
Keesokan harinya...
“Hoamm” Freya menguap saat ia baru bangun dari tidurnya, ia lalu membuka matanya perlahan. Ditolehnya ke samping kanan.
Disana ada seorang pria yang sedang.. ekhem t*******g, Freya lalu menolehkan kepalanya ke samping kiri namun baru lima detik ia menoleh ke kiri ia kembali menoleh ke kanan.
“Loh? Revan? Dia ada disini?” gumam Freya tak percaya, ia lalu menepuk pipinya dengan dua belah tangan.
PUK
PUK
PUK
“Bukan mimpi” sambung bumil itu lalu menyentuh rambut si suami, ah terasa nyata dan.. bisa di sentuh.
“Shh, kenapa Frey? Aku mau tidur saja tidak bisa” pertanyaan itu muncul dari Revan yang masih dengan mata terpejam.
“Loh! Nyata dong?” mendengar suara pekikan dari sang isteri Revan pun akhirnya membuka matanya pelan.
“Memang kamu kira aku itu semacam khayalan?” tanya Revan datar, akhirnya pria itu beranjak duduk di ranjang wanitanya.
Mata elang Revan melirik ke jam Beker yang berada di sampingnya, pukul lima pagi.
Ah ya, cukup pagi.
“Heh, kenapa kau ada disini?” tanya Freya lagi-lagi dengan suara yang agak keras, beruntung kamarnya kedap suara.
“Apa itu salah? Seharusnya memang begini! Aku itu suamimu jadi sudah sepantasnya kita tidur di kamar yang sama kan?” jawab Revan disertai pertanyaan yang membuat Freya bungkam.
Freya lalu mencebikkan bibirnya, ia pun turun dari ranjang itu namun..
“Aduh!” ia akhirnya terduduk di ranjangnya kembali.
Nah baru ia sadari.. sepertinya kemarin terjadi sesuatu yang agak bagaimana ya.. enak tapi ngilu.
Freya lalu mendelik tajam pada Revan yang kini sudah menggendongnya, “Bagaimana bisa rasanya jadi sakit lagi? Dulu udah ngga sakit padahal?.”
“Itu karena kita sudah lama tidak melakukannya” jawab Revan singkat, pria itu meletakkan Freya di dalam bathub.
Freya hanya diam ia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi kemarin malam hingga ia sampai di titik yang agak...
Kemudian wajahnya memerah menahan Malu, harusnya ia tidak minum seperti yang diperintahkan Revan padanya di acara resepsi saat ada seseorang maid menawarkannya.
Revan sudah bicara bahwa takutnya di sana ada suatu obat yang dicampurkan oleh musuh keluarganya, namun ia tak menghiraukannya sebab ia saat itu sangat haus.
Ia lalu pergi ke kamar mandi dan disana seorang pria be*** menunggunya.
Beruntung si suaminya itu datang tepat waktu atau.. saat itu ia akan menghabiskan malam bersama orang asing!.
Hadeuh, ah tau deh pusing.
“Siapa yang mencampurkan hal itu di minumanku kemarin?” tanya Freya pada suaminya yang masih belum keluar.
Si suami itu sibuk mengukur suhu air yang tengah dibuat berendam oleh Freya.
“Entahlah, bukannya aku sudah memperingatkan mu kemarin? Jangan meminumnya” jawab Revan menatap datar pada wanitanya.
Freya akhirnya hanya dapat mencengir kuda mendengar keluhan suaminya.
“Tapi.. yah tidak papa, hal itu berujung ni*mat kan?” kelanjutan ucapan Revan membuat Freya menahan malunya.
“Revv!” teriak Freya kesal saat Revan melirik ke area d**a dan v*****nya.
Revan hanya terkekeh singkat, rasanya ia tak sanggup jika bertingkah bagaikan es di hadapan isterinya ini.
__ADS_1
“Ih, malah ketawa! Sana keluar terus pergi sebelum Abang mengetahui bahwa kamu disini!” usir Freya melirik ke pintu.
Namun Revan hanya diam di tempat, “Untuk apa? Ini mansion arron kan? Yang berarti ini milik tuan dan nyonya besar arron, aku kemarin sudah meminta izin pada mereka untuk tinggal denganmu sementara disini.”
Freya pun melongo mendengar penjelasan Revan, “Lalu mama sama papa mengizinkanmu?” Freya bertanya dengan sedikit mendelik.
“Tentu saja, katanya mereka sama sekali tidak keberatan. Dan tentang abangmu itu.. biarkan aku yang mengurusnya” jawab Revan, ia lalu berdiri setelah suhu air yang dipakai Freya berendam dirasa tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin.
“U—udah sana keluar!” usir Freya lagi sebab mendadak hawa sekitar menjadi canggung tiba-tiba.
Mungkin ini karena mereka yang pertama kali berhubungan setelah berbulan-bulan lamanya.
Revan hanya mengangguk lalu keluar dari kamar mandi itu, Freya sendiri menenggelamkan diri di dalam air ini.
Ia bahkan sampai memejamkan matanya menikmati, namun tiba-tiba ia membuka matanya lagi, bergegas mandi dan memakai pakaiannya.
Ia memakai kaos berwarna coklat susu, dengan setelan celana berwarna senada. Mungkin bagi orang biasa harganya tidak mahal.
Namun jika orang itu suka berbelanja maka ia pasti akan tahu bahwa barang-barang sederhana yang di pakai Freya itu memiliki harga yang fantastis.
Ah kita kesampingkan dulu hal ini.. yang lebih pentingnya.. kenapa bumil itu tiba-tiba langsung bergegas mandi? Jangan bilang kalau dia menginginkan sesuatu?.
Kemarin siang ia membuat Revan kerepotan dengan mie ayam, sekarang apa lagi?.
“Reevaann!” teriakan itu membuat Revan dan fern yang awalnya bersitegang jadi kompak menatap ke atas.
Begitu pula dengan Andra, delard, mama grea dan papa Hunter.
“Ada apa?” tanya Revan datar, pria itu mendekati Freya yang baru turun dari tangga.
“Beliin mi goreng, telur, gula eh gula udah ada ya?” Freya pun menoleh ke mamanya dan mamanya itu mengangguk mengiyakan.
“Oke udah itu aja!” sambung Freya membuat Revan mengernyit.
“Berapa?” tanya Revan singkat, bagaimanapun ia harus menuruti permintaan sang isteri kan?.
“Hmm.. mi nya tiga terus telurnya setengah kilo! Sekalian buat masak-masak nanti” jawab Freya riang membuat Revan gemas dan mengelus pelan rambut Freya.
DUG
Ketika merasakan ini Freya reflek mengelus perutnya dengan satu belah tangan.
Revan secepat kilat ikut menyambar tangan Freya meskipun ia sudah merasakan hawa mencekam saat ia mengelus rambut si isteri sedangkan mama grea dan papa Hunter tersenyum bahagia melihat mereka.
“Oke” Revan setuju untuk membelikan mi goreng dan telur pesanan Freya ketika si janin sudah berhenti membuat ibunya kesakitan.
***
“Anisaaa” teriakan super duper itu berasal dari seorang wanita.
“Siapa sih?” tanya dr Anisa kesal, wanita itu baru saja bangun. Semalaman ia tidak bisa tidur lalu sekarang ada yang mengganggunya?.
Ck rasanya dr Anisa benar-benar geram, kesal dan merana sekaligus.
“Eh— mama?” panggil dr Anisa seraya turun dan memeluk mamanya. Berharap bahwa ibu kandungnya itu akan membawa dirinya pulang dari sini.
“Mana pandu?” tanya mama Dewi yang sudah tak sabaran.
“Disini ma” jawab pandu dari atas, pria itu juga bergegas turun.
Kemarin mama Dewi dan papa lyan menyuruh Revan mengganti nama panggilan mereka dari ‘tuan dan nyonya’ menjadi ‘mama dan papa’ dan tentunya pandu tak bisa menolaknya.
“Nah! Berhubung kalian berdua sudah lengkap berada disini maka mama mau menanyakan satu hal—” ucapan mama Dewi terpotong karena suara bariton milik papa lyan.
“Ma, biarin aja Napa? Jangan menanyakan hal seperti itu. Itu privasi mereka ma” peringat papa lyan seolah-olah pria itu sudah tahu apa yang akan di tanyakan oleh isteri tersayangnya itu.
__ADS_1
“Tapi pa! Anisa itu tetap Puteri pelita bagi kita! Mau sebesar apapun, Anisa tetaplah anak-anak bagi mama. Udah deh papa diam aja” balasan mama Dewi cukup membuat dr Anisa terharu sedangkan papa lyan dibuat bungkam.
“Baik, mama mau tanya apa?” tanya pandu dan dr Anisa serempak namun kemudian mereka saling bertatapan dengan tajam.
‘Dasar! Kenapa dia mengikutiku?’ batin dr Anisa geram, tetapi ia tak bisa langsung menggeplak pandu saat ini.
“Wah kompaknya! Fix sih kalian jodoh” dr Anisa dibuat terdiam sedangkan pandu hanya menolehkan kepalanya ke arah lain.
“Ahahah, oke-oke mama tadi mau tanya apa kalian sudah menjalankan program tadi malam?” tanya mama Dewi.
Pandu yang tahu program yang dibuat malam-malam pun seketika mengelus tengkuknya yang tak gatal, sedangkan dr Anisa yang tidak tahu-menahu tentang ini pun kebingungan.
“Program apa sih ma?” dr Anisa tetap bertanya walau pandu sudah mengisyaratkan ia untuk diam.
“Duh! Kamu ini pura-pura polos atau gimana sih nis? Ituloh program buat nyiptain dedek bayi” barulah pipi dr Anisa bersemu merah saat mamanya menjelaskan.
Dr Anisa dan pandu saling bertatapan satu sama lain hingga mama Dewi dan papa lyan berdehem pelan.
“Kalau dilihat-lihat.. kalian belum melakukan itu ya? Huh! Yasudah deh mama akan bilang ke jeng tari untuk membiarkan menantu libur dua hari” ujar mama Dewi yang diangguki oleh papa lyan.
Sesungguhnya, papa lyan juga menginginkan seorang cucu.
“Untuk apa nyo— ah maksud saya bukan! Maksud ku kenapa mama mengajukan liburan ke nyonya?” tanya pandu yang berkali-kali salah di awal.
“Ya.. agar kalian bisa buat cucu untuk kami! Udah deh nurut aja sama mama” dr Anisa pun ingin membantah begitu pula dengan pandu.
Namun mama Dewi langsung berucap lagi.
“Ayo pa! Kita pergi ya” potong mama Dewi lalu menggamit lengan papa lyan dan keluar dari sana tanpa mendengarkan teriakan dr Anisa maupun pandu.
Alhasil setelah mama dan papanya dr Anisa pergi pandu dan dr Anisa seketika hening tanpa berbicara apapun.
Suasana pun menjadi canggung mendadak.
“Emm, maaf kan mamaku ya..” akhirnya dr Anisa meminta maaf sebab hatinya serasa tak enak karena perkataan mamanya yang sembrono.
^^^(Padahal kan mama Dewi cuman mau cucu ya? Di turuti aja lah! Yah walau awalnya ngeri-ngerian tapi kan lama-lama enak.)^^^
“Sekarang dia juga mamaku, jadi.. itu tak masalah” balas pandu datar.
“Aku akan pergi ke mansion arron, tuan muda pasti sudah menunggu” sambung pandu lagi, dr Anisa pun mengangguk.
Ini bukan berarti bahwa pandu berpamitan pada dr Anisa karena mereka saling cinta namun karena papa lyan dan mama Dewi masih belum pergi dan mengintip dari jendela.
Hadah! Kayak pencuri padahal yang di awasi ini apartemen menantunya sendiri loh!.
“Aku juga akan pergi ke rumah sakit setelah ini kemungkinan aku akan pulang jam tujuh malam-an” balas dr Anisa lalu naik ke atas lagi untuk mengganti baju sedangkan pandu langsung pergi ke luar sebab ia sudah siap.
Ingat! Mereka pisah kamar jadi mereka tak tahu bagaimana keadaan pasangan yang satunya.
Nah karena ini mereka tak bisa berpura-pura mengantar satu sama lain! Dan.. dr Anisa maupun pandu bersyukur karena hal ini.
_______________________________
Cihuy, halo readers gimana kabar kalian semua? Author harap kalian baik-baik saja ya.
Gimana tuh kelanjutannya cerita dr Anisa ma pandu? Terus si nyonya bumil ngidam apa lagi tuh? Moga jangan yang aneh-aneh, kasian tuh Revan.
Jahat banget ya Freya, lebih jahat lagi author yang mbuat alur 🤣.
Oke-oke, seperti biasanya jangan lupa letakkan jempol di tempatnya dan berikan saran maupun kritik yang tentunya bersifat membangun ya!.
Thank u~
-Nadira
__ADS_1