My Mafia Husband

My Mafia Husband
BAB.123. Siluman monyet


__ADS_3

Saat Freya tengah asik-asiknya berbaring di ranjangnya dengan membaca novel yang belum ia selesaikan suatu suara mengalihkan perhatiannya.


GLUDAK


Suara yang lirih namun Freya dapat mendengarnya, ia pun menoleh ke samping jendela kamarnya, matanya membulat ketika seseorang pria berhasil masuk ke kamarnya.


“A—apa? Bagaimana kau bisa kemari?” Freya yang awalnya berbaring pun menyangga tubuhnya dengan kedua tangan yang menumpu pada ranjang tersebut.


“Hal yang mudah bagiku” balas pria itu mengedikkan bahunya acuh.


“Kau tidak waras ya?! Aku kan berada di lantai atas, ini bukan lantai dasar memangnya kau monyet yang bisa memanjat setinggi ini?” sahut Freya yang malah menuduh pria itu sebagai siluman atau jelmaan monyet.


“Jadi kau menuduhku sebagai siluman monyet hm?” ucap pria itu melangkahkan kakinya mendekat ke arah Freya.


“Hey! Jangan mendekat atau aku akan berteriak” Freya reflek turun dan berdiri dari ranjangnya.


“Coba saja, memangnya kau tega padaku?” tanya pria itu, Revan.


Kalian kira Revan akan melepaskan Freya setelah wanitanya itu terang-terangan muncul di hadapannya?.


“Dasar bang—” ucapan Freya terpotong karena ucapan Revan.


“Ingat jika kau berbicara toxic seperti itu lagi aku akan menc*um mu!” ucapan ini mampu membuat Freya terdiam tanpa membantah sekalipun.


Akhirnya Freya hanya bisa membatin dengan kesalnya, lagian bagaimana bisa sih pria ini kemari? Ia berada di mansion yang bertingkat! Darimana dia mengetahui kalau dirinya ada disini?.


Yah kecuali kalau dia mengintip satu persatu ruangan di setiap lantai.


DEG


“Jangan-jangan kau bukan pria biasa?” Revan tercekat ketika nada bicara Freya mulai serius, apa maksudnya itu? Apa Freya tahu bahwa ia seorang mafia?.


“Maksudmu?” balas Revan balik bertanya pada Freya yang kini menuding ke arahnya.


“Jangan-jangan kau itu memang siluman monyet atau kau itu bisa terbang? Ah benarkah kau bisa terbang? Kalau begitu bawa aku terbang!” Revan tersenyum paksa saat mendengar pernyataan Freya.


Ia kira tadi apa kok malah kek gini.


“Tunggu— memangnya ada ya hal fiksi seperti itu di dunia nyata seperti ini?” sambung Freya cerewet.


Namun sedetik kemudian Freya terpaku, hal tersebut mungkin sedikit mustahil tetapi mengingat kemunculan adinda yang hanya seorang roh..?


“Ada apa? Kau sakit?” Revan bertanya sambil mengarahkan tangannya ke jidat Freya.


“Tidak! Aku tidak sakit” balas Freya menepis tangan Revan.


“Kalau begitu kenapa kau menjadi secerewet ini? Selain itu kau memikirkan hal-hal yang bersifat fiktif, yang jelas aku bukan siluman” sahut Revan datar.


“Aelah, secerewet apa sih?” tanya Freya heran, ia menyahut ucapan Revan dengan mengernyit.


“Entahlah yang pasti kamu sangat cerewet, tetapi..” jawab Revan menggantung, Freya pun mendengus kesal pertanda jika ia penasaran.


“Tetapi aku tetap menyayangimu” bisik Revan tepat di telinga Freya.


DEG DEG DEG


Hati Freya berdegup kencang, sudahlah! Perasaannya itu masih memihak si Revan ini.


Tidak lucu kalau Freya harus terkena serangan jantung di moment-moment seperti ini kan?.

__ADS_1


“A—apaan sih?” sahut Freya mendorong kepala Revan menjauh dari dirinya.


“Bukannya ini sudah mau malam ya? Jika kau berada disini maka mama, papa atau Abang pasti akan mengira bahwa hal-hal yang aneh terjadi!” seru Freya mendorong tubuh kekar Revan ke arah jendela.


“Memangnya kenapa? Lagipula kita itu suami isteri yang sah” balas Revan yang bahkan tidak bergerak sama sekali di tempat berdirinya.


Freya yang ingin memprotes pun terhenti karena suara ketukan pintu yang sangat menggema.


TOK TOK TOK


“Sayang, ini Abang kamu sedang apa di dalam? Bersama siapa? Kenapa Abang mendengar suara seorang lelaki di dalam sana?.”


DEG


Makin berdetak cepat saja jantung Freya, “I—itu abangku” bisik Freya menatap tajam ke arah Revan, mengisyaratkan agar pria itu segera pergi.


“Freya sayang, kamu ada di dalam?.”


Jika Freya sedang panik berbeda dengan Revan, pria itu sekarang sedang menahan kecemburuannya, ia seolah tak menerima jika ada seorang lelaki memanggil Freya dengan sebutan ‘Sayang’.


Kalau mommy mah tidak apa-apa kan mommy itu perempuan bukan lelaki, namun Revan juga tak bisa marah sebab fern, lelaki itu adalah Abang dari sang isteri.


“Iya bang, Frey ada disini.. maaf tadi Frey baru selesai mandi jadi ngga denger abang” balas Freya asal.


“Kamu membawa seseorang lelaki ke kamar mandi di bathub pula?” pertanyaan itu muncul dari fern suaranya terdengar sangat panik.


“Apa?! Tentu tidak bang frey kesana sendirian, lagipula mengapa Abang mengira bahwa frey membawa seorang lelaki di kamar ini?” balas Freya pura-pura budek dengan apa yang ia dengar sebelum menyahut fern.


“Tadi Abang mendengar suara bariton, itu berarti ada seorang pria kan? Coba buka pintunya Abang ingin memeriksanya sendiri” sahut fern dari luar pintu.


“H—hah?! Tidak perlu bang, percayalah ke Frey sama sekali tidak ada siapapun disini hanya Frey seorang” Freya berucap dengan panik, bumil itu juga mendorong tubuh Revan lagi.


Sayang sekali Revan masih tak bergerak padahal pria itu sudah mendengar suara fern yang memaksa untuk masuk, bohong kalau Revan bilang kalau dia tidak takut.


Tetapi saat ini Revan nekat karena sepertinya ia suka melihat wajah panik Freya.


BRAK


Sepertinya fern mencoba untuk mendobrak pintu kamar Freya, sedari tadi Freya mengunci pintu kamarnya.


“Sayang? Kamu baik-baik saja? Ayo buka pintunya atau biar Abang dobrak saja pintunya?.”


Freya menatap panik pada Revan, “Hey cepat pergi atau Abang akan mengetahui bahwa kau ada disini dan upayaku untuk berbohong akan sia-sia” Freya berbisik pada Revan.


Tetapi Revan tak memberi respon apapun.


“Revan..!” Freya menekan setiap kata.


“Baik tapi sekarang panggil aku dengan....”


Di sisi lain...


“Kenapa Freya tidak membukanya? Aku benar-benar mendengar suara bariton, apa Revan berada di dalam?” gumam fern heran.


BRAK


Fern mencoba untuk mendobrak pintu itu lagi, “Darling!.”


Lalu..

__ADS_1


Freya membuka pintu kamarnya, ia menatap pada fern yang sudah menghunus tatapan tajamnya.


“Kenapa kamu tidak membukanya dari tadi?” tanya fern menerobos masuk.


“Yah, kan tadi frey baru selesai mandi bang jadi ya harus ganti baju dulu kan?” beruntung Freya membuat alasan bahwa ia baru selesai mandi.


“Tapi kamu bisa berteriak dan mengabari itu kan?” balas fern memeriksa seluruh sudut di kamar Freya bahkan pria itu juga memeriksa di bawah kolong sofa, meja dan ranjang Freya.


Kosong, tidak ada siapapun.


Ia juga memeriksa bagian kamar mandi, almari juga balik tirai.


“Loh bukannya Frey tadi udah bilang ya?” balas Freya berpura-pura.


“Abang tidak mendengarnya! Tunggu kenapa aroma parfum mu sampai menyekat seperti ini? Seingat Abang kamu tidak menyukai bau yang terlalu wangi karena itu juga Abang memberikanmu parfum yang tidak terlalu wangi kan?.”


Fern memandang curiga pada Freya.


“Hah? Pe—perasaan Abang aja deh, parfum Frey sama sekali ngga nyekat bang” balas Freya membuka jendelanya yang tadi ia tutup.


Sebenarnya Freya juga mual sendiri dengan aroma parfum miliknya itu, sangat nyekat di hidung.


“Oh ya? Lalu kenapa kamu membuka jendela?” tanya fern yang makin curiga pada sang adik tersayang.


“Loh gimana toh bang? Kan tadi Abang bilang baunya nyekat makanya Frey buka jendelanya, Frey takut Abang muntah” jawab Freya yang memang mengada-ada.


Fern pun hanya bisa mengangguk.


“Huh, yasudahlah jadi tadi kamu bener membeli buku kan?” tanya fern, meskipun ia tahu bahwa adiknya tidak membeli melainkan dibelikan oleh Revan.


“I— eh ngga bang! Tadi Frey dibeliin Revan yang kebetulan ada di sana” jawab Freya jujur, Freya bukan orang b*doh lagi sekarang, ia tahu mata-mata abangnya bahkan Revan juga selalu mengawasinya, pengecualian jika ia berada di dalam mansion.


Dengan kata lain abangnya sudah tahu!.


“Jadi kamu menerima buku yang dibelikan dia?” tanya fern lagi.


“Iya bang, kan ngga boleh boros!” jawab Freya spontan, tangannya mengepal ke atas pertanda bahwa ia sangat semangat.


***


“Dok, bagaimana ini?” tanya pandu pusing, besok! Tinggal beberapa jam lagi ia akan di nikahkan langsung dengan dokter Anisa.


Terjerat hubungan dengan dokter g*la yang sangat ia benci, hal yang sama sekali tidak mau di bayangkan oleh pandu sedetik pun.


Beruntung mereka tak perlu melakukan pingitan, jadi mereka bisa berdiskusi tentang hal sepenting-penting ini.


Mereka saat ini berada di ruang yang di khususkan untuk mereka berdua, kabur pun tak ada gunanya sebab para pengawal sudah menjaga di sekeliling kamar.


“Entahlah, saya sudah sangat munyet memikirkan ini!” balas dokter Anisa yang makin pusing.


“Tinggal dua belas jam lagi!” sahut pandu berteriak frustasi.


Bisa ia pastikan bahwa dirinya tak akan bisa tidur hingga besok pagi walaupun matahari sudah terbit ia pasti akan masih terjaga.


Mana tuannya percaya lagi! Kan makin pusing saja otak pandu memikirkan ini.


“Lagian anda sih! Kenapa tadi malah nyandung? Terus anda kenapa memanggil saya?” tanya dokter Anisa lemah.


“Yah kan saya ngga sengaja, lagipula tadi saya diserang mendadak dan saya terluka, disana itu ada anda yang notabenenya adalah dokter pribadi keluarga purnama, jadi tak salah jika saya meminta bantuan anda kan?!” jawab pandu sama-sama ngenesnya.

__ADS_1


Genap sudah nasib pandu dan dr Anisa ini!.


_______________________________


__ADS_2