
Freya menatap waspada pada dokter yang berada di depannya, dokter.. dokter itu bergerak di bidang mana? Kesehatan? Operasi? Atau.. kandungan?.
Jika kalian bertanya pada Freya maka dengan senang hati Freya akan menjawab, ‘Aku tidak tahu!’.
Tiba-tiba dirinya didorong kinen dan mommy disini, bahkan Revan entah pergi kemana, yang pasti suaminya itu sedang berada dekat dengannya.
“Dok! Saya tidak sakit, anda bisa memeriksa pasien yang lain” bujuk Freya dengan tatapan memelas, bahkan kedua tangan Freya sudah mengatup isyarat meminta.
“Tidak bisa nona, saya akan menjalankan tugas saya.. jadi saya harap nona bisa bekerja sama” balas dokter itu yang malah membuat Freya makin panik.
“Namun saya berani bersumpah kalau saya tidak sakit dok” sahut Freya bertambah memelas.
Senyum hangat dokter itu tersibak, “Nona jangan takut, saya hanya akan menyuruh nona tidur disana.. saya berjanji saya tak akan menyuntik nona”.
Freya menatap lekat dokter itu, ia melihat papan nama pada meja yang kini telah ia duduki.
Ia dan dokter itu berada di antara satu meja.
Tertera tulisan ‘Dokter juju’ yah itu nama dari dokter ini, nama yang unik Juju.
“Anda berjanji dokter.. Juju?” tanya Freya mengulurkan jari kelingkingnya.
Dokter Juju tertawa ringan, ia menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Freya.
“Saya janji, ayo nona tidurlah disini” ujar dokter Juju berdiri menuju brankar di ruangannya.
______________________________
“Mom, kenapa mommy mendorong Freya masuk? Freya takut jika ia diperiksa dokter!” ucap Revan dengan khawatir.
Entah berapa kali pria itu mengucapkan hal yang sama, hal ini membuat mommy maupun kinen memutar matanya malas.
__ADS_1
“Dokter di dalam sana itu dokter yang ramah bang, dia pasti bisa menetralkan rasa takut kakak ipar” balas kinen nyatanya jawabannya dan mommy sama.
Mommy juga menjawab pertanyaan Revan dengan jawaban yang sama beberapa detik lalu.
Namun nyatanya abangnya itu bertanya lagi, pada akhirnya kinen kini mencoba menjawab pertanyaan abangnya.
“Apa dokter itu bisa mengetahui penyebab kemalasan Freya akhir-akhir ini?” tanya Revan dingin.
Mommy mendongak untuk menatap wajah puteranya, meskipun tak terlalu kentara namun mommy menangkap raut wajah cemas darinya.
“Iya, sepertinya begitu.. mommy menangkap sesuatu dari hal yang kau ucapkan pada mom tadi” jawab mommy tersenyum misterius.
“Apa yang mom sadari?” pertanyaan sederhana meluncur dari bibir Revan.
Sebelum momnya menjelaskan dugaannya seorang perawat yang mendampingi dokter Juju keluar.
Revan, mommy dan kinen sontak mengerubungi perawat itu.
“Benar!, Saya suaminya.. jadi bagaimana dengan isteri saya?” tanya balik Revan seraya memperkenalkan dirinya.
Sang perawat hanya tersenyum lalu mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam.
Dokter Juju sedang berada di samping brankar yang masih di tempati oleh Freya, kedua orang itu terlihat berbincang.
“Jadi dok, bagaimana?” tanya mommy mengharapkan seorang.. cucu?.
“Wah, sepertinya Anda sudah menduga duga ya nona?” balas dokter Juju yang malah membuat Revan makin penasaran.
“Intinya, bagaimana keadaan isteri ku?” tanya Revan dingin, kinen pun menganggukkan kepalanya dengan semangat, kinen juga ingin tau bagaimana keadaan kakaknya.
“Isteri anda mengandung tuan, dan.. Selamat tuan! Anda akan jadi seorang ayah” ucap dokter Juju semangat.
__ADS_1
Kinen.. mata gadis itu sudah berbinar-binar, bahkan mommy membelalakkan matanya ternyata tebakannya benar adanya.
“Silahkan berbincang, salah satu dari anda semua harus ikut bersama saya.” sambung dokter Juju.
“Saya dan Puteri saya akan ikut dengan anda dok!” balas mommy semangat, kinen pun mengangguk setuju.
Sebelum pergi mommy mengecup kening Freya lalu kinen dan mommy dengan serempak mengatakan ‘Selamat menantu/kakak’.
Mereka pergi meninggalkan Freya yang masih melongo tak karuan, Freya tersadar ketika langkah kaki Revan melangkah ke dirinya.
Sungguh! Revan tak menyangka jika pria itu akan mendapatkan sesuatu yang tak berhasil ia jaga dahulu.
Ia diberi kesempatan kedua oleh tuhan, dan ia akan manfaatkan kesempatan itu dengan baik.
Namun.. Freya sedang menatap wajah Revan tak mengerti, maksudnya.. kenapa pria itu tak tersenyum?.
“Rev..” panggil Freya.
Tapi Freya nyaris tertawa keras saat ia melihat bahwa Revan terjingkat, setelahnya Freya menatap Revan yang kini juga menatapnya.
“Sudah sampai mana melamunnya daddy?” goda Freya disertai tawa ringan.
Revan hanya bisa tersenyum tipis, ia semakin mendekatkan dirinya ke Freya lalu menempelkan dahinya di dahi Freya.
Freya yang ingin memberontak menjadi terdiam ketika melihat aliran hangat mengalir di wajah tampan lelakinya.
“Terima kasih atas segalanya, freya” ucapan itu terdengar begitu lembut dan tulus.
“No problem” balas Freya tersenyum lalu menjauhkan dahinya, Freya beralih untuk memeluk erat revan tentunya sang lelaki membalas pelukan Freya.
Kebahagiaan... Untuk saat ini biarkan mereka bahagia.
__ADS_1
______________________________