My Mafia Husband

My Mafia Husband
BAB.118. Keisengan si bumil


__ADS_3

Fern kini sudah berada di ambang pintu kamar Freya.


Ia melihat rivalnya mengantar sang adik, ia mendesis kesal ia kalah cepat dengan musuhnya!.


Namun ketika ia melihat sang adik yang termenung dan bahkan hampir menangis..


‘Apa yang dia lakukan pada adikku?’ batin fern bertanya-tanya.


“Sayang” panggil fern lalu melangkah masuk dan mendekati Freya.


Freya menoleh seraya tersenyum agak dipaksakan, “Bang maaf aku sudah membuat Sammy lepas.”


Fern hanya terkekeh pelan sambil mengusap pelan rambut adiknya, “Tidak masalah lain kali meskipun hewan Abang hilang jangan mengejarnya, bagi Abang kamu lebih penting dari apapun itu.”


Freya pun mengangguk lucu, “Jadi.. Abang tidak marah ke Frey kan?” Freya pun bertanya untuk memastikan.


“Abang marah! Tetapi Abang marah bukan karena kamu yang membuat Sammy lepas, namun Abang marah karena kamu malah berlari mengejar sammy” jawab fern agak garang.


“L-lalu bagaimana caranya agar Abang tidak marah lagi ke Frey?” tanya Freya menatap fern dengan mata yang berkaca-kaca.


Matanya yang berkaca-kaca ini karena pengakuan Revan tadi dan.. karena sikap garang sang Abang.


“Mudah syaratnya kamu tidak boleh hilang tanpa kabar lagi, bagaimana? Setuju?” balas fern menjulurkan jari kelingkingnya.


Freya pun tersenyum menatap fern lalu menautkan jari kelingkingnya, “Tentu saja Frey setuju.”


Mendengarnya fern memeluk erat adik tersayangnya takut jika adiknya akan menghilang secara misterius lagi.


“Darling..” ucapan fern membuat Freya mendongakkan kepalanya menatap fern yang tengah memasang raut wajah serius.


“Ada apa bang?” tanya Freya tetap mendongak dan tidak melepas pelukannya pada sang Abang.


“Apa kamu masih mencintai Revan?” tanya balik fern menatap Freya yang tiba-tiba menjadi patung.


“K—kenapa Abang menanyakan itu?” Freya mengerutkan keningnya bahkan secara reflek bumil ini melepas pelukannya pada fern.


“Tidak ada apa-apa, tapi.. jawab pertanyaan abang” balas fern menatap pada Freya.


“Frey masih—.” sahut freya ragu, fern pun menghela nafasnya dan memeluk adiknya kembali.


“Kamu bisa menjawabnya lain kali” melihat keraguan Freya fern pun berucap seraya mengecup ringan rambut indah milik Freya.


Namun.. tanpa Freya berucap fern tahu, masih! Adiknya mengatakan itu kan?.


Freya pun mengangguk pelan di dalam pelukan fern.


‘Abang dan dia itu musuh, jika aku bilang kalau aku masih mencintainya apa Abang akan menyerangnya?’ batin freya sedang ragu-ragu, ragu mengatakan ini pada abangnya dan juga Revan sendiri, namun ia pasti akan mengungkapkan ini suatu hari nanti di saat waktu yang tepat.


“Abang.. Frey mau ke g*ame*** besok ya bang, Frey mau membeli novel kesukaan frey, boleh kan?” pinta Freya menatap penuh harap pada fern.


Mau tak mau fern pun mengiyakan permintaan adiknya.


“Yeah, thank you brother! I love u very much” girang Freya melepas pelukannya mengecup pipi fern manja dan melompat girang.


Seketika wanita hamil itu lupa pada semua hal yang tengah ia fikirkan, yah mungkin ini lebih baik sebab Freya sekarang itu sedang hamil dan harusnya ia bahagia bukan memikirkan hal-hal berat seperti ini.


Tuan dan nyonya Arron yang sedari tadi melihat interaksi keduanya pun tersenyum hangat, “Mereka benar-benar Abang dan adik yang ideal.”


“Iya itu benar, mama berharap mereka akan seperti ini terus, mama suka melihat mereka yang sangat akrab seperti itu” sahut mama grea menanggapi perkataan papa Hunter.


“Papa juga berharap seperti itu ma” balas papa Hunter tersenyum lalu merangkul mama grea membawa mama grea pergi dari depan kamar Freya.


Membiarkan dua saudara kandung berbeda jenis kelamin itu saling berinteraksi dengan hangat dan penuh senyuman.


“Hahahaha.”


Suara tertawa itu adalah hal terakhir yang mama dan papa dengar dari ruangan Freya setelah mereka hampir jauh dari ruangan Freya.


“Sudah lama kita tidak bermain kan ma?” mendengar nada yang agak berat dari papa Hunter membuat mama grea hanya bisa pasrah sekaligus memandang horor pada papa Hunter.


‘bang*at!’ mama grea hanya bisa meruntuk dan mengumpati papa Hunter di batinannya saja.


Keesokan harinya..


“Uwaa mama!” teriak Freya dengan manjanya dan memeluk erat tubuh mama grea.


“Pagi all!” sambung Freya melihat papa Hunter dan fern yang sudah duduk rapi.


“Pagi sayang” sahut papa Hunter dan fern bersamaan.


Mama grea pun membalas pelukan Freya dan menepuk kepalanya pelan, “Ayo sayang kita sarapan bersama ya!.”

__ADS_1


Freya pun mengangguk semangat dengan senyum cerianya, namun kemudian senyum itu memudar.


“Kenapa sayang? Apa ada sesuatu yang salah?” tanya mama grea yang memperhatikan perubahan mimik wajah dari Freya.


“Kenapa mama grea terlihat menahan sakit seperti itu?” pertanyaan yang teramat jaha***m itu keluar dari mulut Freya.


JDAR


Seketika wajah mama grea berubah menjadi pias, fern yang juga mendengar pertanyaan Freya pun memandang intens pada mama grea.


“Iya, Frey benar mama terlihat seperti orang yang menahan sakit” gumam fern lirih yang mana membuat papa Hunter yang masih bisa mendengarnya tersedak.


Seketika fern dan Freya melirik ke papa Hunter yang entah mengapa tersedak tiba-tiba.


Setelah beberapa detik berfikir wajah fern langsung memerah malu, ia sepertinya faham.


“S—sayang mungkin kamu hanya salah mengira, mama tidak terlihat begitu kok!.” ujar fern menatap pada Freya, sang adik yang pagi-pagi sudah membuatnya traveling menjelajah ke seluruh dunia.


Mama grea menatap pada fern yang terlihat malu, jangan bilang putera tertuanya ini mengerti? Heh! Bagaimana bisa si tertua Arron itu mengetahuinya padahal kan dia belum mempunyai isteri.


“Tapi bang, bener! Coba Abang perhatiin baik-baik” balas Freya yang mana membuat fern gemas mengsungkem mulut sang adik agar adiknya ini diam.


‘S*al!’ batin fern meruntuk, apa fern memang harus mensungkem mulut adiknya dengan lakban?.


“N—ngga kok Frey, fern kan juga bilang begitu, iya kan fern? Papa juga lihat tuh, mama ngga begitu kan pa?” tanya mama grea agak gugup meminta persetujuan dari fern dan papa Hunter.


Freya pun melihat ke arah papa Hunter dan fern yang tengah duduk di kursi mereka, “Iya Frey mama mu tidak seperti menahan sakit” jawab papa Hunter yang di angguki oleh fern.


Namun beberapa detik kemudian fern mengernyit, bukannya adiknya itu sudah mengandung? Berarti sudah pernah main begituan kan? Tapi kenapa adiknya ini seolah-olah tak mengerti?.


Setelahnya fern pun menggelengkan kepalanya pelan menyadari bahwa Freya benar-benar sangat iseng pada kedua orang tuanya, dan me-woahnya papa dan mamanya sama sekali tidak mengetahuinya.


‘Eh kok Abang geleng-geleng begitu? Jangan-jangan Abang tahu kalau aku lagi iseng ngerjain mama sama papa ya?’ batin Freya terkikik kecil di dalam hatinya.


***


“Abang!” teriakan kinen pun menggelegar di mansion baru purnama.


“Apa?” pertanyaan sederhana dengan nada dingin muncul dari Revan yang baru turun.


“Oh kirain Abang belum bangun” Revan memutar matanya malas mendengar balasan dari kinen, adik perempuannya itu tetap menyebalkan.


“Sudah-sudah ayo kita makan!” lerai mommy setelah ia selesai menata nasi, lauk dan makanan penutup ah ya jangan lupa minumannya.


“Iya mom” hanya kinen yang membalas sebab Revan langsung duduk di kursinya.


“Selamat makan!” ujar mereka bersamaan, Revan pun mulai memakan makanannya secara perlahan.


Tetapi kemudian mommy menghela nafasnya pelan ia pun bertanya, “Pandu mana Rev? Katanya dia mau mama jodohkan sekalian sekarang mom mengenalkan orang yang mom pilihkan untuknya.”


Revan pun menaikkan bahunya tak tahu, memang benar Revan tidak tahu saat ini pandu berada dimana.


“Memangnya pandu mau mom?” tanya kinen penasaran, mata gadis itu bahkan menyipit karena ia mengerutkan dahinya.


“Iya, dia kemarin bilang kalau dia mau dijodohkan dengan gadis pilihan mommy” jawab mommy, momnya sudah menganggap bahwa pandu itu anaknya, anak yang ke dua setelah Revan.


Jadi istilahnya kinen memiliki dua Abang, namun yah yang namanya kebiasaan tetaplah kebiasaan tak bisa cepat dirubah.


Apalagi jika panggilan/kebiasaan itu selalu dilakukan setiap hari maka akan lebih sulit lagi untuk di hilangkan.


Contohnya tak usah mencari jauh-jauh, seperti pandu sudah terbiasa memanggil keluarga purnama dengan gelar sedangkan kinen sudah terbiasa memanggil pandu dengan nama.


“Siapa gadis itu?” tanya kinen yang makin penasaran saja, gadis itu sudah mulai memakan sarapannya begitu pula dengan Revan.


“Dokter Anisa, mama dan jeng dewi (mamanya dokter Anisa) sudah sepakat untuk ini” balas mommy berapi-api bahkan matanya sudah menyala bak bara api.


BYUR


Secara tak elit kinen hampir menyemburkan makanannya, ia fikir pandu akan ditunangkan dengan orang luar.


“Dr Anisa?” ulang kinen tak percaya, dr Anisa pernah bercerita padanya kalau ia benar-benar sangat tidak suka pada pandu.


Tapi sekarang?.


Ah tau deh rumit banget!.


“Iya, mom dengar mereka dekat akhir-akhir ini” sahut mommy mulai memakan makanannya.


Kinen melirik ke Revan yang terlihat biasa-biasa saja malah pria itu terkesan melamun dan tidak mendengarkan momnya berbicara.


Sepertinya kinen tahu apa yang sedang di fikirkan oleh Abang tampan nya ini, tentu saja kakak iparnya memangnya ada yang Revan fikirkan selain kakak cantiknya itu?.

__ADS_1


Hmm, tau deh kinen juga tak bisa menolak ataupun mengkritik perkataan mommy, bagaimanapun mommy itu orang yang lebih tua darinya jadi tak sopan jika ia menentang perkataannya, apalagi ini demi kebaikan pandu dan dokter anisa sendiri.


Lagipula kinen merasa bahwa perkataan mommy benar adanya, kalau memang dr Anisa dan pandu sama-sama benci tak masalah lah kasusnya tak seberapa berbeda dengan kasus abang dan kakak iparnya.


Beberapa saat setelahnya...


Revan pun sudah siap, pria itu baru ingin menunggu pandu di halaman depan mansion, baru pertama ini pandu terlambat.


Revan baru ingin menelefon pandu untuk segera datang agar mereka bisa pergi ke cabang perusahaan purnama yang berada di negara C namun...


“Abang, Abang sibuk ya?.”


Revan menajamkan indera penglihatan dan indera pendengarannya.


“Lah Abang kira kamu ke sana saat malam.”


Revan mengerutkan keningnya, mau kemana wanitanya itu?.


“Tidak, karena hari ini kuliah Frey libur kata dosennya Frey bisa mengambil istirahat untuk kehamilan sebab Frey sudah selesai dengan tugas hari ini, Frey juga sudah faham materi untuk seminggu kedepan, ya daripada Frey bosan disini terus.”


“Hmm, yasudah bawa black card-nya Abang, beli novel yang kamu suka dengan ini. Andra akan menemanimu” pesan itu terdengar dari fern.


“Oki doki Abang!.”


Mendengar ucapan lucu dari sang isteri Revan terkekeh pelan hingga pandu datang.


“Tuan kenapa? Apa tuan sakit jiwa?” gumaman itu lirih namun telinga tajam Revan masih bisa mendengarnya.


Revan pun melirik tajam ke arah pandu yang kini cengengesan.


“Ada berapa berkas yang harus aku tanda tangani dan ku kerjakan hari ini?” Revan memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah.


“Ada sekitar 13 dokumen tuan” meskipun bingung mengapa Revan bertanya demikian namun pandu tetap menjawabnya.


“Aku akan kesana nanti, sekarang ayo kita ikuti mobil itu” titah Revan.


Langkah pertama yang paling penting adalah memastikan perasaan Freya, setelah itu baru ia harus meluluhkan hati fern.


Sebab bagaimanapun yang bertindak itu Freya bukan fern.


Pandu pun bertambah bingung tetapi Revan segera menyeret pandu dan mendudukkannya di kursi penumpang.


“Tuan mau menyetir?” tanya pandu yang hanya dibalas deheman oleh Revan.


‘Siapa yang mau di buntuti oleh tuan? Dan lagi.. sejak kapan tuan menjadi seorang penguntit? Mengherankan sekali Seorang bos mafia dan ceo menguntit?’ batin pandu menggelengkan kepalanya tak habis fikir.


Lalu...


BRUM NGENG


Pandu sendiri hampir jantungan saat tuannya menyetir dengan kecepatan tinggi, Sebab Revan tertinggal oleh mobil Freya.


“Oy tuan! Pelan kan mobilnya” tanpa sadar pandu berucap sedikit tidak sopan.


Seketika pandu menutup mulutnya dengan kedua tangannya dengan kata lain ia melepas pegangannya pada kursi mobil.


JDUAK


Akhirnya jidat paripurna milik pandu harus rela terjedot di pintu mobil karena ia terhuyung ke samping.


Pandu mengusap jidatnya jengkel, bagaimana jika akan ada benjolan di dahinya?.


‘Pasti wajah tampan nan very handsome ku ini tercemar dengan benjolan nanti!’ batin pandu yang kelewat narsis!.


Tetapi pandu tetap tak berani untuk menceramahi Revan, perkataannya yang awal tadi itu keluar secara reflek.


Dasar bos, maunya macam-macam seperti pelangi bermacam-macam warnanya dan parahnya pandu hanya bisa mengikuti tanpa membantah sekalipun.


menyebalkan sekali!.


_______________________________


Hallo readers! Akhirnya kita bertemu lagi.


Hayo siapa yang pernah jadi penguntit kayak babang Revan? Wkwkwk.


Ah ya, jangan lupa letakkan jempol di tempatnya dan berikan saran maupun kritik yang tentunya bersifat membangun ya!.


Thank u~


-Nadira

__ADS_1


__ADS_2