My Mafia Husband

My Mafia Husband
BAB.108. Sammy si hewan tersayang


__ADS_3

Andra menghela nafas kesal seraya melihat nonanya yang benar-benar sangat menyusahkan dirinya.


“Nona, jangan! Itu hewan kesayangan tuan muda” ucap Andra memperingatkan.


Melihat dari jiwa fern yang psikopat, hewan apa yang menurut kalian bisa menjadi hewan kesayangan fern?.


Yang lucu? Big no!, Berwarna putih lembut? No!.


Singa, fern memelihara singa di mansion miliknya yang terletak di negara C.


Sebenarnya Andra memperingatkan Freya agar Freya tak terluka, bagaimanapun tanggung jawab utamanya itu freya.


“Wah, tak heran dia jadi hewan kesayangan Abang, dia lucu! Menggemaskan pula” Freya malah makin mendekat dan mengelus bulu lembut milik singa itu.


‘Duh, kok jadi begini?’ batin Andra mengeluh susah.


“Nona, tolong jangan mendekat ke sammy” pinta Andra sekali lagi.


“Sammy? Nama singa ini Sammy? Wah indah sekali!” Freya malah tak menghiraukan.


Dalam fikirannya Andra bertanya-tanya, ini sikap nonanya yang memang begini atau karena efek kandungannya?.


Jika karena efek kandungannya.. siapa lelaki yang dengan gentlenya berhasil menciptakan kecebong menyesatkan seperti ini?.


“Andra! Hey Andra!” panggil Freya berkali-kali.


Andra pun bertanya, “Ada apa nona? Apa anda ingin berjalan-jalan saja?.”


Suara andra terdengar begitu antusias berharap agar nonanya mau mengikuti sarannya.


Freya menggeleng keras, “Apa sih?! Aku tidak mau jalan-jalan ke manapun! Aku tadi bertanya, makanan Sammy apa?.”


Andra seketika mengernyit bingung, siapapun tahu kalau singa itu hewan Karnivora yang tak lain adalah hewan pemakan daging.


“Nona, singa memakan daging” akhirnya Andra memilih titik aman, ia tak menyebutkan teori yang ia miliki bahwa sang nona belum sekolah sama sekali.


Padahal itu benar adanya!.


“Kalau begitu bawakan daging, aku akan memberi makan sammy” perintah mutlak Freya turun.


GLEK


Andra meneguk ludahnya susah, di mansion ini mana ada daging yang dibeli? Singa itu menjadi hewan kesayangan fern sebab setelah tuannya itu menguliti dan menyiksa mangsanya maka dagingnya akan diberikan ke Sammy.


“Baik nona, akan saya bawa kemari” balas Andra, beruntung ia sempat menyuruh para maid untuk membeli bahan masakan beberapa jam yang lalu saat Freya belum sampai.


Jika dihitung Andra kenal Freya itu baru beberapa jam, namun mengapa susah sekali mengurus nona mudanya yang sok polos ini?.


Andra fikir mengurus Freya yang kabarnya polos akan sangat mudah ketimbang menemani fern, namun kenyataannya lain.


“Yasudah, cepat!” teriak Freya dengan suara toanya sebab Andra sudah masuk ke mansion.


Di dalam batinnya Andra meruntuk sendiri, ‘Kadang dingin kadang cerewet sebenarnya yang mana sifat aslinya?! Jangan bilang nona muda mengandung bayi kembar?.’


***


Delard akhirnya dapat menjenguk sang tuan, ia sebenarnya ingin mengabari tuan besar dan nyonyanya namun ia baru ingat bahwa fern melakukan ini tanpa sepengetahuan mereka.


Begitu pula dengan Andra, delard tak bisa menelefon Andra sebab Andra masih menjaga non freyanya.


Yah sudah 12 jam lebih berlalu setelah Freya dan fern berpisah, sekarang sudah pukul 4 sore, benar.. Freya dikirim fern ke negara C pagi-pagi buta pukul dua dini hari.


“Tuan..” desah delard lelah, sejujurnya ia ingin memarahi tuannya namun takut terkena karma.


Rumor mengatakan bahwa orang yang tengah tak sadar masih bisa mendengar suara orang di dekatnya, nah ini.. nanti kalau fern ingat bahwa delard memarahinya maka karma apa yang akan di dapatkan delard?.


JENG JENG JENG


Setelah lama menatap infus dan wajah tuannya secara bersamaan sebuah suara mengalihkan fokusnya.


“Tuan, ada seorang suster yang katanya ingin memeriksa kondisi dan memperbarui kantung infus milik tuan muda” ujar seorang bawahan mafioso fern.

__ADS_1


“Biarkan” delard membalas dengan satu kata, singkat sekali.


CKLEK


Setelahnya seorang suster memasuki ruang rawat fern, di tangannya terletak nampan berisi kantung infus, jarum suntik dan cairan untuk memperkuat kekebalan tubuh fern.


“Permisi tuan” ujar suster itu ramah namun delard hanya memandang datar suster itu yang mana membuat sang suster memasang wajah judesnya.


‘Sabarr, anggap saja tuan itu bisu! Kau hanya perlu melaksanakan tugasmu’ batin suster itu menyemangati dirinya sendiri.


Sebenarnya ia adalah suster yang baru saja masuk ke rumah sakit ini setelah menjadi anak magang.


Jadi ia akan berusaha melakukan tugasnya dengan baik agar ia bisa menjadi suster tetap.


Ia mengganti kantung infus milik fern dahulu, lalu ia menyuntikkan cairan untuk memperkuat kekebalan tubuh fern dengan hati-hati, ia juga mengukur suhu tubuh fern menggunakan termometer miliknya yang ia taruh di saku.


47,4°c.


Ia pun mengukur detak jantung fern, setelah melakukan pemeriksaan itu ia menoleh pada sang tuan yang sejak tadi melihat tuan muda Arron itu.


“Bagaimana?” tanya delard tanpa melihat ke suster itu, pandangannya terfokus pada tuan mudanya yang masih tergeletak tak sadarkan diri di brankar.


“Suhu tubuh tuan fern menurun, tadi suhu tubuh tuan 56,7° Celcius sekarang menjadi 47,4° celcius, saya juga sudah mengganti kantung infus dan menyuntikkan cairan kekebalan tubuh, jika kantung infusnya sudah hampir habis silahkan beritahu dokter agar segera diganti.”


Jelas suster itu panjang lebar kali tinggi.


Melihat tak ada balasan dari delard suster itu menarik senyum paksa, “Permisi tuan” ia mengucapkan kata yang sama seperti saat ia datang.


Setelah suster itu pergi delard baru melirik ke arah pintu, suster itu.. menarik.


Ia bahkan berani menarik senyum paksa yang jelas tak boleh di tunjukkan pada orang lain, selain itu ia juga berani mengatakan ‘jika kantung infusnya habis beritahu dokter’ mungkin sekilas ucapan itu benar.


Namun delard menangkap maksud lain yang ingin di sampaikan suster itu, suster itu berucap demikian dengan kata lain ia menyuruh agar menghubungi dokter bukan dirinya.


Berani sekali.


Seharusnya suster itu juga sudah tahu siapa yang ada di dalam, delard bisa menghancurkan gadis suster tadi dengan sekejap.


Akan tetapi.. ia tak akan melakukannya sebab lagi-lagi suster itu benar-benar menarik.


“Ennggh, sepertinya ka-u bersenang-senang.”


“Tidak, sebab tuan belum sa- eh!” sadar bahwa delard sendirian disini ia langsung menoleh pada tuannya, benar saja tuannya sudah sadar! Padahal ia terkena tiga peluru sekaligus!.


“Tuan, tuan baik-baik saja? Mana yang sakit? Saya akan panggilkan dokter” ucap delard beruntutan namun tanpa menunggu jawaban dari fern ia langsung berlari keluar.


Fern melirik pada pintu yang delard gunakan dan melirik ke tombol berwarna merah di samping brankar nya yang bisa digunakan untuk memanggil tenaga medis.


‘Dasar delard’ batin fern menggelengkan kepalanya pelan.


Akan tetapi..


NYUT


Kepalanya berdenyut sakit, mungkin ini efek operasi yang ia jalankan, tangan kanannya memegangi kepalanya erat.


Fern bukan orang yang akan mengaduh kesakitan hanya karena hal ini.


Setelah beberapa detik memegangi kepalanya fern langsung bersikap biasa sebab delard dan seorang dokter sudah masuk.


Selain itu.. ia ingin menguji kemampuan dokter itu, jika dia dokter sejati maka ia akan mengetahui tentang sakit kepala yang di derita fern.


***


“Huaa Abang! Akhirnya Abang sadar!” teriak kinen heboh.


“Berisik” satu kata yang familiar terdengar dari Revan, pria itu baru sadar dan tengah melamun seperti memikirkan sesuatu.


“Abang ini kenapa sih? Dari tadi melamun mulu” cerocos kinen kesal.


Mommy hanya menghela nafas saja mendengar perdebatan anaknya itu.

__ADS_1


Pandu yang baru saja sampai juga memandang malas pada Revan dan kinen bergantian, tentu saja dengan sembunyi-sembunyi.


“Permisi tuan, nona” ujar seorang gadis yang baru saja masuk ke ruang rawat Revan.


“Ah, selamat datang dok” sambut kinen dan mommy, yang datang itu dr Anisa.


“Dari pemeriksaan tadi, kondisi tuan Revan sudah semakin membaik, kantung infus tuan juga masih penuh jadi nanti jika infusnya habis silahkan klik tombol di samping brankar, maka saya akan segera datang.”


Jelas dr Anisa panjang.


Kinen, mommy dan pandu pun mengangguk serempak.


Namun jika raga kinen berada disini maka kesadarannya berada di tempat yang berbeda, ia sedang berfikir kemana tuan muda Arron itu membawa kakaknya pergi? Dan apa hubungan tuan Arron dengan kakak iparnya itu?.


(Ingat! Kinen dan mommy belum tahu kalau fern alias tuan muda arron itu adalah Abang kandung Freya).


“Baik dok, terima kasih” balas mommy tersenyum, tak jauh berbeda dari kinen sang mommy juga sedang memikirkan perihal Freya.


“Tidak masalah tuan, nyonya, nona.. saya permisi dahulu” pamit dr Anisa seraya memamerkan senyum ramahnya.


Kinen dan mommy pun mengangguk mengiyakan.


CKLEK


Pintu ruangan VVIP itu sudah tertutup dengan sempurna, mommy dan kinen melirik ke arah pandu.


Jika Revan, maka sudah biasa jika pria beku itu tak menjawab pamitan dr Anisa, namun pandu? Kinen pun tahu jika dr Anisa dan pandu beberapa saat yang lalu makin dekat.


Akan tetapi.. kenapa pandu tak menjawab ucapan dr Anisa?.


‘Aduh! Masa bodo, kak Freya aja belum ketemu eh aku kok malah mikirin hal lain yang ngga ada sangkut-pautnya dengan diriku, lagipula aku tak boleh ikut campur dalam hubungan dua orang’ batin kinen menggelengkan kepalanya pelan.


Hal itu membuat mommy memegang jidat kinen, “Sayang kamu baik-baik saja kan? Kok geleng-geleng sendiri? Mau mom antar ke RSJ buat pemeriksaan?.”


Kinen mendelik secara reflek lalu memegang tangan sang mommy yang ada di jidat paripurna miliknya.


“Hahaha, ngga perlu mom aku baik-baik saja tadi ada suara lalat di samping telingaku jadi aku menggelengkan kepala agar lalat itu menjauh” kinen pun mencari alasan.


“Ah, syukurlah kalau begitu” sahut mommy tersenyum yang mana malah membuat kinen ingin mencakar wajah menyebalkan sang mommy namun tak jadi sebab ia tak ingin mengalami kejadian bertema ‘Azab’.


Jika mommy dan kinen sedang berbincang berbeda dengan pandu, ia melirik ke sang tuan.


Tuannya itu tak mengatakan apapun, selain kata ‘berisik’ yang dia lontarkan pada kinen beberapa saat yang lalu, ini yang membuat pandu bingung, tuannya itu tak melakukan apapun selain melamun.


Entah kemana fikiran tuan bekunya itu berada.


Jika orang lain yang melihat maka dia akan bersikap biasa saja sebab Revan masih terlihat dingin seperti biasanya.


Akan tetapi hal itu tak berlaku pada pandu sebab pandu sendiri sudah mengenal Revan sejak lama, melihat mata tuannya yang lebih kosong dari biasanya dengan mudah ia dapat memastikan bahwa tuan mudanya itu melamun.


Entah melamun tentang apa, pandu pun tak tahu.


Yang jelas Revan terlihat diam dengan tatapan mata yang kosong, seperti.. sedang tak berada disini.


Pandu mendelik dengan pemikirannya barusan, ia langsung mendorong tubuh sang tuan agar berbaring ke brankar.


Benar saja, tuannya tak melawan.


Pandu melirik ke nyonya besar dan nona mudanya, mereka sama-sama terkejut.


_______________________________


Piw piw piw


Lama juga author ngga up 🙏, yah author sedang ada halangan buat up.


But jangan khawatir author dah siap sedia, author malah udah buat plot alur novel ini sampai tamat, jadi author tinggal ngikutin saja.


Tapi tetap saja, jika kalian memiliki saran maka silahkan di sampaikan ya!.


So, jangan lupa letakkan jempol di tempatnya dan berikan saran maupun kritik yang tentunya bersifat membangun ya!.

__ADS_1


Thank u~


-Nadira


__ADS_2