy terbaring tak berdaya.
Pandangan kinen langsung menuju dokter yang tengah mengawasi mommy.
“Dokter Anisa?” ucapan itu meluncur secara reflek dari kinen.
__ADS_1
Yah harusnya kinen tak bingung maupun heran, tapi kan.. pandu tadi juga kemari? Harusnya dokter Anisa yang merawat pandu.
Selaku dokter pribadi, dr Anisa juga harus tetap merawat pandu! Karena asisten abangnya itu sudah seperti keluarga mereka sendiri.
“Iya nona, apa ada yang bisa saya bantu?” tanya dokter Anisa pada kinen.
“Bukannya dokter harusnya merawat pandu?” bukannya menjawab kinen malah mengajukan pertanyaan.
“Benar nona, saat saya selesai merawat tuan pandu saya langsung mengatasi nyonya besar” jawab dokter Anisa sopan.
Kinen mengangguk mengerti dengan penjelasan dr anisa, kinen melirik ke arah mommy yang masih terbaring tak sadarkan diri di ranjang.
“Bagaimana dengan keadaan mommy? Suster tadi bilang kalau aku mau mengetahui keadaan mommy secara rinci aku harus bertanya padamu” tanya kinen lagi namun dengan topik yang berbeda.
________________________
Saat ini sebuah kapal besar tengah mendarat di pelabuhan S, para Mafioso dan pelayan segera turun terlebih dahulu lalu menunduk hormat berjejer seperti bebek.
Yah tentu itu karena tuan dan isterinya akan segera lewat!.
Namun sama seperti keadaan beberapa saat yang lalu, Freya masih merajuk pada Revan.
Hal ini tentu membuat Revan gemas sendiri bagaimana Freya bisa selucu ini?.
Tuannya itu menatap tajam semua orang di sekitarnya, Revan dibuat marah nyonya muda kenapa malah mereka yang kena batunya sih?.
Mereka cukup mengasihani diri akan hal ini.
“Mana pandu? Kenapa dia tidak ada disini?”
Pertanyaan itu mampu membuat Revan menghentikan pandangan tajamnya lalu menatap pada wanita di depannya.
“Kenapa kamu mencari orang s*alan itu?” tanya balik Revan menyusul langkah Freya.
Mungkin pandu akan menangis ketika mendengar perkataan sang tuan, sekarang katakan siapa yang menjaga Revan hingga saat ini? Siapa yang sekarang bahkan terluka karena mendukung tuannya?.
Dan yang paling penting!
Siapa yang terkena akibatnya ketika tuannya sedang marah? Bahkan siapa yang merahasiakan segala identitas tuannya?.
__ADS_1
Freya menatap sinis pada Revan “Jangan sok akrab denganku sebelum kau mengetahui kesalahanmu”.
Freya meninggalkan Revan yang lagi lagi tengah menarik nafas kesal.
Beberapa saat setelahnya...
Mereka sampai di mansion mommy, Revan sendiri ikut kemari kenapa? Ia tidak ingin Freya merajuk seperti ini terus terusan jadi dia berniat untuk membujuk Freya walau harga dirinya yang akan jadi taruhannya.
“Tunggu, kemana mommy dan kinen?” tanya Freya memperhatikan keadaan mansion yang sepi dan sunyi.
Revan sendiri hanya diam ia rasa ia tau kenapa mansion ini sangat sepi layaknya tak berpenghuni.
Revan terlihat datar dan menelefon seseorang bahkan ia masih terlihat datar ketika tatapan kesal Freya mengarah padanya.
‘ Orang ini cepat sekali berubah! Baru tadi dia dengan manisnya meminta maaf padaku lalu sekarang? Sudah menjadi kulkas lagi’ batin Freya.
“Apa?!”
Teriakan dari Revan membuat fokus Freya kembali, ia dengan cepat bertanya “Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada mommy dan kinen?”.
Revan diam dan menarik tangan Freya kembali masuk ke mobil melaju tanpa memperdulikan pertanyaan Freya.
Namun mobil itu berhenti pada satu rumah sakit.
Seketika Freya melotot, jadi benar? Ada sesuatu yang terjadi pada mommy atau kinen? Semoga bukan sesuatu yang buruk! Doa itu selalu dirafalkan di dalam hatinya.
________________________
Halo readers! Kembali lagi dengan author dari novel jadi jadian di atas.
Seperti biasanya jangan lupa letakkan jempol di tempatnya dan berikan saran maupun kritik yang tentunya bersifat membangun ya!.
Jangan lupa baca novel author yang lain seperti ‘Puteri bungsu sang duke’ yups itu novel baru author.
Author sengaja nyelip nyelipin novel baru padahal novel ini baru mau mencapai ending walau tinggal puluhan bab lagi.
Jadi saat otak author lagi buntu untuk memikirkan alur di ‘my mafia husband’ maka author akan menulis di novel yang satunya.
Begitu pula sebaliknya.
__ADS_1
Oke kalau begitu, see u next time!.
- Nadira