
Hari telah berganti..
“Kak, Abang mana kok belum turun?” tanya kinen yang diangguki oleh mommy pertanda jika wanita paruh baya itu juga penasaran.
BLUSH
Wajah Freya bersemu merah secara tiba tiba, kemarin Revan melakukan hal ‘itu’ padanya, seharusnya dirinya yang lelah bukan Revan.
Eh malah pria itu yang telat bangun.
“A-ah, itu kakak juga tidak tau kin.. bentar kakak panggil abangmu dulu ya” jawab Freya tersenyum.
Baik mommy dan kinen pun saling menatap heran pada Freya, mereka jelas melihat bahwa Freya tengah mengalami.. blushing?.
Sedangkan Freya sendiri sudah ada di kamarnya dan Revan, prianya itu masih bergelut dengan selimutnya.
TAK
TAK
TAK
Langkah kaki Freya terdengar mendekat ke Revan, namun nyatanya Revan sama sekali tidak terbangun.
Freya hanya bisa menghela nafasnya sebelum ikut naik ke ranjang.
Freya menindih Revan yah namun sejatinya itu tak akan membuat Revan terbangun, sejak awal Revan memiliki tubuh dua kali lipat lebih besar dari Freya.
Tangan Freya bermain main dengan kelembutan bibir Revan, perlahan pria itu membuka matanya.
Revan tak menyerang sebab ia tau siapa yang berani menyentuhnya seperti ini..
“Rev, ayo bangun.. mommy dan kinen menunggumu” ucap freya, tangannya kini beralih untuk mengelus lembut rambut Revan.
Tangan Revan meraih pinggang Freya namun ia tak membalikkan posisi mereka.
“5 menit lagi” balas Revan memejamkan matanya lagi.
__ADS_1
PLAK
Revan membuka matanya lagi ketika Freya malah memukul kepalanya, mendadak Revan mulai bertanya-tanya, sejak kapan Freya berani bertingkah seperti ini?, Namun.. sepertinya ia lebih menyukai Freya yang ini, daripada Freya yang dulu.
Revan pun memandang tajam ke arah Freya, mommynya saja tak pernah memukul dirinya, lalu wanitanya ini?.
“Jangan menatapku seperti itu, aku sama sekali tidak takut” ucap Freya menjulurkan lidahnya.
“Cepat mandi lalu turun, atau kau tidak mendapat jatah makanmu” ancam Freya.
“Aku bisa membeli makanan nanti” balas Revan dingin.
Freya mendelik ke arah Revan, ia dan mommy tadi sudah memasak! Lalu Revan bicara akan membeli makanan? Dasar pemborosan!.
“Yasudah, beli saja makan di luar! Sekalian malam ini tidur di luar” sahut Freya menghempaskan tangan Revan lalu pergi ke luar.
“Frey!” panggil Revan, kini pria itu sudah duduk di ranjangnya.
Namun sayang beribu sayang, Freya sama sekali tak menggubris panggilan Revan padanya.
______________________________
Namun baik kinen maupun mommy tak berniat bertanya, bagaimanapun wajah kesal Freya sudah menjadi pengingat jika wanita muda itu akan menendang semua orang yang berani mengganggu dirinya.
Kinen dan mommy sama sama memikirkan satu tersangka, Revan.
Tak lama kemudian terdengar langkah kaki Revan dari atas.
Mommy dan kinen langsung menatap tajam ke wajah datar orang itu, yang di tatap malah mengangkat alisnya tak mengerti.
Mommy yang jengkel langsung melirik ke freya, memberi isyarat agar Revan menoleh.
Akan tetapi sejak awal Revan itu bukan tipe orang yang peka terhadap isyarat, hingga akhirnya kinen yang bertindak.
Kinen maju ke hadapan sang Abang lalu memutar kepala abangnya hingga pria itu menatap ke Freya.
Kinen berbisik ke Revan, yang mana bisikan kinen malah membuat Revan sedikit merinding.
__ADS_1
“Kalau Abang tidak bisa menormalkan kakak, aku dan mommy akan mencabik-cabik tubuh Abang, lalu kami akan memberikannya ke a*jing!”.
Kini Revan mulai bertanya di dalam hatinya, siapa sih anak mommy dan Abang kinen? Freya atau dirinya? Kenapa mereka menyayangi Freya sampai begini? Dirinya saja tak pernah disayangi hingga seperti ini.
______________________________
“Apa yang membuatmu terluka son?” tanya seorang lelaki kepada pria yang merupakan anaknya.
“Si b**ngsek itu, dia menyerang ku saat delard ketahuan” jawab pria yang merupakan anaknya.
Yup, benar mereka adalah.. Hunter Arron, dad Hunter dan Arron Fernandez putra, fern.
“Kau mencoba mendapatkan adikmu sendirian? Bukankah dad pernah bilang kalau dad akan membantumu untuk mendapatkan adikmu kembali?” Dad Hunter terlihat begitu emosi.
Meski dirinya tadi terlihat tak cemas dengan luka yang fern dapat, namun bukan berarti dirinya tak mengkhawatirkan fern.
“Aku hanya ingin membuktikan sesuatu” balas fern dingin, seolah-olah ia tak peduli jika ia terluka.
Sebab, memang niatnya ingin merebut Freya kembali.. namun.. ia juga memiliki tujuan yang lain.
“Apa maksud dirimu?” tanya dad Hunter tak mengerti lagi dengan pemikiran dari puteranya.
“Aku hanya ingin membuktikan, apa pemikiran ku tepat sasaran atau tidak” jawab fern lagi dengan dingin, sepertinya fern tak berniat menjelaskan secara rinci.
“Apa pemikiran mu?” tanya dad Hunter, mau tak mau ia harus aktif bertanya sebab puteranya tak akan menjawab dengan rinci, kecuali jika dirinya bertanya secara terus menerus.
“Aku hanya menduga kalau rival ku itu menyukai freya, sekarang fikirkan kenapa Freya tidak di lepaskan oleh dia? Padahal dia bisa memainkan wanita, dia juga bisa membeli wanita lain, namun dia tidak melepaskan adikku” jawab fern mau tak mau bicara panjang.
“Jadi.. bagaimana? Apa itu benar?” tanya dad Hunter penasaran.
“Tentu saja benar, karena itulah aku mendapat luka ini.. dia menyerang ku dengan membabi buta karena dia menyangka jika aku akan melukai freya” jawab fern datar.
“Lalu.. apa kau akan tetap merebut adikmu son?” tanya dad Hunter lagi, sudah ia bilang ia yang harus aktif bertanya.
“Selama dia bahagia maka aku tak akan merebutnya dari si b**ngsek itu, namun aku akan tetap memberitahunya tentang identitasku” jawab fern datar nan dingin.
Dad Hunter hanya bisa mengangguk mengerti.
__ADS_1
______________________________